alexametrics
27.8 C
Pontianak
Thursday, July 7, 2022

Gerhana Cincin Pukau Warga

Gelar Salat Kusuf hingga Nobar

PONTIANAK – Fenomena langka Gerhana Matahari Cincin (GMC) terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk Kalimantan Barat.  Fenomena ini disambut antusias warga. Warga menyaksikan gerhana matahari dengan menggunakan sejumlah kacamata khusus yang dilapisi negatif film. Di media sosial, foto-foto gerhana matahari yang diabadikan warga berseliweran. Menandakan fenomena ini menjadi perhatian masyarakat.

Di Pontianak, ratusan jemaah melaksanakan salat khusuf atau salat gerhana di Masjid Raya Mujahidin, Kamis (26/12). Warga, baik laki-laki maupun perempuan yang terdiri dari berbagai usia itu ramai berdatangan sebelum pelaksanaan salat zuhur.

Salat gerhananya sendiri dilaksanakan bakda salat zuhur berjamaah. Salat sunah dua rakaat tersebut dilaksanakan bertepatan dengan terjadinya gerhana matahari cincin (GMC) yang melintasi berbagai wilayah di Indonesia.

Bertindak sebagai imam dan khatib yakni imam tetap Masjid Raya Mujahidin Ustaz H Mahsuf Nahyus. Dalam khotbahnya, Ustaz Mahsuf Nahyus menyampaikan tentang bagaimana umat Islam wajib mengagumi kebesaran Allah SWT. Menurut Mahsuf, gerhana, baik bulan maupun matahari, merupakan salah satu tanda dari kebesaran Allah SWT sebagai pencipta alam semesta beserta isinya.

Salah satu warga Ahmad (29) mengaku bersyukur bisa mengikuti ibadah salat gerhana berjamaah. Sebab fenomena ini dinilai menjadi momen yang langka dan mungkin tidak semua orang bisa mengalaminya. “Tentu hikmahnya, bagaimana kita semakin yakin dan percaya atas kebesaran Allah SWT,” katanya.

Di Singkawang, warga menyemut di depan halaman Pekong tengah kota. Mereka menunggu gerhana bergerak membentuk bentuk cincin. Suasana semakin ramai pasalnya hawa dingin diiringi angin sepoi-sepoi membuat warga betah berdiri di tengah jalan, meski terik matahari menyinari bumi.

Salah satu warga yang menyaksikan, Rustam mengaku senang bisa melihat fenomena ini. Ia dapat melihat perlahan matahari tertutup oleh bulan. “Kan kejadian langka jadi senang bisa melihat langsung bersama keluarga,” ujar warga Semparuk yang datang ke Singkawang ini.

Ia mengatakan Singkawang beruntung bisa melihat fenomena ini secara sempurna, meski hanya hitungan menit saja. “Ternyata selain gelap, yang tadinya panas jadi dingin. Subhanallah, ini keajaiban Tuhan,” katanya.

Baca Juga :  Sinergikan SMK dengan Industri dan Dunia Kerja Melalui Sistem Informasi Bisa Kerja 

Deputi Bidang Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Muhamad Sadly mengatakan GMC merupakan persitiwa ketika matahari, bulan, dan bumi tepat segaris. Pada saat itu piringan bulan yang teramati dari bumi lebih kecil daripada piringan matahari. ”Akibatnya, saat puncak gerhana, Matahari akan tampak seperti cincin yaitu gelap di bagian tengahnya dan terang di bagian pinggirnya. Biasanya, saat fase cincin terjadi kecerlangan langit akan meredup sehingga seperti fajar atau senja,” ucapnya.

GMC yang terjadi kemarin hanya melintasi sebagian wilayah Kalimantan dan Sumatera, antara lain, sebagian wilayah provinsi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Timur. “Daerah di luar jalur cincin akan bisa menyaksikan gerhana matahari sebagian,” ungkap Astronom Komunikator, Avivah Yamani.

Jalur GMC dimulai dari semenanjung arab dan terus ke Indonesia sebelum akhirnya berakhir di perairan Pasifik. Di Indonesia, lanjut dia, lokasi pertama yang mengalami GMC adalah Pulau Simeuleu, Aceh, dan lokasi terakhir ada di Pulau Maratua, Kalimantan Timur.

Wilayah Indonesia yang dilewati GMC 2019 adalah Pulau Simeuleu, Pulau Tuangku, Pulau Bangkaru, sebagian kecil Pulau Nias, Pulau Musala, Singkil, Sibolga, Tarutung, Sipirok, Padangsidempuan, Duri, Siak, Karimunbesar, Batam, Bengkalis, Bintan, Tanjung Pinang, Singkawang, Pemangkat, Entikong, Sambas, dan Tanjung Selor. “Untuk di Singkawang, gerhana matahari cincin yang terjadi hampir 94 persen matahari yang tertutup,” kata dia.

Bagi pengamat di bumi, lanjut dia, matahari akan tampak seperti cincin api di langit. Saat gerhana matahari cincin, maka langit siang yang terang akan perlahan berubah seperti senja di sore hari.

Menurutnya, Gerhana matahari memang peristiwa yang selalu terjadi setiap tahun. Akan tetapi, wilayah yang dilintasi tidak selalu tepat sama. Terakhir kali Gerhana Matahari Cincin melintasi Indonesia terjadi satu dekade lalu pada tanggal 26 Januari 2009.

“Secara umum tidak ada perbedaan GMC yang sebelum-sebelumnya. Cuma cakupan seberapa besar matahari tertutup itu biasanya berbeda-beda,” kata dia.

Gerhana ini merupakan yang kelima kalinya di tahun ini,  Selama tahun 2019, terjadi lima gerhana dengan konfigurasi tiga gerhana matahari dan dua gerhana bulan. Gerhana matahari sebagian terjadi pada 6 Januari 2019, disusul gerhana total 2 Juli dan gerhana cincin di pengujung tahun 2019, atau tepatnya 26 Desember. Untuk gerhana bulan, akan ada 2 gerhana yang terdiri dari gerhana bulan total tanggal 21-22 Januari dan gerhana bulan sebagian 16 Juli.

Baca Juga :  Vaksinasi Bisa Diberikan Saat Ramadan

Deputi Bidang Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Muhamad Sadly mengatakan, ke depan GMC yang akan teramati di Indonesia pada 21 Mei 2031. Artinya masih 12 tahun lagi. Jika kota yang kemarin bisa melihat GMC ada 25 kota, maka pada 21 Mei 2031 nanti GMC akan melewati Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Jalur yang dilalui GMC menurut Sadly memang berbeda-beda.

”Secara  umum,  gerhana  dapat  diprediksi  waktu  dan  tempat  kejadiannya.  Untuk  memprediksi keberulangannya  secara  global,  gerhana  dikelompokkan  ke  dalam  suatu  kelompok  yang  disebut siklus Saros tertentu,” ungkap nya.

Sebetulnya, untuk gerhana matahari sendiri bakal terjadi di semua wilayah. Namun hanya beberapa wilayah saja yang bisa melihat. Kemarin durasi terlama berada di Selat Panjang, Riau, yakni 3 menit 38,9 detik. Magnitudonya pun terbesar.

Sementara itu di luar negeri, hal itu bisa dilihat di beberapa negara. Menurut BMKG wilayah yang terlewati jalur cincin pada GMC kemarin adalah Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Oman, India, Srilangka, Samudra India, Singapura, Malaysia, dan Samudera Pasifik.

Proses gerhana matahari cincin dapat dibagi menjadi empat tahap. Yang terlihat pertama adalah saat piringan matahari mulai tampak tertutupi bulan. Fase kedua masuk ketika piringan matahari mulai tertutup oleh seluruh piringan bulan. Fase ini disebut fase cincin. Puncaknya ketika piringan matahari tertutup bulan paling maksimum. Fase terakhir atau kontak keempat ketika bulan berangsur-angsur tidak menutupi matahari.

Sayangnya, mengamati gerhana tak boleh dengan mata telanjang. Bahkan alat-alat seperti kaca mata hitam, film foto, dan sebagainya pun tak boleh. Risikonya jika bandel maka mata akan sakit. Sinar ultra violet dari matahari yang tajam dapat menyebabkan sakit mata sampai dengan buta. (bar/har/sti/lyn/mia)

Gelar Salat Kusuf hingga Nobar

PONTIANAK – Fenomena langka Gerhana Matahari Cincin (GMC) terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk Kalimantan Barat.  Fenomena ini disambut antusias warga. Warga menyaksikan gerhana matahari dengan menggunakan sejumlah kacamata khusus yang dilapisi negatif film. Di media sosial, foto-foto gerhana matahari yang diabadikan warga berseliweran. Menandakan fenomena ini menjadi perhatian masyarakat.

Di Pontianak, ratusan jemaah melaksanakan salat khusuf atau salat gerhana di Masjid Raya Mujahidin, Kamis (26/12). Warga, baik laki-laki maupun perempuan yang terdiri dari berbagai usia itu ramai berdatangan sebelum pelaksanaan salat zuhur.

Salat gerhananya sendiri dilaksanakan bakda salat zuhur berjamaah. Salat sunah dua rakaat tersebut dilaksanakan bertepatan dengan terjadinya gerhana matahari cincin (GMC) yang melintasi berbagai wilayah di Indonesia.

Bertindak sebagai imam dan khatib yakni imam tetap Masjid Raya Mujahidin Ustaz H Mahsuf Nahyus. Dalam khotbahnya, Ustaz Mahsuf Nahyus menyampaikan tentang bagaimana umat Islam wajib mengagumi kebesaran Allah SWT. Menurut Mahsuf, gerhana, baik bulan maupun matahari, merupakan salah satu tanda dari kebesaran Allah SWT sebagai pencipta alam semesta beserta isinya.

Salah satu warga Ahmad (29) mengaku bersyukur bisa mengikuti ibadah salat gerhana berjamaah. Sebab fenomena ini dinilai menjadi momen yang langka dan mungkin tidak semua orang bisa mengalaminya. “Tentu hikmahnya, bagaimana kita semakin yakin dan percaya atas kebesaran Allah SWT,” katanya.

Di Singkawang, warga menyemut di depan halaman Pekong tengah kota. Mereka menunggu gerhana bergerak membentuk bentuk cincin. Suasana semakin ramai pasalnya hawa dingin diiringi angin sepoi-sepoi membuat warga betah berdiri di tengah jalan, meski terik matahari menyinari bumi.

Salah satu warga yang menyaksikan, Rustam mengaku senang bisa melihat fenomena ini. Ia dapat melihat perlahan matahari tertutup oleh bulan. “Kan kejadian langka jadi senang bisa melihat langsung bersama keluarga,” ujar warga Semparuk yang datang ke Singkawang ini.

Ia mengatakan Singkawang beruntung bisa melihat fenomena ini secara sempurna, meski hanya hitungan menit saja. “Ternyata selain gelap, yang tadinya panas jadi dingin. Subhanallah, ini keajaiban Tuhan,” katanya.

Baca Juga :  Anak Terlibat Jual Beli Sabu 

Deputi Bidang Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Muhamad Sadly mengatakan GMC merupakan persitiwa ketika matahari, bulan, dan bumi tepat segaris. Pada saat itu piringan bulan yang teramati dari bumi lebih kecil daripada piringan matahari. ”Akibatnya, saat puncak gerhana, Matahari akan tampak seperti cincin yaitu gelap di bagian tengahnya dan terang di bagian pinggirnya. Biasanya, saat fase cincin terjadi kecerlangan langit akan meredup sehingga seperti fajar atau senja,” ucapnya.

GMC yang terjadi kemarin hanya melintasi sebagian wilayah Kalimantan dan Sumatera, antara lain, sebagian wilayah provinsi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Timur. “Daerah di luar jalur cincin akan bisa menyaksikan gerhana matahari sebagian,” ungkap Astronom Komunikator, Avivah Yamani.

Jalur GMC dimulai dari semenanjung arab dan terus ke Indonesia sebelum akhirnya berakhir di perairan Pasifik. Di Indonesia, lanjut dia, lokasi pertama yang mengalami GMC adalah Pulau Simeuleu, Aceh, dan lokasi terakhir ada di Pulau Maratua, Kalimantan Timur.

Wilayah Indonesia yang dilewati GMC 2019 adalah Pulau Simeuleu, Pulau Tuangku, Pulau Bangkaru, sebagian kecil Pulau Nias, Pulau Musala, Singkil, Sibolga, Tarutung, Sipirok, Padangsidempuan, Duri, Siak, Karimunbesar, Batam, Bengkalis, Bintan, Tanjung Pinang, Singkawang, Pemangkat, Entikong, Sambas, dan Tanjung Selor. “Untuk di Singkawang, gerhana matahari cincin yang terjadi hampir 94 persen matahari yang tertutup,” kata dia.

Bagi pengamat di bumi, lanjut dia, matahari akan tampak seperti cincin api di langit. Saat gerhana matahari cincin, maka langit siang yang terang akan perlahan berubah seperti senja di sore hari.

Menurutnya, Gerhana matahari memang peristiwa yang selalu terjadi setiap tahun. Akan tetapi, wilayah yang dilintasi tidak selalu tepat sama. Terakhir kali Gerhana Matahari Cincin melintasi Indonesia terjadi satu dekade lalu pada tanggal 26 Januari 2009.

“Secara umum tidak ada perbedaan GMC yang sebelum-sebelumnya. Cuma cakupan seberapa besar matahari tertutup itu biasanya berbeda-beda,” kata dia.

Gerhana ini merupakan yang kelima kalinya di tahun ini,  Selama tahun 2019, terjadi lima gerhana dengan konfigurasi tiga gerhana matahari dan dua gerhana bulan. Gerhana matahari sebagian terjadi pada 6 Januari 2019, disusul gerhana total 2 Juli dan gerhana cincin di pengujung tahun 2019, atau tepatnya 26 Desember. Untuk gerhana bulan, akan ada 2 gerhana yang terdiri dari gerhana bulan total tanggal 21-22 Januari dan gerhana bulan sebagian 16 Juli.

Baca Juga :  Ratusan Jemaah Ikut Salat Kusuf

Deputi Bidang Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Muhamad Sadly mengatakan, ke depan GMC yang akan teramati di Indonesia pada 21 Mei 2031. Artinya masih 12 tahun lagi. Jika kota yang kemarin bisa melihat GMC ada 25 kota, maka pada 21 Mei 2031 nanti GMC akan melewati Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Jalur yang dilalui GMC menurut Sadly memang berbeda-beda.

”Secara  umum,  gerhana  dapat  diprediksi  waktu  dan  tempat  kejadiannya.  Untuk  memprediksi keberulangannya  secara  global,  gerhana  dikelompokkan  ke  dalam  suatu  kelompok  yang  disebut siklus Saros tertentu,” ungkap nya.

Sebetulnya, untuk gerhana matahari sendiri bakal terjadi di semua wilayah. Namun hanya beberapa wilayah saja yang bisa melihat. Kemarin durasi terlama berada di Selat Panjang, Riau, yakni 3 menit 38,9 detik. Magnitudonya pun terbesar.

Sementara itu di luar negeri, hal itu bisa dilihat di beberapa negara. Menurut BMKG wilayah yang terlewati jalur cincin pada GMC kemarin adalah Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Oman, India, Srilangka, Samudra India, Singapura, Malaysia, dan Samudera Pasifik.

Proses gerhana matahari cincin dapat dibagi menjadi empat tahap. Yang terlihat pertama adalah saat piringan matahari mulai tampak tertutupi bulan. Fase kedua masuk ketika piringan matahari mulai tertutup oleh seluruh piringan bulan. Fase ini disebut fase cincin. Puncaknya ketika piringan matahari tertutup bulan paling maksimum. Fase terakhir atau kontak keempat ketika bulan berangsur-angsur tidak menutupi matahari.

Sayangnya, mengamati gerhana tak boleh dengan mata telanjang. Bahkan alat-alat seperti kaca mata hitam, film foto, dan sebagainya pun tak boleh. Risikonya jika bandel maka mata akan sakit. Sinar ultra violet dari matahari yang tajam dapat menyebabkan sakit mata sampai dengan buta. (bar/har/sti/lyn/mia)

Most Read

Artikel Terbaru

/