alexametrics
24 C
Pontianak
Thursday, June 30, 2022

Endus Sindikat Perdagangan Trenggiling, Dua Penjual dan 14 Kg Sisik Diamankan

PONTIANAK Tim Gabungan Direktorat Pencegahan dan Pengamanan Hutan dan Balai Gakkum KLHK Wilayah Kalimantan, menahan SK (38) dan BW (33), penjual sisik trenggiling (Manis javanica) di Jalan Raya Sekadau-Nanga Mahap, Desa Nanga Taman, Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau, Senin (18/10). Petugas juga menyita barang bukti berupa 14 kg sisik trenggiling,

Informasi dari masyarakat tentang adanya perdagangan sisik trenggiling di Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi menjadi awal pengungkapan kasus ini. Kemudian, melalui proses intelijen, Balai Gakkum KLHK Wilayah Kalimantan, berhasil mengetahui adanya rencana transaksi jual-beli sisik trenggiling.

Dari informasi tersebut, tim lalu menyergap dua pelaku sekitar pukul 10.45 di Jalan Raya Sekadau-Nanga Mahap, Desa Nanga Taman, Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau. Tim menyita 14 kilogram sisik trenggiling yang disimpan dalam karung plastik warna putih dan dibawa dengan sepeda motor.

Penyidik lantas memeriksa kedua pelaku, SK dan BW. Keduanya dibawa ke Kantor Balai Gakkum KLHK Wilayah Kalimantan, Seksi Wilayah III Pontianak. Selain 14 kg sisik trenggiling, tim juga mengamankan satu sepeda motor Honda Revo, dan dua ponsel.

Baca Juga :  Jembatan Pelabuhan Kijing Ambruk

“Hasil kajian valuasi ekonomi satwa dilindungi, setiap satu kilogram sisik trenggiling membutuhkan 10 ekor trenggiling hidup. Jadi 14 kg sisik trenggiling yang disita itu berasal dari 140 ekor trenggiling hidup yang dibunuh dan dikuliti. Bisa dipastikan sisik trenggiling itu untuk pasar luar negeri,” kata Sustyo Iriyono, Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan, Ditjen Gakkum, KLHK, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (19/10),

Sementara itu, Eduward Hutapea, Kepala Balai Gakkum KLHK Wilayah Kalimantan mengatakan, PPNS Ditjen Gakkum bersama Korwas PPNS Polda Kalbar akan menyelidiki dan menyidik lebih jauh untuk mengungkap jaringan perdagangan sisik trenggiling, mulai dari perburuan sampai rantai perdagangannya, termasuk pembeli di luar negeri.

Berdasarkan dua alat bukti, penyidik Ditjen Gakkum KLHK, akan menjerat SK dan BW dengan Pasal 40 Ayat 2 Jo. Pasal 21 Ayat 2 Huruf d Undang-Undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, dengan ancaman pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp.100 juta.

Seperti diketahui, perdagangan sisik trenggiling bukan hanya kali ini terungkap. Sisik trenggiling tergolong bagian satwa yang dilindungi. Trenggiling (Manis javanica) termasuk satwa dilindungi Undang-Undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Baca Juga :  Pangdam:  Masyarakat Tidak Usah Takut dan Ragu

Sebelumnya, pada 23 April 2021, SPORC Brigade Bekantan Seksi Wilayah III Pontianak, Balai Gakkum KLHK Wilayah Kalimantan dan Korwas PPNS Polda Kalbar, juga mengamankan  4,5 Kg sisik trenggiling saat menggeledah rumah di Jl. Ketapang-Sukadana RT 010/RW 005, Desa Kuala Tolak, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang.

Sisik trenggiling disimpan dan dikemas dalam empat kantong plastik hitam disembunyikan dalam kardus warna coklat. Penyidik Balai Gakkum menetapkan pemiliknya, PB (37) sebagai tersangka. Penyidik menjerat PB dengan Pasal 21 Ayat 2 Huruf d Jo. Pasal 40 Ayat 2 Undang-Undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, dengan ancaman hukum penjara maksimal 5 tahun dan denda maksimal Rp 100 juta.

Penangkapan ini bermula dari laporan masyarakat tentang adanya transaksi jual-beli sisik trenggiling di Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang. Setelah pengumpulan bahan dan keterangan, Tim SPORC Brigade Bekantan bersama PPNS Balai Gakkum, Korwas PPNS Polda Kalbar menggerebek rumah tinggal PB. (arf)

PONTIANAK Tim Gabungan Direktorat Pencegahan dan Pengamanan Hutan dan Balai Gakkum KLHK Wilayah Kalimantan, menahan SK (38) dan BW (33), penjual sisik trenggiling (Manis javanica) di Jalan Raya Sekadau-Nanga Mahap, Desa Nanga Taman, Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau, Senin (18/10). Petugas juga menyita barang bukti berupa 14 kg sisik trenggiling,

Informasi dari masyarakat tentang adanya perdagangan sisik trenggiling di Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi menjadi awal pengungkapan kasus ini. Kemudian, melalui proses intelijen, Balai Gakkum KLHK Wilayah Kalimantan, berhasil mengetahui adanya rencana transaksi jual-beli sisik trenggiling.

Dari informasi tersebut, tim lalu menyergap dua pelaku sekitar pukul 10.45 di Jalan Raya Sekadau-Nanga Mahap, Desa Nanga Taman, Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau. Tim menyita 14 kilogram sisik trenggiling yang disimpan dalam karung plastik warna putih dan dibawa dengan sepeda motor.

Penyidik lantas memeriksa kedua pelaku, SK dan BW. Keduanya dibawa ke Kantor Balai Gakkum KLHK Wilayah Kalimantan, Seksi Wilayah III Pontianak. Selain 14 kg sisik trenggiling, tim juga mengamankan satu sepeda motor Honda Revo, dan dua ponsel.

Baca Juga :  Ini Jadwal Pendaftaran Bacalon Ketua DPD Golkar Kalbar

“Hasil kajian valuasi ekonomi satwa dilindungi, setiap satu kilogram sisik trenggiling membutuhkan 10 ekor trenggiling hidup. Jadi 14 kg sisik trenggiling yang disita itu berasal dari 140 ekor trenggiling hidup yang dibunuh dan dikuliti. Bisa dipastikan sisik trenggiling itu untuk pasar luar negeri,” kata Sustyo Iriyono, Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan, Ditjen Gakkum, KLHK, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (19/10),

Sementara itu, Eduward Hutapea, Kepala Balai Gakkum KLHK Wilayah Kalimantan mengatakan, PPNS Ditjen Gakkum bersama Korwas PPNS Polda Kalbar akan menyelidiki dan menyidik lebih jauh untuk mengungkap jaringan perdagangan sisik trenggiling, mulai dari perburuan sampai rantai perdagangannya, termasuk pembeli di luar negeri.

Berdasarkan dua alat bukti, penyidik Ditjen Gakkum KLHK, akan menjerat SK dan BW dengan Pasal 40 Ayat 2 Jo. Pasal 21 Ayat 2 Huruf d Undang-Undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, dengan ancaman pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp.100 juta.

Seperti diketahui, perdagangan sisik trenggiling bukan hanya kali ini terungkap. Sisik trenggiling tergolong bagian satwa yang dilindungi. Trenggiling (Manis javanica) termasuk satwa dilindungi Undang-Undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Baca Juga :  Pasien Usia 95 tahun Sembuh

Sebelumnya, pada 23 April 2021, SPORC Brigade Bekantan Seksi Wilayah III Pontianak, Balai Gakkum KLHK Wilayah Kalimantan dan Korwas PPNS Polda Kalbar, juga mengamankan  4,5 Kg sisik trenggiling saat menggeledah rumah di Jl. Ketapang-Sukadana RT 010/RW 005, Desa Kuala Tolak, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang.

Sisik trenggiling disimpan dan dikemas dalam empat kantong plastik hitam disembunyikan dalam kardus warna coklat. Penyidik Balai Gakkum menetapkan pemiliknya, PB (37) sebagai tersangka. Penyidik menjerat PB dengan Pasal 21 Ayat 2 Huruf d Jo. Pasal 40 Ayat 2 Undang-Undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, dengan ancaman hukum penjara maksimal 5 tahun dan denda maksimal Rp 100 juta.

Penangkapan ini bermula dari laporan masyarakat tentang adanya transaksi jual-beli sisik trenggiling di Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang. Setelah pengumpulan bahan dan keterangan, Tim SPORC Brigade Bekantan bersama PPNS Balai Gakkum, Korwas PPNS Polda Kalbar menggerebek rumah tinggal PB. (arf)

Most Read

Artikel Terbaru

/