alexametrics
25 C
Pontianak
Wednesday, May 25, 2022

Prokes Sekolah Menjadi Penangkal Utama COVID-19

PONTIANAK – Sebagian sekolah di Kalimantan Barat (Kalbar), telah menggelar Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Kegiatan tersebut sudah terjadi sejak satu pekan belakangan. Pengawasan ketat perlu dilakukan supaya tidak terjadi klaster baru.

Ketua Komisi V DPRD Kalimantan Barat, Edy R.Yacoeb menyampaikan bahwa PTM di Kalbar perlu diawasi secara ketat dan menyeluruh. “Semua harus terlibat. Artinya proses belajar mengajar boleh terjadi sepanjang memang pemerintahn sudah mengeluarkan aturannya, tetapi prokes ketat wajib dipatuhi,” katanya di Pontianak.

Politisi Golkar Kalbar ini paham betul bahwa memang sudah banyak harapan dari siswa dan orang tua untuk melakukan belajar tatap muka. Namun beberapa waktu sebelumnya, beberapa wilayah di Kalimantan Barat didera dengan status zona merah. “Banyak hal terjadi selama Pandemi COVID-19 ini. Pemerintah pasti memutuskan PTM juga dengan tanggungjawab penuh,” ucapnya.

Sebelumnya, Sugeng Hariadi Kepala Dinas Pendidikan Kalbar mengatakan pengawasan bersama perlu dilakukan Satgas Covid-19 di setiap sekolah untuk penerapan protokol kesehatan ketat. Dari pertikmbangan tersebut, maka Pemprov Kalbar telah mengizinkan sekolah menggelar belajar tatap muka sejak 18 Agustus 2021. “Ada beberapa sekolah yang sudah memulai. Pada Senin, 23 Agustus 2021, sekolah yang kembali menggelar belajar tatap muka terus bertambah,” ucapnya kemarin.

Baca Juga :  Kadin Pontianak Gelar Pelantikan dan Seminar

Dia meminta Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 di sekolah mengawasi secara ketat Pembelajaran Tatap Muka (PTM) yang sudah berjalan dua pekan terakhir. Perlu bekerjasama dengan dinas kesehatan maupun puskesmas. “Sehingga PTM benar-benar diawasi agar berjalan dengan prokes ketat,” ujarnya.

Sugeng mengingatkan para orangtua memantau kondisi anaknya. Jika dalam kondisi tidak sehat seperti mengalami batuk dan pilek sebaiknya tidak mengikuti pembelajaran tatap muka. “Jangan sampai terjadi klaster pendidikan sehingga siswa harus benar-benar dipantau,” ujar Sugeng.

Di pihak sekolah, diminta mematuhi syarat digelarnya PTM. Misalnya, kapasitas sekolah harus 50 persen dari jumlah siswa. Begitu juga di ruang kelas. Satu rombongan belajar berisikan 36 siswa. Jika jumlahnya 50 persen maka sekitar 18 siswa yang berada dalam satu ruangan. “Dibuat sistem bergantian untuk pembelajaran,” sebutnya.

Baca Juga :  95 Persen Ruang Terbuka Tertanam Pohon Pada 2022

Sementara untuk SLB jumlah siswa dalam satu kelas lebih kecil lagi yakni sepertiga dari jumlah siswa.”SLB itu satu kelas 15 orang. Jika sepertiga maka hanya lima orang. Para siswa SLB juga perlu pendampingan khusus,” ujarnya.

Selain jumlah, sekolah juga mengatur tempat duduk siswa di dalam kelas. Sekolah kemudian melengkapi perlengkapan protokol kesehatan. Seperti alat pengukur suhu hingga tempat cuci tangan. Peran UKS sekolah juga difungsikan disamping sekolah harus memiliki surat izin dari orangtua jika ingin menggelar Pembelajaran Tatap Muka.(den)

PONTIANAK – Sebagian sekolah di Kalimantan Barat (Kalbar), telah menggelar Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Kegiatan tersebut sudah terjadi sejak satu pekan belakangan. Pengawasan ketat perlu dilakukan supaya tidak terjadi klaster baru.

Ketua Komisi V DPRD Kalimantan Barat, Edy R.Yacoeb menyampaikan bahwa PTM di Kalbar perlu diawasi secara ketat dan menyeluruh. “Semua harus terlibat. Artinya proses belajar mengajar boleh terjadi sepanjang memang pemerintahn sudah mengeluarkan aturannya, tetapi prokes ketat wajib dipatuhi,” katanya di Pontianak.

Politisi Golkar Kalbar ini paham betul bahwa memang sudah banyak harapan dari siswa dan orang tua untuk melakukan belajar tatap muka. Namun beberapa waktu sebelumnya, beberapa wilayah di Kalimantan Barat didera dengan status zona merah. “Banyak hal terjadi selama Pandemi COVID-19 ini. Pemerintah pasti memutuskan PTM juga dengan tanggungjawab penuh,” ucapnya.

Sebelumnya, Sugeng Hariadi Kepala Dinas Pendidikan Kalbar mengatakan pengawasan bersama perlu dilakukan Satgas Covid-19 di setiap sekolah untuk penerapan protokol kesehatan ketat. Dari pertikmbangan tersebut, maka Pemprov Kalbar telah mengizinkan sekolah menggelar belajar tatap muka sejak 18 Agustus 2021. “Ada beberapa sekolah yang sudah memulai. Pada Senin, 23 Agustus 2021, sekolah yang kembali menggelar belajar tatap muka terus bertambah,” ucapnya kemarin.

Baca Juga :  Lagi, Lima Penumpang Positif Covid-19

Dia meminta Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 di sekolah mengawasi secara ketat Pembelajaran Tatap Muka (PTM) yang sudah berjalan dua pekan terakhir. Perlu bekerjasama dengan dinas kesehatan maupun puskesmas. “Sehingga PTM benar-benar diawasi agar berjalan dengan prokes ketat,” ujarnya.

Sugeng mengingatkan para orangtua memantau kondisi anaknya. Jika dalam kondisi tidak sehat seperti mengalami batuk dan pilek sebaiknya tidak mengikuti pembelajaran tatap muka. “Jangan sampai terjadi klaster pendidikan sehingga siswa harus benar-benar dipantau,” ujar Sugeng.

Di pihak sekolah, diminta mematuhi syarat digelarnya PTM. Misalnya, kapasitas sekolah harus 50 persen dari jumlah siswa. Begitu juga di ruang kelas. Satu rombongan belajar berisikan 36 siswa. Jika jumlahnya 50 persen maka sekitar 18 siswa yang berada dalam satu ruangan. “Dibuat sistem bergantian untuk pembelajaran,” sebutnya.

Baca Juga :  Graha Pena Pontianak Disemprot Disinfektan

Sementara untuk SLB jumlah siswa dalam satu kelas lebih kecil lagi yakni sepertiga dari jumlah siswa.”SLB itu satu kelas 15 orang. Jika sepertiga maka hanya lima orang. Para siswa SLB juga perlu pendampingan khusus,” ujarnya.

Selain jumlah, sekolah juga mengatur tempat duduk siswa di dalam kelas. Sekolah kemudian melengkapi perlengkapan protokol kesehatan. Seperti alat pengukur suhu hingga tempat cuci tangan. Peran UKS sekolah juga difungsikan disamping sekolah harus memiliki surat izin dari orangtua jika ingin menggelar Pembelajaran Tatap Muka.(den)

Most Read

Artikel Terbaru

/