alexametrics
30 C
Pontianak
Monday, May 23, 2022

Perempuan Buruh Sadar Pentingnya Berserikat

PONTIANAK – Buruh perempuan tidak boleh takut untuk berserikat. Sebab, kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat bagi para buruh telah dijamin hak konstitusinya. Dengan berserikat, buruh perempuan juga akan mengetahui hak-hak mereka.

Demikian dikatakan oleh Fatimah, aktivis buruh yang tergabung dalam Serikat Buruh KSBSI Karmiparho Kalimantan Barat (Kalbar). “Sejak gabung di serikat, kami jadi tahu hak-hak kami sebagai pekerja,” ungkapnya, kepada Pontianak Post, belum lama ini.

Lebih dari satu tahun Fatimah aktif dalam serikat buruh tersebut. Perempuan buruh berstatus pekerja harian lepas di sebuah perkebunan di Kabupaten Mempawah itu merasakan betul manfaat keikutsertaan dalam organisasi serikat buruh.

Tak sekedar tahu hak-hak yang wajib dipenuhi oleh perusahaan, dengan berserikat mereka juga lebih kuat dan berani dalam menyampaikan tuntutan. “Ada hak-hak yang kami tuntut akhirnya mulai dipenuhi,” katanya.

Menurutnya, saat ini masih ada buruh perempuan yang belum sepenuhnya menerima hak mereka secara utuh. Misalnya, pemberian cuti hamil, cuti melahirkan, hingga cuti haid. Selain itu, buruh perempuan masih cenderung diperlakukan secara diskriminatif.

Baca Juga :  Pontianak Bersatu Bagikan Empat Ratus Paket Sembako

Dalam hal pendapatan misalnya, meski dengan pekerjaan yang hampir sama, gaji buruh laki-laki lebih besar dari perempuan. “Misalnya laki-laki digaji Rp150 ribu, tetapi kalau perempuan cuma Rp96 ribu,” ucapnya.

Karena itulah, kata dia, hak-hak yang tidak dipenuhi atau perlakuan diskriminatif yang diterima oleh perempuan, bisa disuarakan lewat organisasi serikat buruh. Dengan berserikat pula, dia menilai pihak perusahaan atau manajemen tidak akan memandang sebelah mata keberadaan buruh perempuan. “Kita jadi tidak bisa dibodohi,” ujarnya.

Fatimah terus berusaha agar perempuan buruh bergabung ke dalam organisasi serikat. Sejauh ini, mulai banyak perempuan buruh yang aktif di serikat buruh. Tak hanya perempuan, buruh laki-laki juga turut aktif.

“Memang ada sebagian yang enggan bergabung. Tapi setelah memberikan penjelasan, lumayan saat ini anggota kita, dari 20 sekarang 200 orang. Kebanyakan adalah perempuan,” pungkasnya.

Baca Juga :  Buka Pojok Pajak di Ayani Mega Mall 

Ketua KSBSI Kalbar, Suherman membenarkan masih adanya diskriminasi bagi perempuan di lingkungan kerja. Terlebih bagi buruh perempuan yang kerap kesulitan mendapatkan hak-hak normatifnya, seperti hak cuti melahirkan, cuti haid, dan lain sebagainya. “Misalnya cuti melahirkan, ada perusahaan yang hanya berikan cuti selama satu bulan. Padahal dalam tiga bulan itu dalam aturannya,” katanya.

Pihaknya terus berupaya meningkatkan sosialisasi kepada para buruh, baik laki-laki maupun perempuan, agar memahami hak-hak normatif yang semestinya mereka dapatkan berdasarkan aturan yang berlaku. Pihaknya juga mendorong perempuan untuk bergabung dalam serikat buruh supaya menjadi wadah bagi mereka berkumpul dan memperjuangkan nasib mereka.

“Selama ini masih ada perempuan yang takut berserikat. Kita mendorong buruh perempuan seperti Marsinah, yang punya keberanian menyuarakan nasib dan hak buruh,” tutupnya. (sti)

PONTIANAK – Buruh perempuan tidak boleh takut untuk berserikat. Sebab, kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat bagi para buruh telah dijamin hak konstitusinya. Dengan berserikat, buruh perempuan juga akan mengetahui hak-hak mereka.

Demikian dikatakan oleh Fatimah, aktivis buruh yang tergabung dalam Serikat Buruh KSBSI Karmiparho Kalimantan Barat (Kalbar). “Sejak gabung di serikat, kami jadi tahu hak-hak kami sebagai pekerja,” ungkapnya, kepada Pontianak Post, belum lama ini.

Lebih dari satu tahun Fatimah aktif dalam serikat buruh tersebut. Perempuan buruh berstatus pekerja harian lepas di sebuah perkebunan di Kabupaten Mempawah itu merasakan betul manfaat keikutsertaan dalam organisasi serikat buruh.

Tak sekedar tahu hak-hak yang wajib dipenuhi oleh perusahaan, dengan berserikat mereka juga lebih kuat dan berani dalam menyampaikan tuntutan. “Ada hak-hak yang kami tuntut akhirnya mulai dipenuhi,” katanya.

Menurutnya, saat ini masih ada buruh perempuan yang belum sepenuhnya menerima hak mereka secara utuh. Misalnya, pemberian cuti hamil, cuti melahirkan, hingga cuti haid. Selain itu, buruh perempuan masih cenderung diperlakukan secara diskriminatif.

Baca Juga :  Pastikan Stok Oksigen Aman

Dalam hal pendapatan misalnya, meski dengan pekerjaan yang hampir sama, gaji buruh laki-laki lebih besar dari perempuan. “Misalnya laki-laki digaji Rp150 ribu, tetapi kalau perempuan cuma Rp96 ribu,” ucapnya.

Karena itulah, kata dia, hak-hak yang tidak dipenuhi atau perlakuan diskriminatif yang diterima oleh perempuan, bisa disuarakan lewat organisasi serikat buruh. Dengan berserikat pula, dia menilai pihak perusahaan atau manajemen tidak akan memandang sebelah mata keberadaan buruh perempuan. “Kita jadi tidak bisa dibodohi,” ujarnya.

Fatimah terus berusaha agar perempuan buruh bergabung ke dalam organisasi serikat. Sejauh ini, mulai banyak perempuan buruh yang aktif di serikat buruh. Tak hanya perempuan, buruh laki-laki juga turut aktif.

“Memang ada sebagian yang enggan bergabung. Tapi setelah memberikan penjelasan, lumayan saat ini anggota kita, dari 20 sekarang 200 orang. Kebanyakan adalah perempuan,” pungkasnya.

Baca Juga :  Di Tengah Pandemi Harga Jual Batu Kecubung Justru Stabil

Ketua KSBSI Kalbar, Suherman membenarkan masih adanya diskriminasi bagi perempuan di lingkungan kerja. Terlebih bagi buruh perempuan yang kerap kesulitan mendapatkan hak-hak normatifnya, seperti hak cuti melahirkan, cuti haid, dan lain sebagainya. “Misalnya cuti melahirkan, ada perusahaan yang hanya berikan cuti selama satu bulan. Padahal dalam tiga bulan itu dalam aturannya,” katanya.

Pihaknya terus berupaya meningkatkan sosialisasi kepada para buruh, baik laki-laki maupun perempuan, agar memahami hak-hak normatif yang semestinya mereka dapatkan berdasarkan aturan yang berlaku. Pihaknya juga mendorong perempuan untuk bergabung dalam serikat buruh supaya menjadi wadah bagi mereka berkumpul dan memperjuangkan nasib mereka.

“Selama ini masih ada perempuan yang takut berserikat. Kita mendorong buruh perempuan seperti Marsinah, yang punya keberanian menyuarakan nasib dan hak buruh,” tutupnya. (sti)

Most Read

Artikel Terbaru

/