alexametrics
27 C
Pontianak
Tuesday, June 28, 2022

Puskesmas Putar Otak Hemat Penggunaan APD

PONTIANAK – Minimnya ketersedian alat pelindung diri (APD), membuat para petugas kesehatan di pos pelayanan terdepan berhemat semaksimal mungkin. Kadang terpaksa menggunakan APD yang tidak terstandar, dengan harapan dapat lebih memperkecil penularan virus corona. Dari pada tidak menggunakan pengaman sama sekali.

Kekhawatiran jelas dirasakan para petugas kesehatan yang bekerja di pelayanan kesehatan terdepan. Nuzulisa, Kepala Puskesmas Gang Sehat, Pontianak Selatan menilai, pos pelayanan kesehatan terdepan, seperti puskesmas misalnya, punya resiko yang sama dengan mereka yang bekerja menangani pasien covid-19. Bahkan boleh jadi lebih berisiko, karena yang dihadapi tidak diketahui membawa virus corona atau tidak. Sementara, alat pelindung diri (APD) yang digunakan tidak selengkap standar yang digunakan para petugas yang menangani pasien covid-19.

“Kalau dibilang was-was, tentu kami sangat was-was. Yang dikhawatirkan itu adalah mereka yang boleh jadi OTG (orang tanpa gejala) atau carier,” ungkap dia, kepada Pontianak Post, Minggu (26/4).

Langkah antisipasi telah ia lakukan meski dengan sejumlah keterbatasan. Para pasien yang datang memeriksakan diri, terlebih dahulu dilakukan screening, untuk mengetahui ada atau tidaknya gejala covid, dan mengetahui riwayat perjalan pasien. Mereka juga akan diperiksa suhu tubuh, diharuskan menggunakan masker, serta mencuci tangan di tempat yang telah disediakan.

Baca Juga :  APD Produksi Warga Binaan untuk Kubu Raya

Adapun petugas kesehatan yang dalam pelayannya diharuskan berkontak dengan pasien, diharuskan menggunakan APD. Karena keterbatasan jumlah APD, pihaknya pun membagi penggunaan APD sesuai dengan tingkatan risiko tertular. “Jika pelayanannya mengharuskan kontak yang buat risiko tertular semakin besar, maka APD yang digunakan harus lebih lengkap. Misalnya di poli yang terdapat tindakan membuka mulut, dan berpotensi mengeluarkan droplet, maka APD yang digunakan adalah yang lengkap,” jelas dia.

Minimnya ketersediaan APD diakui dia bukan karena minimnya anggaran untuk membeli. Pihaknya bahkan sudah mengalihkan beberapa pos anggaran untuk pembelian sejumlah APD yang dibutuhkan. Namun yang jadi masalah adalah, sulitnya mencari APD yang sesuai dengan standar. APD yang dimiliki saat ini sebagian juga merupakan sumbangan dari berbagai pihak. Tetapi, tidak semua APD sesuai dengan standar keamanan. Namun begitu, karena terbatas, pihaknya tetap menggunakan APD tersebut, dengan harapan dapat meminimalisir risiko terjangkit virus.

Baca Juga :  Puskesmas Rawat Jalan Buka Kembali

Keterbatasan jumlah APD membuatnya putar otak, bagaimana agar mampu melakukan penghematan. Baju hazmat misalnya, dimungkinkan untuk digunakan ulang, jika dalam pengunaannya tidak terlalu berisiko tertempel virus. Tentu saja harus ada tindakan pembersihan terhadap baju hazmat dengan cairan disinfektan guna memastikan tidak ada lagi virus yang menempel. Sementara untuk baju hazmat yang dalam penggunaannya berisiko tinggi tertempel virus, maka dipastikan hanya akan dipakai sekali saja.

“Karena risiko tertular dari virus yang menempel dari APD juga tinggi. Saat akan melepas perlengkapan APD saja petugas harus berhati-hati,” kata dia.

Mau tidak mau, tambah dia, saat ini, terhadap pasien yang datang, diupayakan semaksimal mungkin penanganannya dilakukan sesuai penanganan covid-19, meski belum dilakukan tes. Apalagi pihaknya sudah punya pengalaman, yang mana, salah satu petugas pernah berkontak dengan seorang pasien, yang dikemudian hari ternyata berstatus PDP.  “Akhirnya petugas yang berkontak mengisolasi diri di rumah. Tetapi tidak lama, ada kelegaan ketika hasil rapid test menunjukkan tidak reaktif,” pungkas dia. (sti)

PONTIANAK – Minimnya ketersedian alat pelindung diri (APD), membuat para petugas kesehatan di pos pelayanan terdepan berhemat semaksimal mungkin. Kadang terpaksa menggunakan APD yang tidak terstandar, dengan harapan dapat lebih memperkecil penularan virus corona. Dari pada tidak menggunakan pengaman sama sekali.

Kekhawatiran jelas dirasakan para petugas kesehatan yang bekerja di pelayanan kesehatan terdepan. Nuzulisa, Kepala Puskesmas Gang Sehat, Pontianak Selatan menilai, pos pelayanan kesehatan terdepan, seperti puskesmas misalnya, punya resiko yang sama dengan mereka yang bekerja menangani pasien covid-19. Bahkan boleh jadi lebih berisiko, karena yang dihadapi tidak diketahui membawa virus corona atau tidak. Sementara, alat pelindung diri (APD) yang digunakan tidak selengkap standar yang digunakan para petugas yang menangani pasien covid-19.

“Kalau dibilang was-was, tentu kami sangat was-was. Yang dikhawatirkan itu adalah mereka yang boleh jadi OTG (orang tanpa gejala) atau carier,” ungkap dia, kepada Pontianak Post, Minggu (26/4).

Langkah antisipasi telah ia lakukan meski dengan sejumlah keterbatasan. Para pasien yang datang memeriksakan diri, terlebih dahulu dilakukan screening, untuk mengetahui ada atau tidaknya gejala covid, dan mengetahui riwayat perjalan pasien. Mereka juga akan diperiksa suhu tubuh, diharuskan menggunakan masker, serta mencuci tangan di tempat yang telah disediakan.

Baca Juga :  7 Pilkada di Kalbar, PAN Siapkan Kader Sendiri

Adapun petugas kesehatan yang dalam pelayannya diharuskan berkontak dengan pasien, diharuskan menggunakan APD. Karena keterbatasan jumlah APD, pihaknya pun membagi penggunaan APD sesuai dengan tingkatan risiko tertular. “Jika pelayanannya mengharuskan kontak yang buat risiko tertular semakin besar, maka APD yang digunakan harus lebih lengkap. Misalnya di poli yang terdapat tindakan membuka mulut, dan berpotensi mengeluarkan droplet, maka APD yang digunakan adalah yang lengkap,” jelas dia.

Minimnya ketersediaan APD diakui dia bukan karena minimnya anggaran untuk membeli. Pihaknya bahkan sudah mengalihkan beberapa pos anggaran untuk pembelian sejumlah APD yang dibutuhkan. Namun yang jadi masalah adalah, sulitnya mencari APD yang sesuai dengan standar. APD yang dimiliki saat ini sebagian juga merupakan sumbangan dari berbagai pihak. Tetapi, tidak semua APD sesuai dengan standar keamanan. Namun begitu, karena terbatas, pihaknya tetap menggunakan APD tersebut, dengan harapan dapat meminimalisir risiko terjangkit virus.

Baca Juga :  Wagub Kalbar Hadiri Hari Pers Nasional 2021 Secara Virtual

Keterbatasan jumlah APD membuatnya putar otak, bagaimana agar mampu melakukan penghematan. Baju hazmat misalnya, dimungkinkan untuk digunakan ulang, jika dalam pengunaannya tidak terlalu berisiko tertempel virus. Tentu saja harus ada tindakan pembersihan terhadap baju hazmat dengan cairan disinfektan guna memastikan tidak ada lagi virus yang menempel. Sementara untuk baju hazmat yang dalam penggunaannya berisiko tinggi tertempel virus, maka dipastikan hanya akan dipakai sekali saja.

“Karena risiko tertular dari virus yang menempel dari APD juga tinggi. Saat akan melepas perlengkapan APD saja petugas harus berhati-hati,” kata dia.

Mau tidak mau, tambah dia, saat ini, terhadap pasien yang datang, diupayakan semaksimal mungkin penanganannya dilakukan sesuai penanganan covid-19, meski belum dilakukan tes. Apalagi pihaknya sudah punya pengalaman, yang mana, salah satu petugas pernah berkontak dengan seorang pasien, yang dikemudian hari ternyata berstatus PDP.  “Akhirnya petugas yang berkontak mengisolasi diri di rumah. Tetapi tidak lama, ada kelegaan ketika hasil rapid test menunjukkan tidak reaktif,” pungkas dia. (sti)

Most Read

Artikel Terbaru

/