alexametrics
25.6 C
Pontianak
Thursday, May 19, 2022

Ada Rasa Bersalah ketika Pasien Meninggal meski Oksigen sudah Diantar

Bergerak demi kemanusiaan untuk membantu masyarakat yang sedang isoman. Hujan dan panas tak menghalangi semangat para relawan di Indonesian Escorting Ambulance (IEA). Rasa takut terkalahkan untuk menyelamatkan mereka yang membutuhkan oksigen di tengah pandemi Covid-19.

Ramses Tobing, Pontianak

TIGA bulan sudah para relawan yang tergabung di Indonesian Escorting Ambulance (IEA) Pontianak-Kubu Raya disibukkan dengan aktivitas isi ulang dan pengantaran oksigen. Selama tiga bulan itu kasus Covid-19 di Kalimantan Barat sedang tinggi-tingginya. Oksigen pun menjadi barang yang berharga.

Aktivitas pengisian ulang dan pengantaran ini dilakukan di Rumah Zakat. Sebuah lembaga yang juga bergerak dengan misi kemanusiaan. Deretan tabung oksigen berukuran besar terparkir di sudut halaman Kantor Rumah Zakat, Jalan Irian, Kecamatan Pontianak Selatan. Tabung besar itulah yang digunakan untuk mengisi ulang tabung kecil, baru kemudian diantarkan ke pasien yang isolasi mandiri, baik yang terkonfirmasi positif Covid-19 maupun tidak.

Secara keseluruhan ada 33 orang anggota IEA Pontianak-Kubu Raya. Dua di antaranya perempuan. Selebihnya merupakan laki-laki. Namun yang intens untuk misi kemanusiaan di Rumah Zakat selama pandemi Covid-19 sebanyak 19 orang. Tidak keseluruhannya bertugas mengisi ulang maupun mengantar oksigen. Ada yang mengantar bahan pokok atau obat-obatan untuk masyarakat yang sedang isolasi mandiri (Isoman).

Terkadang para relawan harus menahan rasa kecewa dan menyesal lantaran bantuan oksigen yang diantarkan batal dipakai. Pasalnya pasien yang menjalani isolasi mandiri karena Covid-19 sudah meninggal dunia.  “Terkadang selisih sepersekian detik. Kondisi itu menimbulkan rasa bersalah. Apakah kami terlalu lama mengantarkan,” cerita Ketua Indonesian Escorting Ambulance Pontianak-Kubu Raya Muhammad Nurrulhaq.

Bahkan saat oksigen pun tiba ada berapa pasien yang nyawanya tak tertolong. Namun demikian, kejadian itu menjadi cambuk bagi relawan agar lebih gesit dan cepat mengantarkan oksigen bagi pasien yang isolasi mandiri. Bagi mereka pengantaran oksigen berpacu dengan dengan waktu.  Semakin cepat sampai maka semakin baik untuk pasien. Kendati begitu, kebutuhan oksigen itu tidak hanya untuk mereka yang terkena Covid-19 saja tapi juga penyakit lainnya.

Lantas bagaimana keamanan dari Covid-19? Menurutnya, keselamatan relawan paling utama. Setiap habis pengantaran oksigen sudah disiapkan alkohol dengan kandungan 90 persen. Tabung kemudian dibersihkan begitu juga pakaian yang dipakai.

Meski demikian para relawan tak pernah tahu bantuan yang diantarkan itu apakah untuk pasien Covid-19 atau bukan. Para relawan itu hanya dikabarkan untuk mengantarkan masyarakat yang membutuhkan. Mereka baru tahu setelah selesai pengantaran dan kembali ke Rumah Zakat.  “Paling tidak mengurangi rasa kekhawatiran. Kawan-kawan memang tidak tahu sama sekali. Begitu sampai ke kantor baru diberitahu,” kata pria yang akrab disapa Babon ini.

Jam operasional pengisian ulang dari pagi hingga menjelang tengah malam. Namun pengantaran oksigen tetap masih bisa dilakukan meski telah lewat jam operasional. Para relawan tetap mensiagakan tabung oksigen jika memang ada yang memerlukan. Nomor telepon pun tetap on call. Jika ada yang menghubungi relawan yang bersiaga langsung bergerak mengantarkan.

Baca Juga :  Pastikan Oksigen Tersedia

Koordinator Tim Relawan Isi Ulang Oksigen Rumah Zakat Budiman Very mengatakan awalnya aktivitas isi ulang oksigen itu hanya dibuka siang hari. Melihat tingginya kebutuhan masyarakat jam operasional pun diperpanjang hingga pukul 23.30 WIB. Khusus operasional malam dimulai pukul 20.00.

“Banyak tempat pengisian ulang itu tutup di malam hari. Kami kemudian menginisiasi agar dibuka malam hari, agar oksigen yang dipakai masyarakat itu terjaga,” kata Budiman Very di Pontianak, kemarin.

Pengisian ulang ini secara gratis. Masyarakat yang membutuhkan mengisi formulir dan kemudian membawa Kartu Tanda Penduduk. Program pengisian ulang itu kerjasama Rumah Zakat dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat.  Budiman mengatakan kebutuhan oksigen masyarakat paling tinggi itu malam hari. Jumlahnya antara 130 hingga 150 tabung ukuran kecil. Jika dihitung satu hari kebutuhannya bisa mencapai 300 tabung ukuran kecil.

Pada awal dibukanya layanan isi ulang, Rumah Zakat menyediakan sebanyak 20 tabung ukuran besar. Jumlahnya bertambah setelah dukungan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat. Total 30 tabung besar yang disiapkan. Tabung besar inilah yang digunakan untuk mengisi ulang tabung-tabung kecil. Namun semua tabung habis digunakan untuk isi ulang. Jumlah yang terpakai antara 20-25 tabung per hari.

Selama dibuka layanan para relawan tetap standby agar proses pengisian dan pengantaran bisa berjalan cepat. Masing-masing relawan sudah dibagi tugasnya. Ada yang bertugas mengisi ulang. Kemudian mengisi registrasi dan verifikasi. Lalu mengecek tekanan oksigen hingga kemudian pengantaran.

“Jam 20.00 hingga 22.00 sedang ramai-ramainya para relawan. Namun ada yang tetap di kantor dan ada yang standby di jalan untuk pengantaran,” jelas Budiman.

Budiman memastikan relawan tidak sembarangan dalam bertugas. Satu diantaranya berkaitan dengan keamanan. Misalnya tabung yang datang dilakukan sterilisasi terlebih dahulu sebelum pengisian ulang. Tabung disemprot menggunakan alkohol dengan kandungan 90 persen.  “Jadi memang tidak sembarangan. Memastikan barang yang masuk ke area kantor steril,” kata dia.

Budiman mengatakan pihaknya tidak membatasi peruntukan oksigen yang disediakan. Tidak hanya untuk pasien Covid-19, namun masyarakat yang menderita sakit lain dan membutuhkan layanan oksigen gratis tetap diberikan.

Relawan IEA Pontianak-Kubu Raya

Keterlibatan para relawan Indonesian Escorting Ambulance (IEA) Pontianak-Kubu Raya di Rumah Zakat bukan kali ini. Para relawan ini sudah terlibat sejak tahun 2018. Saat itu mereka bergerak dalam misi kemanusiaan seperti membantu memadamkan kebakaran hutan dan lahan serta banjir. Para relawan ini juga pernah berangkat ke berbagai daerah untuk membantu para korban banjir. Terjauh relawan IEA pernah berangkat ketika bencana alam terjadi di Palu.

IEA sendiri awalnya merupakan para relawan yang bergerak untuk pengawalan ambulans. Pembentukan organisasi ini berawal dari panggilan hati tiga pemuda. Salah satunya adalah Muhammad Nurrulhaq atau Babon.

Mereka terpanggil untuk mengawal ambulans yang terjebak macet di kawasan Jembatan Landak dan Kapuas I. Spontanitas ketiga pemuda ini langsung membantu membuka jalan agar ambulans yang saat ini membawa pasien bisa melintas. Peristiwa itu terjadi di tahun 2018 silam.  “Kami belum tahu sama sekali kemana tujuan ambulans ini. Intinya kami mengawal dan sampai ke rumah sakit,” cerita Babon.

Baca Juga :  Imigrasi Pulangkan 27 Warga Vietnam

Namun takdir berkata lain. Nyawa pasien di dalam ambulan itu tak terselamatkan. Begitu sampai di rumah sakit, pasien yang dibawa itu sudah meninggal dunia. Peristiwa itu membuat hati ketiganya terenyuh.

Berangkat dari peristiwa itu ketiganya kemudian sepakat untuk membentuk organisasi yang bergerak untuk pengawalan ambulans. “Awalnya belum ada nama. Kami masih bergerak seperti biasa. Hingga kemudian dapat kontak kontak IEA Pusat. Kami bertanya tentang syarat berdirinya, hingga kemudian disepakati lah berdirinya IEA di Pontianak 4 Maret 2018,” kenang Babon.  Saat ini jumlah relawan di IEA sebanyak 33 orang. Laki-laki sebanyak 31 orang dan dua orang perempuan. “Salah satu srikandinya adalah istri saya,” kata Babon.

Sebagian besar para relawan ini bekerja swasta. Mereka bergerak atas keinginan hati. Babon mengatakan aktivitas para relawan ini terus berjalan karena panggilan hati. Para relawan tak berharap imbalan apapun atas aktivitas yang dilakukan.

Seperti yang diceritakan Taufik Abdilah. Pria berusia 24 tahun ini mengaku memiliki kebanggaan ketika berhasil membantu orang lain. Baginya itu pengalaman yang berharga. “Kami tak bisa berbuat banyak ketika orang lain membutuhkan. Memberikan bantuan dan hanya itu yang bisa kami lakukan,” jelas pria yang akrab disapa Opik.

Ia mengatakan para relawan selalu bersiaga 24 jam nonstop. Layanan dibuka dengan cara menghubungi pesan WhatsApp. Pesan itu tersampaikan langsung kepada Babon, sebagai Ketua IEA Pontianak-Kubu Raya.  Jika memungkinan ia yang turun langsung jika ada yang membutuhkan bantuan. Namun bisa juga dioper ke relawan lain untuk turun ke lapangan. Kendati demikian para relawan tetap bersiaga di Sekretariat IEA Gang Padi 8 Jalan Prof Dr Hamka.  “Kalau soal capek sudah pasti, tapi kami ini bahasanya relawan. Jika sudah dari hati untuk selalu bergerak tidak ada kata capek,” jelas Opik.

Ada dua relawan Srikandi di IEA. Satu diantaranya Tresna Waniati. Wanita yang akrab disapa Inana ini adalah istri dari Kubu Raya Muhammad Nurrulhaq alias Babon. Sebelum terlibat di IEA, wanita berusia 27 tahun ini adalah relawan di pemadam kebakaran.  Ia mengatakan para relawan IEA bermimpi memiliki ambulan respon cepat. Ambulan itu yang digunakan untuk memberikan pertolongan pertama pada korban kecelakaan. Korban kecelakaan akan mendapat pertolongan medis di tempat kejadian. Jika tidak memungkinkan maka akan dibawa ke rumah sakit untuk ditangani dengan lebih baik.

Bagi Inana adanya ambulan itu tidak hanya untuk memberikan pertolongan pertama pada korban kecelakaan. Maksud lain untuk mencegah viralnya kondisi korban di media sosial. “Harapan ke depan kawan-kawan seperti itu dan semoga bisa terwujud,” kata dia. (*)

Bergerak demi kemanusiaan untuk membantu masyarakat yang sedang isoman. Hujan dan panas tak menghalangi semangat para relawan di Indonesian Escorting Ambulance (IEA). Rasa takut terkalahkan untuk menyelamatkan mereka yang membutuhkan oksigen di tengah pandemi Covid-19.

Ramses Tobing, Pontianak

TIGA bulan sudah para relawan yang tergabung di Indonesian Escorting Ambulance (IEA) Pontianak-Kubu Raya disibukkan dengan aktivitas isi ulang dan pengantaran oksigen. Selama tiga bulan itu kasus Covid-19 di Kalimantan Barat sedang tinggi-tingginya. Oksigen pun menjadi barang yang berharga.

Aktivitas pengisian ulang dan pengantaran ini dilakukan di Rumah Zakat. Sebuah lembaga yang juga bergerak dengan misi kemanusiaan. Deretan tabung oksigen berukuran besar terparkir di sudut halaman Kantor Rumah Zakat, Jalan Irian, Kecamatan Pontianak Selatan. Tabung besar itulah yang digunakan untuk mengisi ulang tabung kecil, baru kemudian diantarkan ke pasien yang isolasi mandiri, baik yang terkonfirmasi positif Covid-19 maupun tidak.

Secara keseluruhan ada 33 orang anggota IEA Pontianak-Kubu Raya. Dua di antaranya perempuan. Selebihnya merupakan laki-laki. Namun yang intens untuk misi kemanusiaan di Rumah Zakat selama pandemi Covid-19 sebanyak 19 orang. Tidak keseluruhannya bertugas mengisi ulang maupun mengantar oksigen. Ada yang mengantar bahan pokok atau obat-obatan untuk masyarakat yang sedang isolasi mandiri (Isoman).

Terkadang para relawan harus menahan rasa kecewa dan menyesal lantaran bantuan oksigen yang diantarkan batal dipakai. Pasalnya pasien yang menjalani isolasi mandiri karena Covid-19 sudah meninggal dunia.  “Terkadang selisih sepersekian detik. Kondisi itu menimbulkan rasa bersalah. Apakah kami terlalu lama mengantarkan,” cerita Ketua Indonesian Escorting Ambulance Pontianak-Kubu Raya Muhammad Nurrulhaq.

Bahkan saat oksigen pun tiba ada berapa pasien yang nyawanya tak tertolong. Namun demikian, kejadian itu menjadi cambuk bagi relawan agar lebih gesit dan cepat mengantarkan oksigen bagi pasien yang isolasi mandiri. Bagi mereka pengantaran oksigen berpacu dengan dengan waktu.  Semakin cepat sampai maka semakin baik untuk pasien. Kendati begitu, kebutuhan oksigen itu tidak hanya untuk mereka yang terkena Covid-19 saja tapi juga penyakit lainnya.

Lantas bagaimana keamanan dari Covid-19? Menurutnya, keselamatan relawan paling utama. Setiap habis pengantaran oksigen sudah disiapkan alkohol dengan kandungan 90 persen. Tabung kemudian dibersihkan begitu juga pakaian yang dipakai.

Meski demikian para relawan tak pernah tahu bantuan yang diantarkan itu apakah untuk pasien Covid-19 atau bukan. Para relawan itu hanya dikabarkan untuk mengantarkan masyarakat yang membutuhkan. Mereka baru tahu setelah selesai pengantaran dan kembali ke Rumah Zakat.  “Paling tidak mengurangi rasa kekhawatiran. Kawan-kawan memang tidak tahu sama sekali. Begitu sampai ke kantor baru diberitahu,” kata pria yang akrab disapa Babon ini.

Jam operasional pengisian ulang dari pagi hingga menjelang tengah malam. Namun pengantaran oksigen tetap masih bisa dilakukan meski telah lewat jam operasional. Para relawan tetap mensiagakan tabung oksigen jika memang ada yang memerlukan. Nomor telepon pun tetap on call. Jika ada yang menghubungi relawan yang bersiaga langsung bergerak mengantarkan.

Baca Juga :  Nadin Ditemukan Tenggelam di Saluran Air

Koordinator Tim Relawan Isi Ulang Oksigen Rumah Zakat Budiman Very mengatakan awalnya aktivitas isi ulang oksigen itu hanya dibuka siang hari. Melihat tingginya kebutuhan masyarakat jam operasional pun diperpanjang hingga pukul 23.30 WIB. Khusus operasional malam dimulai pukul 20.00.

“Banyak tempat pengisian ulang itu tutup di malam hari. Kami kemudian menginisiasi agar dibuka malam hari, agar oksigen yang dipakai masyarakat itu terjaga,” kata Budiman Very di Pontianak, kemarin.

Pengisian ulang ini secara gratis. Masyarakat yang membutuhkan mengisi formulir dan kemudian membawa Kartu Tanda Penduduk. Program pengisian ulang itu kerjasama Rumah Zakat dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat.  Budiman mengatakan kebutuhan oksigen masyarakat paling tinggi itu malam hari. Jumlahnya antara 130 hingga 150 tabung ukuran kecil. Jika dihitung satu hari kebutuhannya bisa mencapai 300 tabung ukuran kecil.

Pada awal dibukanya layanan isi ulang, Rumah Zakat menyediakan sebanyak 20 tabung ukuran besar. Jumlahnya bertambah setelah dukungan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat. Total 30 tabung besar yang disiapkan. Tabung besar inilah yang digunakan untuk mengisi ulang tabung-tabung kecil. Namun semua tabung habis digunakan untuk isi ulang. Jumlah yang terpakai antara 20-25 tabung per hari.

Selama dibuka layanan para relawan tetap standby agar proses pengisian dan pengantaran bisa berjalan cepat. Masing-masing relawan sudah dibagi tugasnya. Ada yang bertugas mengisi ulang. Kemudian mengisi registrasi dan verifikasi. Lalu mengecek tekanan oksigen hingga kemudian pengantaran.

“Jam 20.00 hingga 22.00 sedang ramai-ramainya para relawan. Namun ada yang tetap di kantor dan ada yang standby di jalan untuk pengantaran,” jelas Budiman.

Budiman memastikan relawan tidak sembarangan dalam bertugas. Satu diantaranya berkaitan dengan keamanan. Misalnya tabung yang datang dilakukan sterilisasi terlebih dahulu sebelum pengisian ulang. Tabung disemprot menggunakan alkohol dengan kandungan 90 persen.  “Jadi memang tidak sembarangan. Memastikan barang yang masuk ke area kantor steril,” kata dia.

Budiman mengatakan pihaknya tidak membatasi peruntukan oksigen yang disediakan. Tidak hanya untuk pasien Covid-19, namun masyarakat yang menderita sakit lain dan membutuhkan layanan oksigen gratis tetap diberikan.

Relawan IEA Pontianak-Kubu Raya

Keterlibatan para relawan Indonesian Escorting Ambulance (IEA) Pontianak-Kubu Raya di Rumah Zakat bukan kali ini. Para relawan ini sudah terlibat sejak tahun 2018. Saat itu mereka bergerak dalam misi kemanusiaan seperti membantu memadamkan kebakaran hutan dan lahan serta banjir. Para relawan ini juga pernah berangkat ke berbagai daerah untuk membantu para korban banjir. Terjauh relawan IEA pernah berangkat ketika bencana alam terjadi di Palu.

IEA sendiri awalnya merupakan para relawan yang bergerak untuk pengawalan ambulans. Pembentukan organisasi ini berawal dari panggilan hati tiga pemuda. Salah satunya adalah Muhammad Nurrulhaq atau Babon.

Mereka terpanggil untuk mengawal ambulans yang terjebak macet di kawasan Jembatan Landak dan Kapuas I. Spontanitas ketiga pemuda ini langsung membantu membuka jalan agar ambulans yang saat ini membawa pasien bisa melintas. Peristiwa itu terjadi di tahun 2018 silam.  “Kami belum tahu sama sekali kemana tujuan ambulans ini. Intinya kami mengawal dan sampai ke rumah sakit,” cerita Babon.

Baca Juga :  2020 KAMMI Kalbar Fokus Empat Isu ini

Namun takdir berkata lain. Nyawa pasien di dalam ambulan itu tak terselamatkan. Begitu sampai di rumah sakit, pasien yang dibawa itu sudah meninggal dunia. Peristiwa itu membuat hati ketiganya terenyuh.

Berangkat dari peristiwa itu ketiganya kemudian sepakat untuk membentuk organisasi yang bergerak untuk pengawalan ambulans. “Awalnya belum ada nama. Kami masih bergerak seperti biasa. Hingga kemudian dapat kontak kontak IEA Pusat. Kami bertanya tentang syarat berdirinya, hingga kemudian disepakati lah berdirinya IEA di Pontianak 4 Maret 2018,” kenang Babon.  Saat ini jumlah relawan di IEA sebanyak 33 orang. Laki-laki sebanyak 31 orang dan dua orang perempuan. “Salah satu srikandinya adalah istri saya,” kata Babon.

Sebagian besar para relawan ini bekerja swasta. Mereka bergerak atas keinginan hati. Babon mengatakan aktivitas para relawan ini terus berjalan karena panggilan hati. Para relawan tak berharap imbalan apapun atas aktivitas yang dilakukan.

Seperti yang diceritakan Taufik Abdilah. Pria berusia 24 tahun ini mengaku memiliki kebanggaan ketika berhasil membantu orang lain. Baginya itu pengalaman yang berharga. “Kami tak bisa berbuat banyak ketika orang lain membutuhkan. Memberikan bantuan dan hanya itu yang bisa kami lakukan,” jelas pria yang akrab disapa Opik.

Ia mengatakan para relawan selalu bersiaga 24 jam nonstop. Layanan dibuka dengan cara menghubungi pesan WhatsApp. Pesan itu tersampaikan langsung kepada Babon, sebagai Ketua IEA Pontianak-Kubu Raya.  Jika memungkinan ia yang turun langsung jika ada yang membutuhkan bantuan. Namun bisa juga dioper ke relawan lain untuk turun ke lapangan. Kendati demikian para relawan tetap bersiaga di Sekretariat IEA Gang Padi 8 Jalan Prof Dr Hamka.  “Kalau soal capek sudah pasti, tapi kami ini bahasanya relawan. Jika sudah dari hati untuk selalu bergerak tidak ada kata capek,” jelas Opik.

Ada dua relawan Srikandi di IEA. Satu diantaranya Tresna Waniati. Wanita yang akrab disapa Inana ini adalah istri dari Kubu Raya Muhammad Nurrulhaq alias Babon. Sebelum terlibat di IEA, wanita berusia 27 tahun ini adalah relawan di pemadam kebakaran.  Ia mengatakan para relawan IEA bermimpi memiliki ambulan respon cepat. Ambulan itu yang digunakan untuk memberikan pertolongan pertama pada korban kecelakaan. Korban kecelakaan akan mendapat pertolongan medis di tempat kejadian. Jika tidak memungkinkan maka akan dibawa ke rumah sakit untuk ditangani dengan lebih baik.

Bagi Inana adanya ambulan itu tidak hanya untuk memberikan pertolongan pertama pada korban kecelakaan. Maksud lain untuk mencegah viralnya kondisi korban di media sosial. “Harapan ke depan kawan-kawan seperti itu dan semoga bisa terwujud,” kata dia. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/