alexametrics
25 C
Pontianak
Thursday, August 18, 2022

Posko Crisis Center Resmi Ditutup, Identifikasi Jenazah Korban SJ-182 Tetap Berlanjut

PONTIANAK –  Posko Crisis Center Sriwijaya SJ-182 di Bandara Internasional Supadio Pontianak resmi ditutup, Jumat (22/1) sore. Penutupan ini menyusul penghentian operasi SAR Gabungan pencarian korban di perairan Kepulauan Seribu sehari sebelumnya.

“Secara resmi Posko Crisis Center Sriwijaya Air SJ-182 ini dinyatakan ditutup dan dinonaktifkan,” kata Executive General Manager (EGM) PT Angkasa Pura II Kantor Cabang Bandara Internasional Supadio Pontianak, Eri Braliantoro.

Menurutnya, penutupan Posko Crisis Center SJ-182 di Bandara Supadio Pontianak menindaklanjuti pernyataan penghentian operasi SAR Gabungan pada 21 Januari 2021 di Jakarta.

Dikatakan Eri, sebelumnya Posko Crisis Center SJ-182 berfungsi sebagai pusat pengelolaan informasi tentang penanggulangan kedaruratan dan perkembangan evakuasi.   “Untuk selanjutnya, dalam kondisi normal, operasional diserahkan kepada pihak Bandara Supadio Pontianak,” katanya.

Meski operasi pencarian korban SJ-182 telah dihentikan dan Posko Crisis Center Bandara Supadio Pontianak dinonaktifkan, petugas DVI (Disaster Victim Identification) Kalbar tetap membuka layanan informasi, khususnya terkait identifikasi jenazah. Hal itu diungkapkan Kasubdit Biddokkes Polda Kalbar AKBP Yoseph Ginting dalam keterangan pers penututupan Posko Crisis Center Sriwijaya Air SJ-182 di Gedung Serba Guna Chandra Dista Wiradi, Jumat (22/1) sore.

“Meski posko telah ditutup, kami tetap membuka layanan. Kami akan memindahkan posko kami di Biddokes Polda Kalbar di Ahmad Yani No. 1,” katanya. Tim DVI Polda Kalbar ini akan menyertakan call center sehingga jika ada perkembangan informasi terbaru (update) dari tim DVI pusat akan disampaikan.

Baca Juga :  Nur Khalifatul Amin Dimakamkan di Samping Liang Lahat Istri

Menurut Ginting, tim DVI pusat hingga saat ini masih melakukan tugasnya, yaitu mengidentifikasi jenazah korban yang hingga sekarang belum terindentifikasi.   “Sampai dengan saat ini, korban yang sudah teridentifikasi ada 49 orang. Untuk Kalbar sendiri, yang belum teridentifikasi ada empat dari 20 jenazah,” bebernya.

Dari banyaknya bodypart yang ditemukan, Ginting berharap tim DVI bisa bekerja maksimal dan mampu menyelesaikan proses identifikasi.“Jadi, doa kami, harapan kita semua, agar yang belum teridentifikasi bisa segera teridentifikasi. Kita berharap, korban yang berjumlah 62 orang ini semuanya bisa teridentifikasi,” harapnya.

Selain itu, Tim Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Wilayah Kalbar  juga masih tetap memberikan pelayanan. Tim Himpsi terus melakukan kunjungan ke rumah keluarga korban yang belum teridentifikasi.

“Jadi, bagi kami di lintas sektor, baik itu dari tim DVI, maskapai, SAR, psikolog maupun pihak bandara akan memberikan informasi atau perkembangan yang kami dapat dari pusat,” tutup Ginting.

Sementara itu, Kepala Jasa Raharja wilayah Kalimantan Barat Regy S Wijaya mengungkapkan, pihaknya telah membayarkan santunan kepada 42 ahli waris dari 47 korban insiden jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 yang telah teridentifikasi.

“Santunan yang diberikan masing-masing Rp 50 juta sehingga total yang sudah diberikan Rp2,1 miliar,” jelas Regy. Sisanya ada lima ahli waris yang belum mendapatkan santunan. Hal itu karena terkendala proses administrasi.

Baca Juga :  Bupati Jemput Jenazah Korban Sriwijaya Air SJ-182 di Supadio

Regy juga menyebutkan, pembayaran santunan korban insiden jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 ini tersebar di 13 provinsi. Untuk di Kalbar baru 15 ahli waris yang sudah menerima pembayaran.

Adapun daftar korban yang teridentifikasi dan sudah dimakamkan yakni Khasanah (Pontianak), Makhrufatul Yeti Srianingsih (Pontianak), Ihsan Adlan Hakim (Pontianak), Dinda Amelia (Kubu Raya), Agus Minarni (Mempawah), Iuskandar (Ketapang), Nelly (Ketapang), Beben Sopian (Ketapang), Yohanes Suherdi (Landak), Kolisun (Sambas), Mulyadi (Sintang), Shinta (Pontianak), dan Andi Syifa Kamila (Pontianak).

Sedangkan korban yang sudah teridentifikasi namun belum dimakamkan yaitu Toni Ismalin (Pontianak), Rahmawati (Pontianak), Athar Rizki Riawan (Pontianak), Ratih Windania (Pontianak), Yumna Fanisyatuhzahra (Pontianak) dan Muhammad Nur Kholifatul Amin (Mempawah).

Keenam jenazah ini direncanakan akan dipulangkan ke Kalbar pada Minggu (24/1) dari Jakarta menggunakan pesawat Sriwijaya Air SJ-184 pada pukul 05.00 dan dijadwalkan tiba di Bandara Supadio Pontianak pukul 06.30 wib.

Sementara korban yang dimakamkan di luar Kalbar, yaitu Asy Habul Yamin (Jakarta), Ricko (Makasar), Supianto (Jakarta/Kremasi), dan Faisal Rahman (Jakarta). Sedangkan korban yang belum teridentifikasi tercatat atas nama Panca Widia Nursanti (Pontianak), Daniya (bayi anak dari korban Supianto/Pontianak),  dan Razanah (Ketapang).(arf)

PONTIANAK –  Posko Crisis Center Sriwijaya SJ-182 di Bandara Internasional Supadio Pontianak resmi ditutup, Jumat (22/1) sore. Penutupan ini menyusul penghentian operasi SAR Gabungan pencarian korban di perairan Kepulauan Seribu sehari sebelumnya.

“Secara resmi Posko Crisis Center Sriwijaya Air SJ-182 ini dinyatakan ditutup dan dinonaktifkan,” kata Executive General Manager (EGM) PT Angkasa Pura II Kantor Cabang Bandara Internasional Supadio Pontianak, Eri Braliantoro.

Menurutnya, penutupan Posko Crisis Center SJ-182 di Bandara Supadio Pontianak menindaklanjuti pernyataan penghentian operasi SAR Gabungan pada 21 Januari 2021 di Jakarta.

Dikatakan Eri, sebelumnya Posko Crisis Center SJ-182 berfungsi sebagai pusat pengelolaan informasi tentang penanggulangan kedaruratan dan perkembangan evakuasi.   “Untuk selanjutnya, dalam kondisi normal, operasional diserahkan kepada pihak Bandara Supadio Pontianak,” katanya.

Meski operasi pencarian korban SJ-182 telah dihentikan dan Posko Crisis Center Bandara Supadio Pontianak dinonaktifkan, petugas DVI (Disaster Victim Identification) Kalbar tetap membuka layanan informasi, khususnya terkait identifikasi jenazah. Hal itu diungkapkan Kasubdit Biddokkes Polda Kalbar AKBP Yoseph Ginting dalam keterangan pers penututupan Posko Crisis Center Sriwijaya Air SJ-182 di Gedung Serba Guna Chandra Dista Wiradi, Jumat (22/1) sore.

“Meski posko telah ditutup, kami tetap membuka layanan. Kami akan memindahkan posko kami di Biddokes Polda Kalbar di Ahmad Yani No. 1,” katanya. Tim DVI Polda Kalbar ini akan menyertakan call center sehingga jika ada perkembangan informasi terbaru (update) dari tim DVI pusat akan disampaikan.

Baca Juga :  Tiba di Ketapang Jenazah Beben Dimakamkan

Menurut Ginting, tim DVI pusat hingga saat ini masih melakukan tugasnya, yaitu mengidentifikasi jenazah korban yang hingga sekarang belum terindentifikasi.   “Sampai dengan saat ini, korban yang sudah teridentifikasi ada 49 orang. Untuk Kalbar sendiri, yang belum teridentifikasi ada empat dari 20 jenazah,” bebernya.

Dari banyaknya bodypart yang ditemukan, Ginting berharap tim DVI bisa bekerja maksimal dan mampu menyelesaikan proses identifikasi.“Jadi, doa kami, harapan kita semua, agar yang belum teridentifikasi bisa segera teridentifikasi. Kita berharap, korban yang berjumlah 62 orang ini semuanya bisa teridentifikasi,” harapnya.

Selain itu, Tim Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Wilayah Kalbar  juga masih tetap memberikan pelayanan. Tim Himpsi terus melakukan kunjungan ke rumah keluarga korban yang belum teridentifikasi.

“Jadi, bagi kami di lintas sektor, baik itu dari tim DVI, maskapai, SAR, psikolog maupun pihak bandara akan memberikan informasi atau perkembangan yang kami dapat dari pusat,” tutup Ginting.

Sementara itu, Kepala Jasa Raharja wilayah Kalimantan Barat Regy S Wijaya mengungkapkan, pihaknya telah membayarkan santunan kepada 42 ahli waris dari 47 korban insiden jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 yang telah teridentifikasi.

“Santunan yang diberikan masing-masing Rp 50 juta sehingga total yang sudah diberikan Rp2,1 miliar,” jelas Regy. Sisanya ada lima ahli waris yang belum mendapatkan santunan. Hal itu karena terkendala proses administrasi.

Baca Juga :  Tangkal Corona dan DBD, Relawan PPP Bersih Lingkungan dan Rumah Ibadah

Regy juga menyebutkan, pembayaran santunan korban insiden jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 ini tersebar di 13 provinsi. Untuk di Kalbar baru 15 ahli waris yang sudah menerima pembayaran.

Adapun daftar korban yang teridentifikasi dan sudah dimakamkan yakni Khasanah (Pontianak), Makhrufatul Yeti Srianingsih (Pontianak), Ihsan Adlan Hakim (Pontianak), Dinda Amelia (Kubu Raya), Agus Minarni (Mempawah), Iuskandar (Ketapang), Nelly (Ketapang), Beben Sopian (Ketapang), Yohanes Suherdi (Landak), Kolisun (Sambas), Mulyadi (Sintang), Shinta (Pontianak), dan Andi Syifa Kamila (Pontianak).

Sedangkan korban yang sudah teridentifikasi namun belum dimakamkan yaitu Toni Ismalin (Pontianak), Rahmawati (Pontianak), Athar Rizki Riawan (Pontianak), Ratih Windania (Pontianak), Yumna Fanisyatuhzahra (Pontianak) dan Muhammad Nur Kholifatul Amin (Mempawah).

Keenam jenazah ini direncanakan akan dipulangkan ke Kalbar pada Minggu (24/1) dari Jakarta menggunakan pesawat Sriwijaya Air SJ-184 pada pukul 05.00 dan dijadwalkan tiba di Bandara Supadio Pontianak pukul 06.30 wib.

Sementara korban yang dimakamkan di luar Kalbar, yaitu Asy Habul Yamin (Jakarta), Ricko (Makasar), Supianto (Jakarta/Kremasi), dan Faisal Rahman (Jakarta). Sedangkan korban yang belum teridentifikasi tercatat atas nama Panca Widia Nursanti (Pontianak), Daniya (bayi anak dari korban Supianto/Pontianak),  dan Razanah (Ketapang).(arf)

Most Read

Artikel Terbaru

/