alexametrics
33 C
Pontianak
Thursday, July 7, 2022

Atur Siasat Biar Tidak Mati

Geliat UMKM di Masa Pandemi 

PONTIANAK – Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi salah satu sektor yang terdampak pandemi Covid-19. Kendati begitu, sebagian memilih tetap beroperasi dengan segala keterbatasan dan tantangan. Pelaku UMKM pun bersiasat supaya mampu bertahan di tengah wabah yang belum diketahui ujungnya ini.

Khairul, Owner Draja Bebek Khatulistiwa misalnya. Ia memilih untuk tetap beroperasi meski sebagian bisnis rumah makan lain memilih tutup. Wabah virus corona yang membuat masyarakat cenderung mengurangi aktivitas di luar rumah membuat pendapatannya menurun. Namun tak terlampau signifikan karena ia mengubah strategi penjualan.

“Penjualan di awal beredarnya Surat Edaran Walikota Pontianak, pada satu minggu pertama kami mengalami penurunan (pendapatan) hampir 50 persen. Setelah kita ubah strateginya dengan mengikuti anjuran untuk delivery services, walaupun masih turun tetapi tidak besar. Hanya sekitar 10 sampai dengan 20 persen,” ungkapnya, Senin (20/4).

Tekad Khairul semakin bulat untuk tetap menjalankan usaha karena tidak tega memberhentikan sementara karyawannya. Apabila diberhentikan, mereka tidak punya penghasilan, dan menjadi pengangguran. Di sisi lain, kata dia, stok bahan makanan masih banyak, terutama daging bebek dan ayam, serta bumbu masakan. Jika berhenti, bahan makanan tersebut akan rusak dan mubazir.

Strategi pemasaran juga diperkuat. Pihaknya bahkan memberikan promosi beli dua dapat tiga dan sederet promosi lain untuk menarik pembeli. Dari segi kemanan produksi, pihaknya tetap memperhatikan pengolahan makanan yang bergizi, bersih dan higienis.

Baca Juga :  Teknikal Metting Vois Cup Diikuti 500 Peserta Dari Lima Kategori Pertandingan

“Kami membuat video saat proses pembuatan makanan yang sehat, bersih dan higienis, lalu dipublikasikan. Sejauh ini kami masih bisa jalan dengan tetap pada pola yang berpatokan pada imbauan pemerintah, yakni sistem bungkus, atau kami antar,” kata dia.

Jaminan keamanan untuk para karyawan juga tidak dikesampingkan. Ia menyediakan masker, memberikan vitamin C, mengatur jatah istirahat, serta mengubah jam kerja karyawan.

Sementara itu, Ketua Sub Sektor Kuliner Himpunan Pelaku UMKM (Himpu), Gusti Emir Razali menyebutkan, ada berbagai upaya yang ditempuh oleh UMKM agar mampu bertahan di tengah pandemi Covid-19.

“Proses produksi tidak dilakukan setiap hari dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan yang ketat. Mereka juga mengurangi jumlah karyawan yang bekerja karena produksi tidak optimal,” ungkapnya, kemarin.

Dari sisi keuangan, lanjut dia, mereka melakukan pemangkasan anggaran biaya yang kurang efektif, sekaligus menjaga arus kas supaya usaha tetap sehat. Sementara dari sisi pemasaran, mereka meningkatkan promosi produk, terutama melalui sosial media, serta memberikan potongan atau diskon pembelian produk untuk menarik pelanggan.

Emir mengatakan, saat ini masyarakat berada dalam kondisi waspada dan sangat berhati-hati dengan membatasi diri untuk bepergian serta mengonsumsi makanan dan minuman. Hal ini berimbas pada transaksi jual beli. Dalam kondisi begini, masyarakat pasti lebih mengutamakan kebutuhan pokok terpenuhi lebih dahulu daripada kebutuhan sekunder lainnya.

Baca Juga :  Rapat Paripurna  Penjelasan Raperda APBD 2021

Dengan adanya pergeseran nilai kebutuhan tersebut, pemasaran produk UMKM pun terpengaruh, sehingga akhirnya berdampak pada produksi. Inilah tantangan terberat UMKM, yakni menurunnya daya beli masyarakat.

Asosiasi Business Development Services Indonesia ABDSI Kalbar, telah melakukan pendataan UMKM terdampak di Kalbar. Koordinator Wilayah ABDSI Kalbar, Muhammad Fahmi mengatakan, sejauh ini ada 200 lebih UMKM terdampak yang telah didata melalui UMKM Crisis Center. Jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah seiring waktu.

“Dari seluruh data yang dihimpun, 51 persen UMKM merupakan pelaku usaha di bidang makanan dan minuman. Salah satu permasalahan yang dihadapi bisnis kuliner ini adalah sulitnya mendapatkan bahan baku, serta harganya yang mengalami kenaikan,” jelasnya.

Agar mampu bertahan, ia mendorong UMKM melakukan kalkulasi kembali bisnisnya, serta menjaga stabilitas arus kas, guna meminimalisir kerugian. Adapun bagi UMKM yang masih beroperasi, kata dia, strategi pemasaran harus lebih diperkuat, dengan harapan pangsa pasar semakin meluas.

“Cari cara agar pelanggan yang pernah berbelanja di tempat kita bisa ditawari lagi. Kemudian cari pangsa pasar baru dengan memaksimalkan marketplace yang telah tersedia,” jelasnya. (sti)

Geliat UMKM di Masa Pandemi 

PONTIANAK – Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi salah satu sektor yang terdampak pandemi Covid-19. Kendati begitu, sebagian memilih tetap beroperasi dengan segala keterbatasan dan tantangan. Pelaku UMKM pun bersiasat supaya mampu bertahan di tengah wabah yang belum diketahui ujungnya ini.

Khairul, Owner Draja Bebek Khatulistiwa misalnya. Ia memilih untuk tetap beroperasi meski sebagian bisnis rumah makan lain memilih tutup. Wabah virus corona yang membuat masyarakat cenderung mengurangi aktivitas di luar rumah membuat pendapatannya menurun. Namun tak terlampau signifikan karena ia mengubah strategi penjualan.

“Penjualan di awal beredarnya Surat Edaran Walikota Pontianak, pada satu minggu pertama kami mengalami penurunan (pendapatan) hampir 50 persen. Setelah kita ubah strateginya dengan mengikuti anjuran untuk delivery services, walaupun masih turun tetapi tidak besar. Hanya sekitar 10 sampai dengan 20 persen,” ungkapnya, Senin (20/4).

Tekad Khairul semakin bulat untuk tetap menjalankan usaha karena tidak tega memberhentikan sementara karyawannya. Apabila diberhentikan, mereka tidak punya penghasilan, dan menjadi pengangguran. Di sisi lain, kata dia, stok bahan makanan masih banyak, terutama daging bebek dan ayam, serta bumbu masakan. Jika berhenti, bahan makanan tersebut akan rusak dan mubazir.

Strategi pemasaran juga diperkuat. Pihaknya bahkan memberikan promosi beli dua dapat tiga dan sederet promosi lain untuk menarik pembeli. Dari segi kemanan produksi, pihaknya tetap memperhatikan pengolahan makanan yang bergizi, bersih dan higienis.

Baca Juga :  Ketatkan Pencegahan Penularan Covid-19

“Kami membuat video saat proses pembuatan makanan yang sehat, bersih dan higienis, lalu dipublikasikan. Sejauh ini kami masih bisa jalan dengan tetap pada pola yang berpatokan pada imbauan pemerintah, yakni sistem bungkus, atau kami antar,” kata dia.

Jaminan keamanan untuk para karyawan juga tidak dikesampingkan. Ia menyediakan masker, memberikan vitamin C, mengatur jatah istirahat, serta mengubah jam kerja karyawan.

Sementara itu, Ketua Sub Sektor Kuliner Himpunan Pelaku UMKM (Himpu), Gusti Emir Razali menyebutkan, ada berbagai upaya yang ditempuh oleh UMKM agar mampu bertahan di tengah pandemi Covid-19.

“Proses produksi tidak dilakukan setiap hari dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan yang ketat. Mereka juga mengurangi jumlah karyawan yang bekerja karena produksi tidak optimal,” ungkapnya, kemarin.

Dari sisi keuangan, lanjut dia, mereka melakukan pemangkasan anggaran biaya yang kurang efektif, sekaligus menjaga arus kas supaya usaha tetap sehat. Sementara dari sisi pemasaran, mereka meningkatkan promosi produk, terutama melalui sosial media, serta memberikan potongan atau diskon pembelian produk untuk menarik pelanggan.

Emir mengatakan, saat ini masyarakat berada dalam kondisi waspada dan sangat berhati-hati dengan membatasi diri untuk bepergian serta mengonsumsi makanan dan minuman. Hal ini berimbas pada transaksi jual beli. Dalam kondisi begini, masyarakat pasti lebih mengutamakan kebutuhan pokok terpenuhi lebih dahulu daripada kebutuhan sekunder lainnya.

Baca Juga :  Proyek di Kompleks Transmart Ditutup

Dengan adanya pergeseran nilai kebutuhan tersebut, pemasaran produk UMKM pun terpengaruh, sehingga akhirnya berdampak pada produksi. Inilah tantangan terberat UMKM, yakni menurunnya daya beli masyarakat.

Asosiasi Business Development Services Indonesia ABDSI Kalbar, telah melakukan pendataan UMKM terdampak di Kalbar. Koordinator Wilayah ABDSI Kalbar, Muhammad Fahmi mengatakan, sejauh ini ada 200 lebih UMKM terdampak yang telah didata melalui UMKM Crisis Center. Jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah seiring waktu.

“Dari seluruh data yang dihimpun, 51 persen UMKM merupakan pelaku usaha di bidang makanan dan minuman. Salah satu permasalahan yang dihadapi bisnis kuliner ini adalah sulitnya mendapatkan bahan baku, serta harganya yang mengalami kenaikan,” jelasnya.

Agar mampu bertahan, ia mendorong UMKM melakukan kalkulasi kembali bisnisnya, serta menjaga stabilitas arus kas, guna meminimalisir kerugian. Adapun bagi UMKM yang masih beroperasi, kata dia, strategi pemasaran harus lebih diperkuat, dengan harapan pangsa pasar semakin meluas.

“Cari cara agar pelanggan yang pernah berbelanja di tempat kita bisa ditawari lagi. Kemudian cari pangsa pasar baru dengan memaksimalkan marketplace yang telah tersedia,” jelasnya. (sti)

Most Read

Artikel Terbaru

/