alexametrics
25 C
Pontianak
Friday, May 20, 2022

Perajin Kurangi Ukuran Tempe, Kedelai Impor Masih Jadi Tumpuan

PONTIANAK – Para perajin tempe terpaksa kembali mengurangi ukuran tempe sebagai imbas kenaikan harga kedelai. Berkurangnya ukuran pangan yang berbahan dasar kedelai itu dipilih agar tak mengalami kenaikan harga di pasar.

“Harga kedelai memang naik terus. Sekarang harganya Rp12 ribuan per kg, sekitar dua minggu lalu masih Rp11 ribuan per kg,” ujar Robi Maulana, Perajin Tempe Super Azaki Sintang.

Kenaikan harga kedelai menurutnya terjadi dua tahun terakhir. Hitungannya, harga kedelai naik sekitar Rp4.000 jika dibandingkan dengan dua tahun yang lalu. Kenaikannya kian terasa sejak awal tahun 2021 ini. Dirinya pun terpaksa memangkas ukuran tempe guna menyiasati hal ini.

“Menurunkan berat timbangan contohnya ukuran 250 gram menjadi 230 gram. Ini masih dengan harga yang sama. Kalau di Sintang harganya Rp3.500-4.000,” sebutnya.

Dirinya meminta masyarakat untuk memaklumi ukuran tempe yang semakin tipis. Sebagai perajin, dia tak punya pilihan selain mengecilkan ukuran tempe agar masyarakat tak merasakan kenaikan harga secara langsung. Tetapi ke depan, bisa jadi harga tempe akan dinaikkan apabila harga kedelai terus menunjukkan tren peningkatan dan jika seluruh perajin kompak menaikkan harga.

Di sisi lain, pasokan kedelai dari supplier berjalan dengan lancar. Tapi ada sedikit kekhawatirannya mendengar informasi bahwa banyak negara yang membutuhkan kedelai dalam jumlah besar.

Baca Juga :  Selesaikan Covid-19, Kuncinya Patuhi Pemerintah

“Kita terus berkomunikasi dengan supplier. Dan dari mereka infonya stok masih aman,” pungkasnya.

Andreas Eko, pemasok kedelai di Kalimantan Barat menyebut ada kenaikan harga komoditas ini beberapa bulan terakhir. Selama tiga bulan terakhir, dirinya mencatat ada kenaikan sekitar Rp2.000 per kilogram. Meski begitu, sejauh ini distribusi masih berjalan lancar.

“Untuk suplai tidak ada kendala, barang tidak langka, hanya memang ada kenaikan harga,” ujarnya.

Eko mengatakan, Kenaikan harga kedelai seiring dengan pertumbuhan jumlah ternak yang ada di dunia. Ternak babi misalnya, membutuhkan asupan protein yang bersumber dari kedelai. Di samping itu, produksi kedelai juga tengah mengalami penurunan.

Meski begitu, pihaknya tidak begitu khawatir terhadap permintaan kedelai yang saat ini sedang mengalami kenaikan di pasar dunia. Apabila satu produsen tidak bisa mengirimkan pasokan kedelai, dirinya yakin masih ada produsen lain yang bisa mengcover.

Budidaya Masih Terbatas

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalbar Florentinus Anum mengatakan, pengembangan komoditas kedelai di daerah ini masih terbatas. Karena itu, kebutuhan kedelai di Kalbar mengandalkan pasokan dari negara luar.

“Petani kita ada mengembangkan, namun tidak terlalu luas. Sebabnya karena sistem budidayanya agak sedikit sulit,” ucapnya.

Penjualan kedelai oleh petani Kalbar masih dalam bentuk kedelai muda atau kacang bulu. Sementara kedelai yang diperuntukkan bagi kebutuhan industri tahu, tempe, maupun kecap, menggunakan kedelai pipilan kering. Petani menurutnya masih mengalami kesulitan dalam memanen pipilan kering ini. Selain itu, dari hitungan ekonomi penjualan kacang bulu lebih menguntungkan.

Baca Juga :  Pemda Sekadau Terbantu Adanya Pelayanan KB DAS

“Kalau dijual dalam pipilan kering murah harganya di tingkat petani. Tapi kalau dijual dalam bentuk kacang bulu itu harganya lebih tinggi. harganya itu per kg bisa Rp10-15 ribu,” katanya.

Selain itu, waktu tanam untuk kedelai muda jauh lebih cepat. Petani dapat memanen kedelai muda ketika usianya sudah satu setengah bulan. Sementara butuh waktu tiga bulan untuk menghasilkan pipilan kering.

“Hitung ekonominya memang lebih untung (kedelai muda). Kita juga tidak bisa paksakan petani untuk menghasilkan pipilan kering,” imbuhnya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kalbar Heronimus Hero menambahkan, kebutuhan kedelai secara nasional memang mengandalkan pasokan dari negara pengekspor seperti Amerika Serikat dan Brazil. Meski mengalami kenaikan harga saat ini, namun baginya saat ini yang terpenting adalah distribusinya yang lancar.

“Supplainya lancar, cuma harganya cenderung naik. Kenaikan karena kebutuhan negara pengimpor kedelai yang meningkat terutama untuk konsumsi pakan ternak. Tentu ini akan berpengaruh terhadap warga,” katanya. (sti)

PONTIANAK – Para perajin tempe terpaksa kembali mengurangi ukuran tempe sebagai imbas kenaikan harga kedelai. Berkurangnya ukuran pangan yang berbahan dasar kedelai itu dipilih agar tak mengalami kenaikan harga di pasar.

“Harga kedelai memang naik terus. Sekarang harganya Rp12 ribuan per kg, sekitar dua minggu lalu masih Rp11 ribuan per kg,” ujar Robi Maulana, Perajin Tempe Super Azaki Sintang.

Kenaikan harga kedelai menurutnya terjadi dua tahun terakhir. Hitungannya, harga kedelai naik sekitar Rp4.000 jika dibandingkan dengan dua tahun yang lalu. Kenaikannya kian terasa sejak awal tahun 2021 ini. Dirinya pun terpaksa memangkas ukuran tempe guna menyiasati hal ini.

“Menurunkan berat timbangan contohnya ukuran 250 gram menjadi 230 gram. Ini masih dengan harga yang sama. Kalau di Sintang harganya Rp3.500-4.000,” sebutnya.

Dirinya meminta masyarakat untuk memaklumi ukuran tempe yang semakin tipis. Sebagai perajin, dia tak punya pilihan selain mengecilkan ukuran tempe agar masyarakat tak merasakan kenaikan harga secara langsung. Tetapi ke depan, bisa jadi harga tempe akan dinaikkan apabila harga kedelai terus menunjukkan tren peningkatan dan jika seluruh perajin kompak menaikkan harga.

Di sisi lain, pasokan kedelai dari supplier berjalan dengan lancar. Tapi ada sedikit kekhawatirannya mendengar informasi bahwa banyak negara yang membutuhkan kedelai dalam jumlah besar.

Baca Juga :  Selesaikan Covid-19, Kuncinya Patuhi Pemerintah

“Kita terus berkomunikasi dengan supplier. Dan dari mereka infonya stok masih aman,” pungkasnya.

Andreas Eko, pemasok kedelai di Kalimantan Barat menyebut ada kenaikan harga komoditas ini beberapa bulan terakhir. Selama tiga bulan terakhir, dirinya mencatat ada kenaikan sekitar Rp2.000 per kilogram. Meski begitu, sejauh ini distribusi masih berjalan lancar.

“Untuk suplai tidak ada kendala, barang tidak langka, hanya memang ada kenaikan harga,” ujarnya.

Eko mengatakan, Kenaikan harga kedelai seiring dengan pertumbuhan jumlah ternak yang ada di dunia. Ternak babi misalnya, membutuhkan asupan protein yang bersumber dari kedelai. Di samping itu, produksi kedelai juga tengah mengalami penurunan.

Meski begitu, pihaknya tidak begitu khawatir terhadap permintaan kedelai yang saat ini sedang mengalami kenaikan di pasar dunia. Apabila satu produsen tidak bisa mengirimkan pasokan kedelai, dirinya yakin masih ada produsen lain yang bisa mengcover.

Budidaya Masih Terbatas

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalbar Florentinus Anum mengatakan, pengembangan komoditas kedelai di daerah ini masih terbatas. Karena itu, kebutuhan kedelai di Kalbar mengandalkan pasokan dari negara luar.

“Petani kita ada mengembangkan, namun tidak terlalu luas. Sebabnya karena sistem budidayanya agak sedikit sulit,” ucapnya.

Penjualan kedelai oleh petani Kalbar masih dalam bentuk kedelai muda atau kacang bulu. Sementara kedelai yang diperuntukkan bagi kebutuhan industri tahu, tempe, maupun kecap, menggunakan kedelai pipilan kering. Petani menurutnya masih mengalami kesulitan dalam memanen pipilan kering ini. Selain itu, dari hitungan ekonomi penjualan kacang bulu lebih menguntungkan.

Baca Juga :  Pemerintah Diminta Perhatikan Perajin Tempe

“Kalau dijual dalam pipilan kering murah harganya di tingkat petani. Tapi kalau dijual dalam bentuk kacang bulu itu harganya lebih tinggi. harganya itu per kg bisa Rp10-15 ribu,” katanya.

Selain itu, waktu tanam untuk kedelai muda jauh lebih cepat. Petani dapat memanen kedelai muda ketika usianya sudah satu setengah bulan. Sementara butuh waktu tiga bulan untuk menghasilkan pipilan kering.

“Hitung ekonominya memang lebih untung (kedelai muda). Kita juga tidak bisa paksakan petani untuk menghasilkan pipilan kering,” imbuhnya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kalbar Heronimus Hero menambahkan, kebutuhan kedelai secara nasional memang mengandalkan pasokan dari negara pengekspor seperti Amerika Serikat dan Brazil. Meski mengalami kenaikan harga saat ini, namun baginya saat ini yang terpenting adalah distribusinya yang lancar.

“Supplainya lancar, cuma harganya cenderung naik. Kenaikan karena kebutuhan negara pengimpor kedelai yang meningkat terutama untuk konsumsi pakan ternak. Tentu ini akan berpengaruh terhadap warga,” katanya. (sti)

Most Read

Artikel Terbaru

/