alexametrics
26 C
Pontianak
Thursday, June 30, 2022

Telur Penyu Ilegal Dimusnahkan

PONTIANAK – Direktorat Perairan Polda Kalbar memusnahkan barang bukti sebanyak 9.310 butir telur penyu hasil tindak pidana Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Kamis (23/7) pagi. Telur penyu hasil penyelundupan antarprovinsi itu dimusnahkan dengan cara ditimbun.

Kasubdit Gakkum Direktorat Polair Polda Kalbar, Kompol Husni Ramli mengungkapkan, pemusnahan barang bukti ini bagian dari proses penyidikan. Husni mengatakan, kasus penyelundupan telur penyu antarprovinsi ini menetapkan BRS sebagai tersangka.

“Yang bersangkutan pelaku tunggal. Dia adalah pemilik barang bukti itu,” kata Husni, kemarin.

Saat ini, kata Husni, berkas perkara penyidikan sudah dinyatakan lengkap dan siap dilimpahkan tahap dua ke kejaksaan. “Berkas perkara sudah lengkap. Tinggal pelimpahan,” lanjutnya.

Baca Juga :  Putus Rantai Penyebaran Covid 19 di Lingkungan Mazidam XII/TPR

Sebelumnya, Direktorat Polair Polda Kalbar mengamankan sebanyak 9.310 butir telur penyu asal Tambelan Sampit, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, yang akan diselundupkan ke Pontianak menggunakan Kapal Motor (KM) Sabuk Nusantara 80.

Kasubdit Penegakkan Hukum Direktorat Polair Polda Kalbar Kompol Husni Ramli mengatakan, dari hasil penyelidikan, polisi juga mengamankan seseorang bernama BRS (40) yang merupakan anak buah kapal (ABK) tersebut.

Husni mengatakan, pengungkapan kasus penyelundupan telur penyu antara provinsi ini bermula dari adanya laporan masyarakat. Laporan itu menyebutkan, adanya dugaan salah satu anak buah kapal Sabuk Nusantara 80 membawa ribuan telur penyu yang dimasukkan ke dalam 14 kardus dari Tambelan, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau.

Baca Juga :  Selesaikan Masalah Prostitusi Online Melibatkan Anak

Atas laporan itu, Subditgakkum Polair Polda Kalbar bersama Ditjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Pontianak mendatangi kapal untuk melakukan pemeriksaan.

“Dari pemeriksaan itulah ditemukan barang bukti telur penyu dan menangkap pelaku yang diduga sebagai pemilik,” ujar Husni.

Atas perbuatannya, pelaku dijerat dengan Pasal 40 juncto Pasal 21 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. (arf)

PONTIANAK – Direktorat Perairan Polda Kalbar memusnahkan barang bukti sebanyak 9.310 butir telur penyu hasil tindak pidana Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Kamis (23/7) pagi. Telur penyu hasil penyelundupan antarprovinsi itu dimusnahkan dengan cara ditimbun.

Kasubdit Gakkum Direktorat Polair Polda Kalbar, Kompol Husni Ramli mengungkapkan, pemusnahan barang bukti ini bagian dari proses penyidikan. Husni mengatakan, kasus penyelundupan telur penyu antarprovinsi ini menetapkan BRS sebagai tersangka.

“Yang bersangkutan pelaku tunggal. Dia adalah pemilik barang bukti itu,” kata Husni, kemarin.

Saat ini, kata Husni, berkas perkara penyidikan sudah dinyatakan lengkap dan siap dilimpahkan tahap dua ke kejaksaan. “Berkas perkara sudah lengkap. Tinggal pelimpahan,” lanjutnya.

Baca Juga :  Tak Lazim, 57 Tukik Menetas di Kardus

Sebelumnya, Direktorat Polair Polda Kalbar mengamankan sebanyak 9.310 butir telur penyu asal Tambelan Sampit, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, yang akan diselundupkan ke Pontianak menggunakan Kapal Motor (KM) Sabuk Nusantara 80.

Kasubdit Penegakkan Hukum Direktorat Polair Polda Kalbar Kompol Husni Ramli mengatakan, dari hasil penyelidikan, polisi juga mengamankan seseorang bernama BRS (40) yang merupakan anak buah kapal (ABK) tersebut.

Husni mengatakan, pengungkapan kasus penyelundupan telur penyu antara provinsi ini bermula dari adanya laporan masyarakat. Laporan itu menyebutkan, adanya dugaan salah satu anak buah kapal Sabuk Nusantara 80 membawa ribuan telur penyu yang dimasukkan ke dalam 14 kardus dari Tambelan, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau.

Baca Juga :  Pasar Gelap Telur Penyu Masih Marak

Atas laporan itu, Subditgakkum Polair Polda Kalbar bersama Ditjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Pontianak mendatangi kapal untuk melakukan pemeriksaan.

“Dari pemeriksaan itulah ditemukan barang bukti telur penyu dan menangkap pelaku yang diduga sebagai pemilik,” ujar Husni.

Atas perbuatannya, pelaku dijerat dengan Pasal 40 juncto Pasal 21 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. (arf)

Most Read

Artikel Terbaru

/