alexametrics
31.7 C
Pontianak
Monday, August 8, 2022

Tulang Punggung Penopang Ekonomi Keluarga

Kisah Abdul 14 Tahun Jadi Operator SPBU

Belasan tahun menjadi operator di SPBU, banyak suka duka dirasakan Abdul. Bekerja sesuai SOP dan melayani sepenuh hati, menjadi kunci, hingga ia tetap bertahan. Harapannya sederhana, hanya ingin menafkahi dan membahagiakan keluarga.

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

Langit mulai terang namun matahari belum tampak, saat Abdul Wahid (42) meninggalkan rumahnya. Istri, Nurhama (28) beserta anaknya Safira Azzura mengantar hingga pintu depan. Putri sulung berusia tiga tahun delapan bulan itu cukup mengerti jika ayahnya harus bekerja.

Ketika melihat Abdul mengenakan seragam lengkap, tangannya hanya melambai dan tak pernah merengek untuk ikut. Lain halnya jika melihat Abdul mengenakan pakaian biasa, ia pasti minta diajak untuk pergi bersama. “Kalau lihat saya berseragam dia sudah hafal, kalau pakai baju biasa pasti ingin ikut,” ungkap Abdul saat dijumpai Pontianak Post di rumahnya, Gang Hidayah 1, Jalan Paris II belum lama ini.

Hari itu Abdul masuk pagi. Jarak antara rumah dengan tempat kerjanya tak terlalu jauh. Menggunakan sepeda motor, hanya butuh waktu sekitar lima menit untuk sampai. Sehari-hari ia bekerja sebagai operator di SPBU Pertamina 61.781.01, Jalan A Yani I (Paris 2), dengan waktu kerja sekitar delapan jam. Jika shift pagi, mulai pukul 06.00-14.00 WIB, sementara jika shift siang, mulai pukul 14.00 WIB-21.00 WIB.

Meski sudah 14 tahun menjalani rutinitas yang sama, Abdul tetap bersemangat. Pria yang ramah itu bercerita, awal bekerja di SPBU sejak 2006. Kebetulan saat itu SPBU tempatnya bekerja baru dibuka dan banyak membutuhkan karyawan.

Bermodalkan ijazah SMA, ia pun mendaftar hingga akhinrya lulus tes. Sejak itulah ia ditempatkan sebagai operator untuk melayani pelanggan yang datang. “Sebelum kerja di SPBU saya sempat jadi sopir taksi, ikut-ikut kawan, dari lulus SMA tahun 1997,” kenangnya.

Baca Juga :  Logistik Pemilu Sudah Tiba di Desa-desa, Tetap Patuhi Prokes

Belasan tahun bekerja di SPBU, suka duka sudah dialaminya. Ia merasa senang masih mendapat kepercayaan dari perusahaan. Pimpinan di sana diakuinya juga selalu baik. Dengan waktu yang tidak sebentar itu, ia meyakini perusahaan bisa melihat kinerja karyawannya. Hingga dirinya pun bisa terus dipertahankan hingga sekarang. “Mungkin perusahaan melihat saya bagus (bekerja) makanya dipertahankan terus,” katanya.

Sebagai orang yang berhadapan langsung dengan konsumen, tentunya tak semua pengalaman menyenangkan. Kadang ada saja yang mengeluhkan soal pelayanan. Untuk menyikapi konsumen yang beragam kesabaran harus diutamakan. Abdul selalu yakin karena bekerja sesuai SOP (Standar Operasional Prosedur). “Ya namanya kami di pelayanan, sudah biasalah ada (komplain) seperti itu,” ucapnya.

Abdul mengungkapkan komplain masyarakat biasanya terkait cara pengisian bahan bakar. Ada yang masih beranggapan ketika operator memainkan nozzle di selang pengisian, bahan bakar yang masuk ke tangki bakal berkurang. Padahal itu dilakukan agar cairan bahan bakar yang disalurkan tidak tumpah atau kelebihan.

Menghadapi hal seperti itu Abdul sudah terbiasa. Ia lantas memberikan edukasi agar konsumen paham. Jika masih ada yang tidak terima, ia kemudian menyarankan untuk menemui pimpinan atau pejabat yang lebih tinggi di SPBU. “Intinya kami berusaha menjelaskan sebaik-baiknya kepada konsumen, ” ungkapnya.

Abdul bercengkerama bersama buah hati sebelum berangkat kerja. foto Shando Safela

Abdul menganggap bekerja adalah ibadah. Maka dari itu ia selalu bersyukur atas apa yang ia dapatkan dari pekerjaannya. Karena dari bekerja di SPBU, ia bisa menafkahi keluarga. Dan penting baginya untuk selalu merasa cukup serta membahagiakan keluarga.

Apalagi di tengah situasi pandemi seperti saat ini, banyak pekerja yang terpaksa kehilangan mata pencaharian atau menjadi korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Berkaca dari hal itu, rasa syukur Abdul semakin besar. “Situasi sekarang kan dimana-mana orang kesulitan, susah mencari pekerjaan, banyak yang di-PHK, kita yang sudah ada pekerjaan harusnya lebih bersyukur. Alhamdulillah kerja di Pertamina ini tidak terdampak,” tutupnya.

Baca Juga :  Tujuh Daerah Minimal Harus Zona Kuning

Seperti diketahui dampak pandemi Covid-19 memang membuat angka pengangguran di Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) meningkat. Dari data di Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kalbar per 7 Oktober 2020, jumlah pekerja yang dirumahkan dan di-PHK dampak pandemi Covid-19 sudah mencapai 4.730 orang. Terbagi dari 752 orang yang di-PHK dan 3.978 orang yang dirumahkan.

Jumlah tersebut tersebar di seluruh kabupaten/kota se-Kalbar. Dimana untuk korban PHK terbanyak ada di Kota Pontianak sebanyak 232 orang. Temasuk pekerja yang dirumahkan terbanyak juga di Kota Pontianak dengan jumlah 1.332 orang. “Yang paling banyak terdampak adalah perusahaan-perusahaan di sektor perdagangan dan jasa,” ungkap Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kalbar Manto, Kamis (22/10).

Menurut Manto pihaknya berupaya mengakomodir para pekerja ini dengan berbagai program. Program-program yang sudah disusun sejak tahun lalu diarahkan dengan prioritas antara lain ke para pekerja yang terdampak pandemi Covid-19.

Antara lain, mendorong pencari kerja untuk mengikuti program Kartu Prakerja. Lalu meningkatkan program pelatihan yang dilengkapi dengan sertifikasi keahlian. Termasuk juga memfasilitasi tenaga kerja yang memiliki keahlian tertentu untuk mendapatkan sertifikasi keahlian.

“Kami juga lakukan pemetaan peluang digitalisasi usaha untuk perluasan kesempatan kerja dan melakukan perluasan kesempatan kerja melalui program padat karya dan program tenaga kerja mandiri,” pungkasnya.**

Kisah Abdul 14 Tahun Jadi Operator SPBU

Belasan tahun menjadi operator di SPBU, banyak suka duka dirasakan Abdul. Bekerja sesuai SOP dan melayani sepenuh hati, menjadi kunci, hingga ia tetap bertahan. Harapannya sederhana, hanya ingin menafkahi dan membahagiakan keluarga.

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

Langit mulai terang namun matahari belum tampak, saat Abdul Wahid (42) meninggalkan rumahnya. Istri, Nurhama (28) beserta anaknya Safira Azzura mengantar hingga pintu depan. Putri sulung berusia tiga tahun delapan bulan itu cukup mengerti jika ayahnya harus bekerja.

Ketika melihat Abdul mengenakan seragam lengkap, tangannya hanya melambai dan tak pernah merengek untuk ikut. Lain halnya jika melihat Abdul mengenakan pakaian biasa, ia pasti minta diajak untuk pergi bersama. “Kalau lihat saya berseragam dia sudah hafal, kalau pakai baju biasa pasti ingin ikut,” ungkap Abdul saat dijumpai Pontianak Post di rumahnya, Gang Hidayah 1, Jalan Paris II belum lama ini.

Hari itu Abdul masuk pagi. Jarak antara rumah dengan tempat kerjanya tak terlalu jauh. Menggunakan sepeda motor, hanya butuh waktu sekitar lima menit untuk sampai. Sehari-hari ia bekerja sebagai operator di SPBU Pertamina 61.781.01, Jalan A Yani I (Paris 2), dengan waktu kerja sekitar delapan jam. Jika shift pagi, mulai pukul 06.00-14.00 WIB, sementara jika shift siang, mulai pukul 14.00 WIB-21.00 WIB.

Meski sudah 14 tahun menjalani rutinitas yang sama, Abdul tetap bersemangat. Pria yang ramah itu bercerita, awal bekerja di SPBU sejak 2006. Kebetulan saat itu SPBU tempatnya bekerja baru dibuka dan banyak membutuhkan karyawan.

Bermodalkan ijazah SMA, ia pun mendaftar hingga akhinrya lulus tes. Sejak itulah ia ditempatkan sebagai operator untuk melayani pelanggan yang datang. “Sebelum kerja di SPBU saya sempat jadi sopir taksi, ikut-ikut kawan, dari lulus SMA tahun 1997,” kenangnya.

Baca Juga :  BNI Kalbar Bangga Indonesia Juara Piala Thomas Cup 2020

Belasan tahun bekerja di SPBU, suka duka sudah dialaminya. Ia merasa senang masih mendapat kepercayaan dari perusahaan. Pimpinan di sana diakuinya juga selalu baik. Dengan waktu yang tidak sebentar itu, ia meyakini perusahaan bisa melihat kinerja karyawannya. Hingga dirinya pun bisa terus dipertahankan hingga sekarang. “Mungkin perusahaan melihat saya bagus (bekerja) makanya dipertahankan terus,” katanya.

Sebagai orang yang berhadapan langsung dengan konsumen, tentunya tak semua pengalaman menyenangkan. Kadang ada saja yang mengeluhkan soal pelayanan. Untuk menyikapi konsumen yang beragam kesabaran harus diutamakan. Abdul selalu yakin karena bekerja sesuai SOP (Standar Operasional Prosedur). “Ya namanya kami di pelayanan, sudah biasalah ada (komplain) seperti itu,” ucapnya.

Abdul mengungkapkan komplain masyarakat biasanya terkait cara pengisian bahan bakar. Ada yang masih beranggapan ketika operator memainkan nozzle di selang pengisian, bahan bakar yang masuk ke tangki bakal berkurang. Padahal itu dilakukan agar cairan bahan bakar yang disalurkan tidak tumpah atau kelebihan.

Menghadapi hal seperti itu Abdul sudah terbiasa. Ia lantas memberikan edukasi agar konsumen paham. Jika masih ada yang tidak terima, ia kemudian menyarankan untuk menemui pimpinan atau pejabat yang lebih tinggi di SPBU. “Intinya kami berusaha menjelaskan sebaik-baiknya kepada konsumen, ” ungkapnya.

Abdul bercengkerama bersama buah hati sebelum berangkat kerja. foto Shando Safela

Abdul menganggap bekerja adalah ibadah. Maka dari itu ia selalu bersyukur atas apa yang ia dapatkan dari pekerjaannya. Karena dari bekerja di SPBU, ia bisa menafkahi keluarga. Dan penting baginya untuk selalu merasa cukup serta membahagiakan keluarga.

Apalagi di tengah situasi pandemi seperti saat ini, banyak pekerja yang terpaksa kehilangan mata pencaharian atau menjadi korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Berkaca dari hal itu, rasa syukur Abdul semakin besar. “Situasi sekarang kan dimana-mana orang kesulitan, susah mencari pekerjaan, banyak yang di-PHK, kita yang sudah ada pekerjaan harusnya lebih bersyukur. Alhamdulillah kerja di Pertamina ini tidak terdampak,” tutupnya.

Baca Juga :  Hak Kelola Tidak Jelas, Target Parkir Taman Alun Ikut Menguap

Seperti diketahui dampak pandemi Covid-19 memang membuat angka pengangguran di Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) meningkat. Dari data di Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kalbar per 7 Oktober 2020, jumlah pekerja yang dirumahkan dan di-PHK dampak pandemi Covid-19 sudah mencapai 4.730 orang. Terbagi dari 752 orang yang di-PHK dan 3.978 orang yang dirumahkan.

Jumlah tersebut tersebar di seluruh kabupaten/kota se-Kalbar. Dimana untuk korban PHK terbanyak ada di Kota Pontianak sebanyak 232 orang. Temasuk pekerja yang dirumahkan terbanyak juga di Kota Pontianak dengan jumlah 1.332 orang. “Yang paling banyak terdampak adalah perusahaan-perusahaan di sektor perdagangan dan jasa,” ungkap Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kalbar Manto, Kamis (22/10).

Menurut Manto pihaknya berupaya mengakomodir para pekerja ini dengan berbagai program. Program-program yang sudah disusun sejak tahun lalu diarahkan dengan prioritas antara lain ke para pekerja yang terdampak pandemi Covid-19.

Antara lain, mendorong pencari kerja untuk mengikuti program Kartu Prakerja. Lalu meningkatkan program pelatihan yang dilengkapi dengan sertifikasi keahlian. Termasuk juga memfasilitasi tenaga kerja yang memiliki keahlian tertentu untuk mendapatkan sertifikasi keahlian.

“Kami juga lakukan pemetaan peluang digitalisasi usaha untuk perluasan kesempatan kerja dan melakukan perluasan kesempatan kerja melalui program padat karya dan program tenaga kerja mandiri,” pungkasnya.**

Most Read

Artikel Terbaru

/