alexametrics
32 C
Pontianak
Monday, May 23, 2022

Mitragyna Speciosa Masuk Narkotika Golongan 1

PONTIANAK—Di tengah berkembangnya bisnis daun Kratom di Pulau Kalimantan dan Kalimantan Barat, Badan Narkotika Nasional (BNN) RI yang sudah menggolongkannya sebagai narkotika golongan kelas I sampai diatur masa transisi dari tahun 2017-2022 ikut dijawab pengusaha Daun Purik.

Muhammad Zakaria misalnya, bakalan bersikap legowo seandainya memang Kratom dilarang edar.

”Jujur, kami (pengusaha kratom) menghargai kajian lewat laboratorium BNN. Kami hargai hasil kajian ilmiahnya memasukan daun Kratom sebagai Narkotika kelas 1,” ucapnya menanggapi acara Focus Diskusi Grup (FGD) g tanaman kratom antara Kepala BNN RI dengan Forkopimda Kalbar awal November .

Secara pribadi, dia menganggap wajar jika wacana tersebut terus menggema dan membuat petani dan pelaku usaha kratom ketar-ketir. Hanya dia meminta menanggapi wacana tersebut juga dibarengi dengan duduk satu meja bersama asosiasi.

”Kan di Kalbar ada beberapa asosiasi pemain kratom. Dari Kompar, Pekrindo dan Aki. Mereka harus duduk satu meja menyatukan persepsi seperti apa nantinya. Saling tukar gagasan ke pemerintah (Pemprov dan DPRD Kalbar) juga harus disuarakan,” ucapnya.

Baca Juga :  Efeknya 13 Kali Kekuatan Morfin, Bagaimana Nasib Petani Kratom

Menurut Zakaria ada ratusan ribu petani plus pengusaha terlibat dengan bisnis daun kratom di Kalimantan Barat ini. Warga Kalbar tersebut sangat mengantungkan hidupnya dari bisnis daun purik ini, setelah tanaman sawit dan karet harganya terus tidak bersahabat.

Di sisi lain, di negara tujuan ekspor daun kratom yakni Amerika Serikat malahan memberikan lampu hijau untuk produk daun dari Pulau Kalimantan ini. Setidaknya ada delapan Negara bagian membolehkannya. Padahal kajian dan penelitian pangan di sana dan zat kimia fsikotropika sangat-sangat ketat.

”Malahan dari Asosiasi Kratom Amerika (AKA) USA, memberikan kabar gembira. Tidak lama lagi, daun kratom bakalan diterima diseluruh negara bagian. Parlemen di sana sedang memperjuangkannya. Masalahnya kratom di Negara maju malahan untuk obat herbal penyalagunaan narkotika,” ujarnya.

Zakaria menyebutkan bahwa di negara maju seperti Amerika Serikat malahan daun kratom sudah diolah menjadi minuman energy terkenal di dunia dan di Indonesia. Maka dari itu dia meminta, kajian memasukan kratom sebagai narkotika kelas I setidaknya butuh banyak kajian dari berbagai lembaga lokal dan luar negeri seperti Amerika Serikat, Negara utama tujuan ekspor kratom Kalbar.

Baca Juga :  Komoditas Unggulan Ekspor dari Kabupaten Kapuas Hulu, Gubernur Bakal Surati Presiden Masalah Kratom

“Harapan kami, kaji kembali libatkan beragam lembaga. Dari lokal sampai luar negeri. Sehingga penelitian soal kratom benar-benar matang dan diterima semuanya,” ucapnya.

Sebelumnya Suriansyah, Wakil Ketua DPRD Kalimantan Barat menyampaikan bahwa manfaat Kratom bagi kehidupan terutama kesehatan warga sudah secara tradisional dipergunakan. Warga di daerah perhuluan sudah lama mengkonsumsi untuk kebugaran. Selanjutnya masyarakat di luar negeri ternyata menikmati kratom sebagai suplemen, minuman berenergi hingga terapi pengobatan narkotika.

Tentunya, berpotensi menjadi pendapatan ekonomi. Kratom sudah menjadi hasil hutan bukan kayu bernilai ekonomi tinggi untuk masyarakat Kalbar dan pulau Kalimantan.

“Harusnya Indonesia dapat memanfaatkan sebagai sumber devisa dan ekonomi warga. Sebab perekonomian masyarakat sekarang tidak baik di hulu sungai kapuas. Karet dan sawit sudah lama harganya kurang mendukung pendapatan warga,” ucapnya.(den)

PONTIANAK—Di tengah berkembangnya bisnis daun Kratom di Pulau Kalimantan dan Kalimantan Barat, Badan Narkotika Nasional (BNN) RI yang sudah menggolongkannya sebagai narkotika golongan kelas I sampai diatur masa transisi dari tahun 2017-2022 ikut dijawab pengusaha Daun Purik.

Muhammad Zakaria misalnya, bakalan bersikap legowo seandainya memang Kratom dilarang edar.

”Jujur, kami (pengusaha kratom) menghargai kajian lewat laboratorium BNN. Kami hargai hasil kajian ilmiahnya memasukan daun Kratom sebagai Narkotika kelas 1,” ucapnya menanggapi acara Focus Diskusi Grup (FGD) g tanaman kratom antara Kepala BNN RI dengan Forkopimda Kalbar awal November .

Secara pribadi, dia menganggap wajar jika wacana tersebut terus menggema dan membuat petani dan pelaku usaha kratom ketar-ketir. Hanya dia meminta menanggapi wacana tersebut juga dibarengi dengan duduk satu meja bersama asosiasi.

”Kan di Kalbar ada beberapa asosiasi pemain kratom. Dari Kompar, Pekrindo dan Aki. Mereka harus duduk satu meja menyatukan persepsi seperti apa nantinya. Saling tukar gagasan ke pemerintah (Pemprov dan DPRD Kalbar) juga harus disuarakan,” ucapnya.

Baca Juga :  Jembatan Kapuas Macet Parah, Mobil Motor Jalan Merayap

Menurut Zakaria ada ratusan ribu petani plus pengusaha terlibat dengan bisnis daun kratom di Kalimantan Barat ini. Warga Kalbar tersebut sangat mengantungkan hidupnya dari bisnis daun purik ini, setelah tanaman sawit dan karet harganya terus tidak bersahabat.

Di sisi lain, di negara tujuan ekspor daun kratom yakni Amerika Serikat malahan memberikan lampu hijau untuk produk daun dari Pulau Kalimantan ini. Setidaknya ada delapan Negara bagian membolehkannya. Padahal kajian dan penelitian pangan di sana dan zat kimia fsikotropika sangat-sangat ketat.

”Malahan dari Asosiasi Kratom Amerika (AKA) USA, memberikan kabar gembira. Tidak lama lagi, daun kratom bakalan diterima diseluruh negara bagian. Parlemen di sana sedang memperjuangkannya. Masalahnya kratom di Negara maju malahan untuk obat herbal penyalagunaan narkotika,” ujarnya.

Zakaria menyebutkan bahwa di negara maju seperti Amerika Serikat malahan daun kratom sudah diolah menjadi minuman energy terkenal di dunia dan di Indonesia. Maka dari itu dia meminta, kajian memasukan kratom sebagai narkotika kelas I setidaknya butuh banyak kajian dari berbagai lembaga lokal dan luar negeri seperti Amerika Serikat, Negara utama tujuan ekspor kratom Kalbar.

Baca Juga :  Potensi Kerajinan Daerah Belum Digarap Optimal

“Harapan kami, kaji kembali libatkan beragam lembaga. Dari lokal sampai luar negeri. Sehingga penelitian soal kratom benar-benar matang dan diterima semuanya,” ucapnya.

Sebelumnya Suriansyah, Wakil Ketua DPRD Kalimantan Barat menyampaikan bahwa manfaat Kratom bagi kehidupan terutama kesehatan warga sudah secara tradisional dipergunakan. Warga di daerah perhuluan sudah lama mengkonsumsi untuk kebugaran. Selanjutnya masyarakat di luar negeri ternyata menikmati kratom sebagai suplemen, minuman berenergi hingga terapi pengobatan narkotika.

Tentunya, berpotensi menjadi pendapatan ekonomi. Kratom sudah menjadi hasil hutan bukan kayu bernilai ekonomi tinggi untuk masyarakat Kalbar dan pulau Kalimantan.

“Harusnya Indonesia dapat memanfaatkan sebagai sumber devisa dan ekonomi warga. Sebab perekonomian masyarakat sekarang tidak baik di hulu sungai kapuas. Karet dan sawit sudah lama harganya kurang mendukung pendapatan warga,” ucapnya.(den)

Most Read

Artikel Terbaru

/