alexametrics
25 C
Pontianak
Tuesday, June 28, 2022

Kalahkan Arwana-Ruai, Kini Hampir Punah dan Tak Dikenal

Di Balik Pembuatan Maskot Kalbar Enggang Gading

Sebagai maskot Kalimantan Barat, gambar burung Enggang Gading dan buah Tengkawang Tungkul mudah dijumpai di mana-mana. Terdapat pada lukisan di hotel-hotel, perkantoran, hingga di seragam batik. Tapi tahukah Anda bahwa membuatnya menjadi ikon Kalbar perlu perjuangan berat.

ARISTONO, Pontianak

ABDUL Halim Ramli ingat betul perdebatan penentuan maskot Kalbar pada tahun 1988 di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kalbar. Waktu itu fraksi-fraksi dan para ahli saling adu argumen untuk menjebolkan hewannya masing-masing. “Ada yang memilih Burung Ruai, Ikan Arwana dan lainnya. Masing-masing punya pandangan sendiri,” ungkap desainer maskot Kalbar: Enggang Gading dan Tengkawang Tungkul ini.

Namun yang paling dijagokan kala itu adalah Burung Ruai dan Enggang Gading atau Rangkong Gading. Sampailah perdebatan pada sejarah, filosofi, dan mitologi dari kedua burung tersebut. Akhirnya setelah digali, Enggang Gading-lah yang menang. “Walapun rupanya indah, Burung Ruai oleh sebagian sub-suku Dayak dianggap binatang yang tidak begitu istimewa. Bahkan ada yang pantang memakai bulunya sebagai hiasan kepala. Karena burung ini makan di tanah,” ucap tokoh 75 tahun tersebut.

Sedangkan Enggang Gading adalah hewan yang dianggap suci oleh masyarakat Dayak, terutama Dayak Iban. Binatang yang dalam bahasa Iban disebut tajai ini adalah lambang dunia langit. Adapun lawannya, naga dianggap penguasa tanah. “Enggang gading ini tinggal dan membuat sarang di atas pohon yang sangat tinggi dan hutan bagian dalam. Tidak seperti jenis enggang lainnya yang sering terbang rendah. Itu yang membuat orang sangat jarang bertemu hewan ini,” sebut dia.

Baca Juga :  Salat Tarawih Mesti Terapkan Prokes Covid-19

Perilaku enggang gading juga berbeda dengan enggang lainnya. Suaranya yang keras melengking,selalu hinggap di pohon tinggi, tidak pernah memakan buah yang ada di tanah. Burung ini juga setia pada satu pasangan.Perilaku tersebut dianggap masyarakat lokal sebagai perlambang keberanian, kesetiaan dan tidak serakah.

Enggang gading dan tengkawang tungkul pun akhirnya ditetapkan dan disahkan dengan SK Mendagri No. 4 Tahun 1989. Namun hingga 1992, tidak banyak yang mengenal bagaimana rupa dan wujud burung enggang gading, bahkan petinggi-petinggi Kalbar sendiri banyak yang tak tahu wujudnya. Karena itulah Halim Ramli tidak ingin masyarakat hanya tahu namanya, namun tak tahu wujudnya. Inilah yang memotivasinya untuk memvisualisasikan maskot Kalbar.

Motivasi ini diperkuat setelah pada Pawai Pembangunan Daerah di Pontianak pada 1991, konvoi Dinas Kehutanan menggunakan burung Enggang Badak sebagai hiasannya, yang dikira sebagai Enggang Gading. Ini bukanlah hal sepele, karena Enggang Badak atau yang disebut juga burung Kenyalang merupakan simbol dari Negeri Sarawak, Malaysia. Meskipun sekilas mirip, enggang badak dan enggang gading memiliki perbedaan mencolok pada tanduk di kepalanya serta pada bulu ekornya. Menurutnya, jikalau orang Dinas Kehutanan saja tidak tahu, apalagi masyarakat awam.

Halim mengaku telah lama menunggu, berharap ada orang yang memasyarakatkan wujud enggang gading, namun tak ada seorangpun yang melakukannya. Dia pun berinisiatif untuk melakukannya sendiri, walaupun dengan sedikit kenaifan dan kekurangannya. Salah satunya adalah dia sendiri tidak pernah melihat wujud enggang gading secara langsung. Untuk itu, dia pun mencari referensi mengenai enggang gading, dan menemukannya dalam buku “Mengenali Binatang-Binatang Kita” yang diterbitkan Jabatan Kehutanan Sarawak tahun 1985.

Baca Juga :  HUT Pontianak PELTI Gelar Turnamen Tenis

Akhirnya jadilah juga logo maskot yang umum dikenal sekarang, berupa burung enggang gading yang mencapit bunga tengkawang tungkul, yang dipadu dengan motif Dayak pada bulunya. Logo ini dipamerkan pertama kali di Pameran Seni Rupa di Taman Budaya Pontianak pada Februari 1993. Logo ini pun menarik minat Gubernur Kalimantan Barat saat itu, Aspar Aswin yang kemudian meresmikannya sebagai logo maskot Kalbar.

Satu-satunya kekurangan dari karyanya, menurut Halim, adalah hingga umurnya kini yang sudah 75 tahun, dia tak pernah sekalipun melihat enggang gading secara langsung di alam liar. Dia telah berkeliling ke berbagai hutan dan daerah di Kalbar, namun yang pernah dia temukan hanyalah enggang badak, bukan enggang gading.

Nasib enggang gading dan tengkawag tungkul kini sebagai maskot masih sama seperti awal pembuatannya dulu, tidak dikenal orang. Enggang memang lebih sering dimunculkan sebagai simbol Kalbar dalam berbagai event dibanding tengkawang tungkul. Namun bukannya Enggang Gading, melainkan Enggang Badak.

Survei persepsi yang dilakukan Rangkong Indonesia bersama Kehati, YRJAN, dan TFCA (2018-2020) menyatakan, mayoritas responden tidak mengetahui nilai budaya atau nilai adat dari rangkong (47 persen). Bahkan, 86 persen responden mengaku tidak tahu bahwa maskot Provinsi Kalbar adalah Enggang Gading. Lagi pula burung ini hampir punah lantaran terus menjadi perburuan liar untuk diambil paruhnya. (*)

Di Balik Pembuatan Maskot Kalbar Enggang Gading

Sebagai maskot Kalimantan Barat, gambar burung Enggang Gading dan buah Tengkawang Tungkul mudah dijumpai di mana-mana. Terdapat pada lukisan di hotel-hotel, perkantoran, hingga di seragam batik. Tapi tahukah Anda bahwa membuatnya menjadi ikon Kalbar perlu perjuangan berat.

ARISTONO, Pontianak

ABDUL Halim Ramli ingat betul perdebatan penentuan maskot Kalbar pada tahun 1988 di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kalbar. Waktu itu fraksi-fraksi dan para ahli saling adu argumen untuk menjebolkan hewannya masing-masing. “Ada yang memilih Burung Ruai, Ikan Arwana dan lainnya. Masing-masing punya pandangan sendiri,” ungkap desainer maskot Kalbar: Enggang Gading dan Tengkawang Tungkul ini.

Namun yang paling dijagokan kala itu adalah Burung Ruai dan Enggang Gading atau Rangkong Gading. Sampailah perdebatan pada sejarah, filosofi, dan mitologi dari kedua burung tersebut. Akhirnya setelah digali, Enggang Gading-lah yang menang. “Walapun rupanya indah, Burung Ruai oleh sebagian sub-suku Dayak dianggap binatang yang tidak begitu istimewa. Bahkan ada yang pantang memakai bulunya sebagai hiasan kepala. Karena burung ini makan di tanah,” ucap tokoh 75 tahun tersebut.

Sedangkan Enggang Gading adalah hewan yang dianggap suci oleh masyarakat Dayak, terutama Dayak Iban. Binatang yang dalam bahasa Iban disebut tajai ini adalah lambang dunia langit. Adapun lawannya, naga dianggap penguasa tanah. “Enggang gading ini tinggal dan membuat sarang di atas pohon yang sangat tinggi dan hutan bagian dalam. Tidak seperti jenis enggang lainnya yang sering terbang rendah. Itu yang membuat orang sangat jarang bertemu hewan ini,” sebut dia.

Baca Juga :  Warga Antusias Ikut Vaksinasi BEM Fisip Untan

Perilaku enggang gading juga berbeda dengan enggang lainnya. Suaranya yang keras melengking,selalu hinggap di pohon tinggi, tidak pernah memakan buah yang ada di tanah. Burung ini juga setia pada satu pasangan.Perilaku tersebut dianggap masyarakat lokal sebagai perlambang keberanian, kesetiaan dan tidak serakah.

Enggang gading dan tengkawang tungkul pun akhirnya ditetapkan dan disahkan dengan SK Mendagri No. 4 Tahun 1989. Namun hingga 1992, tidak banyak yang mengenal bagaimana rupa dan wujud burung enggang gading, bahkan petinggi-petinggi Kalbar sendiri banyak yang tak tahu wujudnya. Karena itulah Halim Ramli tidak ingin masyarakat hanya tahu namanya, namun tak tahu wujudnya. Inilah yang memotivasinya untuk memvisualisasikan maskot Kalbar.

Motivasi ini diperkuat setelah pada Pawai Pembangunan Daerah di Pontianak pada 1991, konvoi Dinas Kehutanan menggunakan burung Enggang Badak sebagai hiasannya, yang dikira sebagai Enggang Gading. Ini bukanlah hal sepele, karena Enggang Badak atau yang disebut juga burung Kenyalang merupakan simbol dari Negeri Sarawak, Malaysia. Meskipun sekilas mirip, enggang badak dan enggang gading memiliki perbedaan mencolok pada tanduk di kepalanya serta pada bulu ekornya. Menurutnya, jikalau orang Dinas Kehutanan saja tidak tahu, apalagi masyarakat awam.

Halim mengaku telah lama menunggu, berharap ada orang yang memasyarakatkan wujud enggang gading, namun tak ada seorangpun yang melakukannya. Dia pun berinisiatif untuk melakukannya sendiri, walaupun dengan sedikit kenaifan dan kekurangannya. Salah satunya adalah dia sendiri tidak pernah melihat wujud enggang gading secara langsung. Untuk itu, dia pun mencari referensi mengenai enggang gading, dan menemukannya dalam buku “Mengenali Binatang-Binatang Kita” yang diterbitkan Jabatan Kehutanan Sarawak tahun 1985.

Baca Juga :  Hukuman Mati Ancam Residivis

Akhirnya jadilah juga logo maskot yang umum dikenal sekarang, berupa burung enggang gading yang mencapit bunga tengkawang tungkul, yang dipadu dengan motif Dayak pada bulunya. Logo ini dipamerkan pertama kali di Pameran Seni Rupa di Taman Budaya Pontianak pada Februari 1993. Logo ini pun menarik minat Gubernur Kalimantan Barat saat itu, Aspar Aswin yang kemudian meresmikannya sebagai logo maskot Kalbar.

Satu-satunya kekurangan dari karyanya, menurut Halim, adalah hingga umurnya kini yang sudah 75 tahun, dia tak pernah sekalipun melihat enggang gading secara langsung di alam liar. Dia telah berkeliling ke berbagai hutan dan daerah di Kalbar, namun yang pernah dia temukan hanyalah enggang badak, bukan enggang gading.

Nasib enggang gading dan tengkawag tungkul kini sebagai maskot masih sama seperti awal pembuatannya dulu, tidak dikenal orang. Enggang memang lebih sering dimunculkan sebagai simbol Kalbar dalam berbagai event dibanding tengkawang tungkul. Namun bukannya Enggang Gading, melainkan Enggang Badak.

Survei persepsi yang dilakukan Rangkong Indonesia bersama Kehati, YRJAN, dan TFCA (2018-2020) menyatakan, mayoritas responden tidak mengetahui nilai budaya atau nilai adat dari rangkong (47 persen). Bahkan, 86 persen responden mengaku tidak tahu bahwa maskot Provinsi Kalbar adalah Enggang Gading. Lagi pula burung ini hampir punah lantaran terus menjadi perburuan liar untuk diambil paruhnya. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/