alexametrics
23 C
Pontianak
Wednesday, June 29, 2022

Pontianak Empat Besar Kota Polusi Terburuk se-Asia tenggara, Wali Kota Nilai IQAir Ngawur

PONTIANAK – Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono mempertanyakan penilaian Lembaga IQAir yang menyatakan kota di bawah kepemimpinannya masuk empat besar kota polusi terburuk se-Asia tenggara, setelah Tangerang Selatan, Bekasi, dan Pekan Baru. Ia meminta lembaga tersebut menampilkan indikator spesifik penilaian-penilaiannya secara detail.

“Saya tak yakin dengan penilaian lembaga itu. Apalagi sampai masuk empat besar kota berpolusi se-Asia Tenggara. Jakarta polusi tinggi pabrik-pabrik lebih banyak. Kalau di Pontianak, sampai saat ini udaranya masih segar-segar. Cuma lembab karena hujan, kalau musim kemarau terpapar kabut asap. Tapi kalau sekarang udara Pontianak masih nyaman,” kata Edi, kemarin.

Ia malah mempertanyakan balik, soal indikator penilaian lembaga yang telah mencap Pontianak sebagai kota berpolusi. Menurutnya, dalam menentukan sebuah kesimpulan, mesti memiliki indikator-indikatornya. Pertanyaan Edi, dari mana saja indikator yang didapat lembaga ini.

Baca Juga :  32 Paskibra Siap Laksanakan Tugas Pengibaran Bendera

Jika indikator pemantauan udara hanya melihat dari keseluruhan menurut Edi terlihat tidak detail. Mesti ada banyak kajian, barulah bisa menyimpulkan Kota Pontianak masuk dikategori udara baik atau buruk.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pontianak, Tinorma Butar-Butar menepis hasil lembaga survei yang menyatakan Pontianak masuk empat besar kota berpolusi. “Hasil itu tak tepat. Memang benar ISPU di Pontianak pernah masuk kategori berbahaya. Namun tak lama. Karena Pontianak kerap hujan,” katanya.

Jika penilaian polusi Pontianak karena kebakaran hutan dan lahan, dia menantang lembaga survei itu menampilkan data. Kata dia, dari data sumbangan titik api di Kalimantan Barat, Pontianak tak begitu besar. Karena kabut asap yang menyelimuti Pontianak merupakan asap kiriman dari kabupaten lain.

Baca Juga :  Wali Kota Ajak Pemuda Kembangkan Kreativitas Berbasis Digital

Kalau asap dari bakaran sampah dikatakan dia, memang ada namun jika itu sebagai kesimpulan Pontianak Kota berpolusi rasanya tidak tepat. Begitupula dengan polusi asap kendaraan. Hasil terakhir menyebutkan polusi kendaraan masih dalam status baik.(iza)

PONTIANAK – Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono mempertanyakan penilaian Lembaga IQAir yang menyatakan kota di bawah kepemimpinannya masuk empat besar kota polusi terburuk se-Asia tenggara, setelah Tangerang Selatan, Bekasi, dan Pekan Baru. Ia meminta lembaga tersebut menampilkan indikator spesifik penilaian-penilaiannya secara detail.

“Saya tak yakin dengan penilaian lembaga itu. Apalagi sampai masuk empat besar kota berpolusi se-Asia Tenggara. Jakarta polusi tinggi pabrik-pabrik lebih banyak. Kalau di Pontianak, sampai saat ini udaranya masih segar-segar. Cuma lembab karena hujan, kalau musim kemarau terpapar kabut asap. Tapi kalau sekarang udara Pontianak masih nyaman,” kata Edi, kemarin.

Ia malah mempertanyakan balik, soal indikator penilaian lembaga yang telah mencap Pontianak sebagai kota berpolusi. Menurutnya, dalam menentukan sebuah kesimpulan, mesti memiliki indikator-indikatornya. Pertanyaan Edi, dari mana saja indikator yang didapat lembaga ini.

Baca Juga :  Pilkada Digelar Desember, Ragukan Kesiapan Partai dan Bacalonkada?

Jika indikator pemantauan udara hanya melihat dari keseluruhan menurut Edi terlihat tidak detail. Mesti ada banyak kajian, barulah bisa menyimpulkan Kota Pontianak masuk dikategori udara baik atau buruk.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pontianak, Tinorma Butar-Butar menepis hasil lembaga survei yang menyatakan Pontianak masuk empat besar kota berpolusi. “Hasil itu tak tepat. Memang benar ISPU di Pontianak pernah masuk kategori berbahaya. Namun tak lama. Karena Pontianak kerap hujan,” katanya.

Jika penilaian polusi Pontianak karena kebakaran hutan dan lahan, dia menantang lembaga survei itu menampilkan data. Kata dia, dari data sumbangan titik api di Kalimantan Barat, Pontianak tak begitu besar. Karena kabut asap yang menyelimuti Pontianak merupakan asap kiriman dari kabupaten lain.

Baca Juga :  Pejabat Selalu Mengekor Walikota, Satarudin: Kepala Dinas Harus Bekerja Sesuai Tupoksi

Kalau asap dari bakaran sampah dikatakan dia, memang ada namun jika itu sebagai kesimpulan Pontianak Kota berpolusi rasanya tidak tepat. Begitupula dengan polusi asap kendaraan. Hasil terakhir menyebutkan polusi kendaraan masih dalam status baik.(iza)

Most Read

Artikel Terbaru

/