alexametrics
31 C
Pontianak
Saturday, June 25, 2022

Desain Baru Taman Budaya Kalbar, Dibangun 2021

Tonjolkan Tema Persaudaraan Antarsuku dan Kelestarian Alam

Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat berencana membangun gedung baru Taman Budaya Kalbar. Desain arsitektur yang digunakan merupakan hasil sayembara, berjudul Nyongsokng Tembawang.

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

Pemprov Kalbar bekerja sama dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) mengadakan sayembara arsitektur Taman Budaya Kalbar. Ada lima desain arsitektur yang masuk penjurian tahap II pada, Sabtu (21/12).

Kelima finalis yang lolos masing-masing mempresentasikan karyanya di hadapan dewan juri. Ada lima dewan juri yang menilai, di antaranya Yuslinda dari Bappeda Kalbar, Kristianus dari Taman Budaya Kalbar, Eko Agus Prawoto dari IAI Nasional, Damianus Ramino dari IAI Kalbar dan Emilya Kalsum dari Akademisi. Termasuk juga salah satunya Gubernur Kalbar Sutarmidji.

Adapun lima judul arsitektur taman budaya Kalbar yang lolos di penjurian tahap II yakni Alam Taman Budaya dengan nomor B21, Jembatan Budaya dengan nomor B24, Enggang Eka Akcaya dengan nomot B30. Lalu Lintas Harmoni Lokal dengan nomor B45 dan yang terakhir Nyongsokng Tembawang dengan nomor B52.

Dari hasil penjurian tersebut akhirnya ditetapkan satu pemenang yang desainnya bakal diimplementasikan menjadi gedung taman budaya Kalbar yang akan datang. Desain tersebut berjudul Nyongsokng Tembawang.

Baca Juga :  Ini Desain Taman Budaya Kalbar yang Baru

Tema besar dari konsep desain tersebut adalah keberlanjutan persaudaraan antar suku dan kelestarian alam. D imana sejak ratusan tahun yang lalu hutan tembawang menjadi saksi persaudaraan suku dayak dan melayu. Hutan tembawang bukan sekedar agroforestri tetapi memiliki fungsi sosial.

Makna tersebut yang kemudian bakal diwujudkan dalam sebuah bangunan taman budaya Kalbar. Bahwa hutan bukan hanya untuk memastikan kebutuhan masyarakat Suku Dayak tetapi juga untuk dapat membantu kebutuhan suku melayu. Kebiasaan tukar menukar bantuan pun berlanjut dengan suku melayu yang kembali membantu anak-anak suku dayak yang hendak menuntut ilmu, dengan menyediakan rumah mereka dengan pintu terbuka.

Nyongsokng dalam hal ini berarti menyambut tamu. Sebuah kisah indah ini yang hendak dilestarikan lewat bangunan taman budaya sebagai semangat untuk terus diwariskan. Secara detail, nantinya bangunan yang terletak di Jalan Syutan Syahrir itu memiliki gedung pertunjukan terbuka dan tertutup. Lalu bioskop terbuka, pedestrian ramah difabel, RTH dan ekologi serta rute parade kultural. Termasuk juga area komersial, parkir kendaraan dan penginapan.

Baca Juga :  Polda Kalbar Gandeng Rumah Jurnalis, Salurkan Kebutuhan Pokok

Gubernur Kalbar Sutarmidji mengungkapkan, desain arsitektur yang menjadi finalis secara umum sudah cukup baik. Namun yang menjadi juara pertama adalah desain yang berbentuk oval. Alsannya karena memang desain tersebut tidak mempengaruhi bentuk bangunan di sekitar baik di sisi kiri (Rumah Melayu) dan kanan (Rumah Radakng).

“Kalau yang lain buat desain menyatukan (bangunan) itu tidak pas. Ada juga yang bentuk paruh gading, tapi terlalu tinggi 52 meter, itu tidak mampu kita merawatnya,” ungkapnya.

Taman budaya yang baru sengaja dibuat di kawasan tersebut agar ada kesatuan kawasan budaya antara rumah melayu dan radakng. “Di satu kawasan dengan rumah melayu dan radakng, tengahnya taman budaya, nah taman budaya ini nanti untuk pentas seni dan kegiatan indoor,” terangnya.

Kemudian untuk kegiatan outdoor seperti gawai dayak juga akan dibenahi dengan dibuatkan panggung. “Nah tempat orang dudukkan, tangga-tangga naik ke rumah radakng itu bisa, kemudian kami buat lagi terap di gedung sekarang. Jadi Insyallah kami coba matangkan di tahun 2020, tahun 2021 mungkin akan kami mulai pembangunannya,” katanya. (*)

Tonjolkan Tema Persaudaraan Antarsuku dan Kelestarian Alam

Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat berencana membangun gedung baru Taman Budaya Kalbar. Desain arsitektur yang digunakan merupakan hasil sayembara, berjudul Nyongsokng Tembawang.

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

Pemprov Kalbar bekerja sama dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) mengadakan sayembara arsitektur Taman Budaya Kalbar. Ada lima desain arsitektur yang masuk penjurian tahap II pada, Sabtu (21/12).

Kelima finalis yang lolos masing-masing mempresentasikan karyanya di hadapan dewan juri. Ada lima dewan juri yang menilai, di antaranya Yuslinda dari Bappeda Kalbar, Kristianus dari Taman Budaya Kalbar, Eko Agus Prawoto dari IAI Nasional, Damianus Ramino dari IAI Kalbar dan Emilya Kalsum dari Akademisi. Termasuk juga salah satunya Gubernur Kalbar Sutarmidji.

Adapun lima judul arsitektur taman budaya Kalbar yang lolos di penjurian tahap II yakni Alam Taman Budaya dengan nomor B21, Jembatan Budaya dengan nomor B24, Enggang Eka Akcaya dengan nomot B30. Lalu Lintas Harmoni Lokal dengan nomor B45 dan yang terakhir Nyongsokng Tembawang dengan nomor B52.

Dari hasil penjurian tersebut akhirnya ditetapkan satu pemenang yang desainnya bakal diimplementasikan menjadi gedung taman budaya Kalbar yang akan datang. Desain tersebut berjudul Nyongsokng Tembawang.

Baca Juga :  Merek Hijab Lokal Dihantam Pandemi, Konsisten Jaga Kualitas Produk

Tema besar dari konsep desain tersebut adalah keberlanjutan persaudaraan antar suku dan kelestarian alam. D imana sejak ratusan tahun yang lalu hutan tembawang menjadi saksi persaudaraan suku dayak dan melayu. Hutan tembawang bukan sekedar agroforestri tetapi memiliki fungsi sosial.

Makna tersebut yang kemudian bakal diwujudkan dalam sebuah bangunan taman budaya Kalbar. Bahwa hutan bukan hanya untuk memastikan kebutuhan masyarakat Suku Dayak tetapi juga untuk dapat membantu kebutuhan suku melayu. Kebiasaan tukar menukar bantuan pun berlanjut dengan suku melayu yang kembali membantu anak-anak suku dayak yang hendak menuntut ilmu, dengan menyediakan rumah mereka dengan pintu terbuka.

Nyongsokng dalam hal ini berarti menyambut tamu. Sebuah kisah indah ini yang hendak dilestarikan lewat bangunan taman budaya sebagai semangat untuk terus diwariskan. Secara detail, nantinya bangunan yang terletak di Jalan Syutan Syahrir itu memiliki gedung pertunjukan terbuka dan tertutup. Lalu bioskop terbuka, pedestrian ramah difabel, RTH dan ekologi serta rute parade kultural. Termasuk juga area komersial, parkir kendaraan dan penginapan.

Baca Juga :  Wadah Kreasi dan Regenerasi Seniman dari Lagu, Tari hingga Lukis

Gubernur Kalbar Sutarmidji mengungkapkan, desain arsitektur yang menjadi finalis secara umum sudah cukup baik. Namun yang menjadi juara pertama adalah desain yang berbentuk oval. Alsannya karena memang desain tersebut tidak mempengaruhi bentuk bangunan di sekitar baik di sisi kiri (Rumah Melayu) dan kanan (Rumah Radakng).

“Kalau yang lain buat desain menyatukan (bangunan) itu tidak pas. Ada juga yang bentuk paruh gading, tapi terlalu tinggi 52 meter, itu tidak mampu kita merawatnya,” ungkapnya.

Taman budaya yang baru sengaja dibuat di kawasan tersebut agar ada kesatuan kawasan budaya antara rumah melayu dan radakng. “Di satu kawasan dengan rumah melayu dan radakng, tengahnya taman budaya, nah taman budaya ini nanti untuk pentas seni dan kegiatan indoor,” terangnya.

Kemudian untuk kegiatan outdoor seperti gawai dayak juga akan dibenahi dengan dibuatkan panggung. “Nah tempat orang dudukkan, tangga-tangga naik ke rumah radakng itu bisa, kemudian kami buat lagi terap di gedung sekarang. Jadi Insyallah kami coba matangkan di tahun 2020, tahun 2021 mungkin akan kami mulai pembangunannya,” katanya. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/