alexametrics
33.9 C
Pontianak
Monday, May 23, 2022

Hiu dan Pari Kian Diburu, Sirip hingga Tulang Rawan Bernilai Jual Tinggi

Hampir setiap hari ratusan ekor hiu dan pari ditangkap. Ikan dengan kategori elasmobranch (bertulang rawan) itu memiliki nilai jual tinggi. Tidak hanya sirip tetapi juga bagian tubuh lainnya. Masifnya praktik perburuan hiu dan pari dikhawatirkan akan semakin menurunkan populasinya.

Arief Nugroho, Pontianak Post

HIU dan pari merupakan ikan bertulang rawan. Hampir seluruh bagian tubuhnya dapat dijadikan komoditas.  Dagingnya dapat dijadikan bahan pangan bergizi tinggi, mulai dari abon, bakso, sosis, hingga ikan asin.

Siripnya untuk diekspor dan kulitnya dapat diolah menjadi bahan industri kerajinan kulit berkualitas tinggi, seperti ikat pinggang, tas, sepatu, jaket, dompet. Selain itu, gigi, empedu, tulang, insang juga dapat diolah untuk berbagai keperluan seperti bahan lem, ornamen, pakan ternak, dan bahan obat. Tidak heran jika hewan dengan julukan top predator itu menjadi target perburuan demi cuan/laba.

Kalimantan Barat merupakan salah satu daerah di Indonesia yang aktif melakukan pemanfaatan hiu dan pari sebagai komoditas unggulan. Satu di antaranya di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya. Pontianak Post berkesempatan mengunjungi lokasi itu.

Di sana, kita bisa menyaksikan puluhan bahkan ratusan hiu dan pari didaratkan.  Di situ pula, ikan-ikan itu potong, dan dikuliti dan diolah menjadi ikan asin. Hari itu, waktu menunjuk pukul 05.30 wib. Semburat cahaya matahari pagi mulai menampakkan diri. Hari masih sedikit gelap. Cahaya lampu jalanan sebagian masih menyala. Sebuah kapal nelayan bersandar di pangkalan pendaratan ikan.

Beberapa pekerja mulai bersiap melakukan bongkar hasil tangkapan. Seekor ikan pari berukuran besar dikeluarkan dari dalam palka. Bau amis menusuk hidung. Menyengat.

Baca Juga :  Regulasi Perizinan dalam berbisnis Hiu dan Pari di Indonesia

Hitungan satu, dua, dan tiga, ikan itu diangkat ke timbangan. Beratnya hampir seratus kilogram. Demikian juga ikan-ikan berikutnya. Semua dikeluarkan dari palka dan ditimbang.  Namun, ada yang membuat saya heran.

Hampir semua ikan hiu dan pari yang dikeluarkan dari lambung kapal itu dalam keadaan tidak lengkap. Sirip punggung dan sirip pangkal ekor telah hilang. Seperti sengaja telah dipisahkan sejak ikan-ikan itu di laut.

Hiu dan pari yang sudah ditimbang dikumpulkan terpisah. Antara jenis hiu dan pari. Para perkerja kemudian mengambil jatahnya masing-masing. Ada yang bertugas memotong bagian kepala, tubuh, dan ada juga yang bertugas mengukiti ikan tersebut.

Setelah dipotong menjadi beberapa bagian, sirip renang (sirip bagian kiri dan kanan) dipisahkan dengan bagian tubuh lainnya. Selanjutnya, potongan-potongan tubuh hiu dan pari itu dibaluri garam dan selanjutnya direndam di sebuah bak atau kolam yang sudah disiapkan. Biasanya butuh dua hingga tiga hari hingga potongan bagian tubuh ikan itu siap dikeringkan. Cara pengeringannya pun sederhana. Disusun hingga rata di papan penjemuran dan cukup mengandalkan terik matahari. Setelah kering, asinan hiu dan pari siap dikemas dan dipasarkan.

Kinanto adalah salah satu pemilik tempat pengolahan asinan hiu dan pari di PPI Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya.  Menurutnya, ikan yang menjadi target buruan adalah semua jenis hiu dan pari. Namun yang paling dominan adalah pari kemejan atau liongbun.

“Semua ikan masuk. Tapi yang ukuran besar. Tapi kalau nelayan di sini, hasil tangkapannya ya itu-itu saja. Paling banyak liongbun,” katanya saat ditemui Pontianak Post, belum lama ini.

Baca Juga :  Pererat Hubungan Masyarakat dan Polri

Menurut dia, produk asinan hiu dan pari miliknya itu dipasarkan di sekitar Pontianak. Dijual di pasar trandisional, seperti Pasar Flamboyan, Pasar Kemuning dan beberapa pasar lainnya. “Kami jual di sekitar Pontianak saja,” kata dia.

Untuk daging hiu maupun pari, ia jual dengan harga Rp27 ribu per kilo. Namun, kata Kinanto, harga tersebut bisa berubah, menyesuaikan situasi pasar. “Kalau kebutuhan sedang naik, harganya bisa lebih mahal,” kata dia.

Selama ini, Kinanto tidak hanya mengolah daging hiu dan pari menjadi produk asinan. Ia juga memanfaatkan kulit dan tulangnya.  “Kalau dulu yang laku dijual sirip dan dagingnya. Tapi sekarang kulit dan tulangnya juga laku dijual. Pokoknya segala sesuatu asal menghasilkan uang, jadilah,” katanya.

Kulit ikan pari yang telah dikeringkan dijual kepada penampung. Satu kilo kulit pari dijual sekitar belasan ribu rupiah.  Kinanto menceritakan, sebelum masa pandemi, ia sempat menjadi agen pengumpul kulit hiu dan pari untuk dikirim ke luar negeri, terutama Hongkong. Namun saat pandemi, pengiriman komoditas hiu dan pari ke luar negeri dihentikan

“Dulu pernah dikirim ke Hongkong. Permintaan di sana cukup tinggi tetapi karena pandemi, disetop,”  kata dia.

Untuk mengirim kulit hiu dan pari, setidaknya ia membutuhkan dua hingga tiga ton sekali kirim. Setidaknya butuh waktu enam bulan untuk mencukupi kuota tersebut.

“Sekali kirim minimal satu ton. Tapi untuk mengumpulkan sebanyak itu juga tidak gampang. Perlu setengah tahun. Perbandingannya setiap satu ton bobot ikan itu hanya sekitar 17 kilogram kulit yang dihasilkan,” bebernya.**

Hampir setiap hari ratusan ekor hiu dan pari ditangkap. Ikan dengan kategori elasmobranch (bertulang rawan) itu memiliki nilai jual tinggi. Tidak hanya sirip tetapi juga bagian tubuh lainnya. Masifnya praktik perburuan hiu dan pari dikhawatirkan akan semakin menurunkan populasinya.

Arief Nugroho, Pontianak Post

HIU dan pari merupakan ikan bertulang rawan. Hampir seluruh bagian tubuhnya dapat dijadikan komoditas.  Dagingnya dapat dijadikan bahan pangan bergizi tinggi, mulai dari abon, bakso, sosis, hingga ikan asin.

Siripnya untuk diekspor dan kulitnya dapat diolah menjadi bahan industri kerajinan kulit berkualitas tinggi, seperti ikat pinggang, tas, sepatu, jaket, dompet. Selain itu, gigi, empedu, tulang, insang juga dapat diolah untuk berbagai keperluan seperti bahan lem, ornamen, pakan ternak, dan bahan obat. Tidak heran jika hewan dengan julukan top predator itu menjadi target perburuan demi cuan/laba.

Kalimantan Barat merupakan salah satu daerah di Indonesia yang aktif melakukan pemanfaatan hiu dan pari sebagai komoditas unggulan. Satu di antaranya di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya. Pontianak Post berkesempatan mengunjungi lokasi itu.

Di sana, kita bisa menyaksikan puluhan bahkan ratusan hiu dan pari didaratkan.  Di situ pula, ikan-ikan itu potong, dan dikuliti dan diolah menjadi ikan asin. Hari itu, waktu menunjuk pukul 05.30 wib. Semburat cahaya matahari pagi mulai menampakkan diri. Hari masih sedikit gelap. Cahaya lampu jalanan sebagian masih menyala. Sebuah kapal nelayan bersandar di pangkalan pendaratan ikan.

Beberapa pekerja mulai bersiap melakukan bongkar hasil tangkapan. Seekor ikan pari berukuran besar dikeluarkan dari dalam palka. Bau amis menusuk hidung. Menyengat.

Baca Juga :  Kementerian Kominfo Ajak Masyarakat Indonesia Makin Cakap Digital melalui Literasi Digital Netizen Fair 2021

Hitungan satu, dua, dan tiga, ikan itu diangkat ke timbangan. Beratnya hampir seratus kilogram. Demikian juga ikan-ikan berikutnya. Semua dikeluarkan dari palka dan ditimbang.  Namun, ada yang membuat saya heran.

Hampir semua ikan hiu dan pari yang dikeluarkan dari lambung kapal itu dalam keadaan tidak lengkap. Sirip punggung dan sirip pangkal ekor telah hilang. Seperti sengaja telah dipisahkan sejak ikan-ikan itu di laut.

Hiu dan pari yang sudah ditimbang dikumpulkan terpisah. Antara jenis hiu dan pari. Para perkerja kemudian mengambil jatahnya masing-masing. Ada yang bertugas memotong bagian kepala, tubuh, dan ada juga yang bertugas mengukiti ikan tersebut.

Setelah dipotong menjadi beberapa bagian, sirip renang (sirip bagian kiri dan kanan) dipisahkan dengan bagian tubuh lainnya. Selanjutnya, potongan-potongan tubuh hiu dan pari itu dibaluri garam dan selanjutnya direndam di sebuah bak atau kolam yang sudah disiapkan. Biasanya butuh dua hingga tiga hari hingga potongan bagian tubuh ikan itu siap dikeringkan. Cara pengeringannya pun sederhana. Disusun hingga rata di papan penjemuran dan cukup mengandalkan terik matahari. Setelah kering, asinan hiu dan pari siap dikemas dan dipasarkan.

Kinanto adalah salah satu pemilik tempat pengolahan asinan hiu dan pari di PPI Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya.  Menurutnya, ikan yang menjadi target buruan adalah semua jenis hiu dan pari. Namun yang paling dominan adalah pari kemejan atau liongbun.

“Semua ikan masuk. Tapi yang ukuran besar. Tapi kalau nelayan di sini, hasil tangkapannya ya itu-itu saja. Paling banyak liongbun,” katanya saat ditemui Pontianak Post, belum lama ini.

Baca Juga :  Alami Penurunan Populasi, Hiu dan Pari Terancam Punah karena Penangkapan yang Berlebihan

Menurut dia, produk asinan hiu dan pari miliknya itu dipasarkan di sekitar Pontianak. Dijual di pasar trandisional, seperti Pasar Flamboyan, Pasar Kemuning dan beberapa pasar lainnya. “Kami jual di sekitar Pontianak saja,” kata dia.

Untuk daging hiu maupun pari, ia jual dengan harga Rp27 ribu per kilo. Namun, kata Kinanto, harga tersebut bisa berubah, menyesuaikan situasi pasar. “Kalau kebutuhan sedang naik, harganya bisa lebih mahal,” kata dia.

Selama ini, Kinanto tidak hanya mengolah daging hiu dan pari menjadi produk asinan. Ia juga memanfaatkan kulit dan tulangnya.  “Kalau dulu yang laku dijual sirip dan dagingnya. Tapi sekarang kulit dan tulangnya juga laku dijual. Pokoknya segala sesuatu asal menghasilkan uang, jadilah,” katanya.

Kulit ikan pari yang telah dikeringkan dijual kepada penampung. Satu kilo kulit pari dijual sekitar belasan ribu rupiah.  Kinanto menceritakan, sebelum masa pandemi, ia sempat menjadi agen pengumpul kulit hiu dan pari untuk dikirim ke luar negeri, terutama Hongkong. Namun saat pandemi, pengiriman komoditas hiu dan pari ke luar negeri dihentikan

“Dulu pernah dikirim ke Hongkong. Permintaan di sana cukup tinggi tetapi karena pandemi, disetop,”  kata dia.

Untuk mengirim kulit hiu dan pari, setidaknya ia membutuhkan dua hingga tiga ton sekali kirim. Setidaknya butuh waktu enam bulan untuk mencukupi kuota tersebut.

“Sekali kirim minimal satu ton. Tapi untuk mengumpulkan sebanyak itu juga tidak gampang. Perlu setengah tahun. Perbandingannya setiap satu ton bobot ikan itu hanya sekitar 17 kilogram kulit yang dihasilkan,” bebernya.**

Most Read

Artikel Terbaru

/