alexametrics
22.8 C
Pontianak
Saturday, August 13, 2022

Kini, Kian Sulit Cari Lahan Makam

Lahan pemakaman di Kota Pontianak semakin sempit saja. Ketersediaan lahan di sejumlah Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang kebanyakan merupakan tanah wakaf, saat ini mengalami tekanan terhadap daya tampungnya. Sudah saatnya pemerintah memberikan perhatian penuh, serta  ikut berperan aktif dalam pengelolaan TPU Muslim di Kota Pontianak.

SITI SULBIYAH, Pontianak

“KETERSEDIAAN lahan makam saat ini sudah sangat memerlukan perhatian pemerintah. Sudah saatnya pemerintah menyediakannya,” ungkap Zulkarnain, salah seorang warga asal Sungai Raya, Kota Pontianak.

Ia mengaku sering menemui kasus di mana pihak keluarga mayit kesulitan mencari TPU untuk  segera memakamkan si mayit. Bahkan, menurutnya, tidak sedikit yang dengan terpaksa harus mencari TPU di lokasi yang amat jauh. “Di (Kecamatan) Pontianak Tenggara saja tidak ada lahan (makam) lagi. Kalau pun ada biasanya juga sudah di-booking,” tutur dia.

Penggali kubur di TPU Sungai Bangkong, Safarudin, menceritakan, bagaimana biasanya ia kesulitan mencari tempat untuk menguburkan jenazah. Pasalnya jumlah makam yang ada di lokasi itu sudah sangat banyak dan padat. Saat ada pesanan untuk menguburkan mayat, ia kerap kesulitan mencari lokasi lahan yang kosong. Tak jarang saat menggali, dia tanpa sengaja menyentuh bagian makam orang lain.

“Saat menggali kubur, ternyata kena makam orang. Terpaksa harus kami tutup lagi, dan cari lokasi lain,” tutur dia.

Baca Juga :  Kadin Kalbar Gelar Vaksinasi Massal

Merespons hal ini, Wali Kota (Wako) Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, tak menampik bila kondisi lahan makam di Kota Pontianak sudah semakin sempit. Ia menyatakan baru melakukan pemetaan beberapa lokasi yang dimungkinkan untuk dijadikan sebagai pemakaman. Mengenai lokasinya, sayangnya Wako tidak menjawab secara detil.

“Sementara ini masih ada beberapa titik yang kita petakan. Sebenarnya kita pernah membebaskan lahan sekitar 9 hektare, tapi saat itu ada penolakan dari warga,” kata dia.

Orang nomor satu di Kota Pontianak ini menyatakan bahwa, pihaknya masih melihat kondisi serta perkembangan akan kebutuhan lahan makam. Pihaknya juga tidak menutup kemungkinan bila ada pengalihan fungsi kawasan, misalnya ruang terbuka hijau (RTH) yang dialihkan fungsinya menjadi lahan makam.

“Jadi kalau memang ada lahan di Kota Pontianak, RTH misalnya, dialihfungsikan untuk makam, bisa saja,” kata dia.

Pihaknya juga tidak menutup kemungkinan untuk membuka komunikasi dengan Pemerintah Kabupaten Kubu Raya dalam hal penyediaan makam bagi warga Kota Pontianak. “Bisa saja kalau wilayahnya di Kubu Raya. Tidak ada masalah,” ucap dia.

Edi justru berterima kasih dengan keberadaan tanah wakaf yang dijadikan pemakaman dan lokasinya tersebar di Kota Pontianak. Menurutnya, keberadaan tanah wakaf untuk pemakaman ini sangatlah membantu. Pemerintah Kota Pontianak, dikatakan dia, juga telah memberikan insentif bagi TPU-TPU yang ada di kota ini.

Baca Juga :  Terjadi Baku Tembak di Rumah Warga Saat Penangkapan Dua Kawanan Perompak

“Kadang kita ada memberikan bantuan berupa drainase, jalan lingkungan, pemagaran, dan lain sebagainya,” pungkas dia.

Sebuah Jurnal Teknik Sipil yang berjudul Pengelolaan dan Pengembangan Tempat Pemakaman Umum (TPU) Muslim di Kota Pontianak, yang ditulis oleh Dewi Ria Indriana dan dipublikasikan pada Desember 2014, melampirkan hasil penelitian yang dilakukan di TPU Muslim Al-Ikhlas Sungai Bangkong dan TPU Muslim Danau Sentarum Kecamatan Pontianak Kota. Hasilnya, kedua TPU ini telah mengalami tekanan terhadap kapasitas atau daya tampung.

Dalam jurnal itu, penulis menyarankan, agar persoalan ketersediaan lahan pemakaman dilakukan dengan cara membuka lahan baru dipinggir kota dan menata ulang TPU Muslim yang telah ada. Kedua hal tersebut menurut penulis itu, diterapkan dengan sistem pemakaman tumpuk model tumpang.

“Dengan sempitnya lahan, memberikan wacana bagi ahli waris untuk menjadikan satu dengan jenazah keluarga yang terlebih dahulu dimakamkan. Makam boleh dijadikan tumpangan pada jenazah yang telah dikubur tiga tahun atau makam yang tidak dirawat oleh ahli warisnya selama tiga tahun,” jelas penulis dalam jurnalnya. (*)

Lahan pemakaman di Kota Pontianak semakin sempit saja. Ketersediaan lahan di sejumlah Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang kebanyakan merupakan tanah wakaf, saat ini mengalami tekanan terhadap daya tampungnya. Sudah saatnya pemerintah memberikan perhatian penuh, serta  ikut berperan aktif dalam pengelolaan TPU Muslim di Kota Pontianak.

SITI SULBIYAH, Pontianak

“KETERSEDIAAN lahan makam saat ini sudah sangat memerlukan perhatian pemerintah. Sudah saatnya pemerintah menyediakannya,” ungkap Zulkarnain, salah seorang warga asal Sungai Raya, Kota Pontianak.

Ia mengaku sering menemui kasus di mana pihak keluarga mayit kesulitan mencari TPU untuk  segera memakamkan si mayit. Bahkan, menurutnya, tidak sedikit yang dengan terpaksa harus mencari TPU di lokasi yang amat jauh. “Di (Kecamatan) Pontianak Tenggara saja tidak ada lahan (makam) lagi. Kalau pun ada biasanya juga sudah di-booking,” tutur dia.

Penggali kubur di TPU Sungai Bangkong, Safarudin, menceritakan, bagaimana biasanya ia kesulitan mencari tempat untuk menguburkan jenazah. Pasalnya jumlah makam yang ada di lokasi itu sudah sangat banyak dan padat. Saat ada pesanan untuk menguburkan mayat, ia kerap kesulitan mencari lokasi lahan yang kosong. Tak jarang saat menggali, dia tanpa sengaja menyentuh bagian makam orang lain.

“Saat menggali kubur, ternyata kena makam orang. Terpaksa harus kami tutup lagi, dan cari lokasi lain,” tutur dia.

Baca Juga :  Dorong Litbang Rumuskan Percepatan Desa Mandiri

Merespons hal ini, Wali Kota (Wako) Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, tak menampik bila kondisi lahan makam di Kota Pontianak sudah semakin sempit. Ia menyatakan baru melakukan pemetaan beberapa lokasi yang dimungkinkan untuk dijadikan sebagai pemakaman. Mengenai lokasinya, sayangnya Wako tidak menjawab secara detil.

“Sementara ini masih ada beberapa titik yang kita petakan. Sebenarnya kita pernah membebaskan lahan sekitar 9 hektare, tapi saat itu ada penolakan dari warga,” kata dia.

Orang nomor satu di Kota Pontianak ini menyatakan bahwa, pihaknya masih melihat kondisi serta perkembangan akan kebutuhan lahan makam. Pihaknya juga tidak menutup kemungkinan bila ada pengalihan fungsi kawasan, misalnya ruang terbuka hijau (RTH) yang dialihkan fungsinya menjadi lahan makam.

“Jadi kalau memang ada lahan di Kota Pontianak, RTH misalnya, dialihfungsikan untuk makam, bisa saja,” kata dia.

Pihaknya juga tidak menutup kemungkinan untuk membuka komunikasi dengan Pemerintah Kabupaten Kubu Raya dalam hal penyediaan makam bagi warga Kota Pontianak. “Bisa saja kalau wilayahnya di Kubu Raya. Tidak ada masalah,” ucap dia.

Edi justru berterima kasih dengan keberadaan tanah wakaf yang dijadikan pemakaman dan lokasinya tersebar di Kota Pontianak. Menurutnya, keberadaan tanah wakaf untuk pemakaman ini sangatlah membantu. Pemerintah Kota Pontianak, dikatakan dia, juga telah memberikan insentif bagi TPU-TPU yang ada di kota ini.

Baca Juga :  Pengolahan Lahan Tanpa Bakar untuk Menekan Laju Kebakaran Hutan dan Lahan

“Kadang kita ada memberikan bantuan berupa drainase, jalan lingkungan, pemagaran, dan lain sebagainya,” pungkas dia.

Sebuah Jurnal Teknik Sipil yang berjudul Pengelolaan dan Pengembangan Tempat Pemakaman Umum (TPU) Muslim di Kota Pontianak, yang ditulis oleh Dewi Ria Indriana dan dipublikasikan pada Desember 2014, melampirkan hasil penelitian yang dilakukan di TPU Muslim Al-Ikhlas Sungai Bangkong dan TPU Muslim Danau Sentarum Kecamatan Pontianak Kota. Hasilnya, kedua TPU ini telah mengalami tekanan terhadap kapasitas atau daya tampung.

Dalam jurnal itu, penulis menyarankan, agar persoalan ketersediaan lahan pemakaman dilakukan dengan cara membuka lahan baru dipinggir kota dan menata ulang TPU Muslim yang telah ada. Kedua hal tersebut menurut penulis itu, diterapkan dengan sistem pemakaman tumpuk model tumpang.

“Dengan sempitnya lahan, memberikan wacana bagi ahli waris untuk menjadikan satu dengan jenazah keluarga yang terlebih dahulu dimakamkan. Makam boleh dijadikan tumpangan pada jenazah yang telah dikubur tiga tahun atau makam yang tidak dirawat oleh ahli warisnya selama tiga tahun,” jelas penulis dalam jurnalnya. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/