alexametrics
31 C
Pontianak
Sunday, May 22, 2022

Pundi-Pundi Rupiah dari Atap Rumah

Di rumah saja. Itu yang digaungkan saat Pandemi Covid-19. Namun, bukan berarti hanya berdiam diri. Banyak hal yang bisa dilakukan, walau hanya di rumah. Salah satunya budidaya tanaman dengan media hidroponik di atap rumah. Dan, ternyata bisa mendatangkan pundi-pundi rupiah.

Ramses Tobing, Pontianak

Adalah Riszky Fahrul Yahya. Di tangan pria yang bekerja sebagai Dosen Universitas Panca Bakti Pontianak ini seruan ‘stay at home’ menjadi sesuatu yang bermanfaat dan menghasilkan rupiah. Walau lahan rumahnya terbatas, Riszky yang akrab disapa Iki ini tetap bersemangat bercocok tanam. Dia menggunakan atap rumahnya sebagai tempat budidaya hidroponik.

Bagi Iki, bercocok tanam bukanlah hal asing. Sebab, sudah dilakukannya sejak kecil. Dia pernah menggarap lahan gambut di belakang rumahnya di Komplek Puri Akcaya 3, Jalan Parit Haji Husin 2, Kecamatan Pontianak Tenggara.

“Namun prosesnya panjang dan menguras waktu. Jadi saya memilih hidroponik karena tak harus mengolah tanah,” ungkap Iki.

Luas lahan budidaya hidroponik di atap rumah seluas 5 meter x 3 meter. Iki menggunakan pipa paralon dengan diameter 2,5 inch. Satu pipa berisikan sekitar 25 lubang. Ada sepuluh pipa yang digunakan. Sedangkan untuk sirkulasi air digunakan pipa paralon berdiameter 1,5 inch.

Iki menggunakan kayu bekas sebagai pondasi. Memanfaatkan barang-barang bekas, untuk menghemat biaya produksi di awal. Perlengkapan lain yang dibutuhkan seperti pupuk AB MIX dan netpot sebagai wadah semaian sayur. Dia memilih jenis sayuran pakcoy, sawi keriting, caisim, kailan, dan sawi kampung.

Umumnya petani hidroponik menggunakan atap plastik UV. Namun, Iki tidak menggunakan atap karena khawatir terkena angin kencang dan tumbang. Sebab, lokasi bercocok tanam di atap. Semua instalasi hidroponik dikerjakannya sendiri. Selain belajar dari youtube, dia juga belajar dari kebun hidroponik orang lain.

Budidaya hidroponiknya menggunakan sistem NFT. Ia menjelaskan sistem ini merupakan budidaya tanaman dengan mengatur air dan nutrisi yang digunakan secara berulang-ulang sirkulasi air, nutrisi dan oksigen.

Ia mengatakan perawatan tanaman dengan sistem hidroponik tidaklah rumit. Biasanya dilakukan pagi dan sore. Bila pagi dari pukul 06.00-08.00, dan sore dari pukul 16.00-18.00. “Saat perawatan yang dicek, PPM dan kadar nutrisi di air. PPM itu satuan ukur dari kadar nutrisi di air. Alat ukurnya TDS meter,” jelas Iki.

Baca Juga :  Pernyataan Aksi Pencegatan "Setingan", Sutarmidji-Lasarus Sudah Selesai

Panen dilakukan sore hari. Begitu juga dengan pindah tanam. Iki sangat betah bercocok tanam karena budidaya hidroponik ini tidak mengganggu aktivitasnya sebagai dosen. Di sela-sela kesibukan justru dapat dimanfaatkan untuk tanaman.

“Paling yang banyak memakan waktu cuman ngebibit sama panen. Paling cuma dua jam dan itu tidak setiap hari. Kontrol pun tidak harus dilakukan setiap hari,” jelas pria kelahiran Gunung Meliau, 8 Oktober 1993 ini.

Waktu yang cukup lama pada packing dan merekap. Biasanya dikerjakan malam hari. Baru setelah itu diantar ke toko-toko. Sebab lain yang membuatnya betah karena potensi bisnisnya terhitung lumayan.

“Awalnya belum terkonsep sayuran untuk dijadikan bisnis. Ternyata banyak konsumen yang suka sama sayuran hidroponik. Jadi diseriuskan jualannya,” kata Iki.

Ia mengatakan keuntungan yang didapat cukup menambah pendapatan bulanannya. Sebab selama pandemi Covid-19, aktivitas banyak yang terhambat. Secara otomatis berpengaruh kepada pendapatan bulanan. Bahkan, banyak yang berkurang pendapatan.

Begitu juga dengan Iki, aktivitas mengajarnya di kampus juga berkurang. Jika biasanya dilakukan dengan tatap muka. Selama pandemi ini dominan dilakukan secara daring. “Paling tidak selama WHF harus kreatif. Meskipun dari rumah bisa menghasilkan pendapatan,” kata dia.

Iki sendiri baru mulai serius menekuni budidaya hidroponik ini pada Desember 2020. Namun, ia belajar budidaya dengan sistem ini sejak April 2019. Kendati demikian sistem tanam yang dilakukannya terbilang berhasil.

Meskipun baru, ia sama sekali belum pernah mengalami gagal panen. Hanya saja di awal-awal sulit. Sayurannya belum banyak yang laku. Sebab saat itu ia masih mengandalkan media sosial untuk memasarkannya. Sayurannya belum ke toko-toko yang khusus menjual sayur-sayur segar.

“Karena belum banyak yang tahu. Sebagian dijual sebagian dibagikan ke tetangga. Sekarang sudah masuk ke ritel-ritel di kawasan Jalan Sungai Raya Dalam. Dalam tiga hari itu bisa habis 40 pack,” jelas Iki.

Tingginya animo masyarakat melakukan budidaya hidroponik juga diakui Kepala Dinas Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kota Pontianak, Bintoro. Pihaknya mencatat ada 16 petani hidroponik yang mendapat binaan.

Namun, menurut Bintoro, jumlah petani hidroponik di Kota Pontianak lebih dari itu. Dari sekedar iseng memanfaatkan pekarangan rumah hingga serius menjadikan budidaya hidroponik sebagai pendapatan.

Baca Juga :  Produk Turunan Sayur Kale Digandrungi Masyarakat

Bintoro mengatakan jika mengacu pada Nilai Tukar Petani, hasil dari budidaya hidroponik dinilai cukup membantu.

Hasil penjualannya bisa dirasakan langsung para petani hidroponik. Oleh karena itu Pemerintah Kota Pontianak memberikan dukungan seperti edukasi atau peningkatan sarana dan prasarana. Namun, lanjut Bintoro, sejauh ini budidaya hidroponik yang dilakukan masyarakat masih pada jenis tanaman sayuran.
“Umumnya tanaman dengan usia panen tidak kurang dari 30 hari. Tanaman lain juga bisa tapi pengaruh pada saluran pengairannya,” kata Bintoro.

Meski demikian, ia mengapresiasi dengan animo masyarakat terhadap budidaya ini. Sebab tidak hanya mendukung ketahanan pangan tapi juga bisa memanfaatkan lahan pekarangan meskipun sempit. “Kami sudah berupaya mengakomodir dengan memberikan dukungan sarana dan prasarananya, karena kami punya program kampung sayur dan kampung tangguh,” jelasnya.

Kepala Dinas Pangan Kalimantan Barat, Heronimus Hero mengatakan budidaya hidroponik dapat membantu ketahanan pangan masyarakat. Hidroponik masuk mendukung aspek ketersediaan pangan karena memperkaya sumber pangan. Apalagi jenis tanaman pun tidak hanya sayur mayur tapi juga buah-buahan seperti strawberry dan melon.

“Sangat bisa karena strategi budidaya ini untuk masyarakat yang memiliki keterbatasan lahan,” kata Hero.

Keuntungan lainnya menurut Hero, hidroponik juga berperan dalam mengurangi pengeluaran keluarga untuk pangan. Hal itu berpengaruh pada salah satu indikator yaitu persentase pengeluaran rumah tangga untuk pangan. Termasuk bagaimana mendukung kesejahteraan karena dapat menambah pendapatan masyarakat.

Akademisi Universitas Tanjungpura Pontianak Muhammad Fahmi mengatakan situasi pandemi mendorong masyarakat untuk beradaptasi. Sebab situasi yang dijalani berbeda dengan sebelumnya. Selain adaptasi perlu juga menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

“Misalnya masyarakat menginginkan makanan sehat. Bisa saja dengan produksi dari budidaya hidroponik,” kata Fahmi.

Anggota DPD Kota Pontianak Ariadi mengatakan budidaya hidroponik masuk kategori ekonomi kreatif. Meski di tengah pandemi, perekonomian masyarakat tetap masih bisa bertahan. “Salah satunya dari dengan budidaya hidroponik. Mendatangkan pendapatan bagi masyarakat,” kata Ketua DPC Demokrat Pontianak ini.

Ariadi melanjutkan pihaknya mendorong Dinas Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kota Pontianak memberikan pelatihan bagi masyarakat dalam melakukan budidaya hidroponik. “Pertanian ini di komisi 2 dan saya di dalamnya (Komisi 2). Sudah kami dorong agar dinas memberikan pelatihan kepada masyarakat mengenai hidroponik,” pungkasnya. (*)

Di rumah saja. Itu yang digaungkan saat Pandemi Covid-19. Namun, bukan berarti hanya berdiam diri. Banyak hal yang bisa dilakukan, walau hanya di rumah. Salah satunya budidaya tanaman dengan media hidroponik di atap rumah. Dan, ternyata bisa mendatangkan pundi-pundi rupiah.

Ramses Tobing, Pontianak

Adalah Riszky Fahrul Yahya. Di tangan pria yang bekerja sebagai Dosen Universitas Panca Bakti Pontianak ini seruan ‘stay at home’ menjadi sesuatu yang bermanfaat dan menghasilkan rupiah. Walau lahan rumahnya terbatas, Riszky yang akrab disapa Iki ini tetap bersemangat bercocok tanam. Dia menggunakan atap rumahnya sebagai tempat budidaya hidroponik.

Bagi Iki, bercocok tanam bukanlah hal asing. Sebab, sudah dilakukannya sejak kecil. Dia pernah menggarap lahan gambut di belakang rumahnya di Komplek Puri Akcaya 3, Jalan Parit Haji Husin 2, Kecamatan Pontianak Tenggara.

“Namun prosesnya panjang dan menguras waktu. Jadi saya memilih hidroponik karena tak harus mengolah tanah,” ungkap Iki.

Luas lahan budidaya hidroponik di atap rumah seluas 5 meter x 3 meter. Iki menggunakan pipa paralon dengan diameter 2,5 inch. Satu pipa berisikan sekitar 25 lubang. Ada sepuluh pipa yang digunakan. Sedangkan untuk sirkulasi air digunakan pipa paralon berdiameter 1,5 inch.

Iki menggunakan kayu bekas sebagai pondasi. Memanfaatkan barang-barang bekas, untuk menghemat biaya produksi di awal. Perlengkapan lain yang dibutuhkan seperti pupuk AB MIX dan netpot sebagai wadah semaian sayur. Dia memilih jenis sayuran pakcoy, sawi keriting, caisim, kailan, dan sawi kampung.

Umumnya petani hidroponik menggunakan atap plastik UV. Namun, Iki tidak menggunakan atap karena khawatir terkena angin kencang dan tumbang. Sebab, lokasi bercocok tanam di atap. Semua instalasi hidroponik dikerjakannya sendiri. Selain belajar dari youtube, dia juga belajar dari kebun hidroponik orang lain.

Budidaya hidroponiknya menggunakan sistem NFT. Ia menjelaskan sistem ini merupakan budidaya tanaman dengan mengatur air dan nutrisi yang digunakan secara berulang-ulang sirkulasi air, nutrisi dan oksigen.

Ia mengatakan perawatan tanaman dengan sistem hidroponik tidaklah rumit. Biasanya dilakukan pagi dan sore. Bila pagi dari pukul 06.00-08.00, dan sore dari pukul 16.00-18.00. “Saat perawatan yang dicek, PPM dan kadar nutrisi di air. PPM itu satuan ukur dari kadar nutrisi di air. Alat ukurnya TDS meter,” jelas Iki.

Baca Juga :  Kejati Tangkap Buronan Korupsi PNPM di Rumah Kontrakan

Panen dilakukan sore hari. Begitu juga dengan pindah tanam. Iki sangat betah bercocok tanam karena budidaya hidroponik ini tidak mengganggu aktivitasnya sebagai dosen. Di sela-sela kesibukan justru dapat dimanfaatkan untuk tanaman.

“Paling yang banyak memakan waktu cuman ngebibit sama panen. Paling cuma dua jam dan itu tidak setiap hari. Kontrol pun tidak harus dilakukan setiap hari,” jelas pria kelahiran Gunung Meliau, 8 Oktober 1993 ini.

Waktu yang cukup lama pada packing dan merekap. Biasanya dikerjakan malam hari. Baru setelah itu diantar ke toko-toko. Sebab lain yang membuatnya betah karena potensi bisnisnya terhitung lumayan.

“Awalnya belum terkonsep sayuran untuk dijadikan bisnis. Ternyata banyak konsumen yang suka sama sayuran hidroponik. Jadi diseriuskan jualannya,” kata Iki.

Ia mengatakan keuntungan yang didapat cukup menambah pendapatan bulanannya. Sebab selama pandemi Covid-19, aktivitas banyak yang terhambat. Secara otomatis berpengaruh kepada pendapatan bulanan. Bahkan, banyak yang berkurang pendapatan.

Begitu juga dengan Iki, aktivitas mengajarnya di kampus juga berkurang. Jika biasanya dilakukan dengan tatap muka. Selama pandemi ini dominan dilakukan secara daring. “Paling tidak selama WHF harus kreatif. Meskipun dari rumah bisa menghasilkan pendapatan,” kata dia.

Iki sendiri baru mulai serius menekuni budidaya hidroponik ini pada Desember 2020. Namun, ia belajar budidaya dengan sistem ini sejak April 2019. Kendati demikian sistem tanam yang dilakukannya terbilang berhasil.

Meskipun baru, ia sama sekali belum pernah mengalami gagal panen. Hanya saja di awal-awal sulit. Sayurannya belum banyak yang laku. Sebab saat itu ia masih mengandalkan media sosial untuk memasarkannya. Sayurannya belum ke toko-toko yang khusus menjual sayur-sayur segar.

“Karena belum banyak yang tahu. Sebagian dijual sebagian dibagikan ke tetangga. Sekarang sudah masuk ke ritel-ritel di kawasan Jalan Sungai Raya Dalam. Dalam tiga hari itu bisa habis 40 pack,” jelas Iki.

Tingginya animo masyarakat melakukan budidaya hidroponik juga diakui Kepala Dinas Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kota Pontianak, Bintoro. Pihaknya mencatat ada 16 petani hidroponik yang mendapat binaan.

Namun, menurut Bintoro, jumlah petani hidroponik di Kota Pontianak lebih dari itu. Dari sekedar iseng memanfaatkan pekarangan rumah hingga serius menjadikan budidaya hidroponik sebagai pendapatan.

Baca Juga :  Diserang Tumor Ganas, Kanker Usus Stadium 2

Bintoro mengatakan jika mengacu pada Nilai Tukar Petani, hasil dari budidaya hidroponik dinilai cukup membantu.

Hasil penjualannya bisa dirasakan langsung para petani hidroponik. Oleh karena itu Pemerintah Kota Pontianak memberikan dukungan seperti edukasi atau peningkatan sarana dan prasarana. Namun, lanjut Bintoro, sejauh ini budidaya hidroponik yang dilakukan masyarakat masih pada jenis tanaman sayuran.
“Umumnya tanaman dengan usia panen tidak kurang dari 30 hari. Tanaman lain juga bisa tapi pengaruh pada saluran pengairannya,” kata Bintoro.

Meski demikian, ia mengapresiasi dengan animo masyarakat terhadap budidaya ini. Sebab tidak hanya mendukung ketahanan pangan tapi juga bisa memanfaatkan lahan pekarangan meskipun sempit. “Kami sudah berupaya mengakomodir dengan memberikan dukungan sarana dan prasarananya, karena kami punya program kampung sayur dan kampung tangguh,” jelasnya.

Kepala Dinas Pangan Kalimantan Barat, Heronimus Hero mengatakan budidaya hidroponik dapat membantu ketahanan pangan masyarakat. Hidroponik masuk mendukung aspek ketersediaan pangan karena memperkaya sumber pangan. Apalagi jenis tanaman pun tidak hanya sayur mayur tapi juga buah-buahan seperti strawberry dan melon.

“Sangat bisa karena strategi budidaya ini untuk masyarakat yang memiliki keterbatasan lahan,” kata Hero.

Keuntungan lainnya menurut Hero, hidroponik juga berperan dalam mengurangi pengeluaran keluarga untuk pangan. Hal itu berpengaruh pada salah satu indikator yaitu persentase pengeluaran rumah tangga untuk pangan. Termasuk bagaimana mendukung kesejahteraan karena dapat menambah pendapatan masyarakat.

Akademisi Universitas Tanjungpura Pontianak Muhammad Fahmi mengatakan situasi pandemi mendorong masyarakat untuk beradaptasi. Sebab situasi yang dijalani berbeda dengan sebelumnya. Selain adaptasi perlu juga menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

“Misalnya masyarakat menginginkan makanan sehat. Bisa saja dengan produksi dari budidaya hidroponik,” kata Fahmi.

Anggota DPD Kota Pontianak Ariadi mengatakan budidaya hidroponik masuk kategori ekonomi kreatif. Meski di tengah pandemi, perekonomian masyarakat tetap masih bisa bertahan. “Salah satunya dari dengan budidaya hidroponik. Mendatangkan pendapatan bagi masyarakat,” kata Ketua DPC Demokrat Pontianak ini.

Ariadi melanjutkan pihaknya mendorong Dinas Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kota Pontianak memberikan pelatihan bagi masyarakat dalam melakukan budidaya hidroponik. “Pertanian ini di komisi 2 dan saya di dalamnya (Komisi 2). Sudah kami dorong agar dinas memberikan pelatihan kepada masyarakat mengenai hidroponik,” pungkasnya. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/