alexametrics
30 C
Pontianak
Sunday, June 26, 2022

Harga Karet Melejit, Tapi Produksi Turun

PONTIANAK – Harga karet mengalami kenaikan seiring dengan melonjaknya permintaan komoditas ini di pasar dunia. Dampaknya, harga karet di tingkat petani turut terdongkrak. Namun produksinya justru sedang terseok lantaran tengah musim penghujan. “Untuk harga saat ini sedang tinggi. Naik Rp2000, sehingga pada saat ini harganya Rp11 ribu per kilogram,” ungkap petani karet asal Desa Gapura, Kecamatan Sambas, Ramli, Senin (23/11).

Kenaikan harga tersebut, kata dia dirasakan petani sekitar satu bulan terakhir. Harga tersebut dinilainya juga cukup baik, bahkan menguntungkan petani karer. Terlebih bagi petani yang yang terhimpun dalam kelompok petani melalui Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB) yang bekerja sama secara langsung dengan pabrik karet.

“Kalau lewat tengkulak ada selisih Rp600 per kilogram atau lebih rendah dibandingkan dengan kami yang bermitra langsung dengan pabrik,” kata Ketua Kelompok Tani Buluh Serumpun ini.

Hanya saja, kata dia, kenaikan harga karet ini, tidak sejalan dengan produksinya. Saat ini, produksi karet oleh petani tengah mengalami penurunan karena musim penghujan. Petani menurutnya tak bisa menghasilkan jumlah karet yang optimal lantaran terhalang hujan. “Penurunannya (produksi) bisa 50 persen,” tutur dia.

Ketua Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Kalbar, Jusdar mengakui kenaikan harga bokar. Dia menyebut, harga bokar di Sanggau dengan K3 100 persen Rp.18.700 per kilogram. Di tempat lain, dia meyakini lebih tinggi, seperti di Sambas yang kualitas K3 bokar lebih tinggi.

Baca Juga :  220 SMK Ikut Asesmen Nasional

Kenaikan harga ini, lanjut Jusdar, tak terlepas dari pulihnya perekonomian dunia, seperti Tiongkok yang menjadi negara tujuan ekspor karet Indonesia, tak terkecuali Kalbar. “Karena ekonomi di negara Tiongkok dan negara-negara yang dulunya lock down mulai membaik, sehingga permintaan meningkat, sehingga harga di pasar global naik dari bulan Agustus 2020 yg sekitar USD 1,28 per kilogram SIR 20 menjadi 1,54 USD per kilogram SIR pada saat ini,” jelas dia.

Namun begitu, kata dia lagi, produksi karet nasional sedang menurun. Belum selesai pengaruh pandemi covid-19 bagi industri karet tanah air,  faktor perubahan iklim dan penyakit pestalotiopsis atau gugur daun turut membuat produksi komoditas getah ini merosot. Alhasil, pabrik karet yang pada kondisi normal kekurangan bahan baku, semakin parah saja. “Pabrik tetap kekurangan bahan baku,” tutur dia. Terus Perbaiki Tata Niaga

Kalimantan Barat tengah berikhtiar membenahi tata niaga karet. Mulai dari perbaikan kualitas, kelayakan harga yang diterima petani, hingga rantai pasok yang lebih sederhana.

Kepala Dinas Perkebunan Kalbar, Heronimus Hero mengatakan, rantai pasok karet di Kalbar terlalu panjang dengan melibatkan dua hingga tiga tingkat perantara atau pengepul. Kondisi ini merugikan petani karena harga yang diterima rendah dan tidak menguntungkan.

Baca Juga :  Pererat Persatuan dan Inginkan Kualitas SDM Meningkat

“Rantai pasok karet yang ada saat ini membuat karet kehilangan nilai tambahnya. Pertama karena ada dua hingga tiga tingkatan pengepul, kedua pengepul yang mengatur harga. Ini membuat disparitas harga di pabrik dan di petani sangat tinggi,” ungkap dia belum lama ini.

Pihaknya menggodok strategi tata niaga produk karet melalui Networking Entrepreneurship, yang menjadi alternatif yang sangat relevan dengan kondisi lapangan, sistematis dan berdampak luas kepada masya rakat dan pemerintah daerah. Ada tiga sisi penting dalam mewujudkan strategi tersebut, yakni dari sisi pekebun, fungsi UPPB, serta Pabrikan. Untuk memperpendek rantai pasok, UPPB menjadi solusinya.

Fungsi UPPB di antaranya adalah transparan, kendali mutu, serta margin yang pantas. Unit ini menjalankan fungsi transparansi, sehingga menekan persaingan harga yang tidak transparan dari keberadaan perantara yang menjadi hambatan pekebun mengakses informasi harga karet. Selain itu, unit ini juga akan punya peran untuk melakukan kontrol terhadap mutu karet pekebun.

“Dengan begitu, pada akhirnya mereka akan mendapatkan harga dengan margin yang pantas,” ucap Hero. (sti)

 

 

PONTIANAK – Harga karet mengalami kenaikan seiring dengan melonjaknya permintaan komoditas ini di pasar dunia. Dampaknya, harga karet di tingkat petani turut terdongkrak. Namun produksinya justru sedang terseok lantaran tengah musim penghujan. “Untuk harga saat ini sedang tinggi. Naik Rp2000, sehingga pada saat ini harganya Rp11 ribu per kilogram,” ungkap petani karet asal Desa Gapura, Kecamatan Sambas, Ramli, Senin (23/11).

Kenaikan harga tersebut, kata dia dirasakan petani sekitar satu bulan terakhir. Harga tersebut dinilainya juga cukup baik, bahkan menguntungkan petani karer. Terlebih bagi petani yang yang terhimpun dalam kelompok petani melalui Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB) yang bekerja sama secara langsung dengan pabrik karet.

“Kalau lewat tengkulak ada selisih Rp600 per kilogram atau lebih rendah dibandingkan dengan kami yang bermitra langsung dengan pabrik,” kata Ketua Kelompok Tani Buluh Serumpun ini.

Hanya saja, kata dia, kenaikan harga karet ini, tidak sejalan dengan produksinya. Saat ini, produksi karet oleh petani tengah mengalami penurunan karena musim penghujan. Petani menurutnya tak bisa menghasilkan jumlah karet yang optimal lantaran terhalang hujan. “Penurunannya (produksi) bisa 50 persen,” tutur dia.

Ketua Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Kalbar, Jusdar mengakui kenaikan harga bokar. Dia menyebut, harga bokar di Sanggau dengan K3 100 persen Rp.18.700 per kilogram. Di tempat lain, dia meyakini lebih tinggi, seperti di Sambas yang kualitas K3 bokar lebih tinggi.

Baca Juga :  Melestarikan Lingkungan dengan Mengurangi Polusi Udara

Kenaikan harga ini, lanjut Jusdar, tak terlepas dari pulihnya perekonomian dunia, seperti Tiongkok yang menjadi negara tujuan ekspor karet Indonesia, tak terkecuali Kalbar. “Karena ekonomi di negara Tiongkok dan negara-negara yang dulunya lock down mulai membaik, sehingga permintaan meningkat, sehingga harga di pasar global naik dari bulan Agustus 2020 yg sekitar USD 1,28 per kilogram SIR 20 menjadi 1,54 USD per kilogram SIR pada saat ini,” jelas dia.

Namun begitu, kata dia lagi, produksi karet nasional sedang menurun. Belum selesai pengaruh pandemi covid-19 bagi industri karet tanah air,  faktor perubahan iklim dan penyakit pestalotiopsis atau gugur daun turut membuat produksi komoditas getah ini merosot. Alhasil, pabrik karet yang pada kondisi normal kekurangan bahan baku, semakin parah saja. “Pabrik tetap kekurangan bahan baku,” tutur dia. Terus Perbaiki Tata Niaga

Kalimantan Barat tengah berikhtiar membenahi tata niaga karet. Mulai dari perbaikan kualitas, kelayakan harga yang diterima petani, hingga rantai pasok yang lebih sederhana.

Kepala Dinas Perkebunan Kalbar, Heronimus Hero mengatakan, rantai pasok karet di Kalbar terlalu panjang dengan melibatkan dua hingga tiga tingkat perantara atau pengepul. Kondisi ini merugikan petani karena harga yang diterima rendah dan tidak menguntungkan.

Baca Juga :  220 SMK Ikut Asesmen Nasional

“Rantai pasok karet yang ada saat ini membuat karet kehilangan nilai tambahnya. Pertama karena ada dua hingga tiga tingkatan pengepul, kedua pengepul yang mengatur harga. Ini membuat disparitas harga di pabrik dan di petani sangat tinggi,” ungkap dia belum lama ini.

Pihaknya menggodok strategi tata niaga produk karet melalui Networking Entrepreneurship, yang menjadi alternatif yang sangat relevan dengan kondisi lapangan, sistematis dan berdampak luas kepada masya rakat dan pemerintah daerah. Ada tiga sisi penting dalam mewujudkan strategi tersebut, yakni dari sisi pekebun, fungsi UPPB, serta Pabrikan. Untuk memperpendek rantai pasok, UPPB menjadi solusinya.

Fungsi UPPB di antaranya adalah transparan, kendali mutu, serta margin yang pantas. Unit ini menjalankan fungsi transparansi, sehingga menekan persaingan harga yang tidak transparan dari keberadaan perantara yang menjadi hambatan pekebun mengakses informasi harga karet. Selain itu, unit ini juga akan punya peran untuk melakukan kontrol terhadap mutu karet pekebun.

“Dengan begitu, pada akhirnya mereka akan mendapatkan harga dengan margin yang pantas,” ucap Hero. (sti)

 

 

Most Read

Artikel Terbaru

/