alexametrics
28 C
Pontianak
Saturday, May 21, 2022

MUI Keluarkan Fatwa Pengurusan Jenazah Sesuai Protokol Medis

PONTIANAK- Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa bahwa Pengurusan jenazah (tajhiz al-janaiz) yang terpapar COVID-19,terutama dalam memandikan dan mengafani harus dilakukan sesuai protokol medis dan dilakukan oleh pihak yang berwenang, dengan tetap memperhatikan ketentuan syariat.

M Basri Har, Ketua MUI Kalbar mengatakan fatwa nomor 14 tahun 2020 ini juga berlaku bagi pasien yang di duga terpapar Covid-19.

“Sesuai Fatwa MUI no 14 tahun 2020 dijelaskan bahwa pengurusan jenazah yang terindikasi Covid 19 atau masih diduga, maka untuk memandikan dan mengkafani harus mendapatkan petunjuk dan pengawasan tim kesehatan, mungkin dengan pakai sarung tangan, pakai masker,” jelasnya.

Sedangkan untuk menshalatkan dan menguburkannya dilakukan sebagaimana biasa dengan tetap menjaga agar tidak terpapar COVID-19.

Baca Juga :  Gubernur Kalbar Berharap Pembangunan Tetap Berjalan

Dalam Fatwa ini juga menjelaskan bahwa setiap orang wajib melakukan ikhtiar menjaga kesehatan dan menjauhi setiap hal yang dapat menyebabkan terpapar penyakit, karena hal itu merupakan bagian dari menjaga tujuan pokok beragama (al-Dharuriyat al-Khams).

Basri pun merujuk pada tata cara pengurusan jenazah yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama, bahwa dalam pengurusan jenazah mesti memperhatikan beberapa hal yakni harus dilakukan sesuai protokol kesehatan di rumah sakit yang ditunjuk dan dilakukan oleh petugas kesehatan yang telah terlatih.

Jenazah ditutup dengan kain kafan atau bahas dari plastik yang tidak tembus air. Dapat juga ditutup dengan kayu atau bahan lain yang tidak mudah tercemar.

Jenazah yang sudah ditutup tidak boleh dibuka lagi, kecuali untuk urusan mendesak seperti autopsi yang dilakukan oleh tenaga kesehatan.

Baca Juga :  Ajak Orangtua jadi Madrasah Keluarga

Jenazah disemayamkan tidak lebih dari empat jam. Pelaksanaan shalat jenazah dilakukan di rumah sakit rujukan, atau di masjid yang sudah melewati pemeriksaan sanitasi secara menyeluruh dan melakukan disinfektasi setelah shalat jenazah.

Lokasi penguburan harus dilakukan 50 meter dari sumber air tanah yang digunakan untuk minum dan berjarak setidaknya 500 meter dari pemukiman penduduk.

Jenazah di kubur dengan kedalamam 1, 5 meter dan ditutup dengan tanah setinggi satu meter. Setelah prosedur jenazah dilakukan dengan benar, pihak keluar dapat turut dalam penguburan jenazah. (mrd)

PONTIANAK- Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa bahwa Pengurusan jenazah (tajhiz al-janaiz) yang terpapar COVID-19,terutama dalam memandikan dan mengafani harus dilakukan sesuai protokol medis dan dilakukan oleh pihak yang berwenang, dengan tetap memperhatikan ketentuan syariat.

M Basri Har, Ketua MUI Kalbar mengatakan fatwa nomor 14 tahun 2020 ini juga berlaku bagi pasien yang di duga terpapar Covid-19.

“Sesuai Fatwa MUI no 14 tahun 2020 dijelaskan bahwa pengurusan jenazah yang terindikasi Covid 19 atau masih diduga, maka untuk memandikan dan mengkafani harus mendapatkan petunjuk dan pengawasan tim kesehatan, mungkin dengan pakai sarung tangan, pakai masker,” jelasnya.

Sedangkan untuk menshalatkan dan menguburkannya dilakukan sebagaimana biasa dengan tetap menjaga agar tidak terpapar COVID-19.

Baca Juga :  AMSI-Google News Initiative Selenggarakan Training Literasi Berita bagi Publik di 10 Wilayah

Dalam Fatwa ini juga menjelaskan bahwa setiap orang wajib melakukan ikhtiar menjaga kesehatan dan menjauhi setiap hal yang dapat menyebabkan terpapar penyakit, karena hal itu merupakan bagian dari menjaga tujuan pokok beragama (al-Dharuriyat al-Khams).

Basri pun merujuk pada tata cara pengurusan jenazah yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama, bahwa dalam pengurusan jenazah mesti memperhatikan beberapa hal yakni harus dilakukan sesuai protokol kesehatan di rumah sakit yang ditunjuk dan dilakukan oleh petugas kesehatan yang telah terlatih.

Jenazah ditutup dengan kain kafan atau bahas dari plastik yang tidak tembus air. Dapat juga ditutup dengan kayu atau bahan lain yang tidak mudah tercemar.

Jenazah yang sudah ditutup tidak boleh dibuka lagi, kecuali untuk urusan mendesak seperti autopsi yang dilakukan oleh tenaga kesehatan.

Baca Juga :  Pemkot Pontianak Sebar 12 Ekor Sapi Untuk Kurban

Jenazah disemayamkan tidak lebih dari empat jam. Pelaksanaan shalat jenazah dilakukan di rumah sakit rujukan, atau di masjid yang sudah melewati pemeriksaan sanitasi secara menyeluruh dan melakukan disinfektasi setelah shalat jenazah.

Lokasi penguburan harus dilakukan 50 meter dari sumber air tanah yang digunakan untuk minum dan berjarak setidaknya 500 meter dari pemukiman penduduk.

Jenazah di kubur dengan kedalamam 1, 5 meter dan ditutup dengan tanah setinggi satu meter. Setelah prosedur jenazah dilakukan dengan benar, pihak keluar dapat turut dalam penguburan jenazah. (mrd)

Most Read

Artikel Terbaru

/