alexametrics
23 C
Pontianak
Wednesday, June 29, 2022

Prostitusi Online Kian Marak, Kejahatan Seksual Hantui Anak

“Harus disadari kasus kejahatan seksual anak cenderung meningkat. 150 kasus di 2019 dan 183 kasus di 2020 dari Januari hingga Juni.”

Eka Nurhayati, Ketua KPPAD Kalbar 

PONTIANAK – Kasus kejahatan seksual terhadap anak-anak di Kalimantan Barat cenderung meningkat. Dari data resmi Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Kalimantan Barat, pada 2019 saja terjadi 150 kejahatan seksual anak. Sementara dari Januari sampai Juni tahun ini sudah terjadi 183 kasus kejahatan seksual terhadap anak. Artinya, ada peningkatan 70 persen kejahatan seksual terhadap anak dibanding tahun sebelumnya.

“Harus disadari kasus kejahatan seksual anak cenderung meningkat. 150 kasus di 2019 dan 183 kasus di 2020 dari Januari hingga Juni,” kata Ketua KPPAD Kalimantan Barat, Eka Nurhayati, Kamis (23/7).

Anggota KPPAD Kalbar, Alik R Rosyad, mengatakan, dua hari lalu kepolisian telah mengamankan sembilan anak terdiri dari lima laki-laki dan empat perempuan yang diduga terlibat perdagangan orang atau prostitusi online. Mereka diamankan di salah satu hotel di Pontianak.

Terhadap terungkapnya kasus perdagangan orang yang melibatkan sembilan anak itu, lanjut dia, pihaknya langsung melakukan pemantauan dan pendampingan terhadap anak-anak yang diamankan.

“Dalam catatan kami, anak-anak ini ada yang sudah beberapa kali diamankan polisi,” ucapnya.

Dia menerangkan, karena yang diamankan adalah anak-anak maka sudah menjadi kewajiban bagi KPPAD untuk melakukan pendampingan. Karena beberapa anak tersebut statusnya nanti akan berbeda-beda tergantung dari hasil penyelidikan polisi. Apakah semuanya korban atau ada yang ditetapkan sebagai pelaku.

Baca Juga :  Perluas Ekspor Sarang Walet, Mentan SYL Dorong Petani Milenial

“Penanganan terhadap anak-anak ini tentu berbeda-beda. Tetapi yang pasti akan ada pendampingan psikologi. Kemudian kami akan memastikan dan mengomunikasikan proses penyidikan. Ketika ada yang disangkakan, dipastikan prosesnya akan berjalan sesuai dengan koridor undang-undang sistem peradilan anak (SPPA).

Alik menjelaskan, dari sembilan yang diamankan, dua di antaranya berasal dari Kubu Raya dan sisanya dari Kota Pontianak. “Kasus ini menjadi keprihatinan. Untuk itu kami akan melakukan langkah-langkah koordinasi dengan pemerintah dan PHRI, untuk melakukan pencegahan perdagangan orang di hotel,” ucapnya.

Menurut Alik, pihak hotel harusnya memiliki kepekaan melihat kasus-kasus kejahatan seksual terhadap anak. Sebagai contoh ada sembilan anak di dalam satu hotel, tentu harusnya menjadi perhatian. Yang ternyata aktivitas mereka di hotel adalah menerima pelanggan untuk berhubungan seksual.

“Harapannya dari koordinasi ini, protokol pencegahan perdagangan orang atau prostitusi online yang melibatkan anak dapat diterapkan di semua hotel di Kalimantan Barat,” harapnya.

Sementara itu, anggota KPPAD Nani Wirdayani mengatakan, kasus perdagangan orang yang melibatkan anak-anak itu bisa terjadi, karena hampir semua anak-anak yang diamankan berasal dari keluarga yang orang tuanya sudah berpisah. Masalah ekonomi juga menjadi salah satu faktor. “Setelah dilakukan konseling, korban yang dijual ternyata sejak masih duduk di sekolah dasar sudah pernah melakukan hubungan badan dengan pacarnya,” ujar Nani.

Dari konseling itu terungkap juga pengakuan korban bahwa ketika hubungan dengan pacar kandas, ia menjalin hubungan dengan pria lain tetapi kembali ditinggalkan. Di saat situasi psikologisnya tak menentu, korban bertemu dengan kelompok anak-anak tersebut, sehingga akhirnya ditawari untuk melayani pria hidung belang.

Baca Juga :  Lagi, Belasan Anak-Anak Dijual di Hotel

Nani mengungkapkan, kelompok anak-anak yang diamankan polisi beberapa hari lalu ternyata memiliki aturan main sendiri. Anggota yang berpacaran tidak memperbolehkan pacarnya dijual. Tetapi pacarnya itu ditugaskan untuk mencari temannya yang bisa ditawarkan.

“Mereka membuat jaringan untuk mencari kawan-kawannya yang senasib atau sudah melakukan hubungan badan dari tingkat SD dan dari latar belakang keluarga yang terpisah. Kumpul, buat kelompok, hidup dari hotel ke hotel,” ungkapnya.

Nani mengungkapkan, hasil dari menjual temannya itu digunakan untuk berbagai keperluan mulai dari makan, membeli pakaian, sewa mobil dan lain-lain. “Mereka kalau ke hotel sewa tiga kamar. Satu kamar untuk melayani tamu, satu kamar untuk tempat kumpul, satu kamar lainnya untuk main aplikasi,” terangnya.

Nani pun menyebutkan, saat ini pihaknya tengah mendampingi tiga kasus kejahatan seksual terhadap anak di Kabupaten Bengkayang. Para pelakunya diduga adalah orang tua kandung, orang tua tiri, dan tokoh agama. Tindakan kejahatan itu sudah dilakukan pelaku berulang kali. “Untuk kasusnya saat ini masih dalam penanganan Polres Bengkayang,” katanya. Ketiga kasus itu terjadi di tiga tempat berbeda. Sementara untuk usia korban ada yang sembilan tahun dan ada pula 18 tahun. (adg)

“Harus disadari kasus kejahatan seksual anak cenderung meningkat. 150 kasus di 2019 dan 183 kasus di 2020 dari Januari hingga Juni.”

Eka Nurhayati, Ketua KPPAD Kalbar 

PONTIANAK – Kasus kejahatan seksual terhadap anak-anak di Kalimantan Barat cenderung meningkat. Dari data resmi Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Kalimantan Barat, pada 2019 saja terjadi 150 kejahatan seksual anak. Sementara dari Januari sampai Juni tahun ini sudah terjadi 183 kasus kejahatan seksual terhadap anak. Artinya, ada peningkatan 70 persen kejahatan seksual terhadap anak dibanding tahun sebelumnya.

“Harus disadari kasus kejahatan seksual anak cenderung meningkat. 150 kasus di 2019 dan 183 kasus di 2020 dari Januari hingga Juni,” kata Ketua KPPAD Kalimantan Barat, Eka Nurhayati, Kamis (23/7).

Anggota KPPAD Kalbar, Alik R Rosyad, mengatakan, dua hari lalu kepolisian telah mengamankan sembilan anak terdiri dari lima laki-laki dan empat perempuan yang diduga terlibat perdagangan orang atau prostitusi online. Mereka diamankan di salah satu hotel di Pontianak.

Terhadap terungkapnya kasus perdagangan orang yang melibatkan sembilan anak itu, lanjut dia, pihaknya langsung melakukan pemantauan dan pendampingan terhadap anak-anak yang diamankan.

“Dalam catatan kami, anak-anak ini ada yang sudah beberapa kali diamankan polisi,” ucapnya.

Dia menerangkan, karena yang diamankan adalah anak-anak maka sudah menjadi kewajiban bagi KPPAD untuk melakukan pendampingan. Karena beberapa anak tersebut statusnya nanti akan berbeda-beda tergantung dari hasil penyelidikan polisi. Apakah semuanya korban atau ada yang ditetapkan sebagai pelaku.

Baca Juga :  Operasi Pekat Tangkap 33 Tersangka

“Penanganan terhadap anak-anak ini tentu berbeda-beda. Tetapi yang pasti akan ada pendampingan psikologi. Kemudian kami akan memastikan dan mengomunikasikan proses penyidikan. Ketika ada yang disangkakan, dipastikan prosesnya akan berjalan sesuai dengan koridor undang-undang sistem peradilan anak (SPPA).

Alik menjelaskan, dari sembilan yang diamankan, dua di antaranya berasal dari Kubu Raya dan sisanya dari Kota Pontianak. “Kasus ini menjadi keprihatinan. Untuk itu kami akan melakukan langkah-langkah koordinasi dengan pemerintah dan PHRI, untuk melakukan pencegahan perdagangan orang di hotel,” ucapnya.

Menurut Alik, pihak hotel harusnya memiliki kepekaan melihat kasus-kasus kejahatan seksual terhadap anak. Sebagai contoh ada sembilan anak di dalam satu hotel, tentu harusnya menjadi perhatian. Yang ternyata aktivitas mereka di hotel adalah menerima pelanggan untuk berhubungan seksual.

“Harapannya dari koordinasi ini, protokol pencegahan perdagangan orang atau prostitusi online yang melibatkan anak dapat diterapkan di semua hotel di Kalimantan Barat,” harapnya.

Sementara itu, anggota KPPAD Nani Wirdayani mengatakan, kasus perdagangan orang yang melibatkan anak-anak itu bisa terjadi, karena hampir semua anak-anak yang diamankan berasal dari keluarga yang orang tuanya sudah berpisah. Masalah ekonomi juga menjadi salah satu faktor. “Setelah dilakukan konseling, korban yang dijual ternyata sejak masih duduk di sekolah dasar sudah pernah melakukan hubungan badan dengan pacarnya,” ujar Nani.

Dari konseling itu terungkap juga pengakuan korban bahwa ketika hubungan dengan pacar kandas, ia menjalin hubungan dengan pria lain tetapi kembali ditinggalkan. Di saat situasi psikologisnya tak menentu, korban bertemu dengan kelompok anak-anak tersebut, sehingga akhirnya ditawari untuk melayani pria hidung belang.

Baca Juga :  Peringati Bulan Bakti Peternakan 2019, ISPI Kalbar Adakan Gerak Jalan Sehat dan Lomba Bertema Peternakan

Nani mengungkapkan, kelompok anak-anak yang diamankan polisi beberapa hari lalu ternyata memiliki aturan main sendiri. Anggota yang berpacaran tidak memperbolehkan pacarnya dijual. Tetapi pacarnya itu ditugaskan untuk mencari temannya yang bisa ditawarkan.

“Mereka membuat jaringan untuk mencari kawan-kawannya yang senasib atau sudah melakukan hubungan badan dari tingkat SD dan dari latar belakang keluarga yang terpisah. Kumpul, buat kelompok, hidup dari hotel ke hotel,” ungkapnya.

Nani mengungkapkan, hasil dari menjual temannya itu digunakan untuk berbagai keperluan mulai dari makan, membeli pakaian, sewa mobil dan lain-lain. “Mereka kalau ke hotel sewa tiga kamar. Satu kamar untuk melayani tamu, satu kamar untuk tempat kumpul, satu kamar lainnya untuk main aplikasi,” terangnya.

Nani pun menyebutkan, saat ini pihaknya tengah mendampingi tiga kasus kejahatan seksual terhadap anak di Kabupaten Bengkayang. Para pelakunya diduga adalah orang tua kandung, orang tua tiri, dan tokoh agama. Tindakan kejahatan itu sudah dilakukan pelaku berulang kali. “Untuk kasusnya saat ini masih dalam penanganan Polres Bengkayang,” katanya. Ketiga kasus itu terjadi di tiga tempat berbeda. Sementara untuk usia korban ada yang sembilan tahun dan ada pula 18 tahun. (adg)

Most Read

Artikel Terbaru

/