alexametrics
25 C
Pontianak
Sunday, May 22, 2022

Boleh Pentas, namun Jumlah Penonton Terbatas

Aktivitas teater menjadi sangat terbatas sejak pandemi Covid-19 melanda. Sebagian sanggar memutuskan untuk mengalihkan kegiatannya secara virtual. Kini, setelah dua tahun vakum tampil di panggung, mereka ingin kembali menghidupkan seni peran tersebut.

SITI SULBIYAH, Pontianak

PERTUNJUKAN teater berjudul Aladin dari sanggar Teater Topeng digelar dua pekan lagi. Persiapan sudah sekitar 80 persen. Baik pemain, materi, hingga dekorasi panggung telah disiapkan dengan matang. Promosi sudah dilakukan. Tiket sudah mulai ditawarkan.

Namun, pertunjukkan tersebut terpaksa ditunda lantaran pemerintah mengeluarkan aturan pembatasan aktivitas masyarakat. Maret 2020, virus Covid-19 sudah menyebar ke Indonesia, termasuk di Kota Pontianak. Segala aktivitas yang mengumpulkan massa dalam jumlah besar dilarang guna menekan laju penyebaran virus tersebut.

Cerita tersebut dituturkan oleh Budi KK, ketua Sanggar Teater Topeng. Peristiwa yang diceritakan olehnya itu, terjadi pada Maret 2020, tepat dimana Covid-19 mulai menyeruak. “Jadi terpaksa kami cancel. Sampai sekarang kami belum menggelar (pertunjukan teater),” ungkap Budi, kepada Pontianak Post, Jumat (25/3).

Dua tahun sudah pandemi Covid-19 melanda. Seiring kelonggaran aktivitas, sanggar teater di Kota Pontianak kembali ingin menghidupkan diri. “Insyaallah tanggal 27 dan 28 Mei (2022) kami akan adakan lagi pementasan teater yang di-cancel tersebut. Tapi judulnya kami ubah, dari Aladin, menjadi Aladin Din,” katanya.

Selama pandemi Covid-19, Teater Topeng diakuinya tidak sama sekali menggelar pementasan secara langsung. Sempat vakum beberapa saat karena pandemi, kegiatan teater kemudian dialihkan secara virtual. Para anggota sanggar ini membuat video-video pendek berdurasi sekitar lima menit yang menampilkan aksi mereka dalam memainkan peran. Video tersebut, lantas diunggah ke beberapa media sosial yang mereka punya.

Meskipun dianggap tidak ideal, menurutnya seni teater harus tetap berjalan sebagai bentuk upaya tidak menyerah dengan keadaan. Di samping itu, lewat teater virtual, para anggota tetap bisa menyalurkan hobi mereka memainkan peran.

“Karena kita kangen (main peran), maka alternatifnya adalah dengan tetap bermain teater tetapi ditampilkan ke Youtube dan media sosial kami. Di sini kami coba menyalurkan apa yang menjadi keinginan kami,” ucapnya.

Baca Juga :  Keseruan Gubernur Sutarmidji Main Guli

Saat ini pihaknya tengah mempersiapkan pementasan teater. Seiring kelonggaran aktivitas masyarakat, dirinya berharap antusias penonton kembali bangkit. Meski diakuinya pementasan tidak bisa digelar seperti sebelum pandemi Covid-19. Penonton yang hadir jumlahnya harus setengah dari kapasitas gedung.

Pandemi Covid-19 di sisi lain memunculkan terobosan yang kreatif. Seperti yang dilakukan oleh para mahasiswa yang tergabung dalam Komunitas Santri (Komsan) IAIN Pontianak. Agar tetap eksis, UKM yang bergerak di kesenian teater ini menggelar teater secara daring hingga menggelar lomba.

“Saat pandemi memang longgar kegiatan pementasan. Sehingga kami mencoba main secara online. Kemudian kami juga buat lomba Kaligrafi digital untuk mengisi kekosongan kegiatan kami,” ungkap Syarif Ahmad Imam, anggota Komsan IAIN Pontianak.

Pihaknya saat ini tengah berupaya mengembalikan aktivitas pementasan yang sebelum Pandemi Covid-19 hampir sebulan sekali bisa digelar. Meski hanya pementasan dalam skala yang kecil, namun untuk mahasiswa yang punya tanggung jawab menyelesaikan studi, pementasan sebulan sekali itu dirasa cukup.

Aktivitas latihan pun saat ini berangsur normal. Latihan teater digelar setiap Sabtu dan Minggu. Setidaknya ada 30 lebih anggota Komsan yang aktif. Selain pementasan rutin setiap bulan, ada juga pementasan besar yang biasanya dijadwalkan satu tahun minimal satu kali.

Sementara itu, pegiat teater, Uli mengatakan pandemi Covid-19 berdampak besar bagi dunia seni teater. Aktivitas teater terasa mati suri karena kebijakan yang melarang adanya pertunjukan dengan masa yang ramai. Vakum lebih dari dua tahun, dia menilai agak sulit untuk kembali membangkitkan kesenian peran satu ini.

“Saat ini kelonggaran memang sudah dilakukan, namun membangkitkan kembali sesuatu yang sudah mati pastilah sangat sulit. Ruang pertunjukan di Pontianak sangat terbatas kapasitasnya di saat tidak pandemi, namun harus lebih dibatasi lagi karena kondisi pandemi. Kami boleh naik panggung, tapi tak bisa gembar-gembor  promosi, karena terbatas penonton,” katanya.

Baca Juga :  Sukseskan Program Pemerintah, Satgas TMMD Kawal Serbuan Vaksinasi

Pembatasan jumlah penonton menurutnya akan berdampak pada pendapatan sanggar teater. Hitungannya, sulit mengembalikan modal dengan pemasukan dari penjualan tiket yang jumlah penontonnya dibatasi. “Seperti dilema, naik panggung tetapi kita tetap sulit hidup, tidak naik panggung hidup lebih sulit lagi,” ujarnya.

Uli mengatakan, sebelum aturan yang melonggarkan aktivitas masyarakat, para seniman teater mencoba pindah ruang ke media sosial untuk mengeksplor diri. Namun, kata dia, hal ini terbentur dengan biaya dan hasilnya pun tidak sebagus pementasan langsung, karena penampilan di atas panggung dan di depan kamera jauh berbeda.

Untuk Pontianak, panggung teater digelar di Taman Budaya. Namun, kata dia, masa depan Taman Budaya Kalbar dikabarkan akan ditutup oleh pemerintah. Dengan adanya rencana penutupan tersebut, para seniman seperti dirinya tidak tahu lagi di mana mereka bisa melakukan pementasan.

“Kami tak tau akan kemana bercerita dan mencurahkan ide-ide yang kebanyakan tanpa kucuran dana jika taman budaya diratakan. Entah dimana lagi budaya akan dipertunjukan, karena para seniman sudah tak punya rumah. Saat ini, untuk latihan pun kami terpaksa berpindah-pindah tempat,” tuturnya.

Uli menambahkan, selama ini para seniman merasa sangat kurang fasilitas yang memadai untuk sebuah pertunjukan. Panggung yang dimiliki sangat kecil. Di sisi lain, gempuran teknologi juga membuat pihaknya harus berubah mengikuti zaman.

“Pertunjukan teater kalah saing dengan film-film, walaupun jika kita naik panggung, kursi penonton tidak juga kosong. Artinya masih ada peminat penikmat pertunjukan teater,” katanya.

Menurutnya, yang saat ini dibutuhkan adalah fasilitas pertunjukan yang memadai, dan tempat yang strategis di jantung kota. Baginya, ini sudah cukup bagi para seniman teater.

“Pemuda zaman sekarang lebih suka nonton bioskop, nongkrong di cafe. Kenapa? Karena tempat pertunjukan kami tak sekeren mall dan tak sedingin bioskop. Jika tempat pertunjukan kami dipoles pemerintah tak kalah saing dengan mall, anak muda akan menoleh dan tak meragu melangkahkan kaki ke Taman Budaya,” pungkasnya. (*)

Aktivitas teater menjadi sangat terbatas sejak pandemi Covid-19 melanda. Sebagian sanggar memutuskan untuk mengalihkan kegiatannya secara virtual. Kini, setelah dua tahun vakum tampil di panggung, mereka ingin kembali menghidupkan seni peran tersebut.

SITI SULBIYAH, Pontianak

PERTUNJUKAN teater berjudul Aladin dari sanggar Teater Topeng digelar dua pekan lagi. Persiapan sudah sekitar 80 persen. Baik pemain, materi, hingga dekorasi panggung telah disiapkan dengan matang. Promosi sudah dilakukan. Tiket sudah mulai ditawarkan.

Namun, pertunjukkan tersebut terpaksa ditunda lantaran pemerintah mengeluarkan aturan pembatasan aktivitas masyarakat. Maret 2020, virus Covid-19 sudah menyebar ke Indonesia, termasuk di Kota Pontianak. Segala aktivitas yang mengumpulkan massa dalam jumlah besar dilarang guna menekan laju penyebaran virus tersebut.

Cerita tersebut dituturkan oleh Budi KK, ketua Sanggar Teater Topeng. Peristiwa yang diceritakan olehnya itu, terjadi pada Maret 2020, tepat dimana Covid-19 mulai menyeruak. “Jadi terpaksa kami cancel. Sampai sekarang kami belum menggelar (pertunjukan teater),” ungkap Budi, kepada Pontianak Post, Jumat (25/3).

Dua tahun sudah pandemi Covid-19 melanda. Seiring kelonggaran aktivitas, sanggar teater di Kota Pontianak kembali ingin menghidupkan diri. “Insyaallah tanggal 27 dan 28 Mei (2022) kami akan adakan lagi pementasan teater yang di-cancel tersebut. Tapi judulnya kami ubah, dari Aladin, menjadi Aladin Din,” katanya.

Selama pandemi Covid-19, Teater Topeng diakuinya tidak sama sekali menggelar pementasan secara langsung. Sempat vakum beberapa saat karena pandemi, kegiatan teater kemudian dialihkan secara virtual. Para anggota sanggar ini membuat video-video pendek berdurasi sekitar lima menit yang menampilkan aksi mereka dalam memainkan peran. Video tersebut, lantas diunggah ke beberapa media sosial yang mereka punya.

Meskipun dianggap tidak ideal, menurutnya seni teater harus tetap berjalan sebagai bentuk upaya tidak menyerah dengan keadaan. Di samping itu, lewat teater virtual, para anggota tetap bisa menyalurkan hobi mereka memainkan peran.

“Karena kita kangen (main peran), maka alternatifnya adalah dengan tetap bermain teater tetapi ditampilkan ke Youtube dan media sosial kami. Di sini kami coba menyalurkan apa yang menjadi keinginan kami,” ucapnya.

Baca Juga :  Deklarasikan Anti Narkoba

Saat ini pihaknya tengah mempersiapkan pementasan teater. Seiring kelonggaran aktivitas masyarakat, dirinya berharap antusias penonton kembali bangkit. Meski diakuinya pementasan tidak bisa digelar seperti sebelum pandemi Covid-19. Penonton yang hadir jumlahnya harus setengah dari kapasitas gedung.

Pandemi Covid-19 di sisi lain memunculkan terobosan yang kreatif. Seperti yang dilakukan oleh para mahasiswa yang tergabung dalam Komunitas Santri (Komsan) IAIN Pontianak. Agar tetap eksis, UKM yang bergerak di kesenian teater ini menggelar teater secara daring hingga menggelar lomba.

“Saat pandemi memang longgar kegiatan pementasan. Sehingga kami mencoba main secara online. Kemudian kami juga buat lomba Kaligrafi digital untuk mengisi kekosongan kegiatan kami,” ungkap Syarif Ahmad Imam, anggota Komsan IAIN Pontianak.

Pihaknya saat ini tengah berupaya mengembalikan aktivitas pementasan yang sebelum Pandemi Covid-19 hampir sebulan sekali bisa digelar. Meski hanya pementasan dalam skala yang kecil, namun untuk mahasiswa yang punya tanggung jawab menyelesaikan studi, pementasan sebulan sekali itu dirasa cukup.

Aktivitas latihan pun saat ini berangsur normal. Latihan teater digelar setiap Sabtu dan Minggu. Setidaknya ada 30 lebih anggota Komsan yang aktif. Selain pementasan rutin setiap bulan, ada juga pementasan besar yang biasanya dijadwalkan satu tahun minimal satu kali.

Sementara itu, pegiat teater, Uli mengatakan pandemi Covid-19 berdampak besar bagi dunia seni teater. Aktivitas teater terasa mati suri karena kebijakan yang melarang adanya pertunjukan dengan masa yang ramai. Vakum lebih dari dua tahun, dia menilai agak sulit untuk kembali membangkitkan kesenian peran satu ini.

“Saat ini kelonggaran memang sudah dilakukan, namun membangkitkan kembali sesuatu yang sudah mati pastilah sangat sulit. Ruang pertunjukan di Pontianak sangat terbatas kapasitasnya di saat tidak pandemi, namun harus lebih dibatasi lagi karena kondisi pandemi. Kami boleh naik panggung, tapi tak bisa gembar-gembor  promosi, karena terbatas penonton,” katanya.

Baca Juga :  Persiapkan Fasilitas untuk Pelayanan Khusus Mata

Pembatasan jumlah penonton menurutnya akan berdampak pada pendapatan sanggar teater. Hitungannya, sulit mengembalikan modal dengan pemasukan dari penjualan tiket yang jumlah penontonnya dibatasi. “Seperti dilema, naik panggung tetapi kita tetap sulit hidup, tidak naik panggung hidup lebih sulit lagi,” ujarnya.

Uli mengatakan, sebelum aturan yang melonggarkan aktivitas masyarakat, para seniman teater mencoba pindah ruang ke media sosial untuk mengeksplor diri. Namun, kata dia, hal ini terbentur dengan biaya dan hasilnya pun tidak sebagus pementasan langsung, karena penampilan di atas panggung dan di depan kamera jauh berbeda.

Untuk Pontianak, panggung teater digelar di Taman Budaya. Namun, kata dia, masa depan Taman Budaya Kalbar dikabarkan akan ditutup oleh pemerintah. Dengan adanya rencana penutupan tersebut, para seniman seperti dirinya tidak tahu lagi di mana mereka bisa melakukan pementasan.

“Kami tak tau akan kemana bercerita dan mencurahkan ide-ide yang kebanyakan tanpa kucuran dana jika taman budaya diratakan. Entah dimana lagi budaya akan dipertunjukan, karena para seniman sudah tak punya rumah. Saat ini, untuk latihan pun kami terpaksa berpindah-pindah tempat,” tuturnya.

Uli menambahkan, selama ini para seniman merasa sangat kurang fasilitas yang memadai untuk sebuah pertunjukan. Panggung yang dimiliki sangat kecil. Di sisi lain, gempuran teknologi juga membuat pihaknya harus berubah mengikuti zaman.

“Pertunjukan teater kalah saing dengan film-film, walaupun jika kita naik panggung, kursi penonton tidak juga kosong. Artinya masih ada peminat penikmat pertunjukan teater,” katanya.

Menurutnya, yang saat ini dibutuhkan adalah fasilitas pertunjukan yang memadai, dan tempat yang strategis di jantung kota. Baginya, ini sudah cukup bagi para seniman teater.

“Pemuda zaman sekarang lebih suka nonton bioskop, nongkrong di cafe. Kenapa? Karena tempat pertunjukan kami tak sekeren mall dan tak sedingin bioskop. Jika tempat pertunjukan kami dipoles pemerintah tak kalah saing dengan mall, anak muda akan menoleh dan tak meragu melangkahkan kaki ke Taman Budaya,” pungkasnya. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/