alexametrics
28.9 C
Pontianak
Wednesday, May 25, 2022

Disporapar Siapkan Pergub Desa Wisata

PONTIANAK – Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) tengah mempersiapakan desa-desa wisata di provinsi ini. Desa wisata dinilai mereka pas untuk mendukung kemandirian sebuah desa karena bersifat lebih komprehensif. Kepala Disporapar Kalbar Windy Prihastari menjelaskan, ada beberapa kriteria agar sebuah desa bisa menjadi desa wisata. Hal itulah yang, menurut dia, membedakannya dengan konsep wisata desa. Pertama, sebut dia, desa wisata harus memenuhi unsur 3A, yakni terdiri dari aksesibilitas, amenitas, dan atraksi. Lalu yang kedua, sebut dia, adanya sumber daya manusia (SDM) serta masyarakat pengelola. Yang ketiga, dia menambahkan, harus sudah ada manajemen kelembagaan pengelolaan seperti Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Koperasi, dan BUMDes.

“Dan yang keempat tentu perlu adanya promosi dan pemasaran,” ucapnya. Untuk saat ini, sebut dia, empat basis desa wisata yakni desa wisata bebasis budaya, desa wisata berbasis alam, desa wisata berbasis kreatif, dan desa wisata berbasis digital.

Rumusan mengenai desa wisata ini sempat mereka diskusikan bersama pihak Universitas Tanjungpura (Untan) bersama rektornya dengan tajuk Desa Wisata berbasis Digital. Dari sana sesuai dengan program kerja Disporapar Kalbar, saat ini sedang disiapkan mereka suatu kebijakan melalui Peraturan Gubernur (Pergub). Aturan tersebut bakal mengatur tentang desa wisata di setiap kabupaten.

“Jadi Pergub itu nanti secara bergantian (tak hanya wisata) ya, misalnya olahraga unggulan, nah sekarang kami kan juga sedang memetakan olahraga unggulan di setiap kabupaten/kota,” katanya.

Baca Juga :  Giliran Lion Dilarang Terbang

Sama halnya dengan desa wisata, pemetaan olahraga unggulan tersebut, menurut dia, akan terus berganti setiap tahunnya. Ketika sudah selesai pembinaan dan lain sebagainya untuk cabang olahraga tertentu, selanjutnya akan mereka cari potensi di cabang-cabang olahraga yang lain.

Sementara untuk desa wisata, jika di suatu desa pengelolaannya sudah berjalan dengan baik, maka akan mereka bentuk lagi seperti desa mandiri dan lain sebagainya. “Ini beberapa desa wisata sudah kami ajukan ke pimpinan untuk dibuat suatu Pergub,” jelasnya.

Harapan dia, ke depan desa-desa yang ada di Kalbar bisa serba mandiri. Dengan serba mandiri, diharapkan dia akan mampu memiliki mata pencaharian sendiri lewat sektor pariwisata. Keberadaan desa wisata diyakini dia akan mampu menimbulkan dampak ganda yang luar biasa. Selain tempat wisata, diharapkan dia, juga akan tumbuh usaha-usaha lain seperti oleh-oleh, kuliner, dan lain sebagainya.

“Ini akan mendukung juga pembentukan desa mandiri. Karena dalam Pergub itu sendiri nantinya kami bukan sendiri tapi bersama stakeholder terkait salah satunya dengan (Dinas) PMD dan Bappeda tentunya,” paparnya.

Termasuk juga dengan pihak Untan, di mana hasil diskusi mereka bersama Rektor Untan Pontianak Prof. Garuda Wiko, pihak Untan telah menyatakan kesiapan untuk bekerja sama. Mereka akan membentuk desa wisata, khususnya untuk desa wisata digital. “Karena di Untan itu kan ada bidangnya yang menangani masalah IT, jaringan dan segala macam. Itu nanti akan kami sinergikan bersama,” pungkasnya.

Baca Juga :  Pemerintah Kembangkan Desa Wisata untuk Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi

Terpisah, Rektor Prof. Garuda Wiko melihat di tengah situasi pandemi Covid-19 yang masih terjadi, perlu diupayakan bagaimana wisata desa dilakukan berbasis virtual atau digital. Apalagi Disporapar Kalbar saat ini, diakui dia, sudah memiliki beberapa aplikasi terkiat pariwisata. “Untan sendiri sangat konsen terhadap pengembangan desa wisata dan yang menarik adalah yang dikemukakan oleh pakar wisata yang bergerak di bidang permainan tradisional anak, ternyata permainan rakyat ini bisa menjadi modal untuk desa wisata,” katanya.

Salah satu yang harus ada di desa wisata menurut dia adalah atraksi yang menarik. Potensi yang ada seperti permainan rakyat tadi diharapkan dia, bisa dikemas sedemikian rupa, agar menjadi daya tarik orang untuk berkunjung ke desa. Dengan demikian, diinginkan dia, bagaimana mereka mampu memicu perekonomian di desa.

“Intinya bagaimana desa itu menjadi harapan di masa depan. Keterlibatkan Untan sebagai jembatan antara program yang ada di tingkat nasional, daerah dan ke desanya langsung,” ujarnya.

Dosen dan mahasiswa diharapkan dia bisa ikut terlibat dalam hal ini. Karena Untan dipastikan dia, memang memiliki dan konsen dalam pengembangan kewirausahaan mahasiswa. “Salah satunya program pembinaan mahasiswa di Rusunawa Karakter dan Kewirausahaan, untuk dilatih dengan harapan nanti kembali ke desa untuk mendorong sektor di desa termasuk untuk mendukung terbentuknya desa wisata,” tutupnya. (bar)

PONTIANAK – Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) tengah mempersiapakan desa-desa wisata di provinsi ini. Desa wisata dinilai mereka pas untuk mendukung kemandirian sebuah desa karena bersifat lebih komprehensif. Kepala Disporapar Kalbar Windy Prihastari menjelaskan, ada beberapa kriteria agar sebuah desa bisa menjadi desa wisata. Hal itulah yang, menurut dia, membedakannya dengan konsep wisata desa. Pertama, sebut dia, desa wisata harus memenuhi unsur 3A, yakni terdiri dari aksesibilitas, amenitas, dan atraksi. Lalu yang kedua, sebut dia, adanya sumber daya manusia (SDM) serta masyarakat pengelola. Yang ketiga, dia menambahkan, harus sudah ada manajemen kelembagaan pengelolaan seperti Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Koperasi, dan BUMDes.

“Dan yang keempat tentu perlu adanya promosi dan pemasaran,” ucapnya. Untuk saat ini, sebut dia, empat basis desa wisata yakni desa wisata bebasis budaya, desa wisata berbasis alam, desa wisata berbasis kreatif, dan desa wisata berbasis digital.

Rumusan mengenai desa wisata ini sempat mereka diskusikan bersama pihak Universitas Tanjungpura (Untan) bersama rektornya dengan tajuk Desa Wisata berbasis Digital. Dari sana sesuai dengan program kerja Disporapar Kalbar, saat ini sedang disiapkan mereka suatu kebijakan melalui Peraturan Gubernur (Pergub). Aturan tersebut bakal mengatur tentang desa wisata di setiap kabupaten.

“Jadi Pergub itu nanti secara bergantian (tak hanya wisata) ya, misalnya olahraga unggulan, nah sekarang kami kan juga sedang memetakan olahraga unggulan di setiap kabupaten/kota,” katanya.

Baca Juga :  Kalbar Mampu Produksi Garam,Kenapa harus Impor?

Sama halnya dengan desa wisata, pemetaan olahraga unggulan tersebut, menurut dia, akan terus berganti setiap tahunnya. Ketika sudah selesai pembinaan dan lain sebagainya untuk cabang olahraga tertentu, selanjutnya akan mereka cari potensi di cabang-cabang olahraga yang lain.

Sementara untuk desa wisata, jika di suatu desa pengelolaannya sudah berjalan dengan baik, maka akan mereka bentuk lagi seperti desa mandiri dan lain sebagainya. “Ini beberapa desa wisata sudah kami ajukan ke pimpinan untuk dibuat suatu Pergub,” jelasnya.

Harapan dia, ke depan desa-desa yang ada di Kalbar bisa serba mandiri. Dengan serba mandiri, diharapkan dia akan mampu memiliki mata pencaharian sendiri lewat sektor pariwisata. Keberadaan desa wisata diyakini dia akan mampu menimbulkan dampak ganda yang luar biasa. Selain tempat wisata, diharapkan dia, juga akan tumbuh usaha-usaha lain seperti oleh-oleh, kuliner, dan lain sebagainya.

“Ini akan mendukung juga pembentukan desa mandiri. Karena dalam Pergub itu sendiri nantinya kami bukan sendiri tapi bersama stakeholder terkait salah satunya dengan (Dinas) PMD dan Bappeda tentunya,” paparnya.

Termasuk juga dengan pihak Untan, di mana hasil diskusi mereka bersama Rektor Untan Pontianak Prof. Garuda Wiko, pihak Untan telah menyatakan kesiapan untuk bekerja sama. Mereka akan membentuk desa wisata, khususnya untuk desa wisata digital. “Karena di Untan itu kan ada bidangnya yang menangani masalah IT, jaringan dan segala macam. Itu nanti akan kami sinergikan bersama,” pungkasnya.

Baca Juga :  Peluncuran Desa Wisata Gunung Sembilan

Terpisah, Rektor Prof. Garuda Wiko melihat di tengah situasi pandemi Covid-19 yang masih terjadi, perlu diupayakan bagaimana wisata desa dilakukan berbasis virtual atau digital. Apalagi Disporapar Kalbar saat ini, diakui dia, sudah memiliki beberapa aplikasi terkiat pariwisata. “Untan sendiri sangat konsen terhadap pengembangan desa wisata dan yang menarik adalah yang dikemukakan oleh pakar wisata yang bergerak di bidang permainan tradisional anak, ternyata permainan rakyat ini bisa menjadi modal untuk desa wisata,” katanya.

Salah satu yang harus ada di desa wisata menurut dia adalah atraksi yang menarik. Potensi yang ada seperti permainan rakyat tadi diharapkan dia, bisa dikemas sedemikian rupa, agar menjadi daya tarik orang untuk berkunjung ke desa. Dengan demikian, diinginkan dia, bagaimana mereka mampu memicu perekonomian di desa.

“Intinya bagaimana desa itu menjadi harapan di masa depan. Keterlibatkan Untan sebagai jembatan antara program yang ada di tingkat nasional, daerah dan ke desanya langsung,” ujarnya.

Dosen dan mahasiswa diharapkan dia bisa ikut terlibat dalam hal ini. Karena Untan dipastikan dia, memang memiliki dan konsen dalam pengembangan kewirausahaan mahasiswa. “Salah satunya program pembinaan mahasiswa di Rusunawa Karakter dan Kewirausahaan, untuk dilatih dengan harapan nanti kembali ke desa untuk mendorong sektor di desa termasuk untuk mendukung terbentuknya desa wisata,” tutupnya. (bar)

Most Read

Artikel Terbaru

/