alexametrics
27.8 C
Pontianak
Tuesday, July 5, 2022

Kalbar Mampu Produksi Garam,Kenapa harus Impor?

PONTIANAK – Patut dipertanyakan bahwa Indonesia yang dikenal sebagai negara maritim memiliki Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Dengan garis pantai sepanjang 95.181 km dan 117.508 pulau. Menjadikan Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Sewajarnya apabila negara ini mampu menghasilkan produksi garam yang berlimpah. Lalu kenapa masih saja mendatangkan barang asin ini dari luar negeri seperti Tiongkok, India, Selandia Baru, Australia dan Thailand.

Apalagi adanya rencana Pemerintah Indonesia yang mencanangkan swasembada garam pada tahun 2025, sepertinya hanya isapan jempol belaka. Pasalnya ditahun 2021 pemerintah tetap saja mengimpor garam. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, Pemerintah RI telah mengimpor garam sebanyak 80 ribu ton lebih atau setara dengan US$ 2,61 juta. Kondisi ini terjadi sepanjang bulan Januari-Februari 2021 yang lalu. Dalam hitungan tahun rata rata Pemerintah mendatangkan garam dari luar sebanyak 2,7 juta ton pertahun. Tentu jumlah ini sangat fantastis dan berpotensi merugikan para petani (petambak) garam di Indonesia.

Baca Juga :  PKS Deklarasikan Dukungan Kepada Tujuh Cabup dan Cawabup di Pilkada 2020

Menurut Ketua Serikat Nelayan Nahdlatul Ulama (SNNU) Kalbar Hasbullah menyatakan bahwa,Ia menolak keras keputusan pemerintah terkait impor garam yang nilainya sangat fantastis ini. bayangkan 2,7 juta ton garam pertahun masuk Indonesia. Coba jika dana tersebut dipergunakan untuk mengelola garam di negara ini, pasti bisa membantu mensejahterkan petani garam di seluruh indonesia.

“Seharusnya kita bersyukur hidup di negara yang kaya raya akan potensi sumber daya alamnya dan kita lihat potensi dibidang pertanian, pertambangan, perkebunan, peternakan semua ada di negeri ini. Apalagi jika berbicara tentang potensi kekayaan laut Indonesia pasti kita tidak akan mampu untuk menghitungnya.”ungkapnya.

Ia menambahkan, seperti halnya di Provinsi Kalimantan Barat yang tidak hanya berbicara tentang sektor pertambangan, pekebunan maupun pertaniannya saja. Tapi juga memiliki potensi lautnya, seperti di Paloh Kabupaten Sambas memilik potensi garam sangat luar biasa. Apabila pemerintah pusat mau pun daerah mau mengelolanya. Ia pun menyakini Kalbar akan menjadi bagian penyuplai kebutuhan garam dalam negeri yang saat ini dibutuhkan.

Baca Juga :  Tiga Pejabat Pemprov Positif Covid

“Kehadiran SNNU di Kalbar cukup aktif, progresif, kreatif dan mampu berinovasi, seperti masalah potensi garam ini, maka dari itu dengan Bismillah, jika dibutuhkan SNNU Kalbar siap menjadi mitra pemerintah dan masyarakat untuk menangani pengelolaan garam dan memberdayakan para petani garam di Kalbar.”tuturnya.

Dihubungi terpisah melalui sambungan telepon seluler,Ketua Umum Serikat Nelayan Nahdlatul Ulama, Witjaksono menyampaikan. Bahwa kunci swasembada garam itu ada pada para petani. Ia pun meminta agar pemerintah serius memperhatikan para petani garam. Sebab petani yang bergerak pada sektor rill ini menjadi penopang utama dalam situasi krisis, ketika ekonomi mulai tumbuh.

“Saya sangat berharap pemerintah dapat turun langsung ke lapangan, mari bersama kita lihat kondisi petani garam, kami yakin sepenuhnya bahwa potensi garam petani di tanah air itu cukup berlimpah.”tutupnya.(yad)

PONTIANAK – Patut dipertanyakan bahwa Indonesia yang dikenal sebagai negara maritim memiliki Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Dengan garis pantai sepanjang 95.181 km dan 117.508 pulau. Menjadikan Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Sewajarnya apabila negara ini mampu menghasilkan produksi garam yang berlimpah. Lalu kenapa masih saja mendatangkan barang asin ini dari luar negeri seperti Tiongkok, India, Selandia Baru, Australia dan Thailand.

Apalagi adanya rencana Pemerintah Indonesia yang mencanangkan swasembada garam pada tahun 2025, sepertinya hanya isapan jempol belaka. Pasalnya ditahun 2021 pemerintah tetap saja mengimpor garam. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, Pemerintah RI telah mengimpor garam sebanyak 80 ribu ton lebih atau setara dengan US$ 2,61 juta. Kondisi ini terjadi sepanjang bulan Januari-Februari 2021 yang lalu. Dalam hitungan tahun rata rata Pemerintah mendatangkan garam dari luar sebanyak 2,7 juta ton pertahun. Tentu jumlah ini sangat fantastis dan berpotensi merugikan para petani (petambak) garam di Indonesia.

Baca Juga :  PKS Deklarasikan Dukungan Kepada Tujuh Cabup dan Cawabup di Pilkada 2020

Menurut Ketua Serikat Nelayan Nahdlatul Ulama (SNNU) Kalbar Hasbullah menyatakan bahwa,Ia menolak keras keputusan pemerintah terkait impor garam yang nilainya sangat fantastis ini. bayangkan 2,7 juta ton garam pertahun masuk Indonesia. Coba jika dana tersebut dipergunakan untuk mengelola garam di negara ini, pasti bisa membantu mensejahterkan petani garam di seluruh indonesia.

“Seharusnya kita bersyukur hidup di negara yang kaya raya akan potensi sumber daya alamnya dan kita lihat potensi dibidang pertanian, pertambangan, perkebunan, peternakan semua ada di negeri ini. Apalagi jika berbicara tentang potensi kekayaan laut Indonesia pasti kita tidak akan mampu untuk menghitungnya.”ungkapnya.

Ia menambahkan, seperti halnya di Provinsi Kalimantan Barat yang tidak hanya berbicara tentang sektor pertambangan, pekebunan maupun pertaniannya saja. Tapi juga memiliki potensi lautnya, seperti di Paloh Kabupaten Sambas memilik potensi garam sangat luar biasa. Apabila pemerintah pusat mau pun daerah mau mengelolanya. Ia pun menyakini Kalbar akan menjadi bagian penyuplai kebutuhan garam dalam negeri yang saat ini dibutuhkan.

Baca Juga :  Kebutuhan Garam Ketapang Capai 150 Ton Perbulan

“Kehadiran SNNU di Kalbar cukup aktif, progresif, kreatif dan mampu berinovasi, seperti masalah potensi garam ini, maka dari itu dengan Bismillah, jika dibutuhkan SNNU Kalbar siap menjadi mitra pemerintah dan masyarakat untuk menangani pengelolaan garam dan memberdayakan para petani garam di Kalbar.”tuturnya.

Dihubungi terpisah melalui sambungan telepon seluler,Ketua Umum Serikat Nelayan Nahdlatul Ulama, Witjaksono menyampaikan. Bahwa kunci swasembada garam itu ada pada para petani. Ia pun meminta agar pemerintah serius memperhatikan para petani garam. Sebab petani yang bergerak pada sektor rill ini menjadi penopang utama dalam situasi krisis, ketika ekonomi mulai tumbuh.

“Saya sangat berharap pemerintah dapat turun langsung ke lapangan, mari bersama kita lihat kondisi petani garam, kami yakin sepenuhnya bahwa potensi garam petani di tanah air itu cukup berlimpah.”tutupnya.(yad)

Most Read

Artikel Terbaru

/