alexametrics
26 C
Pontianak
Thursday, June 30, 2022

Dari Coba-coba Kini Menghasilkan Rupiah

Berawal dari coba-coba, Dedi Setiawan semakin serius menekun keterampilan membuat gelang atau strap jam tangan berbahan dasar paracord. Kini pelanggannya semakin bertambah. Meski bukan pekerjaan utama, tapi cukup menjadi tambahan pendapatan saat pandemi Covid-19 melanda.

Ramses Tobing, Pontianak

Empat tahun sudah, Amonk begitu ia disapa menggeluti kerajinan tangan dengan menggunakan paracord atau tali parasut. Padahal awalnya hanya coba-coba. Kini ia semakin mengandrunginya.

“Awalnya ada tanya, saya bisa tidak membuat gelang dari tali, saya bilang bisa, dan ternyata tiga hari baru selesai,” kata Amonk, saat ditemui Pontianak Post, di salah satu warung kopi, Jalan Reformasi, Kecamatan Pontianak Selatan, belum lama ini.

Amonk saat itu sedang menyelesaikan strap jam tangan pesanan dari pelanggan. Warung kopi memang menjadi tempat langganannya untuk menyelesaikan pesanan itu. Rutinitas itu dilakukannya karena bertemu langsung dengan pelanggan.  Untuk membuat satu strap jam tangan membutuhkan waktu satu jam. Namun dilihat lagi dengan tingkat kerumitannya. Biasanya pemesan adalah pemilik jam yang tali sudah putus. Sementara kondisinya masih bagus sehingga pilihannya dibuatkan strap jam tangan.

Peralatan untuk membuat menganyam tidak banyak. Antara lain jig, gunting, jarum, korek api dan tali paracord. Khusus jiq digunakan untuk menganyam sekalis menarik tali paracord yang akan dianyam agar terik. Sementara korek api, lebih baik menggunakan yang bara.  “Kalau yang korek api bara itu pembakarannya ke tali paracord lebih bagus ketimbang yang gas,” kata Amonk.

Untuk harga yang ditawarkan beragam. Mulai dari Rp95 ribu hingga Rp165 ribu per buah. Khusus jam tangan perempuan harga yang ditawarkan lebih murah. Dari Rp50 ribu hingga Rp80 per buah. Namun Amonk menawarkan bonus bagi pelangganya. Seperti gantungan kunci hingga gelang dari tali paracord. Ia juga memberikan garansi seumur hidup, jika ada kerusakan dianyaman tali paracrdnya.

Baca Juga :  Berikan Bantuan untuk Mahasiswa Rantau

Sementara harga yang ditawarkan tergantung tingkat kerumitan. Semakin rumit anyaman maka berpengaruh pada harga. Belum lagi asesoris yang digunakan. Semakin banyak menggunakan asesoris maka harga yang ditawarkan juga bertambah.  Ketebalan tali yang digunakan untuk membuat strap jam tangan pun berbeda. Jam perempuan misalnya. Tali yang digunakan biasanya memiliki ketebalan dua mili. Sedangkan strap jam tangan laki-laki memakai tali dengan ketebalan empat mili meter.

“Kalau untuk perempuan, karena lengan kecil sehingga diameter tali yang digunakan juga kecil, ukurannya dua mili,” kata Amonk.  Ia menjelaskan keterampilan menganyam tali paracod itu dipelajarinya dari youtube dan komunitas. Untuk Indonesia, nama komunitasnya Indonesia paracordist. Dan ia tergabung di dalam komunitas itu.  “Dari komunitas, belajar model dan jenis anyaman tali paracord, sampai sekarang pun terus belajar,” tambah Amonk.

Sebagian besar bahan baku yang digunakan untuk menganyam juga didapatkannya dari komunitas. Meski ada juga yang beli di beberapa toko online. Sebulan, ia bisa menghabiskan 100 meter tali paracord untuk dijadikan anyaman berbagai kerajinan. Ia memastikan tali paracord yang dipakai tidak banyak terbuang. Untuk jam tangan cowok misalnya. Rata-rata membutuhkan tali paracord sepanjang tiga meter. Jika ada lebih, maka dibuatkannya gelang atau cincin.

Saat ini penggunaan tali paracord sedang populer di kalangan muda mudi. Kondisi itu yang kemudian membuat pelanggan bertambah. Meski di awal-awal pandemi Covid-19 tahun 2020, ia sempat kehilang pelanggan. Ketika itu yang diorder hanya gelang seharga Rp15 ribu. Karena sepi, Amonk memilih tidak menerima orderan.

Baca Juga :  Malam Ini Jam Malam Dimulai

Sementara dalam situasi normal, dalam sebulan ia bisa mendapat 10 pesanan anyaman tali paracord. Kalau dirupiahkan, penghasilan kotor sebulan berkisar antara Rp4 juta hingga Rp5 juta

“Sekarang mulai ramai lagi seperti hari-hari normal,” kata anak kedua dari dua bersaudara ini. Biasanya pemesan paling ramai itu pada hari-hari besar keagamaan. Seperti Natal, Idulfitri, atau menjelang akhir tahun. Termasuk saat penerimaan mahasiswa baru. “Tetap ada pasang surutnya, tapi pada bulan-bulan tertentu lumayan ramai yang pesan,” jelas dia.

Untuk promosi sendiri ia mengandalkan media sosial. Tak heran pelanggannya pun ada yang dari luar Kalbar. Antara lain Jambi dan Sulawesi. Ia juga mengandalkan penjualan dari mulut ke mulut.  Selain itu, menitipkan beberapa hasil anyaman tali paracordnya ke beberapa toko. Seperti dua toko di Pontianak. Kemudian satu toko masing-masing di Jawai (Sambas), Sekura (Sambas) dan Singkawang.

“Saya titip ke distro, cuma untuk model yang simple. Kalau custom stok tidak ready, jadi harus pesan order dulu,” kata Amonk. Kerajinan lain yang bisa dibuat Amonk antara lain, sarung HP, tempat rokok, ikat pimggang, gelang custom, cincin, pouch botol, gantungan kunci, hingga souvenir untuk nikah. Harga yang ditawarkan menyesuaikan pengerjaan. Semakin rumi, semakin ramai varian yang diinginkan akan mempengaruhi harga. Apalagi jika dibebankan dengan target waktu penyelesaian.  Amonk berencana untuk menambah jumlah produk yang akan dititipkan ke toko. Termasuk lebih fokus kemasan produk, hingga memanfaatkan tik tok untuk promosi kerajinan tangan tali paracord. (*)

Berawal dari coba-coba, Dedi Setiawan semakin serius menekun keterampilan membuat gelang atau strap jam tangan berbahan dasar paracord. Kini pelanggannya semakin bertambah. Meski bukan pekerjaan utama, tapi cukup menjadi tambahan pendapatan saat pandemi Covid-19 melanda.

Ramses Tobing, Pontianak

Empat tahun sudah, Amonk begitu ia disapa menggeluti kerajinan tangan dengan menggunakan paracord atau tali parasut. Padahal awalnya hanya coba-coba. Kini ia semakin mengandrunginya.

“Awalnya ada tanya, saya bisa tidak membuat gelang dari tali, saya bilang bisa, dan ternyata tiga hari baru selesai,” kata Amonk, saat ditemui Pontianak Post, di salah satu warung kopi, Jalan Reformasi, Kecamatan Pontianak Selatan, belum lama ini.

Amonk saat itu sedang menyelesaikan strap jam tangan pesanan dari pelanggan. Warung kopi memang menjadi tempat langganannya untuk menyelesaikan pesanan itu. Rutinitas itu dilakukannya karena bertemu langsung dengan pelanggan.  Untuk membuat satu strap jam tangan membutuhkan waktu satu jam. Namun dilihat lagi dengan tingkat kerumitannya. Biasanya pemesan adalah pemilik jam yang tali sudah putus. Sementara kondisinya masih bagus sehingga pilihannya dibuatkan strap jam tangan.

Peralatan untuk membuat menganyam tidak banyak. Antara lain jig, gunting, jarum, korek api dan tali paracord. Khusus jiq digunakan untuk menganyam sekalis menarik tali paracord yang akan dianyam agar terik. Sementara korek api, lebih baik menggunakan yang bara.  “Kalau yang korek api bara itu pembakarannya ke tali paracord lebih bagus ketimbang yang gas,” kata Amonk.

Untuk harga yang ditawarkan beragam. Mulai dari Rp95 ribu hingga Rp165 ribu per buah. Khusus jam tangan perempuan harga yang ditawarkan lebih murah. Dari Rp50 ribu hingga Rp80 per buah. Namun Amonk menawarkan bonus bagi pelangganya. Seperti gantungan kunci hingga gelang dari tali paracord. Ia juga memberikan garansi seumur hidup, jika ada kerusakan dianyaman tali paracrdnya.

Baca Juga :  Tambah Bangunan, Siapkan Pelayanan Gigi dan Mata Terbaik

Sementara harga yang ditawarkan tergantung tingkat kerumitan. Semakin rumit anyaman maka berpengaruh pada harga. Belum lagi asesoris yang digunakan. Semakin banyak menggunakan asesoris maka harga yang ditawarkan juga bertambah.  Ketebalan tali yang digunakan untuk membuat strap jam tangan pun berbeda. Jam perempuan misalnya. Tali yang digunakan biasanya memiliki ketebalan dua mili. Sedangkan strap jam tangan laki-laki memakai tali dengan ketebalan empat mili meter.

“Kalau untuk perempuan, karena lengan kecil sehingga diameter tali yang digunakan juga kecil, ukurannya dua mili,” kata Amonk.  Ia menjelaskan keterampilan menganyam tali paracod itu dipelajarinya dari youtube dan komunitas. Untuk Indonesia, nama komunitasnya Indonesia paracordist. Dan ia tergabung di dalam komunitas itu.  “Dari komunitas, belajar model dan jenis anyaman tali paracord, sampai sekarang pun terus belajar,” tambah Amonk.

Sebagian besar bahan baku yang digunakan untuk menganyam juga didapatkannya dari komunitas. Meski ada juga yang beli di beberapa toko online. Sebulan, ia bisa menghabiskan 100 meter tali paracord untuk dijadikan anyaman berbagai kerajinan. Ia memastikan tali paracord yang dipakai tidak banyak terbuang. Untuk jam tangan cowok misalnya. Rata-rata membutuhkan tali paracord sepanjang tiga meter. Jika ada lebih, maka dibuatkannya gelang atau cincin.

Saat ini penggunaan tali paracord sedang populer di kalangan muda mudi. Kondisi itu yang kemudian membuat pelanggan bertambah. Meski di awal-awal pandemi Covid-19 tahun 2020, ia sempat kehilang pelanggan. Ketika itu yang diorder hanya gelang seharga Rp15 ribu. Karena sepi, Amonk memilih tidak menerima orderan.

Baca Juga :  Komisi IV Bertemu BPH Migas, Terkejut Kalbar Krisis Energi BBM Subsidi

Sementara dalam situasi normal, dalam sebulan ia bisa mendapat 10 pesanan anyaman tali paracord. Kalau dirupiahkan, penghasilan kotor sebulan berkisar antara Rp4 juta hingga Rp5 juta

“Sekarang mulai ramai lagi seperti hari-hari normal,” kata anak kedua dari dua bersaudara ini. Biasanya pemesan paling ramai itu pada hari-hari besar keagamaan. Seperti Natal, Idulfitri, atau menjelang akhir tahun. Termasuk saat penerimaan mahasiswa baru. “Tetap ada pasang surutnya, tapi pada bulan-bulan tertentu lumayan ramai yang pesan,” jelas dia.

Untuk promosi sendiri ia mengandalkan media sosial. Tak heran pelanggannya pun ada yang dari luar Kalbar. Antara lain Jambi dan Sulawesi. Ia juga mengandalkan penjualan dari mulut ke mulut.  Selain itu, menitipkan beberapa hasil anyaman tali paracordnya ke beberapa toko. Seperti dua toko di Pontianak. Kemudian satu toko masing-masing di Jawai (Sambas), Sekura (Sambas) dan Singkawang.

“Saya titip ke distro, cuma untuk model yang simple. Kalau custom stok tidak ready, jadi harus pesan order dulu,” kata Amonk. Kerajinan lain yang bisa dibuat Amonk antara lain, sarung HP, tempat rokok, ikat pimggang, gelang custom, cincin, pouch botol, gantungan kunci, hingga souvenir untuk nikah. Harga yang ditawarkan menyesuaikan pengerjaan. Semakin rumi, semakin ramai varian yang diinginkan akan mempengaruhi harga. Apalagi jika dibebankan dengan target waktu penyelesaian.  Amonk berencana untuk menambah jumlah produk yang akan dititipkan ke toko. Termasuk lebih fokus kemasan produk, hingga memanfaatkan tik tok untuk promosi kerajinan tangan tali paracord. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/