alexametrics
30.6 C
Pontianak
Sunday, August 14, 2022

Dosen Singkawang ‘Terjebak’ di Wuhan, Setiap Hari Wajib Cek Kesehatan

97 WNI Harap Ada Evakuasi

PONTIANAK- Abdul Basith satu diantara puluhan mahasiswa yang mengambil program S 3 di kampus Central China Normal University di Kota Wuhan mengungkap sejak 23 Januari 2020, semua akses di kota tersebut ditutup (lockdown). Itu dilakukan guna meminimalisir penyebaran virus corona.

“Di Wuhan, semua akses ditutup. Tidak boleh ada yang keluar ataupun masuk ke Wuhan. Ini dilakukan untuk meminimalisir penyebaran virus Corona. Kalau kondisi mahasiswa Indonesia saat ini, alhamdulilah dalam keadaan sehat. Sayapun berharap tidak ada yang terjangkit virus tersebut,” ucap Basith, dosen STKIP Singkawang yang tengah mengambil program S 3 di Wuhan, Cina, menuturkan kepada Pontianak Post, Minggu (26/1) malam.

Akibat penutupan Kota Wuhan saat ini, otomatis menjadi sepi dari hiruk pikuk kendaraan dan manusia.

Imbauan pemerintah setempat, masyarakat dilarang untuk pergi ke tempat-tempat ramai. Karena dikhawatirkan akan terjangkit virus tersebut.

Namun, tidak seperti pemberitaan bahwa Kota Wuhan terisolasi, dan orang tidak boleh keluar rumah. Kata Basith itu tidak benar.

Baca Juga :  New Normal, Warga Pontianak Jangan Kebablasan

Saat ini masyarakat masih dibolehkan untuk keluar, namun dalam jarak yang tidak begitu jauh. Seperti ke toko untuk membeli persediaan makanan. Syaratnya harus menggunakan masker.

Pemerintah Cina melalui kampus pun, selalu mengimbau agar selalu menjaga kesehatan. Bantuanpun diberikan berupa masker, hand wash, dan termometer.

“Setiap hari kami selalu dicek untuk mengetahui kondisi kesehatan. Sekarang yang terasa berat kenaikan harga logistik, karena toko yang buka tidak terlalu banyak, sementara permintaan semakin besar,” ungkapnya.

Akibat wabah corona, dibenarkan dia beberapa teman mahasiswa berharap adanya evakuasi. Ia bisa memaklumi karena beberapa teman dalam keadaan panik.

Ia juga tidak bisa menyalahkan teman-teman yang berharap tindakan evakuasi dari pemerintah Indonesia. Itu karena tiap orang memiliki kekuatan psikis berbeda-beda,

“Sekarang kami di sini saling menguatkan dan saling menjaga,” ungkapnya.

Baca Juga :  Menjelang Idul Fitri, Arief Rinaldi Dorong Pemerintah Siapkan Atribut Memutuskan Mata Rantai Covid-19

Dalam upaya evakuasi, teman-teman mahasiswa pun sudah melakukan koordinasi dengan pihak KBRI melalui PPIT Wuhan. Namun dalam prosesnya tentu dibutuhkan waktu.

Kalau dari informasi yang ia dapat, jumlah Warga Negara Indonesia di Wuhan ada 97 orang. Terdiri dari 95 orang mahasiswa 1 orang profesional dan 1 orang ibu rumah tangga.

Ditanya soal jam belajar mengajar di kampus tempat ia mengabdi, saat ini tengah libur musim dingin. Aktivitas belajar mengajar tidak ada.

Namun karena kejadian ini, jadwal masuk kuliah yang rencana Februari akan diundur. Waktunya tentatif, menunggu pengumuman lanjutan.

Sedangkan untuk para pekerja, kemungkinan diliburkan. Karena saat ini juga dalam situasi libur tahun baru Cina.

Ditanya penyebaran virus corona, hingga kini Pemerintah Cina masih mencari penyebabnya.

“Kalau asal virus saya kurang tahu bro. sekarangpun masih diteliti oleh peneliti,” tutupnya.(iza)

97 WNI Harap Ada Evakuasi

PONTIANAK- Abdul Basith satu diantara puluhan mahasiswa yang mengambil program S 3 di kampus Central China Normal University di Kota Wuhan mengungkap sejak 23 Januari 2020, semua akses di kota tersebut ditutup (lockdown). Itu dilakukan guna meminimalisir penyebaran virus corona.

“Di Wuhan, semua akses ditutup. Tidak boleh ada yang keluar ataupun masuk ke Wuhan. Ini dilakukan untuk meminimalisir penyebaran virus Corona. Kalau kondisi mahasiswa Indonesia saat ini, alhamdulilah dalam keadaan sehat. Sayapun berharap tidak ada yang terjangkit virus tersebut,” ucap Basith, dosen STKIP Singkawang yang tengah mengambil program S 3 di Wuhan, Cina, menuturkan kepada Pontianak Post, Minggu (26/1) malam.

Akibat penutupan Kota Wuhan saat ini, otomatis menjadi sepi dari hiruk pikuk kendaraan dan manusia.

Imbauan pemerintah setempat, masyarakat dilarang untuk pergi ke tempat-tempat ramai. Karena dikhawatirkan akan terjangkit virus tersebut.

Namun, tidak seperti pemberitaan bahwa Kota Wuhan terisolasi, dan orang tidak boleh keluar rumah. Kata Basith itu tidak benar.

Baca Juga :  Polres Mempawah Bangun Dua Posko Tanggap Covid-19

Saat ini masyarakat masih dibolehkan untuk keluar, namun dalam jarak yang tidak begitu jauh. Seperti ke toko untuk membeli persediaan makanan. Syaratnya harus menggunakan masker.

Pemerintah Cina melalui kampus pun, selalu mengimbau agar selalu menjaga kesehatan. Bantuanpun diberikan berupa masker, hand wash, dan termometer.

“Setiap hari kami selalu dicek untuk mengetahui kondisi kesehatan. Sekarang yang terasa berat kenaikan harga logistik, karena toko yang buka tidak terlalu banyak, sementara permintaan semakin besar,” ungkapnya.

Akibat wabah corona, dibenarkan dia beberapa teman mahasiswa berharap adanya evakuasi. Ia bisa memaklumi karena beberapa teman dalam keadaan panik.

Ia juga tidak bisa menyalahkan teman-teman yang berharap tindakan evakuasi dari pemerintah Indonesia. Itu karena tiap orang memiliki kekuatan psikis berbeda-beda,

“Sekarang kami di sini saling menguatkan dan saling menjaga,” ungkapnya.

Baca Juga :  Menjelang Idul Fitri, Arief Rinaldi Dorong Pemerintah Siapkan Atribut Memutuskan Mata Rantai Covid-19

Dalam upaya evakuasi, teman-teman mahasiswa pun sudah melakukan koordinasi dengan pihak KBRI melalui PPIT Wuhan. Namun dalam prosesnya tentu dibutuhkan waktu.

Kalau dari informasi yang ia dapat, jumlah Warga Negara Indonesia di Wuhan ada 97 orang. Terdiri dari 95 orang mahasiswa 1 orang profesional dan 1 orang ibu rumah tangga.

Ditanya soal jam belajar mengajar di kampus tempat ia mengabdi, saat ini tengah libur musim dingin. Aktivitas belajar mengajar tidak ada.

Namun karena kejadian ini, jadwal masuk kuliah yang rencana Februari akan diundur. Waktunya tentatif, menunggu pengumuman lanjutan.

Sedangkan untuk para pekerja, kemungkinan diliburkan. Karena saat ini juga dalam situasi libur tahun baru Cina.

Ditanya penyebaran virus corona, hingga kini Pemerintah Cina masih mencari penyebabnya.

“Kalau asal virus saya kurang tahu bro. sekarangpun masih diteliti oleh peneliti,” tutupnya.(iza)

Most Read

Artikel Terbaru

/