alexametrics
31.7 C
Pontianak
Sunday, May 22, 2022

Cerita UMKM Kalbar Akselerasi Usaha Lewat Digitalisasi

Kesadaran UMKM untuk memanfaatkan platform digital membuat akses pasar mereka terbentang luas. Digitalisasi UMKM juga membuat pelayanan bisnis menjadi lebih efektif. Berikut kisah mereka yang mengakselerasi usaha lewat upaya digitalisasi.

SITI SULBIYAH, Pontianak

Halaman pertama di laman mesin pencari Google langsung menampilkan tiga lokasi usaha servis tas di Kota Pontianak, setelah penulis memasukkan kata kunci ‘servis tas Pontianak’. Salah satu yang tampil di halaman utama tersebut, adalah ‘Servis tas & koper Galang colection’, lengkap dengan Rating Google, alamat usaha, dan foto lokasi usaha. Apabila diklik, informasi soal usaha tersebut semakin lengkap.

“Itu anak saya yang masukkan ke Google,” kata Nur Komari, pemilik usaha tersebut, ketika ditanya penulis soal usahanya yang masuk dalam pencarian di mesin pancari Google.

Sejak lokasi usahanya dimasukkan ke Google Maps -layanan pemetaan web yang dikembangkan oleh Google- tiga tahun lalu, lebih banyak pelanggan yang datang untuk meminta jasanya memperbaiki tas yang rusak. Nur Komari yang kerap disapa Pak Dhe itu mengaku setiap hari selalu ada yang datang dengan keluhan kerusakan tas yang berbeda-beda. Ada yang tasnya robek, rusak resleting, rusak pengait, dan beragam keluhan lainnya. Memanfaatkan mesin jahit tua miliknya, hampir semua jenis kerusakan bisa ia perbaiki.

“Kalau cuma benerin resleting, sehari bisa sekitar 30 tas. Tapi kalau rusaknya parah, harus bongkar bodi, bisa sekitar 15 tas sehari,” tuturnya.

Pak Dhe juga aktif di sosial media untuk memperkenalkan jasanya. Alhasil, orderannya membeludak. Kiosnya yang berada di Gang Sambe, Jalan Prof M Yamin, Pontianak, penuh dengan tas dan koper yang menunggu untuk diperbaiki. Selain karena kualitas hasil yang baik, pemanfaatan platform digital juga turut membuat jasanya dipilih oleh masyarakat.

Akselerasi usaha dengan pemanfaatan teknologi digital juga dilakukan oleh Luqman, pemilik usaha Hamster Mania. Sejak mendirikan usaha budi daya hamster pada tahun 2013, sejak saat itulah promosi ia lakukan di sosial media. Pencarian melalui Google juga menempatkan usahanya, Hamster Mania pada laman teratas dengan kata kunci ‘Hamster Pontianak’ dan ‘Jual Hamster’.

Luqman menceritakan, berkat informasi Google Maps, turis dari luar negeri pernah datang ke tokonya untuk membeli hamster, di Gang Berdikari, Pal Lima, Pontianak. “Pernah ada bule dari Amerika Serikat, India, dan negara lainnya, mendapatkan informasi dari Google Maps sehingga memudahkan mereka menuju ke lokasi Hamster Mania.  Toko memang wajib mencantumkan alamat di Google Maps agar pelanggan tak tersesat menuju ke lokasi, terlebih usaha kami di dalam gang yang notabene bukan lokasi strategis,” katanya.

Baca Juga :  Polisi Ungkap Motif Dendam pada Kasus Pembacokan Mantan Kapolsek Mandor

Luqman paham betul pentingnya menggunakan teknologi digital untuk meningkatkan skala usahanya. Dia juga membuat konten-konten menarik tentang pemeliharaan hamster untuk memberikan edukasi kepada pencinta hamster, sekaligus menjadi sarana memperkenalkan usahanya. Selain itu, ia juga menggunakan marketplace untuk menjangkau pangsa pasar yang lebih luas. Tak hanya hamster, ia juga menjual pernak-pernik dan kebutuhan pemeliharaan hewan berukuran mini tersebut.

“Sangat besar potensinya (jual di marketplace, red). Pengiriman tembus dari Papua sampai ke Aceh,” katanya.

Tak hanya menjangkau akses pasar yang luas, pria berusia 30 tahun ini juga mempermudah layanan dengan memanfaatkan teknologi digital. Dalam hal transaksi misalnya, Hamster Mania tak hanya melayani secara tunai, namun juga nontunai. Tokonya melayani pembayaran berbasis kartu dan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).

“Penggunaan nontunai adalah untuk memudahkan pelanggan yang ingin berbelanja tapi tidak menggunakan uang cash. Kami layani penggunaan kartu bahkan ponsel pintar.  Toko harus mengutamakan pelayanan kepada pelanggan sehingga pelanggan bisa merekomendasikan ke calon pelanggan baru dan repeat order,” katanya.

Pak Dhe dan Luqman adalah contoh pelaku UMKM yang berupaya mengakselerasi usaha dengan memanfaatkan teknologi digital. Pengamat Ekonomi Universitas Tanjungpura, Muhammad Fahmi menilai, usaha apapun dapat memanfaatkan ekosistem digital yang telah tersedia. Tak hanya penjualan barang, usaha yang bergerak di bidang jasa juga dapat dioptimalkan dengan upaya digitalisasi ini.

Ketua Asosiasi Business Development Service Indonesia (ABDSI) Kalbar ini menilai, tidak sulit bagi UMKM memasuki ekosistem digital. Namun yang menjadi tantangan, kata dia, adalah meningkatkan literasi mereka, sebab kecukupan pengetahuan akan menambah motivasi bagi pelaku UMKM untuk memprioritaskan segala hal agar terhubung ke dalam ekosistem digital.

Baca Juga :  59 Ribu Usaha Mikro Diusulkan Terima Banpres

“Karena itu perlu kolaborasi para pihak, mulai dari pemerintah, swasta, dunia pendidikan, dan pihak lainnya, guna memberikan pendampingan supaya UMKM kita dapat segera masuk ke dalam ekosistem digital,” tutur Fahmi

Di sisi lain, lanjut dia, pandemi covid-19 menjadi momentum tepat melakukan percepatan digitalisasi UMKM. Melalui upaya digitalisasi, diharapkan UMKM mampu menghadapi krisis hari ini, dan mengantisipasi berbagai perubahan ke depannya. “Itu sebabnya, penting bagi UMKM memahami digitalisasi, sebab sudah menjadi kebutuhan,” katanya.

Optimalkan Transaksi Elektronik

Pertumbuhan transaksi nontunai saat ini menunjukkan tren positif, seiring dengan kebutuhan masyarakat dalam kemudahan bertransaksi. Fahmi menambahkan, tren transaksi nontunai tersebut semestinya dapat dimanfaatkan oleh pelaku UMKM untuk menambah pelayanan mereka kepada para pelanggan agar semakin memudahkan. Salah satunya melalui pembayaran via dompet digital.

Upaya akselerasi elektronifikasi transaksi keuangan di Kalbar terus dilakukan, salah satunya percepatan perluasan QRIS. Berdasarkan data dari Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Kalbar, hingga Desember 2020, jumlah merchant QRIS di provinsi ini sebanyak 57.158, atau tumbuh 67 persen (mtm) dibandingkan periode sebelumnya. Berdasarkan pangsanya, merchant QRIS didominasi oleh Usaha Mikro (UMI) sebanyak 35.865 usaha, diikuti oleh Usaha Kecil (UKE) sebanyak 15.236 usaha, Usaha Besar (UBE) sebanyak 1.803 usaha, Usaha Menengah (UME) 4.153 usaha dan lainnya sebanyak 101 usaha.

Kepala KPw Bank Indonesia Kalbar, Agus Chusaini mengatakan, akan mendorong transformasi UMKM ke arah digital, baik dalam bentuk onbording maupun e-commerce. Pihaknya juga terus berkoordinasi semua pihak dalam rangka mendorong pemulihan ekonomi nasional, meningkatkan konsumsi dan belanja produk UMKM serta meningkatkan penjualan karya produk kreatif lokal.

“Selain itu juga kami tujukan untuk memperkuat nasional branding produk unggulan di daerah,” katanya.

Pandemi Covid-19 menjadi momentum dalam akselarasi elektronifikasi transaksi keuangan di Kalbar. Untuk mendorong hal itu, KPw BI Kalbar konsisten memberikan edukasi, sosialisasi dan menyelenggarakan berbagai program kerja diantaranya adalah kick off 1000 UMKM Kubu Raya, Cross Border Tourism (CBT), dan pembentukan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) sebagai langkah sinergi dengan stakeholder terkait untuk memperluas tingkat penerimaan elektronifikasi transaksi.  (*)

Kesadaran UMKM untuk memanfaatkan platform digital membuat akses pasar mereka terbentang luas. Digitalisasi UMKM juga membuat pelayanan bisnis menjadi lebih efektif. Berikut kisah mereka yang mengakselerasi usaha lewat upaya digitalisasi.

SITI SULBIYAH, Pontianak

Halaman pertama di laman mesin pencari Google langsung menampilkan tiga lokasi usaha servis tas di Kota Pontianak, setelah penulis memasukkan kata kunci ‘servis tas Pontianak’. Salah satu yang tampil di halaman utama tersebut, adalah ‘Servis tas & koper Galang colection’, lengkap dengan Rating Google, alamat usaha, dan foto lokasi usaha. Apabila diklik, informasi soal usaha tersebut semakin lengkap.

“Itu anak saya yang masukkan ke Google,” kata Nur Komari, pemilik usaha tersebut, ketika ditanya penulis soal usahanya yang masuk dalam pencarian di mesin pancari Google.

Sejak lokasi usahanya dimasukkan ke Google Maps -layanan pemetaan web yang dikembangkan oleh Google- tiga tahun lalu, lebih banyak pelanggan yang datang untuk meminta jasanya memperbaiki tas yang rusak. Nur Komari yang kerap disapa Pak Dhe itu mengaku setiap hari selalu ada yang datang dengan keluhan kerusakan tas yang berbeda-beda. Ada yang tasnya robek, rusak resleting, rusak pengait, dan beragam keluhan lainnya. Memanfaatkan mesin jahit tua miliknya, hampir semua jenis kerusakan bisa ia perbaiki.

“Kalau cuma benerin resleting, sehari bisa sekitar 30 tas. Tapi kalau rusaknya parah, harus bongkar bodi, bisa sekitar 15 tas sehari,” tuturnya.

Pak Dhe juga aktif di sosial media untuk memperkenalkan jasanya. Alhasil, orderannya membeludak. Kiosnya yang berada di Gang Sambe, Jalan Prof M Yamin, Pontianak, penuh dengan tas dan koper yang menunggu untuk diperbaiki. Selain karena kualitas hasil yang baik, pemanfaatan platform digital juga turut membuat jasanya dipilih oleh masyarakat.

Akselerasi usaha dengan pemanfaatan teknologi digital juga dilakukan oleh Luqman, pemilik usaha Hamster Mania. Sejak mendirikan usaha budi daya hamster pada tahun 2013, sejak saat itulah promosi ia lakukan di sosial media. Pencarian melalui Google juga menempatkan usahanya, Hamster Mania pada laman teratas dengan kata kunci ‘Hamster Pontianak’ dan ‘Jual Hamster’.

Luqman menceritakan, berkat informasi Google Maps, turis dari luar negeri pernah datang ke tokonya untuk membeli hamster, di Gang Berdikari, Pal Lima, Pontianak. “Pernah ada bule dari Amerika Serikat, India, dan negara lainnya, mendapatkan informasi dari Google Maps sehingga memudahkan mereka menuju ke lokasi Hamster Mania.  Toko memang wajib mencantumkan alamat di Google Maps agar pelanggan tak tersesat menuju ke lokasi, terlebih usaha kami di dalam gang yang notabene bukan lokasi strategis,” katanya.

Baca Juga :  Semarak Pekan Kreasi Pemuda 2019

Luqman paham betul pentingnya menggunakan teknologi digital untuk meningkatkan skala usahanya. Dia juga membuat konten-konten menarik tentang pemeliharaan hamster untuk memberikan edukasi kepada pencinta hamster, sekaligus menjadi sarana memperkenalkan usahanya. Selain itu, ia juga menggunakan marketplace untuk menjangkau pangsa pasar yang lebih luas. Tak hanya hamster, ia juga menjual pernak-pernik dan kebutuhan pemeliharaan hewan berukuran mini tersebut.

“Sangat besar potensinya (jual di marketplace, red). Pengiriman tembus dari Papua sampai ke Aceh,” katanya.

Tak hanya menjangkau akses pasar yang luas, pria berusia 30 tahun ini juga mempermudah layanan dengan memanfaatkan teknologi digital. Dalam hal transaksi misalnya, Hamster Mania tak hanya melayani secara tunai, namun juga nontunai. Tokonya melayani pembayaran berbasis kartu dan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).

“Penggunaan nontunai adalah untuk memudahkan pelanggan yang ingin berbelanja tapi tidak menggunakan uang cash. Kami layani penggunaan kartu bahkan ponsel pintar.  Toko harus mengutamakan pelayanan kepada pelanggan sehingga pelanggan bisa merekomendasikan ke calon pelanggan baru dan repeat order,” katanya.

Pak Dhe dan Luqman adalah contoh pelaku UMKM yang berupaya mengakselerasi usaha dengan memanfaatkan teknologi digital. Pengamat Ekonomi Universitas Tanjungpura, Muhammad Fahmi menilai, usaha apapun dapat memanfaatkan ekosistem digital yang telah tersedia. Tak hanya penjualan barang, usaha yang bergerak di bidang jasa juga dapat dioptimalkan dengan upaya digitalisasi ini.

Ketua Asosiasi Business Development Service Indonesia (ABDSI) Kalbar ini menilai, tidak sulit bagi UMKM memasuki ekosistem digital. Namun yang menjadi tantangan, kata dia, adalah meningkatkan literasi mereka, sebab kecukupan pengetahuan akan menambah motivasi bagi pelaku UMKM untuk memprioritaskan segala hal agar terhubung ke dalam ekosistem digital.

Baca Juga :  Konsumsi Kalbar Hilang Separuh

“Karena itu perlu kolaborasi para pihak, mulai dari pemerintah, swasta, dunia pendidikan, dan pihak lainnya, guna memberikan pendampingan supaya UMKM kita dapat segera masuk ke dalam ekosistem digital,” tutur Fahmi

Di sisi lain, lanjut dia, pandemi covid-19 menjadi momentum tepat melakukan percepatan digitalisasi UMKM. Melalui upaya digitalisasi, diharapkan UMKM mampu menghadapi krisis hari ini, dan mengantisipasi berbagai perubahan ke depannya. “Itu sebabnya, penting bagi UMKM memahami digitalisasi, sebab sudah menjadi kebutuhan,” katanya.

Optimalkan Transaksi Elektronik

Pertumbuhan transaksi nontunai saat ini menunjukkan tren positif, seiring dengan kebutuhan masyarakat dalam kemudahan bertransaksi. Fahmi menambahkan, tren transaksi nontunai tersebut semestinya dapat dimanfaatkan oleh pelaku UMKM untuk menambah pelayanan mereka kepada para pelanggan agar semakin memudahkan. Salah satunya melalui pembayaran via dompet digital.

Upaya akselerasi elektronifikasi transaksi keuangan di Kalbar terus dilakukan, salah satunya percepatan perluasan QRIS. Berdasarkan data dari Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Kalbar, hingga Desember 2020, jumlah merchant QRIS di provinsi ini sebanyak 57.158, atau tumbuh 67 persen (mtm) dibandingkan periode sebelumnya. Berdasarkan pangsanya, merchant QRIS didominasi oleh Usaha Mikro (UMI) sebanyak 35.865 usaha, diikuti oleh Usaha Kecil (UKE) sebanyak 15.236 usaha, Usaha Besar (UBE) sebanyak 1.803 usaha, Usaha Menengah (UME) 4.153 usaha dan lainnya sebanyak 101 usaha.

Kepala KPw Bank Indonesia Kalbar, Agus Chusaini mengatakan, akan mendorong transformasi UMKM ke arah digital, baik dalam bentuk onbording maupun e-commerce. Pihaknya juga terus berkoordinasi semua pihak dalam rangka mendorong pemulihan ekonomi nasional, meningkatkan konsumsi dan belanja produk UMKM serta meningkatkan penjualan karya produk kreatif lokal.

“Selain itu juga kami tujukan untuk memperkuat nasional branding produk unggulan di daerah,” katanya.

Pandemi Covid-19 menjadi momentum dalam akselarasi elektronifikasi transaksi keuangan di Kalbar. Untuk mendorong hal itu, KPw BI Kalbar konsisten memberikan edukasi, sosialisasi dan menyelenggarakan berbagai program kerja diantaranya adalah kick off 1000 UMKM Kubu Raya, Cross Border Tourism (CBT), dan pembentukan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) sebagai langkah sinergi dengan stakeholder terkait untuk memperluas tingkat penerimaan elektronifikasi transaksi.  (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/