alexametrics
31 C
Pontianak
Sunday, May 29, 2022

Tenun Batu Layang Kian Berkembang

PONTIANAK—Kain Tenun Batu Layang yang terdapat di Gang Sambas, Kelurahan Batu Layang, Kecamatan Pontianak Utara, Kalimantan Barat memiliki nilai estetika dan keindahan yang sudah dikenal oleh masyarakat lokal dan luar Kalbar.

Berdiri sejak tahun 2008 silam, keberadaan rumah produksi kain tenun batu layang sering dikunjungi oleh pejabat kementerian, dinas instansi, rombongan dan wisatawan dari negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Korea dan Brunai Darusalam yang cukup intens berkunjung.

Kain Tenun Produksi Kelurahan Batu Layang telah dipasarkan di pulau jawa, Negara Malaysia, Brunai dan Singapura lewat penampung Kain Tenun. Hal ini menunjukan bahwa prospek pengembangan usaha kain tenun yang dihasilkan oleh pengrajin di Kelurahan Batu Layang ini  bisa bersaing dan diterima oleh pasar.

Melihat hal ini, Program Kotaku (kota tanpa kumuh) dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), melalui Balai Prasarana Pemukiman Wilayah (BPPW) Kalimantan Barat yang berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Pontianak merasa terpanggil dan mendukung untuk peningkatan kualitas dan jumlah produksi kain yang memiliki motif khas ini.

Baca Juga :  Lapas Pontianak Gagalkan Penyelundupan 51 Gram Sabu

Adapun bentuk dukungan tersebut adalah dengan dibangunnya rumah produksi kain tenun yang repfresentatif dengan desain rumah melayu yang tidak hanya diperuntukan untuk kegiatan produksi, namun bisa dimanfaatkan sebagai tempat pameran dan display dari kain tenun yang dihasilkan.

Pembangunan infrastruktur untuk mendukung kawasan rumah produksi juga menjadi perhatian dari KOTAKU dengan melakukan perbaikan akses jalan disana agar mempermudah mobilitas kendaraan dan pengujung yang akan berkunjung ke sana.

Sebagai wilayah sentral produksi, Gang  Sambas telah memiliki sebanyak 17 rumah produksi yang memiliki budaya menenun tradisional dengan 52 alat tenun dan sebanyak 40 tenaga ahli tenun. Dalam sebulan, pengrajin yang berjumlah 40 orang ini bisa menghasilkan 30 sampai 40 helai kain tenun.

Baca Juga :  Kembangkan Geowisata Wilayah Pantura

Proses pembuatan kain tenun memakan waktu 1 sampai 2 minggu karena perlu keterampilan khusus dan ketelitian dalam membuat corak atau pola sesuai pesanan dari konsumen. Rata-rata perbulan satu orang pengrajin tenun mampu menghasilkan minimal 5 lembar kain tenun songket perbulan dengan harga perlembar bervariasi antara Rp400.000 sampai dengan Rp5 juta lengkap dengan selendang dan aksesoris lainnya.

Semoga dengan dibangunnya infrastruktur jalan dan rumah produksi dapat meningkatkan hasil poroduksi para pengrajin tenun dan sekaligus memperluas akses pemasaran sehingga perputaran produksinya cepat dan keuntungan masyarakat yang didapatpun akan berlipat dan semakin memiliki daya pikat para pengunjung untuk mengisi masa liburan keluarga ke kawasan tenun Batu Layang karena keuntungan yang didapat tidak sekedar hiburan tetapi juga syarat dengan muatan edukasi budaya dan pariwisata. (pms/ser)

PONTIANAK—Kain Tenun Batu Layang yang terdapat di Gang Sambas, Kelurahan Batu Layang, Kecamatan Pontianak Utara, Kalimantan Barat memiliki nilai estetika dan keindahan yang sudah dikenal oleh masyarakat lokal dan luar Kalbar.

Berdiri sejak tahun 2008 silam, keberadaan rumah produksi kain tenun batu layang sering dikunjungi oleh pejabat kementerian, dinas instansi, rombongan dan wisatawan dari negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Korea dan Brunai Darusalam yang cukup intens berkunjung.

Kain Tenun Produksi Kelurahan Batu Layang telah dipasarkan di pulau jawa, Negara Malaysia, Brunai dan Singapura lewat penampung Kain Tenun. Hal ini menunjukan bahwa prospek pengembangan usaha kain tenun yang dihasilkan oleh pengrajin di Kelurahan Batu Layang ini  bisa bersaing dan diterima oleh pasar.

Melihat hal ini, Program Kotaku (kota tanpa kumuh) dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), melalui Balai Prasarana Pemukiman Wilayah (BPPW) Kalimantan Barat yang berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Pontianak merasa terpanggil dan mendukung untuk peningkatan kualitas dan jumlah produksi kain yang memiliki motif khas ini.

Baca Juga :  Hakiki Resmi Nahkodai HMI Cabang Pontianak

Adapun bentuk dukungan tersebut adalah dengan dibangunnya rumah produksi kain tenun yang repfresentatif dengan desain rumah melayu yang tidak hanya diperuntukan untuk kegiatan produksi, namun bisa dimanfaatkan sebagai tempat pameran dan display dari kain tenun yang dihasilkan.

Pembangunan infrastruktur untuk mendukung kawasan rumah produksi juga menjadi perhatian dari KOTAKU dengan melakukan perbaikan akses jalan disana agar mempermudah mobilitas kendaraan dan pengujung yang akan berkunjung ke sana.

Sebagai wilayah sentral produksi, Gang  Sambas telah memiliki sebanyak 17 rumah produksi yang memiliki budaya menenun tradisional dengan 52 alat tenun dan sebanyak 40 tenaga ahli tenun. Dalam sebulan, pengrajin yang berjumlah 40 orang ini bisa menghasilkan 30 sampai 40 helai kain tenun.

Baca Juga :  Masukan Anggaran Covid-19 di R-APBD 2022

Proses pembuatan kain tenun memakan waktu 1 sampai 2 minggu karena perlu keterampilan khusus dan ketelitian dalam membuat corak atau pola sesuai pesanan dari konsumen. Rata-rata perbulan satu orang pengrajin tenun mampu menghasilkan minimal 5 lembar kain tenun songket perbulan dengan harga perlembar bervariasi antara Rp400.000 sampai dengan Rp5 juta lengkap dengan selendang dan aksesoris lainnya.

Semoga dengan dibangunnya infrastruktur jalan dan rumah produksi dapat meningkatkan hasil poroduksi para pengrajin tenun dan sekaligus memperluas akses pemasaran sehingga perputaran produksinya cepat dan keuntungan masyarakat yang didapatpun akan berlipat dan semakin memiliki daya pikat para pengunjung untuk mengisi masa liburan keluarga ke kawasan tenun Batu Layang karena keuntungan yang didapat tidak sekedar hiburan tetapi juga syarat dengan muatan edukasi budaya dan pariwisata. (pms/ser)

Most Read

Artikel Terbaru

/