alexametrics
22.8 C
Pontianak
Sunday, August 14, 2022

Legalisasi Ganja Medis Masih Dikaji

PONTIANAK – Wacana legalisasi ganja untuk kebutuhan medis masih dibahas. Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalbar, Basri Har mengatakan, terkait fatwa soal ganja untuk kebutuhan medis ini masih dalam proses pembahasan MUI Pusat. Pihaknya masih menunggu tindak lanjut hasilnya.

“Karena ganja ini sifatnya nasional maka perlu fatwa MUI Pusat tidak berbentuk fatwa provinsi saja,” ulasnya.

Basri mengemukakan bahwa  hukum mengonsumsi ganja haram karena memabukkan. Namun, jika ditinjau dari keperluan pengobatan, maka perlu ada pengkajian lebih lanjut mengenai manfaat dan bahayanya.

“Kalau masih ada alternatif lain yang halal maka tetap haram,” ujarnya.

Basri menjelaskan, penggunaan ganja bisa dihukumkan darurat untuk pengobatan,  jika suatu penyakit tidak  ada obatnya kecuali ganja.

Baca Juga :  Kementan Bina Petani Ganja Alih Komoditas

“Maka dibolehkan karena darurat,” kata dia.

Jika dilihat aspek manfaat dan aspek kerusakannya, menurut Basri jika dampak kerusakannya lebih besar maka hukumnya tetap haram.

“Ganja ada maslahat dan ada mudharatnya, tapi kalau mudharatnya lebih besar dari maslahatnya maka ia tetap haram, kecuali tidak ada pilihan lain, maka boleh karena darurat dan sangat dibutuhkan,” jelasnya.

Basri menegaskan pihaknya masih menunggu keputusan MUI pusat terkait fatwa penggunaan ganja untuk pengobatan.

“Tapi kita tunggu bagaimana keputusan pusat,” pungkas dia.

Wacana legalisasi ganja untuk kebutuhan medis kembali muncul setelah media sosial ramai memperbincangkan aksi seorang ibu yang membawa tulisan “tolong anakku butuh ganja medis.” Usaha ini dilakukan untuk membantu mengobati anaknya yang mengidap lumpuh otak atau cerebral palsy. (mrd)

Baca Juga :  Terapkan Aplikasi PeduliLindungi di Perkantoran, Disporapar Sosialisasikan ke Tempat Wisata

PONTIANAK – Wacana legalisasi ganja untuk kebutuhan medis masih dibahas. Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalbar, Basri Har mengatakan, terkait fatwa soal ganja untuk kebutuhan medis ini masih dalam proses pembahasan MUI Pusat. Pihaknya masih menunggu tindak lanjut hasilnya.

“Karena ganja ini sifatnya nasional maka perlu fatwa MUI Pusat tidak berbentuk fatwa provinsi saja,” ulasnya.

Basri mengemukakan bahwa  hukum mengonsumsi ganja haram karena memabukkan. Namun, jika ditinjau dari keperluan pengobatan, maka perlu ada pengkajian lebih lanjut mengenai manfaat dan bahayanya.

“Kalau masih ada alternatif lain yang halal maka tetap haram,” ujarnya.

Basri menjelaskan, penggunaan ganja bisa dihukumkan darurat untuk pengobatan,  jika suatu penyakit tidak  ada obatnya kecuali ganja.

Baca Juga :  MUI Kalbar Terima Laporan Adanya Huruf yang Hilang di Alquran

“Maka dibolehkan karena darurat,” kata dia.

Jika dilihat aspek manfaat dan aspek kerusakannya, menurut Basri jika dampak kerusakannya lebih besar maka hukumnya tetap haram.

“Ganja ada maslahat dan ada mudharatnya, tapi kalau mudharatnya lebih besar dari maslahatnya maka ia tetap haram, kecuali tidak ada pilihan lain, maka boleh karena darurat dan sangat dibutuhkan,” jelasnya.

Basri menegaskan pihaknya masih menunggu keputusan MUI pusat terkait fatwa penggunaan ganja untuk pengobatan.

“Tapi kita tunggu bagaimana keputusan pusat,” pungkas dia.

Wacana legalisasi ganja untuk kebutuhan medis kembali muncul setelah media sosial ramai memperbincangkan aksi seorang ibu yang membawa tulisan “tolong anakku butuh ganja medis.” Usaha ini dilakukan untuk membantu mengobati anaknya yang mengidap lumpuh otak atau cerebral palsy. (mrd)

Baca Juga :  KPA Temukan 85 Kasus Baru HIV Selama Tahun 2021

Most Read

Artikel Terbaru

/