alexametrics
27.8 C
Pontianak
Tuesday, July 5, 2022

Lima Jenazah Satu Liang Lahat

PONTIANAK – Isak tangis keluarga korban mengiringi pemakaman jenazah Toni Ismail (59), Rahmawati (59), Ratih Windania (26), Athar Rizki Riawan (8) dan Yumna Fanisyatuzahra (3). Kelima jenazah itu dimakamkan dalam satu liang lahat di pemakaman muslim Jalan Dr. Wahidin Pontianak Kota, Minggu (24/1) pagi.

Kelimanya merupakan korban insiden jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ182 rute Jakarta-Pontianak di perairan Kepualauan Seribu, Jakarta Utara, pada Sabtu (9/1).

Raut kesedihan keluarga korban terlihat sejak kedatangan jenazah di pintu kedatangan VIP Pemda Kalbar, Bandara Internasional Supadio Pontianak.

Jenazah Toni Ismail (59), Ratih Windania (26), Rahmawati (59), Athar Rizki Riawan (8) dan Yumna Fanisyatuzahra (3) ini tiba sekitar pukul 06.30 menggunakan pesawat Sriwijaya Air SJ 184, bersama jenazah lainnya Muhammad Nur Kholifatil Amin, pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Sekubang, Kabupaten Mempawah.

Iwan Kurniawan, ayah dari korban Athar Rizki Riawan tak mampu membendung air matanya. Sesekali dia harus menghapus dengan jarinya sambil mendekap erat foto putra bungsunya tersebut. Demikian juga Irfansyah, anak dari pasangan suami istri Toni Ismail dan Rahmawati.

Kedatangan jenazah tersebut kemudian dilakukan penyerahan dari Kepala Kantor SAR Pontianak Yopi Haryadi kepada Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji, yang kemudian diserahkan ke pihak keluarga korban.

Sutarmidji mewakili Pemerintah Provinsi Kalbar turut menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas musibah ini.

“Semoga semua almarhum dan almarhumah korban kecelakaan Sriwijaya Air SJ-182 ditempatkan yang terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan kepercayaannya masing-masing. Yakinlah kalau para korban, dalam hal ini meninggal dalam keadaan sahid dan ditempatkan yang terbaik di sisi Allah SWT,” ucapnya.

Kelima jenazah, Toni Ismail (59) Rahmawati (59), Ratih Windania (26), Athar Rizki Riawan (8) dan Yumna Fanisyatuzahra (3) dibawa ke masjid Al Hikmah Jalan Dr Wahidin, Pontianak Kota untuk disalatkan.

Usai disalatkan ratusan warga mengiringi iring-iringan peti jenazah menuju pemakaman muslim yang jaraknya sekitar 100 meter dari masjid tersebut. Lima jenazah itu dimakamkan dalam satu liang lahat. Isak tangis para keluarga dan untaian doa para ta’ziah pun mengiringinya.

Baca Juga :  Bupati Jemput Jenazah Korban Sriwijaya Air SJ-182 di Supadio

 

“Tidak pernah terpikir. Tidak ada firasat tidak ada tanda apapun dan ini lah menjadi nasihat untuk kita semua yang masih hidup. Bahwa meninggal itu tidak mengenal tua atau muda. Sakit atau sehat. Itu semua sudah menjadi takdirnya Allah,” kata Irfansyah, mewakili keluarga korban.

Sebelum mengalami kecelakaan pesawat, Toni Ismail sekeluarga mengunjungi dirinya di Bandung, Jawa Barat. Menurut Irfan, kunjungan tersebut menjadi kunjungan terlama selama ini. Alhmarhum lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. “Kemarin menjadi kunjungan terakhir beliau,” katanya sambil terisak.

Irfansyah merupakan anak sulung dari dua bersaudara pasangan Toni Ismail dan Rahmawati. Saudarinya Ratih Windania juga berada dalam kecelakaan pesawat itu, bersama putrinya Yumna Fanisyatuzahra yang masih berusia tiga tahun serta keponakannya Athar Rizki Riawan usia delapan tahun. “Saya mewakili keluarga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang turut membantu,” katanya.

Yumna Fanisyatuzahra merupakan jenazah terakhir dari keluarga Toni Ismail. Balita yang sempat viral mengenakan jaket pink bergambar minnie mouse itu baru teridentifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri pada 22 Januari 2021. Sementara  jenazah kakeknya, Toni Ismail dan neneknya, Rahmawati sudah teridentifikasi pada 15 Januari 2021. Sedangkan sepupunya, Athar Rizki Riawan teridentifikasi pada 18 Januari 2021.

“Kami memang berharap dan menunggu semuanya teridentifikasi, agar bisa dimakamkan sekaligus di Pontianak,” tutur Iwan Kurniawan, ayah korban atas nama Athar Rizki Riawan.

Di sisi lain, jenazah atas nama Muhammad Nur Kholifatil Amin akan dimakamkan di Sekubang, Kabupaten Mempawah. Muhammad Nur Kholifatil Amin merupakan suami dari Hj Agus Minarti, yang juga korban insiden jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ182. Jenazah Agus Minarti lebih dulu teridentifikasi dan dimakamkan.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Pontianak Yopi Haryadi mengatakan, hari ini diserahkan enam jenazah kepada pihak Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat. Kemudian, diserah terimakan kepada pihak keluarga.

Baca Juga :  Keluarga Korban Diterbangkan ke Jakarta

“Pada hari ini kita serah terimakan 6 jenazah pada pihak Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat yang kemudian diserah terimakan kepada pihak keluarga,” tutur Yopi Haryadi ditemui awak media di VVIP Pemprov Kalbar Bandara Internasional Supadio.

Menurut Yopi, sesuai komitmen yang sudah disampaikan pada saat penutupan Posko Crisis Center, walaupun operasi SAR sudah dihentikan, proses identifikasi dan dan serah terima jenazah akan tetap dilakukan.

“Seperti komitmen yang telah kami sampaikan pada saat penutupan Crisis Center pada hari jumat lalu, walaupun operasi SAR sudah dihentikan akan tetapi untuk proses identifikasi dan juga pemulangan (penyerah terima jenazah) itu tetap akan dilaksanakan dan Basarnas siap mendampingi kegiatan tersebut,” jelasnya.

Sebagaimana diketahui, pesawat Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta-Pontianak ini, hilang kontak pada Sabtu (9/1) pukul 14.40 WIB. Kemudian dinyatakan jatuh di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, yakni di antara Pulau Lancang dan Pulau Laki.

Pesawat jenis Boeing 737-500 itu hilang kontak pada posisi 11 mil laut di utara Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, setelah melewati ketinggian 11.000 kaki dan pada saat menambah ketinggian di 13.000 kaki.

Pesawat tinggal landas dari Bandara Soekarno Hatta pukul 14.36 WIB. Jadwal tersebut mundur dari jadwal penerbangan sebelumnya 13.35 WIB. Penundaan keberangkatan karena faktor cuaca.

Berdasarkan data manifes penerbangan, pesawat yang diproduksi tahun 1994 itu membawa 62 orang terdiri atas 50 penumpang dan 12 orang kru. Dari jumlah tersebut, 40 orang dewasa, tujuh anak-anak, tiga bayi, sedangkan 12 kru terdiri atas enam kru aktif dan enam kru ekstra.

Dengan demikian, total korban yang sudah teridentifikasi adalah 49 orang. Sementara masih 13 belum teridentifikasi. Tiga di antaranya adalah Panca Widia Nursanti asal Pontianak, bayi bernama Daniya yang merupakan anak dari korban Supianto warga Pontianak. Kemudian korban atas nama Razanah asal Kabupaten Ketapang. (arf)

PONTIANAK – Isak tangis keluarga korban mengiringi pemakaman jenazah Toni Ismail (59), Rahmawati (59), Ratih Windania (26), Athar Rizki Riawan (8) dan Yumna Fanisyatuzahra (3). Kelima jenazah itu dimakamkan dalam satu liang lahat di pemakaman muslim Jalan Dr. Wahidin Pontianak Kota, Minggu (24/1) pagi.

Kelimanya merupakan korban insiden jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ182 rute Jakarta-Pontianak di perairan Kepualauan Seribu, Jakarta Utara, pada Sabtu (9/1).

Raut kesedihan keluarga korban terlihat sejak kedatangan jenazah di pintu kedatangan VIP Pemda Kalbar, Bandara Internasional Supadio Pontianak.

Jenazah Toni Ismail (59), Ratih Windania (26), Rahmawati (59), Athar Rizki Riawan (8) dan Yumna Fanisyatuzahra (3) ini tiba sekitar pukul 06.30 menggunakan pesawat Sriwijaya Air SJ 184, bersama jenazah lainnya Muhammad Nur Kholifatil Amin, pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Sekubang, Kabupaten Mempawah.

Iwan Kurniawan, ayah dari korban Athar Rizki Riawan tak mampu membendung air matanya. Sesekali dia harus menghapus dengan jarinya sambil mendekap erat foto putra bungsunya tersebut. Demikian juga Irfansyah, anak dari pasangan suami istri Toni Ismail dan Rahmawati.

Kedatangan jenazah tersebut kemudian dilakukan penyerahan dari Kepala Kantor SAR Pontianak Yopi Haryadi kepada Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji, yang kemudian diserahkan ke pihak keluarga korban.

Sutarmidji mewakili Pemerintah Provinsi Kalbar turut menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas musibah ini.

“Semoga semua almarhum dan almarhumah korban kecelakaan Sriwijaya Air SJ-182 ditempatkan yang terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan kepercayaannya masing-masing. Yakinlah kalau para korban, dalam hal ini meninggal dalam keadaan sahid dan ditempatkan yang terbaik di sisi Allah SWT,” ucapnya.

Kelima jenazah, Toni Ismail (59) Rahmawati (59), Ratih Windania (26), Athar Rizki Riawan (8) dan Yumna Fanisyatuzahra (3) dibawa ke masjid Al Hikmah Jalan Dr Wahidin, Pontianak Kota untuk disalatkan.

Usai disalatkan ratusan warga mengiringi iring-iringan peti jenazah menuju pemakaman muslim yang jaraknya sekitar 100 meter dari masjid tersebut. Lima jenazah itu dimakamkan dalam satu liang lahat. Isak tangis para keluarga dan untaian doa para ta’ziah pun mengiringinya.

Baca Juga :  Sekolah Dipersiapkan Matang, Kenormalan Baru di Dunia Pendidikan Perlu Waktu

 

“Tidak pernah terpikir. Tidak ada firasat tidak ada tanda apapun dan ini lah menjadi nasihat untuk kita semua yang masih hidup. Bahwa meninggal itu tidak mengenal tua atau muda. Sakit atau sehat. Itu semua sudah menjadi takdirnya Allah,” kata Irfansyah, mewakili keluarga korban.

Sebelum mengalami kecelakaan pesawat, Toni Ismail sekeluarga mengunjungi dirinya di Bandung, Jawa Barat. Menurut Irfan, kunjungan tersebut menjadi kunjungan terlama selama ini. Alhmarhum lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. “Kemarin menjadi kunjungan terakhir beliau,” katanya sambil terisak.

Irfansyah merupakan anak sulung dari dua bersaudara pasangan Toni Ismail dan Rahmawati. Saudarinya Ratih Windania juga berada dalam kecelakaan pesawat itu, bersama putrinya Yumna Fanisyatuzahra yang masih berusia tiga tahun serta keponakannya Athar Rizki Riawan usia delapan tahun. “Saya mewakili keluarga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang turut membantu,” katanya.

Yumna Fanisyatuzahra merupakan jenazah terakhir dari keluarga Toni Ismail. Balita yang sempat viral mengenakan jaket pink bergambar minnie mouse itu baru teridentifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri pada 22 Januari 2021. Sementara  jenazah kakeknya, Toni Ismail dan neneknya, Rahmawati sudah teridentifikasi pada 15 Januari 2021. Sedangkan sepupunya, Athar Rizki Riawan teridentifikasi pada 18 Januari 2021.

“Kami memang berharap dan menunggu semuanya teridentifikasi, agar bisa dimakamkan sekaligus di Pontianak,” tutur Iwan Kurniawan, ayah korban atas nama Athar Rizki Riawan.

Di sisi lain, jenazah atas nama Muhammad Nur Kholifatil Amin akan dimakamkan di Sekubang, Kabupaten Mempawah. Muhammad Nur Kholifatil Amin merupakan suami dari Hj Agus Minarti, yang juga korban insiden jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ182. Jenazah Agus Minarti lebih dulu teridentifikasi dan dimakamkan.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Pontianak Yopi Haryadi mengatakan, hari ini diserahkan enam jenazah kepada pihak Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat. Kemudian, diserah terimakan kepada pihak keluarga.

Baca Juga :  Masuk Dalam Manifest, Paulus dan Indra Terhindar dari Kecelakaan SJ-182

“Pada hari ini kita serah terimakan 6 jenazah pada pihak Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat yang kemudian diserah terimakan kepada pihak keluarga,” tutur Yopi Haryadi ditemui awak media di VVIP Pemprov Kalbar Bandara Internasional Supadio.

Menurut Yopi, sesuai komitmen yang sudah disampaikan pada saat penutupan Posko Crisis Center, walaupun operasi SAR sudah dihentikan, proses identifikasi dan dan serah terima jenazah akan tetap dilakukan.

“Seperti komitmen yang telah kami sampaikan pada saat penutupan Crisis Center pada hari jumat lalu, walaupun operasi SAR sudah dihentikan akan tetapi untuk proses identifikasi dan juga pemulangan (penyerah terima jenazah) itu tetap akan dilaksanakan dan Basarnas siap mendampingi kegiatan tersebut,” jelasnya.

Sebagaimana diketahui, pesawat Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta-Pontianak ini, hilang kontak pada Sabtu (9/1) pukul 14.40 WIB. Kemudian dinyatakan jatuh di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, yakni di antara Pulau Lancang dan Pulau Laki.

Pesawat jenis Boeing 737-500 itu hilang kontak pada posisi 11 mil laut di utara Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, setelah melewati ketinggian 11.000 kaki dan pada saat menambah ketinggian di 13.000 kaki.

Pesawat tinggal landas dari Bandara Soekarno Hatta pukul 14.36 WIB. Jadwal tersebut mundur dari jadwal penerbangan sebelumnya 13.35 WIB. Penundaan keberangkatan karena faktor cuaca.

Berdasarkan data manifes penerbangan, pesawat yang diproduksi tahun 1994 itu membawa 62 orang terdiri atas 50 penumpang dan 12 orang kru. Dari jumlah tersebut, 40 orang dewasa, tujuh anak-anak, tiga bayi, sedangkan 12 kru terdiri atas enam kru aktif dan enam kru ekstra.

Dengan demikian, total korban yang sudah teridentifikasi adalah 49 orang. Sementara masih 13 belum teridentifikasi. Tiga di antaranya adalah Panca Widia Nursanti asal Pontianak, bayi bernama Daniya yang merupakan anak dari korban Supianto warga Pontianak. Kemudian korban atas nama Razanah asal Kabupaten Ketapang. (arf)

Most Read

Artikel Terbaru

/