alexametrics
25 C
Pontianak
Friday, August 19, 2022

Melihat Aktivitas Napi Perempuan saat Ramadan

Bulan suci Ramadan selalu dimanfaatkan oleh umat Islam untuk meningkatkan ibadah kepada Allah SWT. Tak terkecuali bagi narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Kelas IIA Pontianak.

ARIEF NUGROHO, Pontianak

Suasana tampak berbeda di Lapas Perempuan (LPP) Pontianak. Roda kehidupan para tahanan dan napi yang terkesan keras dan garang seolah berputar tak searah. Kekhusyukan beribadah begitu kental.

Masjid Shilaturrahiim Lapas Perempuan yang biasanya hanya digunakan untuk salat berjamaah, kini terlihat penuh sesak. Warga binaan memanfaatkan masjid tersebut untuk membaca dan mengkhatamkan Alquran.

Suara lantunan ayat suci Alquran sayup-sayup terdengar mengisi ruangan masjid Lapas Perempuan itu.

Maya Ratnasari, koordinator warga binaan mengatakan, selama bulan Ramadan, Lapas Perempuan Pontianak melaksanakan perlombaan khataman Qur’an. Dari lebih 255 orang warga binaan, ada 85 warga binaan yang tercatat mengikuti program perlombaan khataman Qur’an di Lapas Perempuan ini.

“Sampai hari ke 7, kita sudah ada 35 warga binaan yang khatam Al-Qur’an, selain di masjid ini, ada juga tadarusan malam, tetapi tadarusan malam kita lakukan di dalam blok,” ujarnya.

Nantinya, warga binaan yang mengikuti program tadarus akan mendapatkan hadiah. Kholijah (26), satu di antara warga binaan yang menjadi peserta khataman Qur’an mengatakan, hingga hari ke-7 Ramadan, ia sudah berhasil mengkhatamkan satu kali, dan dalam sehari ia sanggup membaca 5 juz.

Baca Juga :  Warga Binaan Lapas Kembangkan Selada Hidroponik

Ia mengatakan tujuan utama ia mengikuti program Khataman Qur’an ini untuk lebih mendekatkan diri ke Allah SWT.

“Dengan program ini jadi kita merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta dan tenang walaupun kita di dalam sini, bukan hanya menahan orang, jadi kita dapat menjadi orang yang lebih baik lagi,” tuturnya.

Khalijah merupakan napi narkoba. Ia divonis oleh majelis hakim dengan pidana kurungan penjara selama enam tahun.

Kepala Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas II A Pontianak Jaleha Khaeran Noor mengatakan, program kerohanian atau religi merupakan satu diantara program pembinaan bagi warga binaan selain dari program keterampilan.

“Kami memiliki maskot kupu-kupu yang terinspirasi dari proses metamorfosisnya, dari ulat, kemudian kepompong. Jadi mereka di sini bagai di dalam kepompong dikelilingi tembok, jadi mereka harus menyiapkan dirinya untuk bebas nanti menjadi kupu – kupu, karena banyak yang menyukai kupu-kupu, sehingga kita harapkan mereka tidak merugikan dirinya sendiri lagi nanti setelah keluar, karena mereka ini aset negara,” katanya.

Didominasi Kasus Narkoba

Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Kelas IIA Pontianak dihuni lebih dari 90 persen kasus narkoba. Dikatakan Juleha, saat ini LPP Kelas IIA Pontianak dihuni 255 warga binaan dengan 90 persen penghuninya merupakan napi dengan kasus Narkoba.

Baca Juga :  Yuk... Bantu Ibu Surifah

“Sebenarnya, LPP ini daya tampungnya hanya 150 orang. Tapi sekarang dihuni 255 orang dengan 90 persen kasus narkoba,” katanya, kemarin.

Untuk menekan meningkatnya jumlah kasus penyalahgunaan Natkoba, pihaknya memberikan program rehabilitasi untuk 20 orang warga binaan, hal tersebut dilakukan sesuai dengan seleksi yang telah ditemtukan.

“Pada saat ini kita juga melakukan program rehabilitasi, tahun ini kita diberi kuota 20 orang, mereka itu diseleksi melalui pertahapan, pelatihan seperti perubahan mental, yang jelas disampaikan di sana bahwa narkoba itu berbahaya sehingga itu harus dihindari,” paparnya.

Selain itu, masih ada beberapa program yang dilakukan pihak LPP Kelas II A Pontianak, seperti pembinaa kerohanian, serta pembinaan keterampilan. Hal tersebut dilakukan agar warga binaan setelah keluar dari lapas dapat mandiri, dan memiliki keterampilan.

“Kami punya maskot ‘Kupu-Kupu’, itu terinspirasi dari metamorfosisnya, mereka ini bagaikan kepompong karena sekarang dikelilingi oleh tembok, sehingga setelah mereka keluar dari lapas diharapkan bisa menjadi seperti kupu-kupu,” ucap Jaleha.

Jaleha mengatakan, keterampilan yang disajikan seperti memasak, menjahit, laundry, pelatihan pertanian, perikanan, dan lain sebagainya.

“Keterampilan di lapas kelas II A lebih kepada keterampilan keputrian seperti memasak, menjahit, laundry, dan kita juga pelatihan pertanian, perikanan juga ada, kita di sini semaksimal mungkin memaksimalkan lahan yang masih ada,” pungkasnya. (*)

Bulan suci Ramadan selalu dimanfaatkan oleh umat Islam untuk meningkatkan ibadah kepada Allah SWT. Tak terkecuali bagi narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Kelas IIA Pontianak.

ARIEF NUGROHO, Pontianak

Suasana tampak berbeda di Lapas Perempuan (LPP) Pontianak. Roda kehidupan para tahanan dan napi yang terkesan keras dan garang seolah berputar tak searah. Kekhusyukan beribadah begitu kental.

Masjid Shilaturrahiim Lapas Perempuan yang biasanya hanya digunakan untuk salat berjamaah, kini terlihat penuh sesak. Warga binaan memanfaatkan masjid tersebut untuk membaca dan mengkhatamkan Alquran.

Suara lantunan ayat suci Alquran sayup-sayup terdengar mengisi ruangan masjid Lapas Perempuan itu.

Maya Ratnasari, koordinator warga binaan mengatakan, selama bulan Ramadan, Lapas Perempuan Pontianak melaksanakan perlombaan khataman Qur’an. Dari lebih 255 orang warga binaan, ada 85 warga binaan yang tercatat mengikuti program perlombaan khataman Qur’an di Lapas Perempuan ini.

“Sampai hari ke 7, kita sudah ada 35 warga binaan yang khatam Al-Qur’an, selain di masjid ini, ada juga tadarusan malam, tetapi tadarusan malam kita lakukan di dalam blok,” ujarnya.

Nantinya, warga binaan yang mengikuti program tadarus akan mendapatkan hadiah. Kholijah (26), satu di antara warga binaan yang menjadi peserta khataman Qur’an mengatakan, hingga hari ke-7 Ramadan, ia sudah berhasil mengkhatamkan satu kali, dan dalam sehari ia sanggup membaca 5 juz.

Baca Juga :  Semarak, Penetapan Relawan Pajak Kanwil DJP Kalbar

Ia mengatakan tujuan utama ia mengikuti program Khataman Qur’an ini untuk lebih mendekatkan diri ke Allah SWT.

“Dengan program ini jadi kita merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta dan tenang walaupun kita di dalam sini, bukan hanya menahan orang, jadi kita dapat menjadi orang yang lebih baik lagi,” tuturnya.

Khalijah merupakan napi narkoba. Ia divonis oleh majelis hakim dengan pidana kurungan penjara selama enam tahun.

Kepala Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas II A Pontianak Jaleha Khaeran Noor mengatakan, program kerohanian atau religi merupakan satu diantara program pembinaan bagi warga binaan selain dari program keterampilan.

“Kami memiliki maskot kupu-kupu yang terinspirasi dari proses metamorfosisnya, dari ulat, kemudian kepompong. Jadi mereka di sini bagai di dalam kepompong dikelilingi tembok, jadi mereka harus menyiapkan dirinya untuk bebas nanti menjadi kupu – kupu, karena banyak yang menyukai kupu-kupu, sehingga kita harapkan mereka tidak merugikan dirinya sendiri lagi nanti setelah keluar, karena mereka ini aset negara,” katanya.

Didominasi Kasus Narkoba

Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Kelas IIA Pontianak dihuni lebih dari 90 persen kasus narkoba. Dikatakan Juleha, saat ini LPP Kelas IIA Pontianak dihuni 255 warga binaan dengan 90 persen penghuninya merupakan napi dengan kasus Narkoba.

Baca Juga :  Pelatihan Metode Pendinginan Beton Massa Program PPM Teknik Sipil Polnep

“Sebenarnya, LPP ini daya tampungnya hanya 150 orang. Tapi sekarang dihuni 255 orang dengan 90 persen kasus narkoba,” katanya, kemarin.

Untuk menekan meningkatnya jumlah kasus penyalahgunaan Natkoba, pihaknya memberikan program rehabilitasi untuk 20 orang warga binaan, hal tersebut dilakukan sesuai dengan seleksi yang telah ditemtukan.

“Pada saat ini kita juga melakukan program rehabilitasi, tahun ini kita diberi kuota 20 orang, mereka itu diseleksi melalui pertahapan, pelatihan seperti perubahan mental, yang jelas disampaikan di sana bahwa narkoba itu berbahaya sehingga itu harus dihindari,” paparnya.

Selain itu, masih ada beberapa program yang dilakukan pihak LPP Kelas II A Pontianak, seperti pembinaa kerohanian, serta pembinaan keterampilan. Hal tersebut dilakukan agar warga binaan setelah keluar dari lapas dapat mandiri, dan memiliki keterampilan.

“Kami punya maskot ‘Kupu-Kupu’, itu terinspirasi dari metamorfosisnya, mereka ini bagaikan kepompong karena sekarang dikelilingi oleh tembok, sehingga setelah mereka keluar dari lapas diharapkan bisa menjadi seperti kupu-kupu,” ucap Jaleha.

Jaleha mengatakan, keterampilan yang disajikan seperti memasak, menjahit, laundry, pelatihan pertanian, perikanan, dan lain sebagainya.

“Keterampilan di lapas kelas II A lebih kepada keterampilan keputrian seperti memasak, menjahit, laundry, dan kita juga pelatihan pertanian, perikanan juga ada, kita di sini semaksimal mungkin memaksimalkan lahan yang masih ada,” pungkasnya. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/