alexametrics
30.6 C
Pontianak
Monday, August 8, 2022

Kapal Vietnam Abaikan Tembakan Peringatan

Dua Petugas Nekat Lompat ke Lambung Kapal Pencuri Ikan 

PONTIANAK – Kapal Pengawas milik Ditjen PSDKP Kementerian Kelautan dan Perikanan kembali menangkap dua kapal ikan asing (KIA) berbendera Vietnam di Laut Natuna Utara pada 15 Juli 2020 lalu.

Kapal asing yang diawaki 22 WNA asal Vietnam dan Kamboja itu berhasil dilumpuhkan setelah lebih kurang dua jam dilakukan pengejaran. Upaya penangkapan dua kapal asing pencuri ikan itu berlangsung dramatis. Dua orang awak Kapal Pengawas terpaksa harus melompat ke lambung kapal setelah beberapa kali tembakan peringatan diabaikan.

Mereka adalah Ricko Putra dan Muhammad Nur Aflik. Keduanya bertugas di Kapal Pengawas Orca 03 Ditjen PSDKP. Ditemui Pontianak Post, keduanya menceritakan bagaimana proses penangkapan dua kapal asing berbendera Vitenam itu.

Diakui Ricko, upaya penangkapan dua kapal itu tidak lah mudah. Menurutnya, sejak awal, kapal asing itu telah melakukan perlawanan saat dilakukan pengejaran. Mereka menebar tali dan jaring ke laut.

Setelah kurang lebih dua jam melakukan pengejaran, kapal pengawas berhasil mendekati kapal itu. Dari jarak 1 meter, kedua awak kapal pengawas langsung melompat ke lambung kapal dan merangsek ke dalam untuk menghentikan laju kapal yang berusaha kabur dengan kecepatan maksimal.

“Prosesnya sangat sulit. Kami harus melompat ke lambung kapal, untuk menghentikan mereka. Jika tidak, mereka pasti kabur,” ujar Ricko.

Beruntung, saat berada di atas kapal Vietnam itu, tidak ada upaya perlawan dari mereka. “Tidak ada perlawanan. Kami berhasil mengamankan mereka semua,” sambungnya.

Menurut Riko, aksi nekat melompat ke lambung kapal asing menjadi pengalamannya yang pertama. Berbeda dengan Aflik, yang sudah dua kali melakukan aksi serupa untuk menghentikan kapal pencuri ikan. “Saya sudah dua kali. Sebelumnya sudah pernah saya lakukan,” kata Aflik.

Baca Juga :  Kapal Asal Tiongkok Masuk Perairan Kalbar

Menurutnya, melompat ke lambung kapal pencuri ikan tidak bisa sembarangan. Harus memperhitungkan ketepatan, waktu dan keselamatan. “Hitungannya detik. Jika memang tidak memungkinkan, maka tidak akan dilakukan. Karena kita harus memperhitungkan keselamatan juga,” bebernya.

Dua kapal ikan asing berbendera Vietnam dengan nomor lambung KG 91920 TS dan KG 95732 TS itu itu akhirnya berhasil diamankan dan dibawa ke kantor  Stasiun Pengawas Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Pontianak.

Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo secara khusus mengapresiasi aksi awak kapal pengawas perikanan itu. Menurutnya, para awak kapal pengawas tak pernah gentar dalam menindak para pencuri ikan.

“Kita semua bisa melihat bagaimana kegigihan dan keberanian aparat KKP dalam melumpuhkan KIA ilegal itu,” ungkap Edhy dalam keterngan persnya di Pontianak, Rabu (22/7).

Edhy mengatakan, sejak Oktober 2019, KKP telah berhasil menangkap sebanyak 66 unit kapal yang terdiri 49 kapal ikan asing dan 17 kapal berbendera Indonesia. Kapal Asing tersebut merupakan 22 kapal berbendera Vietnam, 14 kapal berbendera Filipina, 12 kapal berbendera Malaysia dan 1 kapal berbendera Taiwan.

Sampai dengan saat ini, kata Edhy, 16 kapal telah mendapatkan putusan inkracht (Berkekuatan hukum tetap), 4 kapal dalam proses banding, 7 kapal sedang dalam proses sidang, 10 kapal dalam proses P21, 9 kapal dalam proses penyidikan, 2 kapal dalam proses pemeriksaan pendahuluan dan 1 kapal ditenggelam karena melakukan perlawanan.

Baca Juga :  Anggaran Pemeliharaan Jalan Rutin dan Drainase Tidak Mengalami Perubahan

“Ini menunjukkan komitmen aparat penegak hukum di Indonesia sangat kuat dalam memberantas illegal fishing. Jadi perlu saya ulangi kami sangat tegas dalam hal ini, bahkan jika pelaku illegal fishing melawan di tengah laut, saya sudah perintahkan jajaran untuk tidak segan-segan menenggelamkan sesuai dengan ketentuan dan SOP yang sudah kita miliki,” bebernya.

Sementara terhadap 17 kapal ikan Indonesia, 2 kapal diproses hukum karena terkait dengan destructive fishing, sedangkan 15 kapal diberikan sanksi administrasi. Ini sebagai bentuk pembinaan kepada nelayan Indonesia.

Dalam penanganan proses hukum terhadap pelaku illegal fishing, kata Edhy, setidaknya ada 343 orang awak kapal telah ditangani selama tahun 2020. Di antaranya  21 orang berstatus tersangka, 108 orang berstatus non justisia, 37 orang dalam proses di kejaksaan,133 orang proses imigrasi dan 44 orang telah dipulangkan ke negara asalnya.

Edhy mengatakan, ini merupakan bukti betapa seriusnya KKP menangani illegal fishing, dimana isi kekayaan laut Indonesia dicur ioleh Kapal ikan Asing.

Ia memastikan, KKP akan slalu komitmen untuk menjaganya demi kesejahteraan  nelayan Indonesia. Edhy juga mengajak agar semua pihak bersinergi, baik aparat penegak hukum terkait termasuk juga media, dalam upaya memberantas illegal fishing.

“Ini masalah bersama, mari kita bersinergi,” pungkas Edhy.

Sementara itu Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji mengapresiasi langkah Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam menangani illegal fishing di perairan Indonesia. “Saya sangat apresiasi apa yang dilakukan beliau. Sangat cepat dalam menangani kasus illegal fishing. Saya berharap ke depannya akan terus berjalan,” katanya singkat. (arf)

 

Dua Petugas Nekat Lompat ke Lambung Kapal Pencuri Ikan 

PONTIANAK – Kapal Pengawas milik Ditjen PSDKP Kementerian Kelautan dan Perikanan kembali menangkap dua kapal ikan asing (KIA) berbendera Vietnam di Laut Natuna Utara pada 15 Juli 2020 lalu.

Kapal asing yang diawaki 22 WNA asal Vietnam dan Kamboja itu berhasil dilumpuhkan setelah lebih kurang dua jam dilakukan pengejaran. Upaya penangkapan dua kapal asing pencuri ikan itu berlangsung dramatis. Dua orang awak Kapal Pengawas terpaksa harus melompat ke lambung kapal setelah beberapa kali tembakan peringatan diabaikan.

Mereka adalah Ricko Putra dan Muhammad Nur Aflik. Keduanya bertugas di Kapal Pengawas Orca 03 Ditjen PSDKP. Ditemui Pontianak Post, keduanya menceritakan bagaimana proses penangkapan dua kapal asing berbendera Vitenam itu.

Diakui Ricko, upaya penangkapan dua kapal itu tidak lah mudah. Menurutnya, sejak awal, kapal asing itu telah melakukan perlawanan saat dilakukan pengejaran. Mereka menebar tali dan jaring ke laut.

Setelah kurang lebih dua jam melakukan pengejaran, kapal pengawas berhasil mendekati kapal itu. Dari jarak 1 meter, kedua awak kapal pengawas langsung melompat ke lambung kapal dan merangsek ke dalam untuk menghentikan laju kapal yang berusaha kabur dengan kecepatan maksimal.

“Prosesnya sangat sulit. Kami harus melompat ke lambung kapal, untuk menghentikan mereka. Jika tidak, mereka pasti kabur,” ujar Ricko.

Beruntung, saat berada di atas kapal Vietnam itu, tidak ada upaya perlawan dari mereka. “Tidak ada perlawanan. Kami berhasil mengamankan mereka semua,” sambungnya.

Menurut Riko, aksi nekat melompat ke lambung kapal asing menjadi pengalamannya yang pertama. Berbeda dengan Aflik, yang sudah dua kali melakukan aksi serupa untuk menghentikan kapal pencuri ikan. “Saya sudah dua kali. Sebelumnya sudah pernah saya lakukan,” kata Aflik.

Baca Juga :  Anggaran Pemeliharaan Jalan Rutin dan Drainase Tidak Mengalami Perubahan

Menurutnya, melompat ke lambung kapal pencuri ikan tidak bisa sembarangan. Harus memperhitungkan ketepatan, waktu dan keselamatan. “Hitungannya detik. Jika memang tidak memungkinkan, maka tidak akan dilakukan. Karena kita harus memperhitungkan keselamatan juga,” bebernya.

Dua kapal ikan asing berbendera Vietnam dengan nomor lambung KG 91920 TS dan KG 95732 TS itu itu akhirnya berhasil diamankan dan dibawa ke kantor  Stasiun Pengawas Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Pontianak.

Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo secara khusus mengapresiasi aksi awak kapal pengawas perikanan itu. Menurutnya, para awak kapal pengawas tak pernah gentar dalam menindak para pencuri ikan.

“Kita semua bisa melihat bagaimana kegigihan dan keberanian aparat KKP dalam melumpuhkan KIA ilegal itu,” ungkap Edhy dalam keterngan persnya di Pontianak, Rabu (22/7).

Edhy mengatakan, sejak Oktober 2019, KKP telah berhasil menangkap sebanyak 66 unit kapal yang terdiri 49 kapal ikan asing dan 17 kapal berbendera Indonesia. Kapal Asing tersebut merupakan 22 kapal berbendera Vietnam, 14 kapal berbendera Filipina, 12 kapal berbendera Malaysia dan 1 kapal berbendera Taiwan.

Sampai dengan saat ini, kata Edhy, 16 kapal telah mendapatkan putusan inkracht (Berkekuatan hukum tetap), 4 kapal dalam proses banding, 7 kapal sedang dalam proses sidang, 10 kapal dalam proses P21, 9 kapal dalam proses penyidikan, 2 kapal dalam proses pemeriksaan pendahuluan dan 1 kapal ditenggelam karena melakukan perlawanan.

Baca Juga :  Petugas Tangkap Dua Kapal Asing di Perairan Natuna Utara

“Ini menunjukkan komitmen aparat penegak hukum di Indonesia sangat kuat dalam memberantas illegal fishing. Jadi perlu saya ulangi kami sangat tegas dalam hal ini, bahkan jika pelaku illegal fishing melawan di tengah laut, saya sudah perintahkan jajaran untuk tidak segan-segan menenggelamkan sesuai dengan ketentuan dan SOP yang sudah kita miliki,” bebernya.

Sementara terhadap 17 kapal ikan Indonesia, 2 kapal diproses hukum karena terkait dengan destructive fishing, sedangkan 15 kapal diberikan sanksi administrasi. Ini sebagai bentuk pembinaan kepada nelayan Indonesia.

Dalam penanganan proses hukum terhadap pelaku illegal fishing, kata Edhy, setidaknya ada 343 orang awak kapal telah ditangani selama tahun 2020. Di antaranya  21 orang berstatus tersangka, 108 orang berstatus non justisia, 37 orang dalam proses di kejaksaan,133 orang proses imigrasi dan 44 orang telah dipulangkan ke negara asalnya.

Edhy mengatakan, ini merupakan bukti betapa seriusnya KKP menangani illegal fishing, dimana isi kekayaan laut Indonesia dicur ioleh Kapal ikan Asing.

Ia memastikan, KKP akan slalu komitmen untuk menjaganya demi kesejahteraan  nelayan Indonesia. Edhy juga mengajak agar semua pihak bersinergi, baik aparat penegak hukum terkait termasuk juga media, dalam upaya memberantas illegal fishing.

“Ini masalah bersama, mari kita bersinergi,” pungkas Edhy.

Sementara itu Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji mengapresiasi langkah Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam menangani illegal fishing di perairan Indonesia. “Saya sangat apresiasi apa yang dilakukan beliau. Sangat cepat dalam menangani kasus illegal fishing. Saya berharap ke depannya akan terus berjalan,” katanya singkat. (arf)

 

Most Read

Tiga WNA Ditahan

Peringatan HUT RI di Tengah Pandemi

Demi Mewujudkan Mimpi Trofi

Artikel Terbaru

/