alexametrics
27 C
Pontianak
Sunday, June 26, 2022

Menteri Koperasi Sambangi Pusat Koperasi Kredit BKCU

Menteri Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah, Teten Masduki mendorong tiga unicorn Credit Union (CU) di Kalimantan Barat bergerak di sektor perkebunan dan kelautan. Hal tersebut disampaikan Teten saat berdiskusi bersama sejumlah pengelola Koperasi Credit Union di Kantor Pusat Koperasi Kredit BKCU, Gang H Mursyid I, Jalan Imam Bonjol, Minggu (28/3) pagi.

RAMSES TOBING, Pontianak

TETEN cukup terkesima ketika mengetahui nilai aset dari tiga unicorn CU. Antara lain CU Lantang Tipo dengan nilai aset Rp3,6 triliun. Kemudian CU Pancur Kasih dengan nilai aset Rp2 trilun lebih. Terakhir CU Keling Kumang, asetnya Rp1 triliun lebih.

“(Hampir) 90 persen sektor kelautan itu masih di UMKM, sementara Indonesia punya kekayaan laut yang luar biasa,” kata Teten, dalam diskusi tersebut.

Menurutnya, sebagai koperasi simpan pinjam, CU bisa membangun konglomerasi sosial, sehingga tidak hanya terfokus pada usaha kerajinan dan tradisional. “Benefit pertumbuhan ekonominya akan bisa dinikmati rakyat,” sambung Teten.

Baca Juga :  Insentif UMKM Percepat Pemulihan Ekonomi

Mantan Kepala Staf Kepresidenan tersebut berpandangan agar semestinya CU bisa masuk ke rantai pasok nasional dan global. Ia mencontohkan UMKM di beberapa negara, seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea.

“Skala UMKM-nya besar, mereka tidak membuat produk jadi. Mereka membuat komponen, bahan penolong industri, sehingga terintrasi dengan rantai pasok nasional dan global. Ini yang harus dilakukan,” jelas dia.

Sementara itu Ketua Pengurus Puskopdit BKCU Kalimantan, Edi Vinsensius Petebang menyampaikan beberapa usulan dalam diskusi bersama Teten Masduki tersebut. Antara lain memasukan CU sebagai salah satu jenis koperasi simpan pinjam dalam regulasi yang dikeluarkan pemerintah, baik itu undang-undang, peraturan pemerintah, maupun peraturan menteri.

“Sudah lama kami suarakan, utamanya ke Kementerian Koperasi. Soal jenis koperasi credit union tidak pernah disebut, padahal faktanya ada. Di Kalbar saja asetnya jika dikumpulkan hampi Rp9 triliuan. Credit union itu memiliki ciri khas sendiri, sehingga tidak bisa disamakan dengan koperasi simpan pinjam yang lain,” terang dia. “Kami ingin ada pengakuan itu karena banyak orang mendapatkan manfaat. Usia credit union di Indonesia sendiri sudah hampir 80 tahun juga,” terang dia.

Baca Juga :  Korsleting, Rumah Kosong Terbakar

Usulan lainnya berkaitan dengan cara penghitungan pajak atas bunga simpanan. Menurutnya, anggota tidak kena pajak jika bunga simpanan anggota senilai Rp240 ribu. “Sementara jika bunga simpanan itu Rp241 ribu, yang Rp240 gratis, sementara yang terhitung pajak dari simpanan itu Rp1.000,” sampai Edi.

Ia juga mengusukan agar nilai pajak atas bunga simpanan dinaikkan dari Rp240 ribu menjadi Rp1 juta. “Jadi bisa dinaikan, jika simpanan anggota Rp1 juta bisa dikenakan pajak,” jelasnya.

Edi juga berharap pemerintah tetap terus mendampingi dan melibatkan koperasi credit union dalam berbagai pelatihan. (*)

Menteri Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah, Teten Masduki mendorong tiga unicorn Credit Union (CU) di Kalimantan Barat bergerak di sektor perkebunan dan kelautan. Hal tersebut disampaikan Teten saat berdiskusi bersama sejumlah pengelola Koperasi Credit Union di Kantor Pusat Koperasi Kredit BKCU, Gang H Mursyid I, Jalan Imam Bonjol, Minggu (28/3) pagi.

RAMSES TOBING, Pontianak

TETEN cukup terkesima ketika mengetahui nilai aset dari tiga unicorn CU. Antara lain CU Lantang Tipo dengan nilai aset Rp3,6 triliun. Kemudian CU Pancur Kasih dengan nilai aset Rp2 trilun lebih. Terakhir CU Keling Kumang, asetnya Rp1 triliun lebih.

“(Hampir) 90 persen sektor kelautan itu masih di UMKM, sementara Indonesia punya kekayaan laut yang luar biasa,” kata Teten, dalam diskusi tersebut.

Menurutnya, sebagai koperasi simpan pinjam, CU bisa membangun konglomerasi sosial, sehingga tidak hanya terfokus pada usaha kerajinan dan tradisional. “Benefit pertumbuhan ekonominya akan bisa dinikmati rakyat,” sambung Teten.

Baca Juga :  Tinjau Ulang Lahan Konsesi Perkebunan

Mantan Kepala Staf Kepresidenan tersebut berpandangan agar semestinya CU bisa masuk ke rantai pasok nasional dan global. Ia mencontohkan UMKM di beberapa negara, seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea.

“Skala UMKM-nya besar, mereka tidak membuat produk jadi. Mereka membuat komponen, bahan penolong industri, sehingga terintrasi dengan rantai pasok nasional dan global. Ini yang harus dilakukan,” jelas dia.

Sementara itu Ketua Pengurus Puskopdit BKCU Kalimantan, Edi Vinsensius Petebang menyampaikan beberapa usulan dalam diskusi bersama Teten Masduki tersebut. Antara lain memasukan CU sebagai salah satu jenis koperasi simpan pinjam dalam regulasi yang dikeluarkan pemerintah, baik itu undang-undang, peraturan pemerintah, maupun peraturan menteri.

“Sudah lama kami suarakan, utamanya ke Kementerian Koperasi. Soal jenis koperasi credit union tidak pernah disebut, padahal faktanya ada. Di Kalbar saja asetnya jika dikumpulkan hampi Rp9 triliuan. Credit union itu memiliki ciri khas sendiri, sehingga tidak bisa disamakan dengan koperasi simpan pinjam yang lain,” terang dia. “Kami ingin ada pengakuan itu karena banyak orang mendapatkan manfaat. Usia credit union di Indonesia sendiri sudah hampir 80 tahun juga,” terang dia.

Baca Juga :  Insentif UMKM Percepat Pemulihan Ekonomi

Usulan lainnya berkaitan dengan cara penghitungan pajak atas bunga simpanan. Menurutnya, anggota tidak kena pajak jika bunga simpanan anggota senilai Rp240 ribu. “Sementara jika bunga simpanan itu Rp241 ribu, yang Rp240 gratis, sementara yang terhitung pajak dari simpanan itu Rp1.000,” sampai Edi.

Ia juga mengusukan agar nilai pajak atas bunga simpanan dinaikkan dari Rp240 ribu menjadi Rp1 juta. “Jadi bisa dinaikan, jika simpanan anggota Rp1 juta bisa dikenakan pajak,” jelasnya.

Edi juga berharap pemerintah tetap terus mendampingi dan melibatkan koperasi credit union dalam berbagai pelatihan. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/