alexametrics
33.9 C
Pontianak
Monday, August 8, 2022

Kembang-Kempis Usaha Panganan Pasar Emak-Emak Milenial

Pandemi Global Covid-19 memang berdampak luas bagi iklim usaha. Berbagai lini usaha ikut terkerek. Dari usaha berskala besar, hingga UMKM (Usaha Mikro Kecil  Menengah) terjerembab ke bawah. Peta persaingan semakin ketat demi memburu “recehan” rupiah. Kegetiran, juga ikut dirasakan emak-emak penjual Panganan Pasar Kue Tradisional.

==========

“Waduh, dagangan beragam kue tradisional saya, sebelum Covid-19 laku keras. Titipan ke sana kemari pasti habis. Sekarang rasanya, makan ke modal saja,” kata Mak Sinah sapaan karib emak-emak berusia sekitar 58 tahun ini berkeluh kesah di kediamannya.

Mak Sinah adalah sapaan karib Susinah, warga Desa Arang Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat. Wanita dengan 3 anak ini sudah berjualan aneka kue jajanan tradisional puluhan tahun lamanya.

Hampir 25-30 tahun, Mak Sinah menjajakan atau menitipnya ke toko-toko langanan dan toko tetangga dekat rumah. “Biasanya sudah habis, sampaik siang. Hampir setiap hari titipan kue saya dan anak antar. Namun sekarang, sampai sore kepala berputar. Ada saja tersisa,” katanya.

Mak Sinah memang pembuat panganan pasar kue tradisional. Sejak lama, perempuan paru baya ini sudah berjualan secara offline alias face to face (muka ke muka). Biasa juga dia menjajakan sendiri mengunjungi rumah-rumah tetangga yang sudah jadi langanannya.

“Saya sudah lakukan, sejak anak masih berumur bayi hingga dewasa seperti sekarang. Bagi emak, jualan seperti berolahraga subuh saja. Saya menjajakannya habis selesai sholat subuh berkeliling gang dan kampung. Untung dapat, sehat juga diraih,” ucap dia bercerita soal aktivitas hariannya.

Dikenal sebagai pembuat beragam aneka panganan kue tradisional, Mak Sinah memang cekatan. Walaupun usianya sudah senja dan guratan keriput terlihat di wajahnya, Mak Sinah tidak pernah berkeluh kesah. Baginya membuat panganan pasar berupa aneka kue tradisional seperti beribadah rutin saja.

“Anggap cari pahala sajalah. Pelanggan saya, apabila saya tidak jualan pasti bertanya-tanya dan cari. Jadi bagi saya, jualan adalah menyampaikan apa yang jadi hak-hak pelanggan,” ucapnya.

Di usia senjanya, tenaga Mak Sinah tidak seperti muda dulu. Dia pun tidak lagi bekerja sendirian. Wanita berumur ini memberdayakan beberapa tetangga perempuan.  Pekerjaannya adalah memilih bahan, mengadon tepung, menambah aneka pelengkap bahan sampai mengukus atau memasak aneka kue. Ia juga dibantu anak perempuannya yang sudah
ditularkan dari kecil bagaimana meramu aneka kue jajanan pasar yang lezat.

Di sekitar tempat tinggalnya, nama Mak Sinah sudah familiar sebagai pembuat aneka kue lezat. Dulu hari biasa, dia bisa sampai membuat 5-10 aneka kue, khusus pesanan pelanggan. Namun sekarang, pada masa pandemi Covid-19, dari rumah sederhana berlantai kayu dan bersemen kawat simpai, hanya 3-4 jenis aneka kue yang dapat diselesaikan.

“Harga bahan-bahan kue sudah mahal. Belum lagi banyak pelanggan mundur dan tidak laku. Makanya saya buat sebisanya saja. Mungkin pasarannya hanya lokal saja. Harapan Mak, bisa dipasarkan di luar. Mak, siap membuat dalam jumlah banyak,” ucapnya setengah bertanya kepada wartawan.

Rumah Mak Sinah memang sederhana. Di rumah inilah, produksi segala adonan kue panganan tradisional dikemas dan dibuat. Rumah mirip tipe 45 dengan 2 kamar, letaknya cukup strategis. Sekitar 3-5 meter saja dari batas bibir Sungai Kapuas, sebagai sungai terpanjang di Indonesia. Dari rumah ini jugalah, Mak Sinah mengolah kue dan bercengkerama dengan anak-anak dan almarhum suaminya.

Dapur tempat mengadon bahan kue hingga jadi juga tidak berukuran besar. Hanya seluas 5×6 meter. Kenyamanan sudah terasa sejak duduk dan masuk. Maklum Rumah Mak Sinah termasuk rumah model tempo lama, beralaskan papan berlian lebar. Tidak heran dengan tinggi 3,7 meter dari flapon dan lantai, aroma kesejukan menyeruak seisi rumah. Masuk ke rumahnya seperti berada dalam kenangan rumah model zaman dahulu.

Rumah sederhana dari keringat almarhum suami dan kerja kerasnya juga jadi saksi perjalanan hidup keluarga mereka. Aneka kue sampai bisa membesarkan dan menyekolahkan anak-anaknya bakalan jadi sejarah hidupnya. Ada yang sampai ke perguruan tinggi hingga memperoleh gelar strata-1 (S1) sampai bekerja di tempat layak. “Alhamdulilah, keringat suami dan jualan kue saya bisa menutupi biaya hidup dan sekolah,” katanya lagi.

Baca Juga :  Inginkan Hasil Pembangunan Lebih Berkualitas

Untuk aneka panganan pasar yang dibuat Mak Sinah, jenisnya beragam. Di antaranya klepon. Kue tradisional berbentuk bulat seperti onde-onde. Bedanya hanya pada tekstur dan isi. Klepon Mak Sinah dibuat dari tepung beras ketan pilihan dibentuk bulat berupa bola-bola kecil agak lonjong, mirip telur. Kemudian diisi gula merah lalu direbus dalam air mendidih. Setelah matang, klepon ini dibalurkan dengan kelapa parut. “Ini kue buatan paling favorit saya,” ucapnya.

Kue lain dibuat Mak Sinah adalah Dadar Gulung. Dadar gulungnya mempergunakan isian kelapa parut dimasak denga gula. Tak heran rasa manis dan gurih menyeruak ketika orang mencobanya. Kue Nagasari dari tepung beras dan santan juga menjadi menu harian pekerjaan Mak Sinah dan krunya. Ditambah isian pisang juga daun pisang sebagai bungkusnya, membuatnya sangat menggoda.

Kue lain yang hilang ditelan zaman adalah lopis. Panganan kue pasar ini terbuat dari ketan disajikan bersama parutan kelapa dan gula merah cair. Lopis disebut lupis sebenarnya makanan asli dari Jawa Tengah. Bentuk lupis dulunya segitiga namun karena terlalu sulit dibungkus, akhirnya dibuat seperti lontong, bulat memanjang. “Lupis Mak Sinah juga banyak yang suka,” katanya.

Jajanan pasar lain yang dibuat di dapurnya adalah kue putu. Putu adalah kue berisi gula jawa dan parutan kelapa, tepung beras bersama butiran kasar. Kue putu dibuat dengan cara dikukus. Dulunya diletakkan dalam tabung bambu dulunya. Sekarang sudah ada cetakan berbahan alumunium. Kue Putu mudah dibuat dengan cara sedikit dipadatkan. “Para orang tua masih banyak yang suka,” kata dia lagi.

Sensasi rasa kue-kue Mak Sinah memang membuat banyak pelanggan ketagihan. Kue yang tingkat kesulitannya lebih berat juga dibuatnya. Diantaranya Lemper, makanan tradisional dari ketan diisi abon atau dari bahan cincangan daging ayam. Selanjutnya dibungkus dengan daun pisang hingga membuat rasa dan aromanya semakin mantab.

Kue mangkok panganan dari tepung beras, tepung terigu dan tapai singkong dimasak dengan dikukus, juga dibuat Mak Sinah. Bentuknya memang seperti mangkok, kemudian mekar di ujungnya. “Kue ini juga dititipkannya di toko. Sangat laris sekali dulu,” katanya mengenang kembali.

Kue-kue lain yang pernah ditangani Mak Sinah diantaranya kue cucur campuran gula aren dan tepung terigu digoreng. Kue bugis berbahan dasar parutan kelapa dipadukan gula jawa dan bahan khas lain memberi rasa lembut, enak, lezat dan manis ketika digigit dan di makan. Kue Bugis Mandi yang dihidangkan bersama rendaman atau siraman saus santan kental bersama isian parutan kelapa atau kacang hijau pernah dibuatnya bersama kue lain seperti kue apem.

Sadar aneka kuenya hanya bermain di lokal saja, Mak Sinah berpikiran maju. Tiga bulan belakangan ini, dia akhirnya memanfaatkan medsos. Aneka medsos grup facebook hingga whatsapp dimasukinya. Itupun diajarkan anaknya, yang generasinya sudah lebih canggih bermain medsos. Hanya anak-anaknya berpesan, jangan posting hoax. “Katanya,
bisa ditangkap ya nak,” ucap Mak Sinah setengah bertanya.

Mak Sinah mengakui selama masa pandemi Covid-19, usaha jajanan kue tradisonalnya sangat lesu. Dampaknya, pendapatan menurun banyak. Sementara, dia juga harus membayar kru yang ikut dalam bisnisnya. Makanya, dia diberikan masukan anaknya dengan membuat medsos bisnis sendiri. Bermain medsos beberapa bulan belakangan, Mak Sinah merasa asik. Sebab, banyak tanggapan dari pembeli-pembelinya soal aneka kue jajanan tradisional. Umumnya positif dan memesan kembali.

Kini, Mak Sinah tidak lagi gaptek. Ia sudah menjadi emak-emak milenial. Dia tahu bagaimana memfotokan aneka kuenya kemudian disebar ke grup-grup medsos di facebook.  Ternyata hasilnya, Mak Sinah mendapatkan banyak pembeli. Pelanggannya kini tidak lagi lokal seputar kampung. Tetapi sudah beralih ke luar. Persisnya keluar dari kampung sendiri.

Baca Juga :  Pertanyakan Bantuan Mahasiswa Terdampak Covid-19, Perwakilan Mahasiswa Datangi Komisi V

“Bahkan ada pembeli dari kota tetangga, yakni Kota Pontianak. Hanya minta diantar ke alamat langsung atau COD (Cash On Delivery) ya istilahnya ?. Saya antar dengan menyuruh anak atau keponakan,” ucapnya.

Medsos dari aneka grup facebook yang dimanfaatkan Mak Sinah, kini membuatnya dikenal. Tidak hanya pelanggan baru diperoleh, ekspansi usahanya kini tak lagi fokus secara offline saja. Dunia online juga digerakannya. Dia merasakan dunia milenial medsos punya pengaruh besar untuk kemajuan bisnis panganan tradisionalnya.

Aneka medsos tak hanya dimanfaatkan Mak Sinah di Kabupaten Kubu Raya. Nun jauh disana, sekitar 12 jam dan 57 menit perjalanan jalur darat atau sekitar 623,3 kilo meter via Jalan Lintas Kalimantan Poros Tengah dari Putusibau Kota, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat, pemilik ayam lamongan, Sritini juga berjiwa milenial.

Ibu dengan 4 anak ini ikut memanfaatkan facebook dan whatsapp untuk bisnisnya. Jualan offline di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang benar-benar membuatnya rugi. “Harus Disiasati. Pelanggan malas keluar karena Covid-19. Mereka memanfaatkan whatsapp saya. Umumnya yang sudah kenal. Suami saya yang antarkan ke rumah mereka.
Dekat, biaya antar gratis. Jauh, saya kenakan biaya antar,” katanya.

Ayam Lamongan Sritini cukup disukai warga di sini. Letaknya berada di bibir jalan raya di Ibukota Kabupaten Kapuas Hulu. Selain menjual ayam plus nasi, sambal dan lalapan, dia juga menjual burung dara, dan ikan segar. Menu tersebut biasanya disajikan bersama minuman fresh seperti teh hangat, teh es, jeruk dan es timun. ”

Dulu sebelum pandemi Covid-19, puluhan sampai ratusan porsi jatah jualannya. Pembeli umumnya datang, makan, duduk, dan nongkrong sebentar di tempatnya. Kebetulan tempat lamongannya, fleksibel dan luas untuk tempat kongkow-kongkow (bersantai). Sehabis makan, pembeli kerap memanfaatkan sekedar tempat merokok dan minum kopi juga. “Selain nasi lamongan, saya juga jualan kopi,” ucap dia.

Tini sapaan akrabnya mengaku bahwa usaha jualan ayam lamongan sudah payah sejak Pandemi Covid-19 mendera. Pada awal-awal virus asal wuhan tersebut masuk Indonesia, dia dan suaminya bahkan berhenti berjualan. Namun kelamaan, tidak juga bisa bertahan dengan keadaan tersebut. Dia memutuskan berjualan kembali dengan porsi dibatasi ketika pemerintah memberlakukan new normal.

“Sampai sekarang saya tetap jualan. Namun tetap harus patuh protokol kesehatan. Selain pelanggan dan kami memakai masker, tempat cuci tangan dan hand sany tizer juga kami siapkan,” kata dia.

Bagi pelaku UMKM seperti dirinya, pandemi Covid-19 tidak boleh membuatnya lenggah. Rejeki tetap harus dikejar karena ada tanggung jawab anak dan keluarga. Terpenting adalah anjuraan pemerintah harus tetap diikuti. “Jualan tetap, dengan mengikuti protokol kesehatan,” ucapnya.

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Kubu Raya, Norasari Arani menyebutkan lebih dari enam ribu Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di kabupaten Kubu Raya terdampak pandemi Covid-19. Diperkirakan sekitar 6621 unit yang terdampak di Kubu Raya. Diperkirakan lebih dari 5579 UMKM di Kubu Raya sudah mendapatkan bantuan pelaku usaha mikro (BPUM) dari pemerintah pusat. Dari tersebut diberikan dari pos Kementerian Koperasi dan UKM RI.

Di Kabupaten Kapuas Hulu usulan 4.340 pelaku usaha mikro kepada Kementerian Koperasi dan UKM untuk mendapatkan Bantuan Presiden (Banpres) dari Kementerian Koperasi dan UKM sudah dilakukan. Tahap pertama sebanyak 113 pelaku usaha UMKM yang menerima dana bantuan bersumber dari APBN tersebut. “Yang menentukan penerima bantuan adalah
pusat,” kata Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Kapuas Hulu, Abang Chaerul Saleh awal Oktober lalu.(den)

Pandemi Global Covid-19 memang berdampak luas bagi iklim usaha. Berbagai lini usaha ikut terkerek. Dari usaha berskala besar, hingga UMKM (Usaha Mikro Kecil  Menengah) terjerembab ke bawah. Peta persaingan semakin ketat demi memburu “recehan” rupiah. Kegetiran, juga ikut dirasakan emak-emak penjual Panganan Pasar Kue Tradisional.

==========

“Waduh, dagangan beragam kue tradisional saya, sebelum Covid-19 laku keras. Titipan ke sana kemari pasti habis. Sekarang rasanya, makan ke modal saja,” kata Mak Sinah sapaan karib emak-emak berusia sekitar 58 tahun ini berkeluh kesah di kediamannya.

Mak Sinah adalah sapaan karib Susinah, warga Desa Arang Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat. Wanita dengan 3 anak ini sudah berjualan aneka kue jajanan tradisional puluhan tahun lamanya.

Hampir 25-30 tahun, Mak Sinah menjajakan atau menitipnya ke toko-toko langanan dan toko tetangga dekat rumah. “Biasanya sudah habis, sampaik siang. Hampir setiap hari titipan kue saya dan anak antar. Namun sekarang, sampai sore kepala berputar. Ada saja tersisa,” katanya.

Mak Sinah memang pembuat panganan pasar kue tradisional. Sejak lama, perempuan paru baya ini sudah berjualan secara offline alias face to face (muka ke muka). Biasa juga dia menjajakan sendiri mengunjungi rumah-rumah tetangga yang sudah jadi langanannya.

“Saya sudah lakukan, sejak anak masih berumur bayi hingga dewasa seperti sekarang. Bagi emak, jualan seperti berolahraga subuh saja. Saya menjajakannya habis selesai sholat subuh berkeliling gang dan kampung. Untung dapat, sehat juga diraih,” ucap dia bercerita soal aktivitas hariannya.

Dikenal sebagai pembuat beragam aneka panganan kue tradisional, Mak Sinah memang cekatan. Walaupun usianya sudah senja dan guratan keriput terlihat di wajahnya, Mak Sinah tidak pernah berkeluh kesah. Baginya membuat panganan pasar berupa aneka kue tradisional seperti beribadah rutin saja.

“Anggap cari pahala sajalah. Pelanggan saya, apabila saya tidak jualan pasti bertanya-tanya dan cari. Jadi bagi saya, jualan adalah menyampaikan apa yang jadi hak-hak pelanggan,” ucapnya.

Di usia senjanya, tenaga Mak Sinah tidak seperti muda dulu. Dia pun tidak lagi bekerja sendirian. Wanita berumur ini memberdayakan beberapa tetangga perempuan.  Pekerjaannya adalah memilih bahan, mengadon tepung, menambah aneka pelengkap bahan sampai mengukus atau memasak aneka kue. Ia juga dibantu anak perempuannya yang sudah
ditularkan dari kecil bagaimana meramu aneka kue jajanan pasar yang lezat.

Di sekitar tempat tinggalnya, nama Mak Sinah sudah familiar sebagai pembuat aneka kue lezat. Dulu hari biasa, dia bisa sampai membuat 5-10 aneka kue, khusus pesanan pelanggan. Namun sekarang, pada masa pandemi Covid-19, dari rumah sederhana berlantai kayu dan bersemen kawat simpai, hanya 3-4 jenis aneka kue yang dapat diselesaikan.

“Harga bahan-bahan kue sudah mahal. Belum lagi banyak pelanggan mundur dan tidak laku. Makanya saya buat sebisanya saja. Mungkin pasarannya hanya lokal saja. Harapan Mak, bisa dipasarkan di luar. Mak, siap membuat dalam jumlah banyak,” ucapnya setengah bertanya kepada wartawan.

Rumah Mak Sinah memang sederhana. Di rumah inilah, produksi segala adonan kue panganan tradisional dikemas dan dibuat. Rumah mirip tipe 45 dengan 2 kamar, letaknya cukup strategis. Sekitar 3-5 meter saja dari batas bibir Sungai Kapuas, sebagai sungai terpanjang di Indonesia. Dari rumah ini jugalah, Mak Sinah mengolah kue dan bercengkerama dengan anak-anak dan almarhum suaminya.

Dapur tempat mengadon bahan kue hingga jadi juga tidak berukuran besar. Hanya seluas 5×6 meter. Kenyamanan sudah terasa sejak duduk dan masuk. Maklum Rumah Mak Sinah termasuk rumah model tempo lama, beralaskan papan berlian lebar. Tidak heran dengan tinggi 3,7 meter dari flapon dan lantai, aroma kesejukan menyeruak seisi rumah. Masuk ke rumahnya seperti berada dalam kenangan rumah model zaman dahulu.

Rumah sederhana dari keringat almarhum suami dan kerja kerasnya juga jadi saksi perjalanan hidup keluarga mereka. Aneka kue sampai bisa membesarkan dan menyekolahkan anak-anaknya bakalan jadi sejarah hidupnya. Ada yang sampai ke perguruan tinggi hingga memperoleh gelar strata-1 (S1) sampai bekerja di tempat layak. “Alhamdulilah, keringat suami dan jualan kue saya bisa menutupi biaya hidup dan sekolah,” katanya lagi.

Baca Juga :  Elemen Pemuda Sanggau Bagi Masker Gratis

Untuk aneka panganan pasar yang dibuat Mak Sinah, jenisnya beragam. Di antaranya klepon. Kue tradisional berbentuk bulat seperti onde-onde. Bedanya hanya pada tekstur dan isi. Klepon Mak Sinah dibuat dari tepung beras ketan pilihan dibentuk bulat berupa bola-bola kecil agak lonjong, mirip telur. Kemudian diisi gula merah lalu direbus dalam air mendidih. Setelah matang, klepon ini dibalurkan dengan kelapa parut. “Ini kue buatan paling favorit saya,” ucapnya.

Kue lain dibuat Mak Sinah adalah Dadar Gulung. Dadar gulungnya mempergunakan isian kelapa parut dimasak denga gula. Tak heran rasa manis dan gurih menyeruak ketika orang mencobanya. Kue Nagasari dari tepung beras dan santan juga menjadi menu harian pekerjaan Mak Sinah dan krunya. Ditambah isian pisang juga daun pisang sebagai bungkusnya, membuatnya sangat menggoda.

Kue lain yang hilang ditelan zaman adalah lopis. Panganan kue pasar ini terbuat dari ketan disajikan bersama parutan kelapa dan gula merah cair. Lopis disebut lupis sebenarnya makanan asli dari Jawa Tengah. Bentuk lupis dulunya segitiga namun karena terlalu sulit dibungkus, akhirnya dibuat seperti lontong, bulat memanjang. “Lupis Mak Sinah juga banyak yang suka,” katanya.

Jajanan pasar lain yang dibuat di dapurnya adalah kue putu. Putu adalah kue berisi gula jawa dan parutan kelapa, tepung beras bersama butiran kasar. Kue putu dibuat dengan cara dikukus. Dulunya diletakkan dalam tabung bambu dulunya. Sekarang sudah ada cetakan berbahan alumunium. Kue Putu mudah dibuat dengan cara sedikit dipadatkan. “Para orang tua masih banyak yang suka,” kata dia lagi.

Sensasi rasa kue-kue Mak Sinah memang membuat banyak pelanggan ketagihan. Kue yang tingkat kesulitannya lebih berat juga dibuatnya. Diantaranya Lemper, makanan tradisional dari ketan diisi abon atau dari bahan cincangan daging ayam. Selanjutnya dibungkus dengan daun pisang hingga membuat rasa dan aromanya semakin mantab.

Kue mangkok panganan dari tepung beras, tepung terigu dan tapai singkong dimasak dengan dikukus, juga dibuat Mak Sinah. Bentuknya memang seperti mangkok, kemudian mekar di ujungnya. “Kue ini juga dititipkannya di toko. Sangat laris sekali dulu,” katanya mengenang kembali.

Kue-kue lain yang pernah ditangani Mak Sinah diantaranya kue cucur campuran gula aren dan tepung terigu digoreng. Kue bugis berbahan dasar parutan kelapa dipadukan gula jawa dan bahan khas lain memberi rasa lembut, enak, lezat dan manis ketika digigit dan di makan. Kue Bugis Mandi yang dihidangkan bersama rendaman atau siraman saus santan kental bersama isian parutan kelapa atau kacang hijau pernah dibuatnya bersama kue lain seperti kue apem.

Sadar aneka kuenya hanya bermain di lokal saja, Mak Sinah berpikiran maju. Tiga bulan belakangan ini, dia akhirnya memanfaatkan medsos. Aneka medsos grup facebook hingga whatsapp dimasukinya. Itupun diajarkan anaknya, yang generasinya sudah lebih canggih bermain medsos. Hanya anak-anaknya berpesan, jangan posting hoax. “Katanya,
bisa ditangkap ya nak,” ucap Mak Sinah setengah bertanya.

Mak Sinah mengakui selama masa pandemi Covid-19, usaha jajanan kue tradisonalnya sangat lesu. Dampaknya, pendapatan menurun banyak. Sementara, dia juga harus membayar kru yang ikut dalam bisnisnya. Makanya, dia diberikan masukan anaknya dengan membuat medsos bisnis sendiri. Bermain medsos beberapa bulan belakangan, Mak Sinah merasa asik. Sebab, banyak tanggapan dari pembeli-pembelinya soal aneka kue jajanan tradisional. Umumnya positif dan memesan kembali.

Kini, Mak Sinah tidak lagi gaptek. Ia sudah menjadi emak-emak milenial. Dia tahu bagaimana memfotokan aneka kuenya kemudian disebar ke grup-grup medsos di facebook.  Ternyata hasilnya, Mak Sinah mendapatkan banyak pembeli. Pelanggannya kini tidak lagi lokal seputar kampung. Tetapi sudah beralih ke luar. Persisnya keluar dari kampung sendiri.

Baca Juga :  Pertanyakan Bantuan Mahasiswa Terdampak Covid-19, Perwakilan Mahasiswa Datangi Komisi V

“Bahkan ada pembeli dari kota tetangga, yakni Kota Pontianak. Hanya minta diantar ke alamat langsung atau COD (Cash On Delivery) ya istilahnya ?. Saya antar dengan menyuruh anak atau keponakan,” ucapnya.

Medsos dari aneka grup facebook yang dimanfaatkan Mak Sinah, kini membuatnya dikenal. Tidak hanya pelanggan baru diperoleh, ekspansi usahanya kini tak lagi fokus secara offline saja. Dunia online juga digerakannya. Dia merasakan dunia milenial medsos punya pengaruh besar untuk kemajuan bisnis panganan tradisionalnya.

Aneka medsos tak hanya dimanfaatkan Mak Sinah di Kabupaten Kubu Raya. Nun jauh disana, sekitar 12 jam dan 57 menit perjalanan jalur darat atau sekitar 623,3 kilo meter via Jalan Lintas Kalimantan Poros Tengah dari Putusibau Kota, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat, pemilik ayam lamongan, Sritini juga berjiwa milenial.

Ibu dengan 4 anak ini ikut memanfaatkan facebook dan whatsapp untuk bisnisnya. Jualan offline di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang benar-benar membuatnya rugi. “Harus Disiasati. Pelanggan malas keluar karena Covid-19. Mereka memanfaatkan whatsapp saya. Umumnya yang sudah kenal. Suami saya yang antarkan ke rumah mereka.
Dekat, biaya antar gratis. Jauh, saya kenakan biaya antar,” katanya.

Ayam Lamongan Sritini cukup disukai warga di sini. Letaknya berada di bibir jalan raya di Ibukota Kabupaten Kapuas Hulu. Selain menjual ayam plus nasi, sambal dan lalapan, dia juga menjual burung dara, dan ikan segar. Menu tersebut biasanya disajikan bersama minuman fresh seperti teh hangat, teh es, jeruk dan es timun. ”

Dulu sebelum pandemi Covid-19, puluhan sampai ratusan porsi jatah jualannya. Pembeli umumnya datang, makan, duduk, dan nongkrong sebentar di tempatnya. Kebetulan tempat lamongannya, fleksibel dan luas untuk tempat kongkow-kongkow (bersantai). Sehabis makan, pembeli kerap memanfaatkan sekedar tempat merokok dan minum kopi juga. “Selain nasi lamongan, saya juga jualan kopi,” ucap dia.

Tini sapaan akrabnya mengaku bahwa usaha jualan ayam lamongan sudah payah sejak Pandemi Covid-19 mendera. Pada awal-awal virus asal wuhan tersebut masuk Indonesia, dia dan suaminya bahkan berhenti berjualan. Namun kelamaan, tidak juga bisa bertahan dengan keadaan tersebut. Dia memutuskan berjualan kembali dengan porsi dibatasi ketika pemerintah memberlakukan new normal.

“Sampai sekarang saya tetap jualan. Namun tetap harus patuh protokol kesehatan. Selain pelanggan dan kami memakai masker, tempat cuci tangan dan hand sany tizer juga kami siapkan,” kata dia.

Bagi pelaku UMKM seperti dirinya, pandemi Covid-19 tidak boleh membuatnya lenggah. Rejeki tetap harus dikejar karena ada tanggung jawab anak dan keluarga. Terpenting adalah anjuraan pemerintah harus tetap diikuti. “Jualan tetap, dengan mengikuti protokol kesehatan,” ucapnya.

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Kubu Raya, Norasari Arani menyebutkan lebih dari enam ribu Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di kabupaten Kubu Raya terdampak pandemi Covid-19. Diperkirakan sekitar 6621 unit yang terdampak di Kubu Raya. Diperkirakan lebih dari 5579 UMKM di Kubu Raya sudah mendapatkan bantuan pelaku usaha mikro (BPUM) dari pemerintah pusat. Dari tersebut diberikan dari pos Kementerian Koperasi dan UKM RI.

Di Kabupaten Kapuas Hulu usulan 4.340 pelaku usaha mikro kepada Kementerian Koperasi dan UKM untuk mendapatkan Bantuan Presiden (Banpres) dari Kementerian Koperasi dan UKM sudah dilakukan. Tahap pertama sebanyak 113 pelaku usaha UMKM yang menerima dana bantuan bersumber dari APBN tersebut. “Yang menentukan penerima bantuan adalah
pusat,” kata Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Kapuas Hulu, Abang Chaerul Saleh awal Oktober lalu.(den)

Most Read

Soal Pelayanan PDAM, Dewan Belum Puas

Target Satu Juta Warga Divaksin

Petugas Swab 18 Warga

Lokasi TMMD Jadi Tempat Bermain

Artikel Terbaru

/