alexametrics
23 C
Pontianak
Wednesday, June 29, 2022

Earth Hour 2021 Simbol Peduli Lingkungan

PONTIANAK –  Hotel Ibis Pontianak ikut mendukung Earth Hour dengan mematikan lampu selama satu jam, Sabtu (27/3) malam. Tampak salah satu sisi bangunan Hotel Ibis sengaja dibentuk angka 60+ menggunakan lampu kamar usai pemadaman selama satu jam.

Pertama kali digelar di tahun 2007, Earth Hour kini memasuki penyelenggaraan tahun ke-15. Pada 2021, ada 190 negara yang berpartisipasi, termasuk Indonesia. Adapun di Indonesia, sebanyak 32 kabupaten, kota, dan provinsi juga ikut berpartisipasi dengan menggelar acara secara daring maupun langsung.

Gerakan Earth Hour dengan cara mematikan lampu selama 60 menit dinilai sebagai simbol kebudayaan peduli lingkungan. Hal ini disampaikan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil  menjelang Global Switch Off Earth Hour Indonesia 2021 yang dipusatkan di Bandung secara daring, Sabtu malam.

Ridwan mengatakan, pelaksanaan Earth Hour tahun ini diharapkan dapat menjangkau lebih banyak lagi generasi muda yang peduli pada masa depan dengan bersikap bijak dalam menggunakan energi.

Baca Juga :  Batasi Pengunjung, Hadirkan Menu Lokal yang Hampir Punah

“Jika pada generasi yang lebih tua belum maksimal, tapi bagaimana generasi anak-anaknya bisa lebih peduli bagaimana ‘fossil fuel’ ini dikurangi,” ujar dia. Ridwan mengakui, di Jawa Barat, energi berbasis bahan bakar fosil masih dominan digunakan warganya.

“Penggunaan ‘fossil fuel’ masih berkisar 90 persen, sedangkan penggunaan energi terbarukan baru sepuluh persen,” katanya. Namun dalam waktu dekat, segera dibahas perumusan undang-undang energi terbarukan karena dalam 25 tahun mendatang Indonesia harus bisa beralih dari bahan bakar fosil ke sumber energi terbarukan.

“Sumbernya bisa apa saja, bisa dari air, angin, matahari, gerak, singkong, atau tanaman lain penghasil energi, asalkan tidak terus menerus mengeruk perut bumi,” kata Ridwan yang baru saja terpilih sebagai Ketua Umum Asosiasi Daerah Penghasil Migas dan Energi Terbarukan.

Aksi nyata peralihan konsumsi energi berbasis bahan bakar fosil itu Ridwan realisasikan dengan beralih pada mobil listrik.  “Kami gubernur pertama yang menggunakan mobil listrik sebagai kendaraan dinas, mudah-mudahan akan lebih banyak,” katanya.

Baca Juga :  Satu Lagi Kasus Positif Covid-19 di Kalbar, Bagian Kluster Gowa

CEO Yayasan World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia Dicky Simorangkir mengatakan, Earth Hour adalah kegiatan global yang digawangi oleh WWF pada Sabtu terakhir bulan Maret setiap tahunnya. Kegiatan tersebut dilakukan dalam bentuk pemadaman lampu selama satu jam sebagai usaha meningkatkan kesadaran akan perlunya langkah serius menghadapi perubahan iklim.

Dalam peringatan pada 2021 yang masih dibayangi oleh pandemi Covid-19 di mana pembelajaran bahwa manusia bergantung pada alam.  Dicky mengatakan pandemi yang terjadi sejak 2020 dan serangkaian bencana alam menyadarkan bahwa manusia akan menanggung konsekuensi dan dampak atas segala perubahan yang terjadi pada alam, baik dalam hal sosial, ekonomi, ekologi maupun kesehatan.

“Inilah saatnya bagi kita untuk menjaga Bumi kita dan keanekaragaman hayatinya dan memastikan bahwa sumber daya tersebut berkelanjutan sampai dengan generasi penerus kita nantinya,” tegas Dicky.(mdy/ant)

PONTIANAK –  Hotel Ibis Pontianak ikut mendukung Earth Hour dengan mematikan lampu selama satu jam, Sabtu (27/3) malam. Tampak salah satu sisi bangunan Hotel Ibis sengaja dibentuk angka 60+ menggunakan lampu kamar usai pemadaman selama satu jam.

Pertama kali digelar di tahun 2007, Earth Hour kini memasuki penyelenggaraan tahun ke-15. Pada 2021, ada 190 negara yang berpartisipasi, termasuk Indonesia. Adapun di Indonesia, sebanyak 32 kabupaten, kota, dan provinsi juga ikut berpartisipasi dengan menggelar acara secara daring maupun langsung.

Gerakan Earth Hour dengan cara mematikan lampu selama 60 menit dinilai sebagai simbol kebudayaan peduli lingkungan. Hal ini disampaikan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil  menjelang Global Switch Off Earth Hour Indonesia 2021 yang dipusatkan di Bandung secara daring, Sabtu malam.

Ridwan mengatakan, pelaksanaan Earth Hour tahun ini diharapkan dapat menjangkau lebih banyak lagi generasi muda yang peduli pada masa depan dengan bersikap bijak dalam menggunakan energi.

Baca Juga :  Kampanyekan Hemat Energi, Hotel Ibis Buat Formasi 60+

“Jika pada generasi yang lebih tua belum maksimal, tapi bagaimana generasi anak-anaknya bisa lebih peduli bagaimana ‘fossil fuel’ ini dikurangi,” ujar dia. Ridwan mengakui, di Jawa Barat, energi berbasis bahan bakar fosil masih dominan digunakan warganya.

“Penggunaan ‘fossil fuel’ masih berkisar 90 persen, sedangkan penggunaan energi terbarukan baru sepuluh persen,” katanya. Namun dalam waktu dekat, segera dibahas perumusan undang-undang energi terbarukan karena dalam 25 tahun mendatang Indonesia harus bisa beralih dari bahan bakar fosil ke sumber energi terbarukan.

“Sumbernya bisa apa saja, bisa dari air, angin, matahari, gerak, singkong, atau tanaman lain penghasil energi, asalkan tidak terus menerus mengeruk perut bumi,” kata Ridwan yang baru saja terpilih sebagai Ketua Umum Asosiasi Daerah Penghasil Migas dan Energi Terbarukan.

Aksi nyata peralihan konsumsi energi berbasis bahan bakar fosil itu Ridwan realisasikan dengan beralih pada mobil listrik.  “Kami gubernur pertama yang menggunakan mobil listrik sebagai kendaraan dinas, mudah-mudahan akan lebih banyak,” katanya.

Baca Juga :  Ibis Luncurkan Meals Donation untuk Nakes

CEO Yayasan World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia Dicky Simorangkir mengatakan, Earth Hour adalah kegiatan global yang digawangi oleh WWF pada Sabtu terakhir bulan Maret setiap tahunnya. Kegiatan tersebut dilakukan dalam bentuk pemadaman lampu selama satu jam sebagai usaha meningkatkan kesadaran akan perlunya langkah serius menghadapi perubahan iklim.

Dalam peringatan pada 2021 yang masih dibayangi oleh pandemi Covid-19 di mana pembelajaran bahwa manusia bergantung pada alam.  Dicky mengatakan pandemi yang terjadi sejak 2020 dan serangkaian bencana alam menyadarkan bahwa manusia akan menanggung konsekuensi dan dampak atas segala perubahan yang terjadi pada alam, baik dalam hal sosial, ekonomi, ekologi maupun kesehatan.

“Inilah saatnya bagi kita untuk menjaga Bumi kita dan keanekaragaman hayatinya dan memastikan bahwa sumber daya tersebut berkelanjutan sampai dengan generasi penerus kita nantinya,” tegas Dicky.(mdy/ant)

Most Read

Artikel Terbaru

/