alexametrics
26 C
Pontianak
Saturday, June 25, 2022

Bumblebee Goby yang Mulai Menghilang dari Parit Kami

Apa itu bumblebee goby? Masyarakat Kota Pontianak pasti tidak familiar dengan nama ini. Tapi ketika disebut gendang gendis (baca: gendang gendes), saya yakin, hampir semua mengenal jenis ikan mungil yang satu ini. Ikan yang corak belangnya mirip lebah. Namun jika ditanya, kapan terakhir sempat melihat ikan ini berenang liar di alam bebas? Jawabannya mungkin sudah lama sekali.

ANDRI JANUARDI, Pontianak

Berape ni Bang?” tanyaku menghampiri penjual ikan cupang yang biasa mangkal di tepian Parit Sungai Jawi di Jalan H. Rais A. Rahman, tidak jauh dari Jembatan Gg. Margodadirejo II. Mataku tertuju ke akuarium kecil yang berisi beberapa ekor ikan mungil, namun bukan ikan cupang sebagaimana yang dijualnya.

Tige sepuloh Pak,” jawabnya. Artinya, tiga ekor ikan mungil itu dibanderol Rp10 ribu.

Aku kaget. Ikan yang dulu dengan mudah kudapat di parit-parit kami, kini harus kudapat dengan merogoh kocek sebesar Rp10 ribu. Ikan-ikan kecil yang kumaksud adalah gendang gendis. Ukurannya kecil, hanya seujung ruas jari telunjuk. Warnanya belang hitam dan kuning, seperti belangnya lebah. Itu mungkin sebabnya spesies ini dinamakan bumblebee, yang berarti lebah. Nama yang tidak familiar buat masyarakat Kota Pontianak.

Aku sebetulnya tidak begitu heran jika ikan mungil ini kini begitu berharga dan harus didapat dengan membeli, tak lagi diburu di alam liar seperti dulu. Saat ini sulit mengendus ikan bernama latin Brachygobius xanthozonus ini. Dulu, di parit kediamanku, Parit Bansir, yang membentang mulai dari Gang Kuantan di Jalan Imam Bonjol hingga ujung Jalan Perdana, memburu ikan ini tidaklah sulit. Bahkan saking banyaknya, kadang dibiarkan saja ikan-ikan itu berenang di dalam parit kami tanpa pernah terusik. Padahal, untuk mendapatkan ikan ini tidaklah sulit. Larinya tak secepat ikan-ikan air tawar lain. Dalam sekejap, peralatan tangkap paling sederhana pun mampu menjaringnya.

Baca Juga :  Brimob Turunkan Tim Investigasi, Buntut Penembakan di Kebun Sawit

Tapi kini, tak pernah lagi kusaksikan ikan ini berenang di parit-parit kami. Entah karena kondisi parit yang telah tercemar atau spesies ikan ini yang mulai langka? Dia menjadi bagian dari keanekaragaman hayati yang secara perlahan pergi menghilang meninggalkan parit-parit kami. Kenekaragaman hayati adalah variasi makhluk hidup mulai dari gen, spesies, hingga ekosistem pada suatu wilayah. Itu sebabnya, tak hanya jenis ikan ini. Berbagai jenis ikan lainnya penghuni habitat parit, juga turut menghilang. Sebut saja kaloi, sumpit, lais, baong, udang, pasir pasir, betutu, seluang, dan lain-lain. Ini belum termasuk spesies tumbuh-tumbuhan yang juga pergi tanpa meninggalkan bekas.

Aku sempat bertanya kepada penjual ikan itu, darimana dia mendapatkan ikan ini?

“Di tanggol maseh ade Pak,” kata dia. Tanggol yang dimaksud dia adalah Jalan Tanggul, di mana ruas jalan tersebut paralel dengan Sungai Nipah Kuning, batas alam antara Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya di sebelah barat Kota Pontianak. Bisa jadi habitat tempat mereka memburu ikan-ikan mungil ini adalah di sungai tersebut. Hal yang sangat memungkinkan lantaran Sungai Nipah Kuning relatif belum tercemar dibanding sungai-sungai lain atau parit-parit yang begitu banyak membelah Kota Pontianak. Pasalnya belum ada kawasan industri maupun perkantoran di sepanjang bantaran sungai tersebut. Hunian penduduk di kawasan ini pun belum sepadat kawasan-kawasan lain yang menjadi bantaran parit atau sungai. Hampir seluruh parit di sepanjang Kecamatan Pontianak Tenggara, Selatan, Kota, hingga Barat, nyaris menjadi got atau buangan limbah. Sulit mendapatkan parit yang bersih di kawasan ini. Dampaknya, spesies-spesies penghuni parit yang dulu masih bisa dijumpai kini menghilang.

Baca Juga :  Limbah Medis Meningkat Tajam Selama Pandemi

Jika kondisi ini dibiarkan terus, kelak anak cucu kita hanya mengenal bumblebee goby dari literatur, tapi tak pernah menyaksikannya secara langsung di alam liar. Perlu sebuah langkah cepat untuk mencegah satu dari keanekaragaman hayati ini menghilang. Statusnya saat ini memang bukan sebagai spesies langka yang dilindungi. Tapi jika dibiarkan, keberadaannya tak bisa lagi dijumpai di alam, bukan mustahil mereka akan menghilang tanpa sempat dinyatakan sebagai spesies langka. Semua terjadi karena ketidakpedulian kita akan makhluk kecil yang cantik ini. Jika dia menghilang, yang lain pun akan ikut menghilang dan kita tidak pernah menyadarinya. Perlu langkah konkret untuk menyelamatkan keberadaan mereka.

Selamat Hari Keanekaragaman Hayati Dunia.

Apa itu bumblebee goby? Masyarakat Kota Pontianak pasti tidak familiar dengan nama ini. Tapi ketika disebut gendang gendis (baca: gendang gendes), saya yakin, hampir semua mengenal jenis ikan mungil yang satu ini. Ikan yang corak belangnya mirip lebah. Namun jika ditanya, kapan terakhir sempat melihat ikan ini berenang liar di alam bebas? Jawabannya mungkin sudah lama sekali.

ANDRI JANUARDI, Pontianak

Berape ni Bang?” tanyaku menghampiri penjual ikan cupang yang biasa mangkal di tepian Parit Sungai Jawi di Jalan H. Rais A. Rahman, tidak jauh dari Jembatan Gg. Margodadirejo II. Mataku tertuju ke akuarium kecil yang berisi beberapa ekor ikan mungil, namun bukan ikan cupang sebagaimana yang dijualnya.

Tige sepuloh Pak,” jawabnya. Artinya, tiga ekor ikan mungil itu dibanderol Rp10 ribu.

Aku kaget. Ikan yang dulu dengan mudah kudapat di parit-parit kami, kini harus kudapat dengan merogoh kocek sebesar Rp10 ribu. Ikan-ikan kecil yang kumaksud adalah gendang gendis. Ukurannya kecil, hanya seujung ruas jari telunjuk. Warnanya belang hitam dan kuning, seperti belangnya lebah. Itu mungkin sebabnya spesies ini dinamakan bumblebee, yang berarti lebah. Nama yang tidak familiar buat masyarakat Kota Pontianak.

Aku sebetulnya tidak begitu heran jika ikan mungil ini kini begitu berharga dan harus didapat dengan membeli, tak lagi diburu di alam liar seperti dulu. Saat ini sulit mengendus ikan bernama latin Brachygobius xanthozonus ini. Dulu, di parit kediamanku, Parit Bansir, yang membentang mulai dari Gang Kuantan di Jalan Imam Bonjol hingga ujung Jalan Perdana, memburu ikan ini tidaklah sulit. Bahkan saking banyaknya, kadang dibiarkan saja ikan-ikan itu berenang di dalam parit kami tanpa pernah terusik. Padahal, untuk mendapatkan ikan ini tidaklah sulit. Larinya tak secepat ikan-ikan air tawar lain. Dalam sekejap, peralatan tangkap paling sederhana pun mampu menjaringnya.

Baca Juga :  Komisi IV DPRD Kalbar Sidak Proyek RSUD Dr Soedarso

Tapi kini, tak pernah lagi kusaksikan ikan ini berenang di parit-parit kami. Entah karena kondisi parit yang telah tercemar atau spesies ikan ini yang mulai langka? Dia menjadi bagian dari keanekaragaman hayati yang secara perlahan pergi menghilang meninggalkan parit-parit kami. Kenekaragaman hayati adalah variasi makhluk hidup mulai dari gen, spesies, hingga ekosistem pada suatu wilayah. Itu sebabnya, tak hanya jenis ikan ini. Berbagai jenis ikan lainnya penghuni habitat parit, juga turut menghilang. Sebut saja kaloi, sumpit, lais, baong, udang, pasir pasir, betutu, seluang, dan lain-lain. Ini belum termasuk spesies tumbuh-tumbuhan yang juga pergi tanpa meninggalkan bekas.

Aku sempat bertanya kepada penjual ikan itu, darimana dia mendapatkan ikan ini?

“Di tanggol maseh ade Pak,” kata dia. Tanggol yang dimaksud dia adalah Jalan Tanggul, di mana ruas jalan tersebut paralel dengan Sungai Nipah Kuning, batas alam antara Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya di sebelah barat Kota Pontianak. Bisa jadi habitat tempat mereka memburu ikan-ikan mungil ini adalah di sungai tersebut. Hal yang sangat memungkinkan lantaran Sungai Nipah Kuning relatif belum tercemar dibanding sungai-sungai lain atau parit-parit yang begitu banyak membelah Kota Pontianak. Pasalnya belum ada kawasan industri maupun perkantoran di sepanjang bantaran sungai tersebut. Hunian penduduk di kawasan ini pun belum sepadat kawasan-kawasan lain yang menjadi bantaran parit atau sungai. Hampir seluruh parit di sepanjang Kecamatan Pontianak Tenggara, Selatan, Kota, hingga Barat, nyaris menjadi got atau buangan limbah. Sulit mendapatkan parit yang bersih di kawasan ini. Dampaknya, spesies-spesies penghuni parit yang dulu masih bisa dijumpai kini menghilang.

Baca Juga :  Golkar Kalbar Plt-kan Enam Pimpinan Tingkat DPD II

Jika kondisi ini dibiarkan terus, kelak anak cucu kita hanya mengenal bumblebee goby dari literatur, tapi tak pernah menyaksikannya secara langsung di alam liar. Perlu sebuah langkah cepat untuk mencegah satu dari keanekaragaman hayati ini menghilang. Statusnya saat ini memang bukan sebagai spesies langka yang dilindungi. Tapi jika dibiarkan, keberadaannya tak bisa lagi dijumpai di alam, bukan mustahil mereka akan menghilang tanpa sempat dinyatakan sebagai spesies langka. Semua terjadi karena ketidakpedulian kita akan makhluk kecil yang cantik ini. Jika dia menghilang, yang lain pun akan ikut menghilang dan kita tidak pernah menyadarinya. Perlu langkah konkret untuk menyelamatkan keberadaan mereka.

Selamat Hari Keanekaragaman Hayati Dunia.

Most Read

Artikel Terbaru

/