alexametrics
23 C
Pontianak
Wednesday, June 29, 2022

Litbang Kalbar Mulai Penelitian Kratom

Tindak Lanjut Usul Gubernur di Pusat

PONTIANAK – Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) memulai penelitian terkait tanaman Kratom (Mitragyna Speciosa Korth). Penelitian dimulai dengan sidang proposal berjudul Peran Ekonomi Daun Kratom di Kapuas Hulu dan Pengembangannya Sebagai Sedian Obat digelar, Kamis (27/2).

Kepala Badan Litbang Kalbar Ansfridus J Andjioe mengungkapkan, kegiatan sidang proposal penelitian merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan sebagai tahapan awal dari rangkaian penelitian. Sidang dilaksanakan sebelum dilakukannya kegiatan pengumpulan data lapangan dan pelaksanaan penelitian lebih lanjut.

“Tentunya kegiatan ini memiliki makna yang sangat penting dan strategis karena merupakan bagian yang tidak terpisahkan sebagai rangkaian, proses dan mekanisme suatu penelitian,” ungkapnya kepada awak media.

Sementara untuk penellitian ke lapangan diperkirakan dimulai pada awal Maret mendatang. Mengenai judul penelitian yang diangkat, menurutnya sangat faktual dan dibutuhkan semua pihak. Mengingat keberadaan Kratom sampai saat ini masih menjadi perdebatan. Sehingga perlu adanya kajian dan rumusan secara komprehensif dan holistik terkait tanaman Kratom.

Selain itu, penelitian ini juga sekaligus menindaklanjuti pernyataan Gubernur Kalbar Sutarmidji mengenai hasil pertemuan membahas Kratom di Kantor Staf Presiden (KSP) beberapa waktu lalu. Ada 10 poin gagasan yang diusulkan gubernur saat itu, pertama melakukan penelitian secara farmasi tentang kratom sebagai bahan baku obat. Kedua melakukan tata niaga ekspor kratom ke negara yang melegalkannya.

Baca Juga :  Tolak PPN Sekolah dan Sembako

Lalu meminta masa pelarangan setidaknya sampai ada hasil penelitian yang komprehensif. Keempat jika pun dilarang, maka harus dipikirkan dampak ekologisnya karena harus menebang lebih dari 20 juta pohon yang ada di Kabupaten Kapuas Hulu. Sementara Kapuas Hulu sendiri sudah ditetapkan sebagai kawasan paru-paru dunia.

Kelima harus dipersiapkan kegiatan pengganti untuk perekonomian bagi 120 ribu jiwa yang ekonomi atau kehidupan mereka tergantung kratom. Keenam perlu mengembangkan kratom sebagai bahan utama obat.

Ketujuh, keputusan harus melihat dari kenyataan bahwa di beberapa negara masih melegalkan kratom untuk terapi ketergantungan zat adiktif. Kedelapan memasukkan tata niaga kratom dalam perdagangan. Kesembilan mengekspor kratom ke negara yang memesan dan membutuhkan dengan pengawasan. Dan yang terakhir, jika dilarang, harus dicarikan solusi untuk para petani.

Adanya sidang proposal ini diharapkan Ansfridus dapat menjaring masukan dari pihak-pihak terkait. Khususnya masukan dari narasumber atau tim pengendali mutu dan OPD terkait sebagai peserta aktif dalam rangka penyempurnaan proposal penelitian.

Baca Juga :  Bahlil Dorong Smelter di Kalbar, Midji Minta Tunda Pelarangan Kratom

“Dengan adanya kegiatan ini diharapkan akan berpengaruh positif dan menghasilkan output maksimal, khususnya dari aspek kelayakan dan kesesuaian terhadap hasil penelitian,” harapnya.

Ia pun berpesan agar prinsip-prinsip pelaksanaan kelitbangan Pemda dapat dicermati dan dijadikan pedoman bagi para peneliti. Dengan mengacu pada prinsip tersebut, para peneliti dapat menyampaikan paparan secara baik dan gamblang terkait desain riset, metodelogi, substansi permasalahan dan tujuan atau sasaran yang ingin dicapai.

Adapun tim peneliti yang akan melaksanakan kegiatan penelitian ini terdiri dari enam orang yang diketuai oleh Ir. Rudy Setyo Utomo, M.Si sebagai Peneliti Madya pada Badan Litbang Kalbar. Dengan anggota antara lain Dr. Nurmainah, S.Si, MM, A.Pt, Dr. M. Agus Wibowo, S.Si, M.Si dan Dr. Sulvi Purwayanthie, STP, MP sebagai akademisi dari Untan. Lalu Ir. Rusli Burhansyah, M.Si sebagai peneliti dari BPTP dan M. Syafe’I, SH, MH selaku pejabat struktural pada Badan Litbang Kalbar. Ansfridus menambahkan, proses penelitian ini nantinya juga melibatkan awak media. Yang ikut dan memantau langsung selama proses penelitian sampai selesai.(bar)

Tindak Lanjut Usul Gubernur di Pusat

PONTIANAK – Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) memulai penelitian terkait tanaman Kratom (Mitragyna Speciosa Korth). Penelitian dimulai dengan sidang proposal berjudul Peran Ekonomi Daun Kratom di Kapuas Hulu dan Pengembangannya Sebagai Sedian Obat digelar, Kamis (27/2).

Kepala Badan Litbang Kalbar Ansfridus J Andjioe mengungkapkan, kegiatan sidang proposal penelitian merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan sebagai tahapan awal dari rangkaian penelitian. Sidang dilaksanakan sebelum dilakukannya kegiatan pengumpulan data lapangan dan pelaksanaan penelitian lebih lanjut.

“Tentunya kegiatan ini memiliki makna yang sangat penting dan strategis karena merupakan bagian yang tidak terpisahkan sebagai rangkaian, proses dan mekanisme suatu penelitian,” ungkapnya kepada awak media.

Sementara untuk penellitian ke lapangan diperkirakan dimulai pada awal Maret mendatang. Mengenai judul penelitian yang diangkat, menurutnya sangat faktual dan dibutuhkan semua pihak. Mengingat keberadaan Kratom sampai saat ini masih menjadi perdebatan. Sehingga perlu adanya kajian dan rumusan secara komprehensif dan holistik terkait tanaman Kratom.

Selain itu, penelitian ini juga sekaligus menindaklanjuti pernyataan Gubernur Kalbar Sutarmidji mengenai hasil pertemuan membahas Kratom di Kantor Staf Presiden (KSP) beberapa waktu lalu. Ada 10 poin gagasan yang diusulkan gubernur saat itu, pertama melakukan penelitian secara farmasi tentang kratom sebagai bahan baku obat. Kedua melakukan tata niaga ekspor kratom ke negara yang melegalkannya.

Baca Juga :  Gudang Kratom di Jalan Trans Terbakar

Lalu meminta masa pelarangan setidaknya sampai ada hasil penelitian yang komprehensif. Keempat jika pun dilarang, maka harus dipikirkan dampak ekologisnya karena harus menebang lebih dari 20 juta pohon yang ada di Kabupaten Kapuas Hulu. Sementara Kapuas Hulu sendiri sudah ditetapkan sebagai kawasan paru-paru dunia.

Kelima harus dipersiapkan kegiatan pengganti untuk perekonomian bagi 120 ribu jiwa yang ekonomi atau kehidupan mereka tergantung kratom. Keenam perlu mengembangkan kratom sebagai bahan utama obat.

Ketujuh, keputusan harus melihat dari kenyataan bahwa di beberapa negara masih melegalkan kratom untuk terapi ketergantungan zat adiktif. Kedelapan memasukkan tata niaga kratom dalam perdagangan. Kesembilan mengekspor kratom ke negara yang memesan dan membutuhkan dengan pengawasan. Dan yang terakhir, jika dilarang, harus dicarikan solusi untuk para petani.

Adanya sidang proposal ini diharapkan Ansfridus dapat menjaring masukan dari pihak-pihak terkait. Khususnya masukan dari narasumber atau tim pengendali mutu dan OPD terkait sebagai peserta aktif dalam rangka penyempurnaan proposal penelitian.

Baca Juga :  Ibu Rumah Tangga di Sui Pinyuh Bawa Sabu

“Dengan adanya kegiatan ini diharapkan akan berpengaruh positif dan menghasilkan output maksimal, khususnya dari aspek kelayakan dan kesesuaian terhadap hasil penelitian,” harapnya.

Ia pun berpesan agar prinsip-prinsip pelaksanaan kelitbangan Pemda dapat dicermati dan dijadikan pedoman bagi para peneliti. Dengan mengacu pada prinsip tersebut, para peneliti dapat menyampaikan paparan secara baik dan gamblang terkait desain riset, metodelogi, substansi permasalahan dan tujuan atau sasaran yang ingin dicapai.

Adapun tim peneliti yang akan melaksanakan kegiatan penelitian ini terdiri dari enam orang yang diketuai oleh Ir. Rudy Setyo Utomo, M.Si sebagai Peneliti Madya pada Badan Litbang Kalbar. Dengan anggota antara lain Dr. Nurmainah, S.Si, MM, A.Pt, Dr. M. Agus Wibowo, S.Si, M.Si dan Dr. Sulvi Purwayanthie, STP, MP sebagai akademisi dari Untan. Lalu Ir. Rusli Burhansyah, M.Si sebagai peneliti dari BPTP dan M. Syafe’I, SH, MH selaku pejabat struktural pada Badan Litbang Kalbar. Ansfridus menambahkan, proses penelitian ini nantinya juga melibatkan awak media. Yang ikut dan memantau langsung selama proses penelitian sampai selesai.(bar)

Most Read

Artikel Terbaru

/