alexametrics
26 C
Pontianak
Thursday, June 30, 2022

Uskup Agung Minta  Aktivitas Ekonomi  Lebih Bermartabat

PONTIANAK – Umat Katolik memasuki masa puasa dan pantang 40 hari jelang Paskah. Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus pada momen ini kembali mengingatkan pentingnya bagi dunia usaha dan masyarakat untuk menjalankan aktivitas ekonomi secara bermartabat. Sesuai dengan tema puasa tahun ini; “Membangun Kehidupan Ekonomi yang Bermartabat”.

“Dewasa ini kita sungguh miris atau sulit untuk percaya kalau melihat kenyataan bahwa bumi Kalimantan yang kaya raya dengan sumber daya alamnya, tidak membuat masyarakatnya hidup makmur dan berkecukupan. Bahkan sebagian besar rakyatnya masih tetap miskin dan hidup masih jauh dari berkecukupan. Banyak pertanyaan bisa dimunculkan dan menjadi perdebatan tentang jalan keluar yang bisa diajukan,” ujarnya.

Dia juga melakukan otokritik. Menurutnya sudah bertahun-tahun lamanya gereja Katolik di Kalimantan Barat umumnya dan Keuskupan Agung Pontianak khususnya dengan kehadirannya melalui karya di bidang Pendidikan dan Kesehatan terakhir melalui Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi ikut ambil bagian secara nyata dan aktif untuk meningkatkan taraf hidup, harkat dan martabat masyarakat setempat dibidang sosial ekonomi. Namun hasilnya masih jauh dari memuaskan.

Usaha pemerintah pun, kata dia, bukan tidak ada. Hanya saja, yang tampak kesenjangan kesejahteraa malah makin lebar. “Kita bersyukur dan berterima kasih kepada banyak pihak khususnya pihak pemerintah yang terus-menerus berusaha melalui macam program untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dalam segala bidang termasuk di bidang sosial dan ekonomi.

Baca Juga :  PKP 2019 Gelar Talk Show, Kompetisi PUBG Mobile, dan Pagelaran Seni

Di pihak lain kita juga tidak bisa menutup mata bahwa usaha-usaha yang mulia tersebut tidak mengurangi adanya jurang yang dalam antara yang kaya dengan yang miskin. Bahkan ada kecendrungan bahwa jurang tersebut makin melebar,” ungkap Agustinus.

Gereja menilai, mengambil untung dari kegiatan ekonomi dan pengelolaan keuangan tidak ada salahnya. “Yang tidak dapat diterima adalah menghasilkan keuntungan besar dengan cara menghancurkan yang lain, atau membuat kaya diri sendiri dengan cara merugikan dan membahayakan kebaikan umum,” imbuh dia.

Lewat tema Masa Puasa ini, dia meminta umat Katolik untuk menjalankan aktivitas ekonomi sebaik-baiknya. Umat tidak boleh mengabaikan talenta yang dimilikinya. Tujuannya agar roda ekonomi berputar, dan memberi manfaat kepada semua orang. Namun hendaknya, aktivitas itu tetap bermartabat dan bermoral.

“Tuhan sudah menciptakan bumi dan segala isinya, termasuk kita, manusia yang diciptakan sesuai dengan Gambar-Nya, tanpa jasa dari pihak kita manusia. Apakah kita sudah memperlakukan, mengolah dan menggunakannya demi kebahagiaan orang banyak, sesuai dengan kehendak dan demi kemuliaan nama-Nya?” ucapnya.

Agustinus juga mengutip Alkitab. Santo Paulus pernah menyampaikan kepada umat di Tesalonika; “Jika seorang tidak mau bekerja janganlah ia makan”( 2 Tes.10,3b).

Baca Juga :  Pengusaha Harus Semangat dan Optimis, Ubah Gaya Marketing Konvensional ke Digital

Akhirnya mari kita simak firman Tuhan yang disampaikanNya melalui Nabi Yoel: ”berbaliklah kepadaKu dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh. Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu,berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasihsetia” (Yoel.2,12-13).

Dalam Perjanjian Baru terdapat pyla perumpamaan tentang “talenta”(Mt. 25, 14-30). Diceriterakan bahwa yang diberikan lima talenta dipuji tuannya karena menghasilkan lima talenta pula (Mt.25,19) dan demikian pula berlaku bagi yang menerima dua talenta dan menghasilkan dua talenta pula. Dia dipuji oleh tuannya (Mt.25,23).

Sebaliknya yang menerima satu talenta dan tidak diusahakannya sehingga tidak menghasilkan apa-apa, dia tidak mengelolanya sesuai dengan kehendak tuannya sehingga bukan hanya ditegur secara keras oleh tuannya, tetapi “talenta itu diambil daripadanya” (Mt.25,28) dan hamba itu disebut sebagai “hamba yang tidak berguna dan supaya dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap”(Mt.25,29).

Lebih luas, Uskup Agung meminta pada masa puasa, umat meninjau kembali hidup keagamaan, melihat kembali hubungan kita dengan Tuhan. “Bisa jadi hidup keagamaan kita sudah mulai kearah yang tidak sesuai lagi dengan apa yang kita imani. Atau hubungan kita dengan Tuhan, Sang Pencipta mulai renggang. Ini saatnya kita diajak untuk berbalik dan kembali kepada-Nya,” pungkasnya. (ars)

PONTIANAK – Umat Katolik memasuki masa puasa dan pantang 40 hari jelang Paskah. Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus pada momen ini kembali mengingatkan pentingnya bagi dunia usaha dan masyarakat untuk menjalankan aktivitas ekonomi secara bermartabat. Sesuai dengan tema puasa tahun ini; “Membangun Kehidupan Ekonomi yang Bermartabat”.

“Dewasa ini kita sungguh miris atau sulit untuk percaya kalau melihat kenyataan bahwa bumi Kalimantan yang kaya raya dengan sumber daya alamnya, tidak membuat masyarakatnya hidup makmur dan berkecukupan. Bahkan sebagian besar rakyatnya masih tetap miskin dan hidup masih jauh dari berkecukupan. Banyak pertanyaan bisa dimunculkan dan menjadi perdebatan tentang jalan keluar yang bisa diajukan,” ujarnya.

Dia juga melakukan otokritik. Menurutnya sudah bertahun-tahun lamanya gereja Katolik di Kalimantan Barat umumnya dan Keuskupan Agung Pontianak khususnya dengan kehadirannya melalui karya di bidang Pendidikan dan Kesehatan terakhir melalui Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi ikut ambil bagian secara nyata dan aktif untuk meningkatkan taraf hidup, harkat dan martabat masyarakat setempat dibidang sosial ekonomi. Namun hasilnya masih jauh dari memuaskan.

Usaha pemerintah pun, kata dia, bukan tidak ada. Hanya saja, yang tampak kesenjangan kesejahteraa malah makin lebar. “Kita bersyukur dan berterima kasih kepada banyak pihak khususnya pihak pemerintah yang terus-menerus berusaha melalui macam program untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dalam segala bidang termasuk di bidang sosial dan ekonomi.

Baca Juga :  Tawuran Dua Kelompok Buruh di Jalan Adi Sucipto, Dipicu Masalah Ini

Di pihak lain kita juga tidak bisa menutup mata bahwa usaha-usaha yang mulia tersebut tidak mengurangi adanya jurang yang dalam antara yang kaya dengan yang miskin. Bahkan ada kecendrungan bahwa jurang tersebut makin melebar,” ungkap Agustinus.

Gereja menilai, mengambil untung dari kegiatan ekonomi dan pengelolaan keuangan tidak ada salahnya. “Yang tidak dapat diterima adalah menghasilkan keuntungan besar dengan cara menghancurkan yang lain, atau membuat kaya diri sendiri dengan cara merugikan dan membahayakan kebaikan umum,” imbuh dia.

Lewat tema Masa Puasa ini, dia meminta umat Katolik untuk menjalankan aktivitas ekonomi sebaik-baiknya. Umat tidak boleh mengabaikan talenta yang dimilikinya. Tujuannya agar roda ekonomi berputar, dan memberi manfaat kepada semua orang. Namun hendaknya, aktivitas itu tetap bermartabat dan bermoral.

“Tuhan sudah menciptakan bumi dan segala isinya, termasuk kita, manusia yang diciptakan sesuai dengan Gambar-Nya, tanpa jasa dari pihak kita manusia. Apakah kita sudah memperlakukan, mengolah dan menggunakannya demi kebahagiaan orang banyak, sesuai dengan kehendak dan demi kemuliaan nama-Nya?” ucapnya.

Agustinus juga mengutip Alkitab. Santo Paulus pernah menyampaikan kepada umat di Tesalonika; “Jika seorang tidak mau bekerja janganlah ia makan”( 2 Tes.10,3b).

Baca Juga :  Dewan Kalbar Prihatin, Jalan Sei Awan Kiri-Tanjungpura Kecewakan Masyarakat

Akhirnya mari kita simak firman Tuhan yang disampaikanNya melalui Nabi Yoel: ”berbaliklah kepadaKu dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh. Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu,berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasihsetia” (Yoel.2,12-13).

Dalam Perjanjian Baru terdapat pyla perumpamaan tentang “talenta”(Mt. 25, 14-30). Diceriterakan bahwa yang diberikan lima talenta dipuji tuannya karena menghasilkan lima talenta pula (Mt.25,19) dan demikian pula berlaku bagi yang menerima dua talenta dan menghasilkan dua talenta pula. Dia dipuji oleh tuannya (Mt.25,23).

Sebaliknya yang menerima satu talenta dan tidak diusahakannya sehingga tidak menghasilkan apa-apa, dia tidak mengelolanya sesuai dengan kehendak tuannya sehingga bukan hanya ditegur secara keras oleh tuannya, tetapi “talenta itu diambil daripadanya” (Mt.25,28) dan hamba itu disebut sebagai “hamba yang tidak berguna dan supaya dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap”(Mt.25,29).

Lebih luas, Uskup Agung meminta pada masa puasa, umat meninjau kembali hidup keagamaan, melihat kembali hubungan kita dengan Tuhan. “Bisa jadi hidup keagamaan kita sudah mulai kearah yang tidak sesuai lagi dengan apa yang kita imani. Atau hubungan kita dengan Tuhan, Sang Pencipta mulai renggang. Ini saatnya kita diajak untuk berbalik dan kembali kepada-Nya,” pungkasnya. (ars)

Most Read

Artikel Terbaru

/