alexametrics
26.7 C
Pontianak
Thursday, August 18, 2022

Aplikasi P-Care Perlu Dibenahi

PONTIANAK – Pontianak menjadi daerah yang paling tinggi melaksanakan vaksinasi Covid-19 untuk tahap pertama termin pertama se-Kalimantan Barat (Kalbar). Meski demikian secara umum pelaksanaan vaksinasi dengan sasaran tenaga kesehatan (nakes) di tiga daerah itu baru mencapai 21,88 persen.

Kepala Dinas Kesehatan Kalbar, Harisson mengungkapkan, sampai 24 Januari 2021, jumlah yang sudah divaksin ada sebanyak 1.692 nakes. Terdiri dari Kota Pontianak sebanyak 1.039 orang, Kubu Raya 355 orang dan Mempawah 298 orang. “Jadi totalnya 1.692 nakes yang sudah divaksinasi di Kota Pontianak, Kabupaten Kubu Raya dan Mempawah,” ungkapnya.

Sementara itu ada sebanyak 254 orang nakes yang harus ditunda. Itu disebabkan karena yang bersangkutan mengalami beberapa penyakit ringan. Diharapkan dalam seminggu ke depan penyakit tersebut bisa dikontrol dan semuanya bisa melaksanakan vaksinasi. “Kalau sudah terkontrol nanti mereka akan divaksinasi. Sekitar 3,28 persen (tunda) dari sasaran tenaga kesehatan,” katanya.

Selain itu ada sebanyak 337 orang atau sebesar 4,35 persen nakes tidak divaksin. Karena menyangkut beberapa penyakit yang diderita. Sehingga mereka termasuk orang yang kontra indikasi. Selain itu mereka adalah orang-orang penyintas Covid-19 atau pernah terpapar, sehingga tidak perlu dilakukan vaksinasi.

Dari pengalaman vaksinasi di tiga daerah ini, Harisson menyampaikan ditemukan beberapa hambatan. Terutama pada aplikasi dan jaringan yang disediakan oleh pemerintah pusat. Seperti diketahui alur pelaksanaan vaksinasi pertama calon menerima bakal mendapatkan SMS blast.

Baca Juga :  Capaian Vaksinasi Lansia Rendah, Pemerintah Libatkan Anak Muda Jadi Duta Vaksin

“Ternyata SMS tidak mereka dapatkan dan ini menurut dari pusat bahwa data (nomor) HP-nya berbeda dengan HP yang sedang dipakai sekarang oleh nakes kita. Kemudian ada beberapa hambatan, ada beberapa data yang mungkin salah,” paparnya.

Selain itu dari sisi aplikasi P-Care yang digunakan, ada nakes yang sudah menerima pemberitahuan untuk divaksin, ternyata pada saat datang ke Puskemas data yang bersangkutan ternyata tidak di aplikasi yang masuk ke Puskesmas. “Jadi data di aplikasi P-Care tidak mendukung data orang yang sebenarnya harus divaksin hari itu,” katanya.

Langkah yang diambil untuk mengatasinya, seluruh nakes diharapkan bisa mendaftar langsung ke Puskemas di masing-masing wilayah kerjanya. Dengan demikian tidak perlu menunggu SMS blast, bisa mendaftar langsung ke aplikasi P-Care di Puskesmas.

“Memang ada hambatan kedua ketika daftar (langsung) di P-Care, harus tertunda karena biasanya datanya tidak langsung masuk. Biasanya mereka harus menunda dua tiga hari setelah mendaftar langsung ke Puskesmas, barulah datanya masuk ke P-Care,” terang Harisson.

Pada intinya, lanjut dia, setip nakes yang divaksinasi datanya harus masuk terlebih dahulu ke dalam sistem. Vaksinasi tidak akan bisa dilakukan jika data seseorang atau NIK yang dimiliki tidak terdaftar di Puskesmas. “Kami harap pemerintah pusat bisa segera memperbaiki aplikasi di P-Care yang menggunakan SMS blast ini,” pungkasnya.

Baca Juga :  Optimis Akhir 2021 Suntikkan 300 Juta Dosis

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Sidiq Handanu juga membenarkan bahwa sebanyak 1.163 tenaga kesehatan yang sudah divaksin Covid-19. “Jumlahnya itu tercatat sejak tanggal 14 hingga 25 Januari,” katanya, kemarin.

Sementara ada 470 tenaga kesehatan yang datang ke fasilitas kesehatan namun tidak bisa divaksin. Sidiq menyebutkan ada yang ditunda dan tidak layak untuk divaksin.

Ia menjelaskan tenaga kesehatan yang vaksinasinya ditunda karena dalam kondisi yang tidak normal. “Jika kondisi tubuhnya normal bisa dilanjutkan vaksinasinya. Jika tidak layak maka yang bersangkutan memang tidak bisa divaksin,” jelas Sidiq.

Sementara itu pada Senin, 25 Januari 2020, ada 208 tenaga kesehatan yang datang ke fasilitas kesehatan untuk divaksin. Jumlahnya terbagi antara lain 135 yang layak dan 73 orang ditunda dan tidak layak.

Sidiq menjelaskan pada tahap pertama ini ada 5.500 tenaga kesehatan yang akan divaksin. Meski demikian data itu akan berubah karena ada tenaga kesehatan yang tidak bisa divaksin.

Penyebabnya pernah terkonfirmasi positif dan memiliki penyakit bawaan. Sementara yang termasuk tenaga kesehatan mulai dari bidang medis, dokter, perawat dan lainnya. Setelah tenaga kesehatan vaksinasi akan berlanjut ke TNI-Polri, ASN hingga guru. (bar/mse)

PONTIANAK – Pontianak menjadi daerah yang paling tinggi melaksanakan vaksinasi Covid-19 untuk tahap pertama termin pertama se-Kalimantan Barat (Kalbar). Meski demikian secara umum pelaksanaan vaksinasi dengan sasaran tenaga kesehatan (nakes) di tiga daerah itu baru mencapai 21,88 persen.

Kepala Dinas Kesehatan Kalbar, Harisson mengungkapkan, sampai 24 Januari 2021, jumlah yang sudah divaksin ada sebanyak 1.692 nakes. Terdiri dari Kota Pontianak sebanyak 1.039 orang, Kubu Raya 355 orang dan Mempawah 298 orang. “Jadi totalnya 1.692 nakes yang sudah divaksinasi di Kota Pontianak, Kabupaten Kubu Raya dan Mempawah,” ungkapnya.

Sementara itu ada sebanyak 254 orang nakes yang harus ditunda. Itu disebabkan karena yang bersangkutan mengalami beberapa penyakit ringan. Diharapkan dalam seminggu ke depan penyakit tersebut bisa dikontrol dan semuanya bisa melaksanakan vaksinasi. “Kalau sudah terkontrol nanti mereka akan divaksinasi. Sekitar 3,28 persen (tunda) dari sasaran tenaga kesehatan,” katanya.

Selain itu ada sebanyak 337 orang atau sebesar 4,35 persen nakes tidak divaksin. Karena menyangkut beberapa penyakit yang diderita. Sehingga mereka termasuk orang yang kontra indikasi. Selain itu mereka adalah orang-orang penyintas Covid-19 atau pernah terpapar, sehingga tidak perlu dilakukan vaksinasi.

Dari pengalaman vaksinasi di tiga daerah ini, Harisson menyampaikan ditemukan beberapa hambatan. Terutama pada aplikasi dan jaringan yang disediakan oleh pemerintah pusat. Seperti diketahui alur pelaksanaan vaksinasi pertama calon menerima bakal mendapatkan SMS blast.

Baca Juga :  Ajak Masyarakat Sukseskan Serbuan Vaksinasi

“Ternyata SMS tidak mereka dapatkan dan ini menurut dari pusat bahwa data (nomor) HP-nya berbeda dengan HP yang sedang dipakai sekarang oleh nakes kita. Kemudian ada beberapa hambatan, ada beberapa data yang mungkin salah,” paparnya.

Selain itu dari sisi aplikasi P-Care yang digunakan, ada nakes yang sudah menerima pemberitahuan untuk divaksin, ternyata pada saat datang ke Puskemas data yang bersangkutan ternyata tidak di aplikasi yang masuk ke Puskesmas. “Jadi data di aplikasi P-Care tidak mendukung data orang yang sebenarnya harus divaksin hari itu,” katanya.

Langkah yang diambil untuk mengatasinya, seluruh nakes diharapkan bisa mendaftar langsung ke Puskemas di masing-masing wilayah kerjanya. Dengan demikian tidak perlu menunggu SMS blast, bisa mendaftar langsung ke aplikasi P-Care di Puskesmas.

“Memang ada hambatan kedua ketika daftar (langsung) di P-Care, harus tertunda karena biasanya datanya tidak langsung masuk. Biasanya mereka harus menunda dua tiga hari setelah mendaftar langsung ke Puskesmas, barulah datanya masuk ke P-Care,” terang Harisson.

Pada intinya, lanjut dia, setip nakes yang divaksinasi datanya harus masuk terlebih dahulu ke dalam sistem. Vaksinasi tidak akan bisa dilakukan jika data seseorang atau NIK yang dimiliki tidak terdaftar di Puskesmas. “Kami harap pemerintah pusat bisa segera memperbaiki aplikasi di P-Care yang menggunakan SMS blast ini,” pungkasnya.

Baca Juga :  Lantamal XII Lanjutkan Program Vaksinasi Maritim

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Sidiq Handanu juga membenarkan bahwa sebanyak 1.163 tenaga kesehatan yang sudah divaksin Covid-19. “Jumlahnya itu tercatat sejak tanggal 14 hingga 25 Januari,” katanya, kemarin.

Sementara ada 470 tenaga kesehatan yang datang ke fasilitas kesehatan namun tidak bisa divaksin. Sidiq menyebutkan ada yang ditunda dan tidak layak untuk divaksin.

Ia menjelaskan tenaga kesehatan yang vaksinasinya ditunda karena dalam kondisi yang tidak normal. “Jika kondisi tubuhnya normal bisa dilanjutkan vaksinasinya. Jika tidak layak maka yang bersangkutan memang tidak bisa divaksin,” jelas Sidiq.

Sementara itu pada Senin, 25 Januari 2020, ada 208 tenaga kesehatan yang datang ke fasilitas kesehatan untuk divaksin. Jumlahnya terbagi antara lain 135 yang layak dan 73 orang ditunda dan tidak layak.

Sidiq menjelaskan pada tahap pertama ini ada 5.500 tenaga kesehatan yang akan divaksin. Meski demikian data itu akan berubah karena ada tenaga kesehatan yang tidak bisa divaksin.

Penyebabnya pernah terkonfirmasi positif dan memiliki penyakit bawaan. Sementara yang termasuk tenaga kesehatan mulai dari bidang medis, dokter, perawat dan lainnya. Setelah tenaga kesehatan vaksinasi akan berlanjut ke TNI-Polri, ASN hingga guru. (bar/mse)

Most Read

Artikel Terbaru

/