alexametrics
27.8 C
Pontianak
Thursday, August 18, 2022

Guru dan Murid Ikut Tes Usap dan Rapid Antigen

PONTIANAK – Dinas Kesehatan Kalimantan Barat melakukan tes usap dan rapid antigen terhadap guru dan murid di SMAN 3 Pontianak dan dan SMA Mujahidin, Selasa (23/2) .

Kepala SMAN 3 Pontianak Wartono mengatakan peserta didik yang dilakukan tes usap hanya 30 persen dari seluruh peserta didik kelas 12 yang masuk saat digelarnya pembelajaran tatap muka.

“Total siswa kelas 12 ada 330 orang, tetapi kan tidak semua diizinkan orangtua masuk belajar tatap muka. Jika sampelnya hanya 30 persen, sekitar 90 orang,” jelas Wartono di SMAN 3 Pontianak, kemarin.

Sementara untuk tes usap dilakukan untuk semua guru di SMAN 3 Pontianak. “Kecuali ada yang sakit atau tidak bisa hadir sehingga bisa menyusul di tempat lain,” imbuh Wartono.

Ia mengatakan peserta didik sempat takut akan di tes rapid antigen. Situasi itu karena belum terbiasa dengan memasukkan alat ke hidung untuk diambil sampel lendir yang akan dilakukan uji.

“Awal-awalnya takut, begitu selesai diambil sampel tidak ada yang phobia,” sebut Wartono.

Pantauan koran ini sejumlah peserta didik sempat menghindar ketika akan dilakukan tes rapid antigen. Mesin demikian mereka dipanggil petugas sekolah dan diarahkan ke ruangan untuk dilakukan tes rapid antigen.

Di lain tempat, Kepala SMA Mujahidin Umar Budiman menyebutkan ada sekitar 60-70 peserta didik yang ikut rapid tes rapid antigen.

Semuanya adalah peserta didik yang mendapatkan izin orangtua untuk ikut pembelajaran tatap muka di tengah situasi pandemi Covid-19.

Baca Juga :  Infrastruktur Entikong Mewah, Regulasi Tak Mendukung

Sementara untuk guru yang ikut dalam tes usap sekitar 50 guru. “Untuk siswa ada satu orang yang hasilnya reaktif dan disampaikan langsung oleh petugas kesehatan,” sebut Umar saat di SMA Mujahidin Pontianak, kemarin.

Umar menambahkan yang bersangkutan pun sudah diminta untuk melakukan isolasi mandiri. Selama itu juga diingatkan untuk tidak datang ke sekolah. Selain itu melakukan protokol kesehatan secara ketat selama berada di rumah.

Seperti menjaga jarak. Baik terhadap keluarga maupun lingkungan tempat tinggal. “Kepada orangtua juga di informasikan,” terang dia.

Ia melanjutkan pihaknya langsung melakukan sterilisasi ruangan dengan menyemprotkan disinfektan. “Yang bersangkutan baru masuk hari ini (kemarin.red). Ruangan belajarnya akan kami sterilkan,” sambung Umar.

Kepala UPT Kesehatan Kerjal, Olahraga dan Masyarakat Dinkes Kalbar Wahidah mengatakan jumlah guru dan peserta didik di tes usap dan rapid antigen di setiap sekolah.

“Hari ini (kemarin.red) kami melakukan di dua sekolah. Untuk satu sekolah jumlah peserta didik yang di rapid antigen sebanyak 30 persen dari yang hadir,” jelas dia.

Ia menjelaskan tes serupa akan terus dilakukan untuk sekolah-sekolah lainnya. Tes itu dilakukan ketika pembelajaran tatap muka dimulai.

Ia melanjutkan untuk tes usap hasilnya baru diketahui dua hingga tiga hari kemudian. Sementar untuk rapid tes antigen hasilnya keluar saat itu juga.

Ia mengingatkan untuk mereka yang mengikuti tes untuk tetap memperhatikan protokol kesehatan sembari menunggu keluar hasilnya.

“Kepala dinas kesehatan Kalbaryang akan mereview atau dari sample yang diambil itu jika kemudian ada kasus yang positif,” sebutnya.

Baca Juga :  Tim Futsal Kalbar Menang Telak 10-4

Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Kalimantan Barat Feery Safariadi mengatakan tes usap dan rapid antigen dilakukan sebagai, tindak lanjut atas kebijakan gubernur digelarnya pembelajaran tatap muka.

“Agar bisa berjalan dengan baik maka harus dipastikan pembelajaran dilakukan dengan aman, sehingga dilakukanlah pemeriksaan agar jangan sampai pembelajaran tatap muka malah menimbulkan klaster baru,” jelas dia.

Ia menambahkan pemeriksaan itu terus berlanjut. Rencananya dilakukan setiap hari di seluruh SMA di Kota Pontianak baik yang sudah atau yang akan melakukan tatap muka, tetap lakukan pemeriksaan

Bila kemudian ditemukan kasus positif dari rapid tes antigen, pihaknya akan melanjutkan dengan tes usap PCR. Tes itu dilakukan untuk melihat jumlah virus terkandung dalam kasus positif.

Pihaknya pun akan berkorban dengan sekolah jika kemudian ada peserta didik yang mendapat hasil positif untuk melakukan isolasi mandiri selama 14 hari.

“Kalau dari hasil antigen dinyatakan positif, kami akan lihat nilai CT atau viraload virus sehingga perlu dilakukan pemeriksaan PCR,” jelas dia.

Rizki, siswa kelas 12 di SMAN 3 Pontianak menyatakan kesiapannya untuk ikut tes rapid antigen. “Tidak takut karena untuk kesehatan, agar tahu kondisinya seperti apa. Jika positif maka bisa membahayakan orang lain,” jelasnya.

“Kalau hasilnya positif yang sudah takdir, tetapi alhamdulillah jika hasilnya negatif. Yang terpenting pertahankan prokes dan rajin berolahraga,” pungkasnya. (mse)

PONTIANAK – Dinas Kesehatan Kalimantan Barat melakukan tes usap dan rapid antigen terhadap guru dan murid di SMAN 3 Pontianak dan dan SMA Mujahidin, Selasa (23/2) .

Kepala SMAN 3 Pontianak Wartono mengatakan peserta didik yang dilakukan tes usap hanya 30 persen dari seluruh peserta didik kelas 12 yang masuk saat digelarnya pembelajaran tatap muka.

“Total siswa kelas 12 ada 330 orang, tetapi kan tidak semua diizinkan orangtua masuk belajar tatap muka. Jika sampelnya hanya 30 persen, sekitar 90 orang,” jelas Wartono di SMAN 3 Pontianak, kemarin.

Sementara untuk tes usap dilakukan untuk semua guru di SMAN 3 Pontianak. “Kecuali ada yang sakit atau tidak bisa hadir sehingga bisa menyusul di tempat lain,” imbuh Wartono.

Ia mengatakan peserta didik sempat takut akan di tes rapid antigen. Situasi itu karena belum terbiasa dengan memasukkan alat ke hidung untuk diambil sampel lendir yang akan dilakukan uji.

“Awal-awalnya takut, begitu selesai diambil sampel tidak ada yang phobia,” sebut Wartono.

Pantauan koran ini sejumlah peserta didik sempat menghindar ketika akan dilakukan tes rapid antigen. Mesin demikian mereka dipanggil petugas sekolah dan diarahkan ke ruangan untuk dilakukan tes rapid antigen.

Di lain tempat, Kepala SMA Mujahidin Umar Budiman menyebutkan ada sekitar 60-70 peserta didik yang ikut rapid tes rapid antigen.

Semuanya adalah peserta didik yang mendapatkan izin orangtua untuk ikut pembelajaran tatap muka di tengah situasi pandemi Covid-19.

Baca Juga :  Pemakaman Jenazah Terkait Covid-19; Disinfeksi Berulang Kali

Sementara untuk guru yang ikut dalam tes usap sekitar 50 guru. “Untuk siswa ada satu orang yang hasilnya reaktif dan disampaikan langsung oleh petugas kesehatan,” sebut Umar saat di SMA Mujahidin Pontianak, kemarin.

Umar menambahkan yang bersangkutan pun sudah diminta untuk melakukan isolasi mandiri. Selama itu juga diingatkan untuk tidak datang ke sekolah. Selain itu melakukan protokol kesehatan secara ketat selama berada di rumah.

Seperti menjaga jarak. Baik terhadap keluarga maupun lingkungan tempat tinggal. “Kepada orangtua juga di informasikan,” terang dia.

Ia melanjutkan pihaknya langsung melakukan sterilisasi ruangan dengan menyemprotkan disinfektan. “Yang bersangkutan baru masuk hari ini (kemarin.red). Ruangan belajarnya akan kami sterilkan,” sambung Umar.

Kepala UPT Kesehatan Kerjal, Olahraga dan Masyarakat Dinkes Kalbar Wahidah mengatakan jumlah guru dan peserta didik di tes usap dan rapid antigen di setiap sekolah.

“Hari ini (kemarin.red) kami melakukan di dua sekolah. Untuk satu sekolah jumlah peserta didik yang di rapid antigen sebanyak 30 persen dari yang hadir,” jelas dia.

Ia menjelaskan tes serupa akan terus dilakukan untuk sekolah-sekolah lainnya. Tes itu dilakukan ketika pembelajaran tatap muka dimulai.

Ia melanjutkan untuk tes usap hasilnya baru diketahui dua hingga tiga hari kemudian. Sementar untuk rapid tes antigen hasilnya keluar saat itu juga.

Ia mengingatkan untuk mereka yang mengikuti tes untuk tetap memperhatikan protokol kesehatan sembari menunggu keluar hasilnya.

“Kepala dinas kesehatan Kalbaryang akan mereview atau dari sample yang diambil itu jika kemudian ada kasus yang positif,” sebutnya.

Baca Juga :  Waspada Fogging Ilegal

Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Kalimantan Barat Feery Safariadi mengatakan tes usap dan rapid antigen dilakukan sebagai, tindak lanjut atas kebijakan gubernur digelarnya pembelajaran tatap muka.

“Agar bisa berjalan dengan baik maka harus dipastikan pembelajaran dilakukan dengan aman, sehingga dilakukanlah pemeriksaan agar jangan sampai pembelajaran tatap muka malah menimbulkan klaster baru,” jelas dia.

Ia menambahkan pemeriksaan itu terus berlanjut. Rencananya dilakukan setiap hari di seluruh SMA di Kota Pontianak baik yang sudah atau yang akan melakukan tatap muka, tetap lakukan pemeriksaan

Bila kemudian ditemukan kasus positif dari rapid tes antigen, pihaknya akan melanjutkan dengan tes usap PCR. Tes itu dilakukan untuk melihat jumlah virus terkandung dalam kasus positif.

Pihaknya pun akan berkorban dengan sekolah jika kemudian ada peserta didik yang mendapat hasil positif untuk melakukan isolasi mandiri selama 14 hari.

“Kalau dari hasil antigen dinyatakan positif, kami akan lihat nilai CT atau viraload virus sehingga perlu dilakukan pemeriksaan PCR,” jelas dia.

Rizki, siswa kelas 12 di SMAN 3 Pontianak menyatakan kesiapannya untuk ikut tes rapid antigen. “Tidak takut karena untuk kesehatan, agar tahu kondisinya seperti apa. Jika positif maka bisa membahayakan orang lain,” jelasnya.

“Kalau hasilnya positif yang sudah takdir, tetapi alhamdulillah jika hasilnya negatif. Yang terpenting pertahankan prokes dan rajin berolahraga,” pungkasnya. (mse)

Most Read

Artikel Terbaru

/