alexametrics
26 C
Pontianak
Saturday, June 25, 2022

Sultan Imbau Warga Ikut Vaksin

PONTIANAK – Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar) Sutarmidji bersama Pangdam XII/Tanjungpura Mayjen TNI Muhammad Nur Rahmad meninjau gelaran Serbuan Vaksinasi Covid-19 yang diselenggarakan di Istana Kadriah Kesultanan Pontianak, Minggu (27/6). Dengan semakin luas dan banyaknya masyarakat mengikuti vaksinasi, diharapkan bisa semakin cepat masyarakat terbebas dari pandemi.

“Saya berterimakasih kepada Sultan Pontianak Syarif Machmud Melvin Alkadrie, karena sudah mempelopori kegiatan vaksinasi ini di kawasan Kesultanan Pontianak,” ungkap Gubernur Kalbar Sutarmidjidi sela peninjauan.

Menurutnya ini menunjukkan adanya kepedulian dari semua pihak untuk sehat bersama sekaligus berupaya memutus rantai penyebaran Covid-19 di daerah ini. Ia pun mengajak bersama-sama menjaga masyarakat dengan menyukseskan kegiatan vaksinasi dan tetapmenerapkan protkol kesehatan (prokes) secara ketat.

Midji sapaan karibnya menjelaskan, ketika seseorang sudah divaksin, ketika terpapar Covid-19 maka tidak akan menimbulkan dampak fatal. Oleh sebab itu vaksinasi bagian dari upaya melindungi diri dari Covid-19 sambil tetap berdoa perlindungan sesuai agama masing-masing.

“Dengan vaksinasi massal ini kami bersama-sama mencegah Covid-19 dan terciptanya imunitas komunal. Ini menunjukkan bahwa kita melakukannya kepada seluruh lapisan masyarakat dan targetvaksinasi ini adalah sebanyak-banyaknya masyarakat harus divaksin,” pungkasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Sultan Pontianak Syarif Machmud Melvin Alkadrie mengungkapkan, pelaksanaan vaksinasi massal di Istana Kadriah ini guna membantu Pemprov Kalbar, Kodam XII Tanjungpura dan Polda Kalbar dalam penanggulangan Covid-19, khususnya di Kota Pontianak.

“Mudah-mudahan dengan adanya vaksinasi massal ini, yang tadinya mendengar isu-isu negatif dan hoaks tentang vaksin dengan saya menggunakan vaksin secara pribadi, insyallah aman dan halal. Dan bersama-sama kita bisa mencegah penyebaran virus Covid-19,” ajaknya.

Pelaksanaan vaksinasi massal di Istana Kadriah sendiri disebutkan menargetkan antara 500 sampai seribu orang dalam satu hari pelaksanaannya. Tidak hanya untuk kerabat kesultanan dan warga sekitar, Melivin mengatakan vaksinasi massal ini terbuka untuk umum. Siapa saja bisa mengikutinya.

Baca Juga :  Polres Kapuas Hulu Sukseskan Vaksinasi Bersama Kaum Milenial

“Saya juga mengajak keluarga kesultanan dan masyarakat umum untuk melakukan vaksin, kalau hari ini (kemarin) waktu vaksinasi massal tidak mencukupi kami akan sambung sampai besok (hari ini),” tutupnya.

Empat Nakes Meninggal

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Barat Harrison mengatakan ada empat tenaga kesehatan yang meninggal dunia karena terpapar Covid-19. “Saya menyampaikan rasa duka cita yang mendalam terhadap meninggalnya tenaga kesehatan sebagai garda terdepan dalam pelayanan pasien yang terpapar virus corona,” kata Harrison di Pontianak, kemarin.

Ia mengatakan bahwa telah ada Standar Operasional Prosedur (SOP) bagi tenaga kesehatan dan tenaga penunjang yang berhubungan langsung dengan pelayanan pasien Covid-19.

Standar operasional itu juga tertuang dalam Permenkes nomor 27 tahun 2017 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) di Fasyankes. Kemudian dibuat lagi penjabaran dan SOP tentang pelaksanaanya baik oleh Kemenkes maupun oleh organisasi profesi masing-masing.

“Setiap tenaga kesehatan dan manajemen fasyankes sebenarnya telah memahami bagaimana pencegahan terhadap paparan infeksi,” kata Harrison.

Pencegahan terhadap infeksi dikenal dengan istilah kewaspadaan standar dan kewaspadaan berdasarkan transmisi suatu infeksi. Kewaspadaan standar antara lain kebersihan tangan, penggunaan APD, dekontaminasi peralatan perawatan pasien, pengendalian lingkungan, pengelolaan limbah, penempatan pasien dan lain-lain.

Sedangkan untuk kewaspadaan berdasarkan transmisi suatu penyakit antara lain melalui kontak, droplet, udara, makanan dan vektor misalnya lalat dan lain-lain. Pelaksanaan upaya perlindungan diri dari risiko infeksi virus atau bakteri dan lain lain ini harus diawasi oleh manajemen fasilitas pelayanan kesehatan.

“Sehingga harusnya dilakukan pengawasan oleh manajemen atau supervisor rumah sakit,” tambah Harrison.

Kemudian sudah ada sistem dalam pengawasan dan pengendalian infeksi ini di masing masing fasilitas pelayanan kesehatan. Untuk Puskesmas atau Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dibentuk tim PPI (Pencegahan dan Pengendalian Infeksi). Jika di rumah sakit ada Komite PPI. Jadi sudah ada tim atau petugas yang mengawasi pelaksanaannya di fasilitas pelayanan kesehatan.

Baca Juga :  Target 9 Ribu, yang Divaksin 12 Ribu

Ia melanjutkan ada banyak faktor yang menyebabkan pelaksanaan perlindungan diri pada nakes dari risiko terpapar infeksi menjadi tidak efektif. Antara lain faktor kelelahan, beban kerja yang tinggi sehubungan dengan meningkatnya jumlah pasien yang ditangani.

“Misalnya karena kelelahan yang menyebabkan pelaksanaan secara ketat dan disiplin SOP perlindungan diri dari terpapar infeksi menjadi terabaikan,” kata Harrison.

Ia memastikan untuk peralatan APD sendiri Dinas Kesehatan dan rumah sakit selalu menyediakan. Berbeda situasinya ketika awal pandemi, dimana kesusahan mencari APD, seperti masker, sarung tangan, maupun baju Hazmat. Saat ini sudah banyak tersedia APD baik bantuan dari Kemenkes maupun yang disediakan oleh pemerintah daerah.

“Peraturan sudah jelas diantaranya penggunaan APD bagi tenaga kesehatan. Sekarang APD sudah tersedia baik oleh kementerian kesehatan dan pemerintah daerah. Namun yang menjadi permasalahan terkait petugas tenaga kesehatan yang mengalami kelelahan. Karena meningkat pasien pada beberapa waktu terakhir. Ketika sudah lelah bisa saja virusnya masuk dan mengakibatkan tenaga kesehatan terkena Covid-19,” jelas Harrison.

Ia mengatakan pihaknya meminta rumah sakit maupun dinas kesehatan untuk mempelajari terjadinya infeksi terhadap tenaga kesehatan.

Jika kemudian karena kekurangan APD maka bisa dilakukan penambahan. Sebaiknya jika faktornya adalah kelelahan maka akan disiapkan petugas tambaha sehingga petugas tidak terlalu lelah dan bisa mematuhi prosedur tetap dalam pencegahan dan pengendalian infeksi agar tidak terserang virus corona. (bar/mse)

PONTIANAK – Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar) Sutarmidji bersama Pangdam XII/Tanjungpura Mayjen TNI Muhammad Nur Rahmad meninjau gelaran Serbuan Vaksinasi Covid-19 yang diselenggarakan di Istana Kadriah Kesultanan Pontianak, Minggu (27/6). Dengan semakin luas dan banyaknya masyarakat mengikuti vaksinasi, diharapkan bisa semakin cepat masyarakat terbebas dari pandemi.

“Saya berterimakasih kepada Sultan Pontianak Syarif Machmud Melvin Alkadrie, karena sudah mempelopori kegiatan vaksinasi ini di kawasan Kesultanan Pontianak,” ungkap Gubernur Kalbar Sutarmidjidi sela peninjauan.

Menurutnya ini menunjukkan adanya kepedulian dari semua pihak untuk sehat bersama sekaligus berupaya memutus rantai penyebaran Covid-19 di daerah ini. Ia pun mengajak bersama-sama menjaga masyarakat dengan menyukseskan kegiatan vaksinasi dan tetapmenerapkan protkol kesehatan (prokes) secara ketat.

Midji sapaan karibnya menjelaskan, ketika seseorang sudah divaksin, ketika terpapar Covid-19 maka tidak akan menimbulkan dampak fatal. Oleh sebab itu vaksinasi bagian dari upaya melindungi diri dari Covid-19 sambil tetap berdoa perlindungan sesuai agama masing-masing.

“Dengan vaksinasi massal ini kami bersama-sama mencegah Covid-19 dan terciptanya imunitas komunal. Ini menunjukkan bahwa kita melakukannya kepada seluruh lapisan masyarakat dan targetvaksinasi ini adalah sebanyak-banyaknya masyarakat harus divaksin,” pungkasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Sultan Pontianak Syarif Machmud Melvin Alkadrie mengungkapkan, pelaksanaan vaksinasi massal di Istana Kadriah ini guna membantu Pemprov Kalbar, Kodam XII Tanjungpura dan Polda Kalbar dalam penanggulangan Covid-19, khususnya di Kota Pontianak.

“Mudah-mudahan dengan adanya vaksinasi massal ini, yang tadinya mendengar isu-isu negatif dan hoaks tentang vaksin dengan saya menggunakan vaksin secara pribadi, insyallah aman dan halal. Dan bersama-sama kita bisa mencegah penyebaran virus Covid-19,” ajaknya.

Pelaksanaan vaksinasi massal di Istana Kadriah sendiri disebutkan menargetkan antara 500 sampai seribu orang dalam satu hari pelaksanaannya. Tidak hanya untuk kerabat kesultanan dan warga sekitar, Melivin mengatakan vaksinasi massal ini terbuka untuk umum. Siapa saja bisa mengikutinya.

Baca Juga :  Budidaya Lalat, Solusi Lingkungan dan Nilai Tambah Ekonomi

“Saya juga mengajak keluarga kesultanan dan masyarakat umum untuk melakukan vaksin, kalau hari ini (kemarin) waktu vaksinasi massal tidak mencukupi kami akan sambung sampai besok (hari ini),” tutupnya.

Empat Nakes Meninggal

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Barat Harrison mengatakan ada empat tenaga kesehatan yang meninggal dunia karena terpapar Covid-19. “Saya menyampaikan rasa duka cita yang mendalam terhadap meninggalnya tenaga kesehatan sebagai garda terdepan dalam pelayanan pasien yang terpapar virus corona,” kata Harrison di Pontianak, kemarin.

Ia mengatakan bahwa telah ada Standar Operasional Prosedur (SOP) bagi tenaga kesehatan dan tenaga penunjang yang berhubungan langsung dengan pelayanan pasien Covid-19.

Standar operasional itu juga tertuang dalam Permenkes nomor 27 tahun 2017 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) di Fasyankes. Kemudian dibuat lagi penjabaran dan SOP tentang pelaksanaanya baik oleh Kemenkes maupun oleh organisasi profesi masing-masing.

“Setiap tenaga kesehatan dan manajemen fasyankes sebenarnya telah memahami bagaimana pencegahan terhadap paparan infeksi,” kata Harrison.

Pencegahan terhadap infeksi dikenal dengan istilah kewaspadaan standar dan kewaspadaan berdasarkan transmisi suatu infeksi. Kewaspadaan standar antara lain kebersihan tangan, penggunaan APD, dekontaminasi peralatan perawatan pasien, pengendalian lingkungan, pengelolaan limbah, penempatan pasien dan lain-lain.

Sedangkan untuk kewaspadaan berdasarkan transmisi suatu penyakit antara lain melalui kontak, droplet, udara, makanan dan vektor misalnya lalat dan lain-lain. Pelaksanaan upaya perlindungan diri dari risiko infeksi virus atau bakteri dan lain lain ini harus diawasi oleh manajemen fasilitas pelayanan kesehatan.

“Sehingga harusnya dilakukan pengawasan oleh manajemen atau supervisor rumah sakit,” tambah Harrison.

Kemudian sudah ada sistem dalam pengawasan dan pengendalian infeksi ini di masing masing fasilitas pelayanan kesehatan. Untuk Puskesmas atau Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dibentuk tim PPI (Pencegahan dan Pengendalian Infeksi). Jika di rumah sakit ada Komite PPI. Jadi sudah ada tim atau petugas yang mengawasi pelaksanaannya di fasilitas pelayanan kesehatan.

Baca Juga :  2.966 Warga Dapatkan Vaksin

Ia melanjutkan ada banyak faktor yang menyebabkan pelaksanaan perlindungan diri pada nakes dari risiko terpapar infeksi menjadi tidak efektif. Antara lain faktor kelelahan, beban kerja yang tinggi sehubungan dengan meningkatnya jumlah pasien yang ditangani.

“Misalnya karena kelelahan yang menyebabkan pelaksanaan secara ketat dan disiplin SOP perlindungan diri dari terpapar infeksi menjadi terabaikan,” kata Harrison.

Ia memastikan untuk peralatan APD sendiri Dinas Kesehatan dan rumah sakit selalu menyediakan. Berbeda situasinya ketika awal pandemi, dimana kesusahan mencari APD, seperti masker, sarung tangan, maupun baju Hazmat. Saat ini sudah banyak tersedia APD baik bantuan dari Kemenkes maupun yang disediakan oleh pemerintah daerah.

“Peraturan sudah jelas diantaranya penggunaan APD bagi tenaga kesehatan. Sekarang APD sudah tersedia baik oleh kementerian kesehatan dan pemerintah daerah. Namun yang menjadi permasalahan terkait petugas tenaga kesehatan yang mengalami kelelahan. Karena meningkat pasien pada beberapa waktu terakhir. Ketika sudah lelah bisa saja virusnya masuk dan mengakibatkan tenaga kesehatan terkena Covid-19,” jelas Harrison.

Ia mengatakan pihaknya meminta rumah sakit maupun dinas kesehatan untuk mempelajari terjadinya infeksi terhadap tenaga kesehatan.

Jika kemudian karena kekurangan APD maka bisa dilakukan penambahan. Sebaiknya jika faktornya adalah kelelahan maka akan disiapkan petugas tambaha sehingga petugas tidak terlalu lelah dan bisa mematuhi prosedur tetap dalam pencegahan dan pengendalian infeksi agar tidak terserang virus corona. (bar/mse)

Most Read

Artikel Terbaru

/