
PONTIANAK POST - Hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat menunjukkan penurunan signifikan. Namun, kondisi asap masih menjadi perhatian karena jarak pandang di Pontianak masih terbatas.
Berdasarkan data terbaru Sistem Monitoring Karhutla (SiPongi) Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20, hingga Kamis, 10 September 2026 pukul 21.05 WIB, Kalimantan Barat mencatat 39 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence).
Jumlah tersebut turun tajam dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 134 titik atau berkurang 95 titik dalam sehari. Di tingkat nasional, jumlah hotspot high confidence justru meningkat dari 395 menjadi 569 titik.
Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan hotspot terbanyak di antara enam provinsi prioritas dengan 96 titik. Selanjutnya Kalimantan Barat 39 titik, Sumatera Selatan 34 titik, Riau 18 titik, Kalimantan Selatan sembilan titik, dan Jambi dua titik.
Jarak Pandang Pontianak Masih Terbatas
Penurunan hotspot di Kalimantan Barat belum serta-merta membuat persoalan asap berakhir. Kondisi meteorologis di Pontianak masih menunjukkan udara kabur dan jarak pandang yang relatif terbatas.
Berdasarkan pemantauan meteorologi BMKG pada 10 September 2026 pukul 10.00 WIB, jarak pandang Pontianak tercatat sekitar 1,2 kilometer dengan kondisi berasap.
Data BMKG terbaru untuk kawasan Pelabuhan Dwikora Pontianak juga menunjukkan kondisi udara kabur pada 11 September. Dalam prakiraan BMKG, jarak pandang sekitar 1 kilometer tercatat pada pukul 00.00 WIB, kemudian diperkirakan berada pada kisaran 2–3 kilometer pada beberapa waktu berikutnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun hotspot Kalbar turun signifikan, masyarakat masih perlu memperhatikan perkembangan asap dan jarak pandang, terutama saat beraktivitas di luar ruangan maupun menggunakan jalur transportasi.
Asap dari Karhutla Masih Mengganggu
Kondisi asap juga masih menjadi tantangan dalam operasi pemadaman. Salah satu lokasi karhutla di Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, misalnya, memasuki tahap pendinginan setelah proses pemadaman berlangsung sekitar tiga pekan.



