alexametrics
30 C
Pontianak
Tuesday, May 17, 2022

Google News Initiative Latih Jurnalis Perempuan

PONTIANAK – Sebanyak 20 jurnalis perempuan di Pontianak mendapatkan pelatihan literasi digital yang digelar oleh Google News Initiative (GNI) bekerja sama dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia dan Internews. Kegiatan yang digelar selama dua hari, pada 23-24 November 2019, akan menempa pengetahuan para jurnalis dalam memanfaatkan perangkat Google untuk menangkal hoaks di internet.

“Selama dua hari ini, trainer dari Google akan melatih cara menganalisis sumber konten digital dengan menggunakan berbagai tool yang ada di internet,” ungkap Caroline, jurnalis Pontianak yang menjadi trainer pendamping pelatihan itu.

Selain melatih kemampuan menganalisis dan verifikasi konten di internet, kata dia, peserta juga akan belajar beberapa materi yang bersifat teknis mengenai kebersihan data digital (digital hygiene), analisa dasar atas informasi, pencarian dan penelusuran data, dan beragam tools yang bisa digunakan untuk melakukan investigasi secara daring.

Ketua Jurnalis Perempuan Khatulistiwa, Aseanty Pahlevi, menambahkan, pelatihan ini merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kapasitas profesi jurnalis di Pontianak. Menurutnya, jurnalis sebagai penyedia informasi harus dapat menyuguhkan berita dengan data pendukung yang kuat.

Baca Juga :  PPM JTA POLNEP: Desain Renovasi Surau Nurul Jannah

“Hal ini sangat penting karena dalam melakukan tugas profesinya sebagai jurnalis, kepentingan publik adalah hal utama,” ujar dia.

Dia menilai, perempuan dapat menjadi agen perubahan untuk memerangi berita hoaks yang beredar di masyarakat. Terlebih dari data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) di tahun 2017, jumlah perempuan pengguna internet cukup besar. Menurut data APJII, diketahui engguna internet di Indonesia sendiri mencapai lebih dari 50 persen atau sekitar 143 juta orang dari total penduduk Indonesia 267 juta. Dari jumlah tersebut, sebanyak 48,57 persen diantaranya adalah  perempuan.

“Dari data tersebut, perempuan pengguna internet sangat tinggi. Era ini ternyata tidak membuat perempuan minder saat harus berhadapan dengan kerumitan tombol aplikasi berbagai rupa,” tutur dia.

Sementara itu, Ketua Umum AJI, Abdul Manan, mengatakan, kegiatan yang serentak dilakukan di 23 kota di tanah air ini, dilatarbelakangi oleh fenomena banyak dan cepatnya penyebaran informasi di era digital, terutama melalui media sosial. Muatan dari informasi itu, menurutnya beragam, mulai dari informasi yang bermanfaat dan dibutuhkan publik hingga informasi palsu (hoaks), disinformasi, atau kabar bohong.

Baca Juga :  100 Tahun Pers Kalbar

Tujuan penyebaran informasi palsu itu, kata dia, juga beragam, ada yang sekedar untuk lelucon, tapi ada juga yang mengandung kepentingan politik atau ekonomi.  “Yang merisaukan, hoaks ini menyebar sangat mudah cepat di sosial media. Tidak sedikit publik yang serta merta mempercayainya,” kata Manan.

Dia menilai, bukan hanya publik yang mempercayai dan menyebarluaskan informasi palsu tersebut, tetapi terkadang media turut serta mendistribusikannya. Hal ini menruutnya terjadi karena berbagai faktor, antara lain, karena ketidaktahuan, sekadar ingin menyampaikan ‘informasi’ secara cepat, atau sengaja untuk tujuan-tujuan tertentu.

Materi yang diberikan dalam pelatihan ini, tambah dia, meliputi teknik mendeteksi informasi palsu, selain bagaimana berselancar di dunia digital yang sehat dan aman. “Salah satu tujuan praktis dari kegiatan ini adalah agar media dapat melakukan verifikasi sendiri terhadap informasi yang beredar di dunia digital, khususnya media sosial,” pungkas dia. (sti)

PONTIANAK – Sebanyak 20 jurnalis perempuan di Pontianak mendapatkan pelatihan literasi digital yang digelar oleh Google News Initiative (GNI) bekerja sama dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia dan Internews. Kegiatan yang digelar selama dua hari, pada 23-24 November 2019, akan menempa pengetahuan para jurnalis dalam memanfaatkan perangkat Google untuk menangkal hoaks di internet.

“Selama dua hari ini, trainer dari Google akan melatih cara menganalisis sumber konten digital dengan menggunakan berbagai tool yang ada di internet,” ungkap Caroline, jurnalis Pontianak yang menjadi trainer pendamping pelatihan itu.

Selain melatih kemampuan menganalisis dan verifikasi konten di internet, kata dia, peserta juga akan belajar beberapa materi yang bersifat teknis mengenai kebersihan data digital (digital hygiene), analisa dasar atas informasi, pencarian dan penelusuran data, dan beragam tools yang bisa digunakan untuk melakukan investigasi secara daring.

Ketua Jurnalis Perempuan Khatulistiwa, Aseanty Pahlevi, menambahkan, pelatihan ini merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kapasitas profesi jurnalis di Pontianak. Menurutnya, jurnalis sebagai penyedia informasi harus dapat menyuguhkan berita dengan data pendukung yang kuat.

Baca Juga :  Jelajahi Jantung Borneo, Tempuh 580 Kilometer ke Kabupaten Paling Timur

“Hal ini sangat penting karena dalam melakukan tugas profesinya sebagai jurnalis, kepentingan publik adalah hal utama,” ujar dia.

Dia menilai, perempuan dapat menjadi agen perubahan untuk memerangi berita hoaks yang beredar di masyarakat. Terlebih dari data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) di tahun 2017, jumlah perempuan pengguna internet cukup besar. Menurut data APJII, diketahui engguna internet di Indonesia sendiri mencapai lebih dari 50 persen atau sekitar 143 juta orang dari total penduduk Indonesia 267 juta. Dari jumlah tersebut, sebanyak 48,57 persen diantaranya adalah  perempuan.

“Dari data tersebut, perempuan pengguna internet sangat tinggi. Era ini ternyata tidak membuat perempuan minder saat harus berhadapan dengan kerumitan tombol aplikasi berbagai rupa,” tutur dia.

Sementara itu, Ketua Umum AJI, Abdul Manan, mengatakan, kegiatan yang serentak dilakukan di 23 kota di tanah air ini, dilatarbelakangi oleh fenomena banyak dan cepatnya penyebaran informasi di era digital, terutama melalui media sosial. Muatan dari informasi itu, menurutnya beragam, mulai dari informasi yang bermanfaat dan dibutuhkan publik hingga informasi palsu (hoaks), disinformasi, atau kabar bohong.

Baca Juga :  Redupnya Kejayaan ‘Venesia dari Timur’, Parit Pontianak Kini Hilang Fungsi

Tujuan penyebaran informasi palsu itu, kata dia, juga beragam, ada yang sekedar untuk lelucon, tapi ada juga yang mengandung kepentingan politik atau ekonomi.  “Yang merisaukan, hoaks ini menyebar sangat mudah cepat di sosial media. Tidak sedikit publik yang serta merta mempercayainya,” kata Manan.

Dia menilai, bukan hanya publik yang mempercayai dan menyebarluaskan informasi palsu tersebut, tetapi terkadang media turut serta mendistribusikannya. Hal ini menruutnya terjadi karena berbagai faktor, antara lain, karena ketidaktahuan, sekadar ingin menyampaikan ‘informasi’ secara cepat, atau sengaja untuk tujuan-tujuan tertentu.

Materi yang diberikan dalam pelatihan ini, tambah dia, meliputi teknik mendeteksi informasi palsu, selain bagaimana berselancar di dunia digital yang sehat dan aman. “Salah satu tujuan praktis dari kegiatan ini adalah agar media dapat melakukan verifikasi sendiri terhadap informasi yang beredar di dunia digital, khususnya media sosial,” pungkas dia. (sti)

Most Read

Jaring Atlet Muda

Gerhana Cincin Pukau Warga

Sri Mulyani Bakal Awasi LPI

Artikel Terbaru

/