alexametrics
27.8 C
Pontianak
Wednesday, May 18, 2022

Kiprah Petugas Sensus Penduduk di Masa Pandemi

Sekadar Tahu

Penetapan Hari Statistik Nasional dilatarbelakangi dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1960 tentang Statistik pada 26 September 1960. Persetujuan Hari Statistik Nasional sendiri berdasarkan Surat Nomor B.259/M.Setneg/1996 tertanggal 12 Agustus 1996. Sejak saat itulah masyarakat Indonesia memperingati Hari Statistik Nasional setiap tanggal 26 September.

Dari Wejangan Pernikahan sampai Diberi Makanan Gratis

Beragam pengalaman menarik dialami oleh petugas sensus Badan Pusat Statistik (BPS) selama menjalankan tugas berkunjung dari rumah ke rumah. Ada yang disambut warga dengan hangat, adapula yang merasa terganggu akan kehadiran mereka. Tak sedikit warga yang dikunjungi justru curhat atau memberi wejangan kepada petugas sensus ini.

SITI SULBIYAH, Pontianak

FELICIA (22) dan petugas pendamping dari BPS hanya bisa saling berpandangan. Sesekali mereka menyunggingkan senyuman, seraya mengiyakan nasihat yang keluar dari pasangan suami-istri yang mereka kunjungi. Mereka yang seyogianya hanya melakukan verifikasi data kependudukan, justru mendapat curhatan sekaligus wejangan. Soal rumah tangga pula.

“Makanya dalam memilih pasangan, bisa jadi ketemu sama orang yang salah dulu, baru ketemu dengan orang yang tepat,” tutur Felicia meniru ucapan pasangan suami istri yang ia kunjungi rumahnya beberapa waktu yang lalu.

WAWANCARA: Petugas Sensus Penduduk 2020 saat mewawancarai warga yang didatanginya, tetap dengan mengenakan alat pelindung diri. SITI SULBIYAH/PONTIANAK POST

Nasihat itu keluar ketika keluarga itu menceritakan bahwa mereka belum memiliki Kartu Keluarga (KK), lantaran keduanya adalah pasangan yang pada saat menikah berstatus duda dan janda. Kepada petugas statistik tersebut, mereka sedikit menceritakan kegagalan mereka dalam rumah tangga mereka, sebelumnya dengan pasangan masing-masing.

“Makanya menikah jangan karena tren. Jangan ikut-ikutan,” tiru Felicia lagi, mengenang nasihat yang diberikan pasangan tersebut.

Wejengan sejenis bukannya sakali saja Felicia dapat ketika bertugas sekira 15 hari sebagai petugas sensus penduduk (SP). Wanita bertubuh kecil yang bertugas di beberapa RT di Kelurahan Sungai Bangkong, Kecamatan Pontianak Kota ini, kerap mendapatkan nasihat soal rumah tangga dari para warga yang ia kunjungi. Selain itu, banyak pengalaman menarik selama ia bertugas. Curhatan soal kondisi ekonomi keluarga misalnya.

“Ada juga yang minta jualkan produk, minta di-endors. Macam-macam pokoknya. Ada juga yang cerita soal kesulitan usaha di masa pandemi ini,” ucap dia.

Baca Juga :  Oknum Anggota Diduga Terlibat Perambahan Hutan, Mabes TNI Turun Tangan

Meski begitu, sebagai petugas sensus, ia harus tetap menunjukkan keramahannya. Alhasil banyak warga yang pada akhirnya juga membantu meringankan bebannya dalam menyelesaikan tugas. Petunjuk dari warga sedikit banyak membantunya melakukan verifikasi data kependudukan di lapangan.

Bantuan dari ketua atau pejabat RT juga dinilainya sangat membantu. Proses verifikasi dengan ketua RT inilah yang sebenarnya, diakui dia, membutuhkan waktu yang lebih lama. Walau terkadang ada saja keisengan yang dilakukan oleh ketua RT, namun dirinya tidak mempermasalahakan.

“Kadang ada itu RT yang iseng, ditawari makan dan tidak boleh pulang sebelum makanannya habis. Ada yang diajak foto bareng, lalu fotonya disebar ke grup RT. Tapi nggak ada yang sampai seperti apa. Mereka semua pada dasarnya baik-baik,” tutur dia,

Baginya, ada banyak pelajaran yang bisa diambil selama lebih dari dua minggu turun ke lapangan menemui warga. Tidak hanya mengasah kemampuan berbicara dan bersosialisasi, pertemuannya dengan banyak orang membuatnya sadar betapa beragamnya tabiat manusia. Dari para warga yang ia temui, ada banyak hikmah yang bisa ia petik.

Lain lagi cerita Muhammad Faqih (22). Siang itu matahari cukup terik. Meski begitu, ia harus menyelesaikan tugasnya memverifikasi data penduduk. Hari itu ia bertugas di beberapa RT di Kelurahan Benua Melayu Darat, Kecamatan Pontianak Selatan. Syukurnya, tugas dia melakukan sensus diringankan oleh warga sekitar yang menyambutnya dengan hangat.

“Pengalaman menarik ketika di RT 1, RT 2, dan RT 3, yang kebetulan adalah penduduk asli yang sudah menetap lama di sana. Mereka ramah dan menyambut saya dengan baik. Saya bahkan disajikan minuman teh. Saya juga sempat diberi makan siang oleh ibu RT,” kata Faqih.

Meski hanya pemberian yang sederhana, namun baginya, hal tersebut merupakan sebuah apresiasi yang luar biasa terhadap kerja-kerja para petugas statistik. Hal ini membuatnya semakin bersemangat menyelesaikan tugas.

Baca Juga :  Menko Airlangga: RI Kembali Masuk Negara Pendapatan Menengah Atas

Dia menceritakan, kadang harus berangkat pagi dan pulang hingga larut malam agar target yang diberikan tercapai. Panas dan hujan, mau tak mau kadang harus diterabasnya. “September ini lumayan banyak hujan. Tapi kadang harus turun juga. Saya ingat waktu itu lagi sensus ditemani sama Kepala BPS Kalbar. Kami terpaksa hujan-hujanan dan pakai payung,” tutur dia.

Namun tentu saja tak hanya suka yang ia rasakan selama menjalani tugasnya sebagai petugas sensus. Kesulitan selama menjalani tugas kurang lebih setengah bulan itu juga dirasakan. Terutama ketika sambutan yang diberikan oleh warga kurang berkenan, minimnya bantuan RT setempat, atau bahkan ada warga yang menolak untuk ditemui. Terlebih di masa pandemi Covid-19 seperti saat ini, sebagian warga agaknya melakukan pengetatan untuk menemui orang asing.

“Kadang ada yang meminta kita untuk pendataan cukup di luar saja. Dan tidak semua orang buka pintu,” kata dia.

Jika tidak bertemu warga yang mau diverifikasi datanya, maka ia harus kembali lagi ke lokasi yang sama di waktu yang lain. Bahkan pernah hingga malam hari. Padahal sebenarnya untuk melakukan verifikasi tersebut tidak membutuhkan waktu yang lama. Perkiraannya hanya butuh 1 – 2 menit saja. Tetapi yang menjadi lama, biasanya karena warga yang membutuhkan waktu untuk mencari KK mereka.

“Yang bikin lama itu kadang mereka mencari KK. Tapi kalau mereka sudah tahu di mana meletakkan KK-nya itu pasti cepat selesai,” tutur dia.

Melakukan sensus penduduk dan menemui warga secara langsung pada masa pandemi Covid-19 memang menjadi tantangan sendiri bagi dirinya. Menerapkan protokol kesehatan, mulai dari masker, pelindung wajah, hingga sarung tangan, kadang membuat dirinya tidak nyaman ketika harus digunakan dalam durasi waktu yang lama. Namun begitu, sebagai langkah antisipasi dan kemanan diri dan orang lain, ia harus disiplin menerapkan protokol kesehatan tersebut.

“Kami kadang juga jelaskan dan minta izin untuk menerapkan protokol kesehatan agar warga yang dikunjungi merasa nyaman,” tutup dia. (*)

Sekadar Tahu

Penetapan Hari Statistik Nasional dilatarbelakangi dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1960 tentang Statistik pada 26 September 1960. Persetujuan Hari Statistik Nasional sendiri berdasarkan Surat Nomor B.259/M.Setneg/1996 tertanggal 12 Agustus 1996. Sejak saat itulah masyarakat Indonesia memperingati Hari Statistik Nasional setiap tanggal 26 September.

Dari Wejangan Pernikahan sampai Diberi Makanan Gratis

Beragam pengalaman menarik dialami oleh petugas sensus Badan Pusat Statistik (BPS) selama menjalankan tugas berkunjung dari rumah ke rumah. Ada yang disambut warga dengan hangat, adapula yang merasa terganggu akan kehadiran mereka. Tak sedikit warga yang dikunjungi justru curhat atau memberi wejangan kepada petugas sensus ini.

SITI SULBIYAH, Pontianak

FELICIA (22) dan petugas pendamping dari BPS hanya bisa saling berpandangan. Sesekali mereka menyunggingkan senyuman, seraya mengiyakan nasihat yang keluar dari pasangan suami-istri yang mereka kunjungi. Mereka yang seyogianya hanya melakukan verifikasi data kependudukan, justru mendapat curhatan sekaligus wejangan. Soal rumah tangga pula.

“Makanya dalam memilih pasangan, bisa jadi ketemu sama orang yang salah dulu, baru ketemu dengan orang yang tepat,” tutur Felicia meniru ucapan pasangan suami istri yang ia kunjungi rumahnya beberapa waktu yang lalu.

WAWANCARA: Petugas Sensus Penduduk 2020 saat mewawancarai warga yang didatanginya, tetap dengan mengenakan alat pelindung diri. SITI SULBIYAH/PONTIANAK POST

Nasihat itu keluar ketika keluarga itu menceritakan bahwa mereka belum memiliki Kartu Keluarga (KK), lantaran keduanya adalah pasangan yang pada saat menikah berstatus duda dan janda. Kepada petugas statistik tersebut, mereka sedikit menceritakan kegagalan mereka dalam rumah tangga mereka, sebelumnya dengan pasangan masing-masing.

“Makanya menikah jangan karena tren. Jangan ikut-ikutan,” tiru Felicia lagi, mengenang nasihat yang diberikan pasangan tersebut.

Wejengan sejenis bukannya sakali saja Felicia dapat ketika bertugas sekira 15 hari sebagai petugas sensus penduduk (SP). Wanita bertubuh kecil yang bertugas di beberapa RT di Kelurahan Sungai Bangkong, Kecamatan Pontianak Kota ini, kerap mendapatkan nasihat soal rumah tangga dari para warga yang ia kunjungi. Selain itu, banyak pengalaman menarik selama ia bertugas. Curhatan soal kondisi ekonomi keluarga misalnya.

“Ada juga yang minta jualkan produk, minta di-endors. Macam-macam pokoknya. Ada juga yang cerita soal kesulitan usaha di masa pandemi ini,” ucap dia.

Baca Juga :  Denzibang 2 Palangkaraya Ajak Masyarakat Bersih Lingkungan

Meski begitu, sebagai petugas sensus, ia harus tetap menunjukkan keramahannya. Alhasil banyak warga yang pada akhirnya juga membantu meringankan bebannya dalam menyelesaikan tugas. Petunjuk dari warga sedikit banyak membantunya melakukan verifikasi data kependudukan di lapangan.

Bantuan dari ketua atau pejabat RT juga dinilainya sangat membantu. Proses verifikasi dengan ketua RT inilah yang sebenarnya, diakui dia, membutuhkan waktu yang lebih lama. Walau terkadang ada saja keisengan yang dilakukan oleh ketua RT, namun dirinya tidak mempermasalahakan.

“Kadang ada itu RT yang iseng, ditawari makan dan tidak boleh pulang sebelum makanannya habis. Ada yang diajak foto bareng, lalu fotonya disebar ke grup RT. Tapi nggak ada yang sampai seperti apa. Mereka semua pada dasarnya baik-baik,” tutur dia,

Baginya, ada banyak pelajaran yang bisa diambil selama lebih dari dua minggu turun ke lapangan menemui warga. Tidak hanya mengasah kemampuan berbicara dan bersosialisasi, pertemuannya dengan banyak orang membuatnya sadar betapa beragamnya tabiat manusia. Dari para warga yang ia temui, ada banyak hikmah yang bisa ia petik.

Lain lagi cerita Muhammad Faqih (22). Siang itu matahari cukup terik. Meski begitu, ia harus menyelesaikan tugasnya memverifikasi data penduduk. Hari itu ia bertugas di beberapa RT di Kelurahan Benua Melayu Darat, Kecamatan Pontianak Selatan. Syukurnya, tugas dia melakukan sensus diringankan oleh warga sekitar yang menyambutnya dengan hangat.

“Pengalaman menarik ketika di RT 1, RT 2, dan RT 3, yang kebetulan adalah penduduk asli yang sudah menetap lama di sana. Mereka ramah dan menyambut saya dengan baik. Saya bahkan disajikan minuman teh. Saya juga sempat diberi makan siang oleh ibu RT,” kata Faqih.

Meski hanya pemberian yang sederhana, namun baginya, hal tersebut merupakan sebuah apresiasi yang luar biasa terhadap kerja-kerja para petugas statistik. Hal ini membuatnya semakin bersemangat menyelesaikan tugas.

Baca Juga :  PPKM Semestinya Tak Tutup Jalan

Dia menceritakan, kadang harus berangkat pagi dan pulang hingga larut malam agar target yang diberikan tercapai. Panas dan hujan, mau tak mau kadang harus diterabasnya. “September ini lumayan banyak hujan. Tapi kadang harus turun juga. Saya ingat waktu itu lagi sensus ditemani sama Kepala BPS Kalbar. Kami terpaksa hujan-hujanan dan pakai payung,” tutur dia.

Namun tentu saja tak hanya suka yang ia rasakan selama menjalani tugasnya sebagai petugas sensus. Kesulitan selama menjalani tugas kurang lebih setengah bulan itu juga dirasakan. Terutama ketika sambutan yang diberikan oleh warga kurang berkenan, minimnya bantuan RT setempat, atau bahkan ada warga yang menolak untuk ditemui. Terlebih di masa pandemi Covid-19 seperti saat ini, sebagian warga agaknya melakukan pengetatan untuk menemui orang asing.

“Kadang ada yang meminta kita untuk pendataan cukup di luar saja. Dan tidak semua orang buka pintu,” kata dia.

Jika tidak bertemu warga yang mau diverifikasi datanya, maka ia harus kembali lagi ke lokasi yang sama di waktu yang lain. Bahkan pernah hingga malam hari. Padahal sebenarnya untuk melakukan verifikasi tersebut tidak membutuhkan waktu yang lama. Perkiraannya hanya butuh 1 – 2 menit saja. Tetapi yang menjadi lama, biasanya karena warga yang membutuhkan waktu untuk mencari KK mereka.

“Yang bikin lama itu kadang mereka mencari KK. Tapi kalau mereka sudah tahu di mana meletakkan KK-nya itu pasti cepat selesai,” tutur dia.

Melakukan sensus penduduk dan menemui warga secara langsung pada masa pandemi Covid-19 memang menjadi tantangan sendiri bagi dirinya. Menerapkan protokol kesehatan, mulai dari masker, pelindung wajah, hingga sarung tangan, kadang membuat dirinya tidak nyaman ketika harus digunakan dalam durasi waktu yang lama. Namun begitu, sebagai langkah antisipasi dan kemanan diri dan orang lain, ia harus disiplin menerapkan protokol kesehatan tersebut.

“Kami kadang juga jelaskan dan minta izin untuk menerapkan protokol kesehatan agar warga yang dikunjungi merasa nyaman,” tutup dia. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/