alexametrics
25 C
Pontianak
Saturday, June 25, 2022

Penyesuaian Protokol Kesehatan di TPS

PONTIANAK – Ketua Komisi Pemilihan Umum Kalimantan Barat Ramdan mengatakan ada penyesuaian di Tempat Pemungutan Suara saat Pilkada Serentak dimasa pandemi.

Penyesuaian itu antara lain, jumlah pemilih untuk satu tempat pemungutan suara (TPS) maksimal 500 orang. “Jumlah pemilih dibatasi maksimal 500 orang dalam satu TPS,” kata Ramdan di Pontianak, kemarin.

Pembatasan jumlah pemilih di satu TPS itu merupakan satu dari 12 penyesuaian protokol kesehatan dalam pilkada serentak tahun ini. Selain mengatur jumlah pemilih, KPU mengatur waktu untuk pemilih datang ke TPS.
“Meskipun dimulai pukul 07.00 hingga 13.00, pemilih diberikan kesempatan waktu karena diatur berkaitan dengan jadwal kedatangan ke TPS,” kata Ramdan. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi kerumuman di TPS.

Penyesuaian lainnya disediakan tempat pencuci tangan portabel, baik di pintu masuk dan pintu keluar di TPS. “Masuk TPS cuci tangan, begitu keluar juga cuci tangan,” terang Ramdan.

Baca Juga :  Pilkada Kapuas Hulu, Surat Rekom NasDem ke H Baiduri

Kemudian disiapkan thermogun untuk mengukur suhu tubuh pemilih yang datang. Lalu disiapkan disinfektan. Petugas akan menyemprot TPS dengan disinfektan secara berkala.

Ramdan melanjutkan petugas di tempat pemungutan suara wajib menggunakan alat pelindung diri, berupa masker dan sarung tangan. Bahkan untuk pemilih juga diberikan sarung tangan sekali pakai.
“Secara teknis penyesuaian protokol kesehatan sesuai PKPU nomor 6, 10 dan 13 tahun 2020. Harapannya agar penyelenggaran di hari pencoblosan bisa berlangsung secara sehat,” harap Ramdan.

Ramdan menambahkan setiap tahapan yang dilakukan itu ada proses monitoring baik dilakukan KPU provinsi atau kabupaten. Monitoring itu untuk memastikan pelaksanaan pemilihan suara di TPS mengikuti protokol kesehatan.
“Perlu kontrol atau pengawasan. Jika ada yang belum memenuhi protokol kesehatan, misalnya alatnya belum tersedia maka silakan sampaikan dan teman-teman di kabupaten akan diingatkan,” tambah Ramdan.

Baca Juga :  Lahan Satu Hektare Terbakar

Ramdan mengatakan penyesuaian protokol kesehatan merupakan upaya yang dilakukan secara teknis oleh penyelenggara untuk memberikan jaminan bahwa pelaksanaan di TPS itu sehat.

Ia mencontohkan jaminan keamanan itu penggunaan paku saat pencoblosan. Karena dipakai secara berulang oleh orang yang berbeda maka harus disemprot disinfektan
”Semoga implementasinya maksimal, karena ini bukan pekerjaan yang ringan, tapi perlu upaya maksimal dan dukungan semua pihak agar bisa melaksanakan dan mengingatkan kita semua,” kata dia. (mse)

PONTIANAK – Ketua Komisi Pemilihan Umum Kalimantan Barat Ramdan mengatakan ada penyesuaian di Tempat Pemungutan Suara saat Pilkada Serentak dimasa pandemi.

Penyesuaian itu antara lain, jumlah pemilih untuk satu tempat pemungutan suara (TPS) maksimal 500 orang. “Jumlah pemilih dibatasi maksimal 500 orang dalam satu TPS,” kata Ramdan di Pontianak, kemarin.

Pembatasan jumlah pemilih di satu TPS itu merupakan satu dari 12 penyesuaian protokol kesehatan dalam pilkada serentak tahun ini. Selain mengatur jumlah pemilih, KPU mengatur waktu untuk pemilih datang ke TPS.
“Meskipun dimulai pukul 07.00 hingga 13.00, pemilih diberikan kesempatan waktu karena diatur berkaitan dengan jadwal kedatangan ke TPS,” kata Ramdan. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi kerumuman di TPS.

Penyesuaian lainnya disediakan tempat pencuci tangan portabel, baik di pintu masuk dan pintu keluar di TPS. “Masuk TPS cuci tangan, begitu keluar juga cuci tangan,” terang Ramdan.

Baca Juga :  Peduli Kesehatan, CITA Bantu Puskesmas Marau

Kemudian disiapkan thermogun untuk mengukur suhu tubuh pemilih yang datang. Lalu disiapkan disinfektan. Petugas akan menyemprot TPS dengan disinfektan secara berkala.

Ramdan melanjutkan petugas di tempat pemungutan suara wajib menggunakan alat pelindung diri, berupa masker dan sarung tangan. Bahkan untuk pemilih juga diberikan sarung tangan sekali pakai.
“Secara teknis penyesuaian protokol kesehatan sesuai PKPU nomor 6, 10 dan 13 tahun 2020. Harapannya agar penyelenggaran di hari pencoblosan bisa berlangsung secara sehat,” harap Ramdan.

Ramdan menambahkan setiap tahapan yang dilakukan itu ada proses monitoring baik dilakukan KPU provinsi atau kabupaten. Monitoring itu untuk memastikan pelaksanaan pemilihan suara di TPS mengikuti protokol kesehatan.
“Perlu kontrol atau pengawasan. Jika ada yang belum memenuhi protokol kesehatan, misalnya alatnya belum tersedia maka silakan sampaikan dan teman-teman di kabupaten akan diingatkan,” tambah Ramdan.

Baca Juga :  Masih Ditemukan Pelanggaran Protokol Kesehatan saat Kampanye

Ramdan mengatakan penyesuaian protokol kesehatan merupakan upaya yang dilakukan secara teknis oleh penyelenggara untuk memberikan jaminan bahwa pelaksanaan di TPS itu sehat.

Ia mencontohkan jaminan keamanan itu penggunaan paku saat pencoblosan. Karena dipakai secara berulang oleh orang yang berbeda maka harus disemprot disinfektan
”Semoga implementasinya maksimal, karena ini bukan pekerjaan yang ringan, tapi perlu upaya maksimal dan dukungan semua pihak agar bisa melaksanakan dan mengingatkan kita semua,” kata dia. (mse)

Most Read

Artikel Terbaru

/