Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

"Bukan Cuma Saat Ada Anggaran", ABDSI Minta Pola Pendampingan UMKM Diubah Total

N
Lokakarya Nasional Pendamping Koperasi dan UMKM 2026 di Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak, Selasa (11/8). (ISTIMEWA)
Lokakarya Nasional Pendamping Koperasi dan UMKM 2026 di Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak, Selasa (11/8). (ISTIMEWA)

Advertisement

PONTIANAK POST – Pendampingan terhadap usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dinilai perlu diubah dari pola berbasis program menjadi layanan yang berkelanjutan. Pasalnya, kebutuhan pelaku usaha terhadap mentor, teknologi, pembiayaan, dan pengembangan bisnis tidak berhenti ketika sebuah program pemerintah selesai.

Ketua Umum Asosiasi Business Development Services Indonesia (ABDSI), Bahrul Ulum Ilham, mengatakan selama ini layanan pendampingan bisnis UMKM masih banyak yang mengikuti siklus program. Pendampingan berjalan ketika terdapat program dan anggaran, tetapi cenderung berkurang setelah program berakhir.

“Selama ini layanan pendampingan bisnis UMKM tumbuh menempel pada siklus program, hadir ketika anggaran tersedia, surut ketika program usai,” kata Bahrul saat menjadi pembahasan utama dalam Lokakarya Nasional Pendamping Koperasi dan UMKM 2026 di Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak, Selasa (11/8).

Padahal, kata dia, kebutuhan pendampingan semakin kompleks, terutama bagi wirausaha muda, UMKM yang sedang bertransformasi ke digital, dan koperasi. Ketiga kelompok tersebut membutuhkan pendampingan dalam jangka panjang, dilakukan secara bertahap, serta memiliki ukuran keberhasilan yang jelas.

Karena itu, ABDSI mendorong adanya rekonstruksi terhadap peran Business Development Services (BDS), termasuk menetapkan standar layanan yang harus diberikan pendamping.

Advertisement

“Melalui lokakarya dirumuskan apa sesungguhnya layanan minimum yang wajib dipenuhi seorang pendamping, bagaimana kompetensinya dinilai dan disertifikasi, serta bagaimana layanan dapat berkelanjutan,” ujarnya.

Asisten Deputi Ekosistem Bisnis Wirausaha Kementerian UMKM, Ginda P. Siregar, mengatakan penguatan UMKM juga membutuhkan integrasi berbagai layanan dalam satu ekosistem.

Menurutnya, pelaku UMKM tidak hanya membutuhkan pelatihan, tetapi juga akses terhadap mentor, teknologi digital, dan pembiayaan. Jika layanan tersebut berjalan sendiri-sendiri, proses UMKM untuk berkembang akan lebih sulit.

“Pelaku UMKM membutuhkan akses yang berkelanjutan terhadap mentor, teknologi digital, dan pembiayaan,” kata Ginda.

Ia menyebut platform terpadu seperti Entrepreneur Hub dapat menjadi salah satu instrumen untuk menghubungkan pelaku usaha dengan berbagai kebutuhan pengembangan bisnis.

Advertisement

Artikel Terkait

Robo-Robo Kuala Mempawah Didorong Jadi Magnet Wisata, UMKM dan Ekonomi Kreatif Ikut Digeliatkan

Robo-Robo Kuala Mempawah Didorong Jadi Magnet Wisata, UMKM dan Ekonomi Kreatif Ikut Digeliatkan

Robo-Robo Kuala Mempawah didorong jadi magnet pariwisata. Festival 2026 diharapkan menggerakkan UMKM dan ekonomi kreatif Kalbar.

Pasar Kakap Kubu Raya Makin Cantik, Taman Baru Jadi Ruang Publik dan Peluang bagi UMKM

Pasar Kakap Kubu Raya Makin Cantik, Taman Baru Jadi Ruang Publik dan Peluang bagi UMKM

Kehadiran taman ini menurut Bupati Sujiwo akan membawa pergerakan ekonomi bagi pelaku UMKM untuk mengembangkan usaha.

Tinjau Festival UMKM Sanggau, Bupati Yohanes Ontot Minta Kesiapan Tak Boleh Asal-Asalan

Tinjau Festival UMKM Sanggau, Bupati Yohanes Ontot Minta Kesiapan Tak Boleh Asal-Asalan

Bupati Sanggau Yohanes Ontot pastikan kesiapan Festival UMKM di Taman Arong Belopa jelang peringatan HUT ke-81 RI.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer