alexametrics
27 C
Pontianak
Sunday, June 26, 2022

Fenomena Langka di Langit Kubu Raya, Awan Arcus, Berbentuk Gelombang Tsunami

PONTIANAK–Masyarakat di Desa Sungai Asam, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantann Barat dihebohkan dengan pemandangan langit tidak biasa. Sebuah fenomena langka terjadi pada Kamis(29/1) seusai hujan mendera berupa awan berbentuk gelombang tsunami. Badan Meteorologi, Klimatologi, Geofisika Supadio Pontianak membenarkannya.

“Berdasarkan laporan warga, terdapat fenomena langka terjadi di langit Sungai Asam, Kecamatan Sungai Raya, Kubu Raya pada Kamis (29/1) kemarin sore, berupa kemunculan awan berbentuk seperti gelombang tsunami. Secara ilmiah dalam dunia meteorologi, fenomena ini dinamakan dengan awan Arcus (ref: cloud atlas World Meteorological Organization, WMO),” kata Kepala Stasiun Meteorologi Supadio Pontianak, Nanang Buchori, Jumat(29/1) di Pontianak.

Menurut dia fitur awan Arcus dapat ditemukan di antara jenis awan Cumulonimbus dan Cumulus. Awan Arcus adalah awan yang lazim terjadi meskipun frekuensi kejadiannya jarang. Awan Arcus memiliki tinggi dasar awan rendah, dan formasi pembentukannya horizontal memanjang seolah-olah seperti gelombang.

Sebelumnya juga BMKG mengamati awan jenis ini pernah terlihat di wilayah Kalimantan Barat pada 6 Desember 2015 di Stasiun Meteorologi Supadio, dan Kabupaten Sanggau pada 26 September 2020.
Selanjutnya pada tanggal 9 Oktober 2020 terjadi di Kota Pontianak. Sempat viral viral nasional berada di Provinsi Aceh pada 10 Agustus 2020.

Baca Juga :  Teguran Keras buat Pangkalan yang Menjual ke Pengecer

Lebih jauh dijelaskan Nanang bahwa fenomena awan Arcus terbentuk sebagai hasil dari ketidakstabilan atmosfer di sepanjang pertemuan massa udara lebih dingin dengan massa udara lebih hangat juga lembab. Sehingga membentuk tipe awan yang memiliki pola pembentukan horizontal memanjang.

Kondisi tersebut, sambungnya, dapat terjadi salah satunya karena adanya fenomena angin laut dalam skala luas mendorong massa udara ke daratan. Sementara kondisi cuaca di sekitar wilayah Kecamatan Sungai Raya sedang terjadi hujan sejak pukul 13.00 sampai 15.00 WIB.

Selanjutnya terlihat pada pantauan radar cuaca terdapat sel awan Cumulonimbus berbentuk memanjang yang biasa disebut squalline dari arah utara, sekitar wilayah Mempawah pukul 15.40 WIB. Awannya bergerak menuju ke Kota Pontianak sekitar pukul 16.30 WIB kemudian berlanjut menuju wilayah Sungai Raya pukul 17.00 WIB.

“Diduga pada sekitar pukul 17.00 WIB terbentuknya awan Arcus, karena wilayah Sungai Raya sudah dingin akibat telah terjadinya hujan sebelumnya,” kata Nanang.

Baca Juga :  Peredaran Narkoba Masih Marak; Tiga Bulan, Polisi Sita Berbagai Jenis Narkotika

Dia menyebutkan bahwa fenomena awan Arcus dapat menimbulkan angin kencang dan hujan lebat disertai kilat atau petir di sekitar pertumbuhan awan. Kecepatan angin maksimum tercatat di Stasiun Meteorologi Supadio sebesar 15 knot atau setara 28 km/jam. Sedangkan di Kota Pontianak maksimum 17 knot setara 30 km/jam.

Akumulasi jumlah curah hujan di Stasiun Meteorologi Supadio Pontianak selama 24 jam sebesar 27,6 Milimeter masuk kategori hujan intensitas sedang.

Diprakirakan kondisi cuaca untuk 7 hari ke depan masih berpotensi terjadi hujan di sebagian besar wilayah Kalbar dengan intensitas ringan hingga lebat.

Nanang melanjutkan bahwa potensi hujan intensitas sedang hingga lebat diprakirakan dominan terjadi di wilayah Kalimantan Barat bagian timur, seperti Kabupaten Kapuas Hulu, Sintang, Melawi, Sekadau dan sekitarnya.

Masyarakat dihimbau mewaspadai potensi hujan sedang hingga lebat tersebut. Potensi hujan yang bisa disertai angin kencang berdurasi singkat diprakirakan masih berpotensi terjadi di wilayah pesisir barat Kalimantan Barat, khususnya pada kejadian hujan intensitas sedang hingga lebat pada siang hingga sore hari.
(den)

PONTIANAK–Masyarakat di Desa Sungai Asam, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantann Barat dihebohkan dengan pemandangan langit tidak biasa. Sebuah fenomena langka terjadi pada Kamis(29/1) seusai hujan mendera berupa awan berbentuk gelombang tsunami. Badan Meteorologi, Klimatologi, Geofisika Supadio Pontianak membenarkannya.

“Berdasarkan laporan warga, terdapat fenomena langka terjadi di langit Sungai Asam, Kecamatan Sungai Raya, Kubu Raya pada Kamis (29/1) kemarin sore, berupa kemunculan awan berbentuk seperti gelombang tsunami. Secara ilmiah dalam dunia meteorologi, fenomena ini dinamakan dengan awan Arcus (ref: cloud atlas World Meteorological Organization, WMO),” kata Kepala Stasiun Meteorologi Supadio Pontianak, Nanang Buchori, Jumat(29/1) di Pontianak.

Menurut dia fitur awan Arcus dapat ditemukan di antara jenis awan Cumulonimbus dan Cumulus. Awan Arcus adalah awan yang lazim terjadi meskipun frekuensi kejadiannya jarang. Awan Arcus memiliki tinggi dasar awan rendah, dan formasi pembentukannya horizontal memanjang seolah-olah seperti gelombang.

Sebelumnya juga BMKG mengamati awan jenis ini pernah terlihat di wilayah Kalimantan Barat pada 6 Desember 2015 di Stasiun Meteorologi Supadio, dan Kabupaten Sanggau pada 26 September 2020.
Selanjutnya pada tanggal 9 Oktober 2020 terjadi di Kota Pontianak. Sempat viral viral nasional berada di Provinsi Aceh pada 10 Agustus 2020.

Baca Juga :  Awal 2022 RSUD Siantan Berfungsi

Lebih jauh dijelaskan Nanang bahwa fenomena awan Arcus terbentuk sebagai hasil dari ketidakstabilan atmosfer di sepanjang pertemuan massa udara lebih dingin dengan massa udara lebih hangat juga lembab. Sehingga membentuk tipe awan yang memiliki pola pembentukan horizontal memanjang.

Kondisi tersebut, sambungnya, dapat terjadi salah satunya karena adanya fenomena angin laut dalam skala luas mendorong massa udara ke daratan. Sementara kondisi cuaca di sekitar wilayah Kecamatan Sungai Raya sedang terjadi hujan sejak pukul 13.00 sampai 15.00 WIB.

Selanjutnya terlihat pada pantauan radar cuaca terdapat sel awan Cumulonimbus berbentuk memanjang yang biasa disebut squalline dari arah utara, sekitar wilayah Mempawah pukul 15.40 WIB. Awannya bergerak menuju ke Kota Pontianak sekitar pukul 16.30 WIB kemudian berlanjut menuju wilayah Sungai Raya pukul 17.00 WIB.

“Diduga pada sekitar pukul 17.00 WIB terbentuknya awan Arcus, karena wilayah Sungai Raya sudah dingin akibat telah terjadinya hujan sebelumnya,” kata Nanang.

Baca Juga :  Medali Pertama untuk Kalbar Setelah 16 Tahun

Dia menyebutkan bahwa fenomena awan Arcus dapat menimbulkan angin kencang dan hujan lebat disertai kilat atau petir di sekitar pertumbuhan awan. Kecepatan angin maksimum tercatat di Stasiun Meteorologi Supadio sebesar 15 knot atau setara 28 km/jam. Sedangkan di Kota Pontianak maksimum 17 knot setara 30 km/jam.

Akumulasi jumlah curah hujan di Stasiun Meteorologi Supadio Pontianak selama 24 jam sebesar 27,6 Milimeter masuk kategori hujan intensitas sedang.

Diprakirakan kondisi cuaca untuk 7 hari ke depan masih berpotensi terjadi hujan di sebagian besar wilayah Kalbar dengan intensitas ringan hingga lebat.

Nanang melanjutkan bahwa potensi hujan intensitas sedang hingga lebat diprakirakan dominan terjadi di wilayah Kalimantan Barat bagian timur, seperti Kabupaten Kapuas Hulu, Sintang, Melawi, Sekadau dan sekitarnya.

Masyarakat dihimbau mewaspadai potensi hujan sedang hingga lebat tersebut. Potensi hujan yang bisa disertai angin kencang berdurasi singkat diprakirakan masih berpotensi terjadi di wilayah pesisir barat Kalimantan Barat, khususnya pada kejadian hujan intensitas sedang hingga lebat pada siang hingga sore hari.
(den)

Most Read

Artikel Terbaru

/