alexametrics
26.7 C
Pontianak
Wednesday, May 25, 2022

Temuan Prostitusi Anak Bawah Umur

Hotel Harus Diberi Sanksi

PONTIANAK-Anggota DPRD Kota Pontianak Bebby Nailufa menyayangkan tingginya kasus prostitusi online belakangan ini. Ia memandang pihak hotel ikut bertanggung jawab dalam persoalan yang melibatkan anak-anak di bawah umur. Pemanggilan pihak hotel oleh DPRD guna meminta penjelasan pun rencana akan dilakukan dalam waktu dekat.

“Saya miris melihat temuan kasus prostitusi online yang melibatkan anak di bawah umur. Baru-baru ini kasusnya kembali ditemukan dengan melibatkan anak di bawah umur,” ungkap Anggota DPRD Kota Pontianak Bebby Nailufa, Sabtu (26/12).

Terjadinya transaksi protitusi online dengan melibatkan anak di bawah umur, pandangan Bebby sangat disayangkan. Apalagi Kota Pontianak berpredikat sebagai Kota Layak Anak. Temuan kasus ini, mesti dijadikan cambuk bagi pemerintah. Evaluasi mesti dilakukan. Untuk menelusuri persoalan ini, mesti ada sinergi dari semua pihak. Dimulai dari pemerintah dengan penguatan regulasi dan pengawasan. Kemudian pihak hotel sebagai tempat yang kerap digunakan sebagai tempat transaksi bisnis lendir ini mesti menjalankan aturan yang telah ditetapkan.

Jika pihak hotel justru menyediakan ruang buat anak-anak dibawah umur melakukan transaksi seks, harusnya Pemerintah jangan tinggal diam. “Harus ada sanksi keras. Jika perlu cabut perizinannya,” tegas politisi Golkar. Seperti yang sempat viral kemarin. Anak-anak di bawah umur bahkan sudah membuat list bokingan untuk malam tahun baru. Parahnya lagi, tarif harga yang mereka patok mulai dari Rp 150-Rp300 ribu. “Ini sangat miris,” ujarnya. Menyoal pihak hotel yang kedapatan menyediakan tempat buat transaksi protitusi online di bawah umur, tentunya akan disampaikan Bebby ke komisi terkait, “Saya sudah titipkan ini agar dibahas di Komisi IV. Kemungkinan dalam waktu dekatan pihak asosiasi hotel akan kami panggil,” tandasnya.

Baca Juga :  Menjelang Idul Fitri, Arief Rinaldi Dorong Pemerintah Siapkan Atribut Memutuskan Mata Rantai Covid-19

Razia Hotel

Sementara itu Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP) Kota Pontianak melakukan razia penyakit masyarakat di hotel beberapa hotel.  Sabtu dini hari (26/12). Razia dilakukan bersama tim gabungan dari TNI dan Polisi. Hotel pertama yang diperiksa yakni B di Jalan Merdeka, Kecamatan Pontianak Kota.  Dari razia itu, tim gabungan berhasil mengamankan empat pasangan bukan suami istri. Dimana satu pasangan diantaranya diketahui terdapat oknum aparat bersama teman wanitanya.

Tak hanya itu, saat razia sedang berlangsung. Seorang wanita yang menginap di salah satu kamar di lantai empat terjun dari jendela. Wanita yang belum diketahui identitasnya itu, terjatuh ke dalam saluran air hingga mengakibatkan tangan kanannya patah.  Aksi nekat wanita itu diduga karena ketakutan akan dirazia. Setelah dievakuasi, ia kemudian dibawa menuju rumah sakit menggunakan mobil ambulans.

Dari hotel B, tim gabungan yang dipimpin Kasat Pol PP Kota Pontianak, Syarifah Adriana dan Wakil Walikota Pontianak, Bahasan kembali melakukan pengecekan di hotel MH di Jalan Soeprapto, Kecamatan Pontianak Selatan. Razia yang dilakukan di hotel MH, petugas berhasil mendapati dua pasangan di luar nikah di dalam satu kamar. Dimana gadis yang ditemukan masih dibawah umur. Dari MH, razia dilakukan di hotel N. Tiga pasangan diluar nikah berhasil diamankan. Sementara di hotel A, petugas kembali mengamankan enam pasangan kumpul kebo.

Baca Juga :  Nyaris Bentrok, Suarakan Migor, BBM hinga Masa Jabatan Presiden

Wakil Walikota Pontianak, Bahasan, mengatakan, razia yang dilakukan pemerintah Pontianak adalah upaya untuk menekan prostitusi anak yang terjadi di hotel. “Kasus prostitusi anak inikan sudah viral dan marak. Sehingga monitoring ini dilakukan untuk menekan dan memastikan tidak ada hotel yang disalahgunakan,” kata Bahasan.

Kasat Pol PP Kota Pontianak, Syarifah Adriana, mengatakan, dari empat hotel yang dilakukan pemeriksaan, ditemukan sebelas pasangan diluar nikah, satu diantaranya yakni ditemukan seorang wanita masih dibawah umur.  Syarifah Adriana menyatakan, mereka yang terjaring razia akan dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan daerah (Perda) nomor 11 tahun 2019.  “Tadi ada salah wania yang diamankan bersama pasangannya. Setelah dicek identitas dirinya, usianya masih 17 tahun,” kata Syarifah Adriana.

Syarifah Adriana menegaskan, terhadap hotel yang diketahui membiarkan aktivitas asusila atau prostitusi akan diberikan sanksi. Mulai dari denda sebesar Rp500 ribu, sidang tindak pidana ringan hingga penutupan.  Syarifah Adriana menuturkan, ketika razia dilakukan di hotel B, ada salah satu penghuni kamar yang sebenarnya belum sempat diperiksa tetapi karena takut, melakukan tindakan melompat dari lantai empat.

Padahal, lanjut dia, saat tim masuk kedalam kamar, ada seorang laki-laki yang dinterogasi mengaku menginap sendiri. Tetapi setelah diperiksa, ditemukan pakaian dalam wanita.  “Waktu ditemukan pakaian dalam, barulah pria itu menangis memberi tahu jika pasangannya terjun dari jendela,” ungkapnya. (iza/adg)

Hotel Harus Diberi Sanksi

PONTIANAK-Anggota DPRD Kota Pontianak Bebby Nailufa menyayangkan tingginya kasus prostitusi online belakangan ini. Ia memandang pihak hotel ikut bertanggung jawab dalam persoalan yang melibatkan anak-anak di bawah umur. Pemanggilan pihak hotel oleh DPRD guna meminta penjelasan pun rencana akan dilakukan dalam waktu dekat.

“Saya miris melihat temuan kasus prostitusi online yang melibatkan anak di bawah umur. Baru-baru ini kasusnya kembali ditemukan dengan melibatkan anak di bawah umur,” ungkap Anggota DPRD Kota Pontianak Bebby Nailufa, Sabtu (26/12).

Terjadinya transaksi protitusi online dengan melibatkan anak di bawah umur, pandangan Bebby sangat disayangkan. Apalagi Kota Pontianak berpredikat sebagai Kota Layak Anak. Temuan kasus ini, mesti dijadikan cambuk bagi pemerintah. Evaluasi mesti dilakukan. Untuk menelusuri persoalan ini, mesti ada sinergi dari semua pihak. Dimulai dari pemerintah dengan penguatan regulasi dan pengawasan. Kemudian pihak hotel sebagai tempat yang kerap digunakan sebagai tempat transaksi bisnis lendir ini mesti menjalankan aturan yang telah ditetapkan.

Jika pihak hotel justru menyediakan ruang buat anak-anak dibawah umur melakukan transaksi seks, harusnya Pemerintah jangan tinggal diam. “Harus ada sanksi keras. Jika perlu cabut perizinannya,” tegas politisi Golkar. Seperti yang sempat viral kemarin. Anak-anak di bawah umur bahkan sudah membuat list bokingan untuk malam tahun baru. Parahnya lagi, tarif harga yang mereka patok mulai dari Rp 150-Rp300 ribu. “Ini sangat miris,” ujarnya. Menyoal pihak hotel yang kedapatan menyediakan tempat buat transaksi protitusi online di bawah umur, tentunya akan disampaikan Bebby ke komisi terkait, “Saya sudah titipkan ini agar dibahas di Komisi IV. Kemungkinan dalam waktu dekatan pihak asosiasi hotel akan kami panggil,” tandasnya.

Baca Juga :  Prostitusi Online Kian Marak, Kejahatan Seksual Hantui Anak

Razia Hotel

Sementara itu Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP) Kota Pontianak melakukan razia penyakit masyarakat di hotel beberapa hotel.  Sabtu dini hari (26/12). Razia dilakukan bersama tim gabungan dari TNI dan Polisi. Hotel pertama yang diperiksa yakni B di Jalan Merdeka, Kecamatan Pontianak Kota.  Dari razia itu, tim gabungan berhasil mengamankan empat pasangan bukan suami istri. Dimana satu pasangan diantaranya diketahui terdapat oknum aparat bersama teman wanitanya.

Tak hanya itu, saat razia sedang berlangsung. Seorang wanita yang menginap di salah satu kamar di lantai empat terjun dari jendela. Wanita yang belum diketahui identitasnya itu, terjatuh ke dalam saluran air hingga mengakibatkan tangan kanannya patah.  Aksi nekat wanita itu diduga karena ketakutan akan dirazia. Setelah dievakuasi, ia kemudian dibawa menuju rumah sakit menggunakan mobil ambulans.

Dari hotel B, tim gabungan yang dipimpin Kasat Pol PP Kota Pontianak, Syarifah Adriana dan Wakil Walikota Pontianak, Bahasan kembali melakukan pengecekan di hotel MH di Jalan Soeprapto, Kecamatan Pontianak Selatan. Razia yang dilakukan di hotel MH, petugas berhasil mendapati dua pasangan di luar nikah di dalam satu kamar. Dimana gadis yang ditemukan masih dibawah umur. Dari MH, razia dilakukan di hotel N. Tiga pasangan diluar nikah berhasil diamankan. Sementara di hotel A, petugas kembali mengamankan enam pasangan kumpul kebo.

Baca Juga :  Kementerian PUPR Benahi 396 Rumah Tak Layak Huni

Wakil Walikota Pontianak, Bahasan, mengatakan, razia yang dilakukan pemerintah Pontianak adalah upaya untuk menekan prostitusi anak yang terjadi di hotel. “Kasus prostitusi anak inikan sudah viral dan marak. Sehingga monitoring ini dilakukan untuk menekan dan memastikan tidak ada hotel yang disalahgunakan,” kata Bahasan.

Kasat Pol PP Kota Pontianak, Syarifah Adriana, mengatakan, dari empat hotel yang dilakukan pemeriksaan, ditemukan sebelas pasangan diluar nikah, satu diantaranya yakni ditemukan seorang wanita masih dibawah umur.  Syarifah Adriana menyatakan, mereka yang terjaring razia akan dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan daerah (Perda) nomor 11 tahun 2019.  “Tadi ada salah wania yang diamankan bersama pasangannya. Setelah dicek identitas dirinya, usianya masih 17 tahun,” kata Syarifah Adriana.

Syarifah Adriana menegaskan, terhadap hotel yang diketahui membiarkan aktivitas asusila atau prostitusi akan diberikan sanksi. Mulai dari denda sebesar Rp500 ribu, sidang tindak pidana ringan hingga penutupan.  Syarifah Adriana menuturkan, ketika razia dilakukan di hotel B, ada salah satu penghuni kamar yang sebenarnya belum sempat diperiksa tetapi karena takut, melakukan tindakan melompat dari lantai empat.

Padahal, lanjut dia, saat tim masuk kedalam kamar, ada seorang laki-laki yang dinterogasi mengaku menginap sendiri. Tetapi setelah diperiksa, ditemukan pakaian dalam wanita.  “Waktu ditemukan pakaian dalam, barulah pria itu menangis memberi tahu jika pasangannya terjun dari jendela,” ungkapnya. (iza/adg)

Most Read

Artikel Terbaru

/