alexametrics
25 C
Pontianak
Tuesday, June 28, 2022

Puncak Perayaan Kulminasi Matahari

Setiap tanggal 23 Maret, merupakan puncak perayaan kulminasi matahari di Kota Pontianak. Setiap tahunnya juga perayaan kulminasi digelar di Tugu Khatulistiwa, Kecamatan Pontianak Utara. Tahun ini, warga di Gang Pipit, Pontianak Kota juga ikut merayakannya.

RAMSES TOBING, Pontianak

MENJELANG pukul 11.30, warga mulai berkumpul di sepanjang Gang Pipit, Jalan Merdeka, Kecamatan Pontianak Kota. Hari itu, Selasa, 23 Maret, warga setempat akan merayakan kulminasi matahari.

Kulminasi merupakan fenomena alam yang terjadi setiap tahunnya, di tanggal 23 Maret. Saat fenomena itu terjadi, bayangan tubuh atau benda seakan menghilang. Fakta unik lainnya, seseorang akan bisa mendirikan telur, di tengah puncak kulminasi matahari.

Untuk memperingati itu, digelarlah lomba mendirikan telur. Pesertanya adalah warga yang tinggal di Gang Pipit. Peserta yang ikut haruslah berpasangan. Artinya pasangan itu harus bisa mendirikan telur dengan durasi yang ditentukan. Kesepakatan lomba, waktunya berdasarkan lagu yang diputar.

“Awalnya berpasangan suami istri, karena ingin membangun kekompakan, jadi bisa berpasangan dengan siapa saja,” kata Lurah Tengah, Kecamatan Pontianak Kota, Ade Marheni, di tempat lomba digelar.

Baca Juga :  Tahun Depan, BNN Tes Urine Remaja dan Pelajar

Menginjak pukul 11.00, warga sudah ramai. Lomba itu baru akan dimulai pukul 11.35. Meski demikian peserta yang ikut, sedari awal sudah bersiap diri. Masing-masing peserta sudah memegang telur yang akan didirikan, tepat saat puncak kulminasi matahari.

Mereka yang ikut tidak hanya orang dewasa, tapi juga anak-anak. Peserta didominasi dari kalangan wanita. Panitia sudah membentang spanduk panjang. Spanduk itu sebagai tempat untuk mendirikan telur.

Sebelum dimulai, peserta disuguhkan tarian yang diiringi lagu kopi pancong. Lagu itu juga yang menjadi ukuran berapa lama telur bisa berdiri. Jika telur bisa bertahan hingga lagu berakhir, maka peserta pemilik telur itulah pemenangnya.

Menginjak pukul 11.35 lomba pun dimulai. Panitia mulai menghitung mundur dan lagu pun diputar. Beberapa peserta terlihat kesulitan mendirikan telur. Peserta terlihat berkonstrasi berusaha membuat telur berdiri. Ada yang butuh dua hingga kali, telur baru bisa berdiri. Ada yang hanya sekali saja, telur langsung bisa berdiri, di tengah teriknya panas matahari.

Ade mengatakan lomba ini digelar perpanjangan perayaan pesona kulminasi yang digelar dari tanggal 21 hingga 23 Maret 2021. Ada 15 peserta yang ikut dalam lomba ini. Mereka adalah warga yang tinggal di Gang Belibis dan Gang Pipit, atau di dua RW, yakni 007 dan 008.

Baca Juga :  Gidot Divonis Lima Tahun

“Ini merupakan inisiatif dari warga dan kami dari mendukung usulan itu,” kata Ade.

Meski demikian ia memastikan protokol kesehatan tetap dijalankan secara ketat. Sebab lomba digelar, di tengah pandemi Covid-19. Para peserta pun terlihat mengenakan masker. Begitu juga dengan warga yang ikut menonton. Menurut Ade, lomba ini juga bagian dari peresmian nama Kampung Hijau Bang Jago yang digelar, Minggu (21/3).

Ia melanjutkan panitia akan memilih tiga orang sebagai juara. Kriteria pemenang adalah mereka yang tercepat mendirikan dan telur yang terlama berdiri.

“Sebagian warga di sini, kehidupan perekonomiannya menengah ke bawah, sehingga hadiah yang kami berikan untuk juara juga berupa bahan-bahan pokok,” sebut Ade.

Lomba mendirikan telur itu mendapat apresiasi Plt Camat Pontianak Kota, Martagus. “Kami mengapresiasi. Melalui perlombaan untuk memeriahkan titik kulminasi ini bisa terus membangun kekompakan warga,” pungkasnya. (*)

Setiap tanggal 23 Maret, merupakan puncak perayaan kulminasi matahari di Kota Pontianak. Setiap tahunnya juga perayaan kulminasi digelar di Tugu Khatulistiwa, Kecamatan Pontianak Utara. Tahun ini, warga di Gang Pipit, Pontianak Kota juga ikut merayakannya.

RAMSES TOBING, Pontianak

MENJELANG pukul 11.30, warga mulai berkumpul di sepanjang Gang Pipit, Jalan Merdeka, Kecamatan Pontianak Kota. Hari itu, Selasa, 23 Maret, warga setempat akan merayakan kulminasi matahari.

Kulminasi merupakan fenomena alam yang terjadi setiap tahunnya, di tanggal 23 Maret. Saat fenomena itu terjadi, bayangan tubuh atau benda seakan menghilang. Fakta unik lainnya, seseorang akan bisa mendirikan telur, di tengah puncak kulminasi matahari.

Untuk memperingati itu, digelarlah lomba mendirikan telur. Pesertanya adalah warga yang tinggal di Gang Pipit. Peserta yang ikut haruslah berpasangan. Artinya pasangan itu harus bisa mendirikan telur dengan durasi yang ditentukan. Kesepakatan lomba, waktunya berdasarkan lagu yang diputar.

“Awalnya berpasangan suami istri, karena ingin membangun kekompakan, jadi bisa berpasangan dengan siapa saja,” kata Lurah Tengah, Kecamatan Pontianak Kota, Ade Marheni, di tempat lomba digelar.

Baca Juga :  Tahun Depan, BNN Tes Urine Remaja dan Pelajar

Menginjak pukul 11.00, warga sudah ramai. Lomba itu baru akan dimulai pukul 11.35. Meski demikian peserta yang ikut, sedari awal sudah bersiap diri. Masing-masing peserta sudah memegang telur yang akan didirikan, tepat saat puncak kulminasi matahari.

Mereka yang ikut tidak hanya orang dewasa, tapi juga anak-anak. Peserta didominasi dari kalangan wanita. Panitia sudah membentang spanduk panjang. Spanduk itu sebagai tempat untuk mendirikan telur.

Sebelum dimulai, peserta disuguhkan tarian yang diiringi lagu kopi pancong. Lagu itu juga yang menjadi ukuran berapa lama telur bisa berdiri. Jika telur bisa bertahan hingga lagu berakhir, maka peserta pemilik telur itulah pemenangnya.

Menginjak pukul 11.35 lomba pun dimulai. Panitia mulai menghitung mundur dan lagu pun diputar. Beberapa peserta terlihat kesulitan mendirikan telur. Peserta terlihat berkonstrasi berusaha membuat telur berdiri. Ada yang butuh dua hingga kali, telur baru bisa berdiri. Ada yang hanya sekali saja, telur langsung bisa berdiri, di tengah teriknya panas matahari.

Ade mengatakan lomba ini digelar perpanjangan perayaan pesona kulminasi yang digelar dari tanggal 21 hingga 23 Maret 2021. Ada 15 peserta yang ikut dalam lomba ini. Mereka adalah warga yang tinggal di Gang Belibis dan Gang Pipit, atau di dua RW, yakni 007 dan 008.

Baca Juga :  Gidot Divonis Lima Tahun

“Ini merupakan inisiatif dari warga dan kami dari mendukung usulan itu,” kata Ade.

Meski demikian ia memastikan protokol kesehatan tetap dijalankan secara ketat. Sebab lomba digelar, di tengah pandemi Covid-19. Para peserta pun terlihat mengenakan masker. Begitu juga dengan warga yang ikut menonton. Menurut Ade, lomba ini juga bagian dari peresmian nama Kampung Hijau Bang Jago yang digelar, Minggu (21/3).

Ia melanjutkan panitia akan memilih tiga orang sebagai juara. Kriteria pemenang adalah mereka yang tercepat mendirikan dan telur yang terlama berdiri.

“Sebagian warga di sini, kehidupan perekonomiannya menengah ke bawah, sehingga hadiah yang kami berikan untuk juara juga berupa bahan-bahan pokok,” sebut Ade.

Lomba mendirikan telur itu mendapat apresiasi Plt Camat Pontianak Kota, Martagus. “Kami mengapresiasi. Melalui perlombaan untuk memeriahkan titik kulminasi ini bisa terus membangun kekompakan warga,” pungkasnya. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/