alexametrics
26.7 C
Pontianak
Friday, August 19, 2022

Nasib Ekspor Ekspor Kratom di Masa Pandemi Covid-19

Perbulan Capai 800 Ton, Terbesar ke  AS dan India

Pandemi Covid-19 telah menggoyang ekonomi semua negara di dunia. Tidak sedikit negara yang menunda pengiriman komoditas ekspor ke luar negeri. Bagaimanakah nasib ekspor daun kratom di masa kini?

ARIEF NUGROHO, Pontianak

Menurunnya angka ekspor impor di berbagai belahan dunia ternyata tidak berlaku pada komoditas kratom atau daun purik. Daun yang mendapat julukan sebagai daun dolar ini justru mengalami peningkatan dari sisi produksi dan permintaan selama  masa pandemi.

Sebulan, permintaan tanaman yang memiliki nama latin Mitragyna speciosa itu mencapai 700 hingga 800 ton. Amerika Serikat dan India, menjadi negara importir terbesar.

“Meskipun masa pandemi, perangaruhnya tidak signifikan. Justru permintaannya meningkat,” ujar  Hamid Khan, salah satu pengusaha Kratom asal Kabupaten Kapuas Hulu, kemarin.

Hanya saja, kata Hamid, meskipun jumlah produksi dan permintaannya tinggi, namun berpengaruh pada harga pasar. Saat ini, kata dia, untuk harga pasaran di tingat internasional kisaran US$8-US$9 per kilogram. “Itu sudah termasuk biaya pengiriman. Jika belum diakumulasi biaya pengiriman, berkisar US$4 per kilogram,” paparnya.

Sementara untuk kebutuhan lokal, lanjutnya, juga cenderung mengalami peningkatan. Terutama kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta dan Surabaya. “Saya selama ini menyuplai untuk kebutuhan lokal. Angkanya mencapai 100 ton perbulan. Untuk kebutuhan eksport, tergantung permintaan dari teman-teman di Pontianak. terkadang 25 ton,” jelasnya.

Tidak hanya Covid-19, bisnis daun kratom sempat mengalami gonjang-ganjing karena terbentur regulasi. Badan Narkotikan Nasional (BNN) memberi dispensasi hingga tahun 2022, dan setelah itu kratom akan memasukan ke dalam golongan narkotikan jenis baru.

Padahal, kata Hamid, bagi masyarakat Kapuas Hulu, kratom menjadi komuditas unggulan dan mampu mensejahterakan mereka. Terlebih saat harga komoditas lain, seperti sawit dan karet, anjlok. “Sempat berdampak. Tapi bagaimana pun masyarakat mengerjakan apa yang ada. Jika memang nanti resmi dilarang, saya yakin, mereka akan berhenti,” katanya.

Baca Juga :  Kratom dan Tumbuhan Tropis Lain Miliki Senyawa Tangkal Corona

Kratom atau Mitragyna speciosa merupakan tanaman asli Indonesia yang tumbuh di hutan Kalimantan.  Tanaman yang termasuk dalam kelas tumbuhan Rubiaceae dan masih berada dalam satu keluarga tanaman kopi ini, juga ada di Thailand, Malaysia, dan Papua Nugini.

Sejak dulu tanaman ini sudah dikonsumsi oleh masyarakat lokal sebagai obat herbal serta untuk meningkatkan produktivitas kerja serta menjaga stamina dan menghilangkan rasa lelah saat bekerja. Biasanya daun Kratom dikonsumsi dengan dikunyah secara langsung atau diseduh seperti meminum teh.

Menurut Pusat Pemantauan Obat dan Kecanduan Narkoba Eropa (EMCDDA), kratom dengan dosis kecil menghasilkan efek stimulan yang bisa menambah energi, lebih waspada, dan lebih mudah bersosialisasi.  Pada dosis yang lebih tinggi, kratom digunakan sebagai obat penenang, menghasilkan efek euforia, menumpuk emosi, dan sensasi.

Bahan aktif  dalam kratom adalah alkaloid mitragynine dan 7-hydroxymitragynine. Ada bukti, alkaloid ini dapat memiliki efek analgesik (menghilangkan rasa sakit), anti-inflamasi, atau relaksasi otot. Karena alasan ini, kratom sering digunakan untuk meredakan gejala fibromyalgia.

Daun ini biasanya dikeringkan dan dihancurkan atau dijadikan bubuk. Umumnya bubuk kratom juga akan dicampur dengan daun lain sehingga warnanya bisa hijau atau cokelat muda. Kemasan selanjutnya bisa berbentuk pasta, kapsul, dan tablet. Di Amerika Serikat, kratom sebagian besar diseduh sebagai teh untuk mengurangi rasa sakit dan efek opioid.

Sejak lima tahun belakangan, kratom tengah menjadi polemik di antara peneliti dan pembuat kebijakan. Sementara itu para peneliti masih terus melakukan riset untuk memastikan efek samping penggunaan kratom, para pemangku kebijakan takut kratom disalahgunakan.

Baca Juga :  Bekuk Buronan Pembobol ATM

Badan Narkotika Nasional (BNN) mempertimbangkan untuk memasukkan kratom sebagai obat-obatan Golongan I. BNN meminta Kementerian Kesehatan mengklasifikasikan kratom sebagai psikotropika, di golongan yang sama seperti heroin dan kokain. Karena kinerjanya dinilai sama seperti morfin sehingga membuat kratom menjadi obat herbal yang populer.

Amerika Serikat lewat Drug Enforcement Administration pun pernah menilai kratom sebagai salah satu obat-obatan yang cukup berbahaya. Bahkan, pada 2016, lembaga tersebut mengusulkan kratom menjadi obat-obatan di golongan yang sama dengan heroin, LSD, dan MDMA. Namun hingga saat ini, kratom masih dilegalkan di Amerika Serikat. Hanya 6 negara bagian yang memberi status ilegal seperti di Alabama dan Wisconsin.  Di Eropa kratom ilegal di Irlandia, Swedia, Latvia, Lithuania, Polandia, dan Inggris, legal di Jerman, Prancis, dan Spanyol.

Pertengahan tahun lalu Peneliti Badan Litbangkes Puslitbang SD-Yankes Kementerian Kesehatan RI mengusulkan tiga hal usai terjun langsung meneliti budidaya kratom di Kapuas Hulu. Salah satunya, mereka merekomendasikan agar kratom dikembangkan sebagai bahan baku obat, pentingnya pembentukan tata niaga kratom, dan status legalitas kratom perlu segera diputuskan.

Hasil penelitian menunjukkan kratom mengandung mytraginin yang tergolong New Psychoactive Substance (NPS), sehingga diperlukan pengaturan penggunaan dan distribsusinya. Kemenkes pun tengah menggodok aturan itu.

Hasil lain, dari aspek kesehatan, tidak terdapat perubahan pola penyakit pada masyarakat usai konsumsi kratom. Mereka memanfaatkannya untuk menambah stamina, mengurangi nyeri, asam urat, hipertensi, diabetes, insomnia, penyembuh luka, diare, batuk, meningkatkan nafsu makan, kolesterol, dan tipes. (arf)

 

Perbulan Capai 800 Ton, Terbesar ke  AS dan India

Pandemi Covid-19 telah menggoyang ekonomi semua negara di dunia. Tidak sedikit negara yang menunda pengiriman komoditas ekspor ke luar negeri. Bagaimanakah nasib ekspor daun kratom di masa kini?

ARIEF NUGROHO, Pontianak

Menurunnya angka ekspor impor di berbagai belahan dunia ternyata tidak berlaku pada komoditas kratom atau daun purik. Daun yang mendapat julukan sebagai daun dolar ini justru mengalami peningkatan dari sisi produksi dan permintaan selama  masa pandemi.

Sebulan, permintaan tanaman yang memiliki nama latin Mitragyna speciosa itu mencapai 700 hingga 800 ton. Amerika Serikat dan India, menjadi negara importir terbesar.

“Meskipun masa pandemi, perangaruhnya tidak signifikan. Justru permintaannya meningkat,” ujar  Hamid Khan, salah satu pengusaha Kratom asal Kabupaten Kapuas Hulu, kemarin.

Hanya saja, kata Hamid, meskipun jumlah produksi dan permintaannya tinggi, namun berpengaruh pada harga pasar. Saat ini, kata dia, untuk harga pasaran di tingat internasional kisaran US$8-US$9 per kilogram. “Itu sudah termasuk biaya pengiriman. Jika belum diakumulasi biaya pengiriman, berkisar US$4 per kilogram,” paparnya.

Sementara untuk kebutuhan lokal, lanjutnya, juga cenderung mengalami peningkatan. Terutama kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta dan Surabaya. “Saya selama ini menyuplai untuk kebutuhan lokal. Angkanya mencapai 100 ton perbulan. Untuk kebutuhan eksport, tergantung permintaan dari teman-teman di Pontianak. terkadang 25 ton,” jelasnya.

Tidak hanya Covid-19, bisnis daun kratom sempat mengalami gonjang-ganjing karena terbentur regulasi. Badan Narkotikan Nasional (BNN) memberi dispensasi hingga tahun 2022, dan setelah itu kratom akan memasukan ke dalam golongan narkotikan jenis baru.

Padahal, kata Hamid, bagi masyarakat Kapuas Hulu, kratom menjadi komuditas unggulan dan mampu mensejahterakan mereka. Terlebih saat harga komoditas lain, seperti sawit dan karet, anjlok. “Sempat berdampak. Tapi bagaimana pun masyarakat mengerjakan apa yang ada. Jika memang nanti resmi dilarang, saya yakin, mereka akan berhenti,” katanya.

Baca Juga :  Diduga Terlibat Perselingkuhan, Oknum Pastor Dipolisikan

Kratom atau Mitragyna speciosa merupakan tanaman asli Indonesia yang tumbuh di hutan Kalimantan.  Tanaman yang termasuk dalam kelas tumbuhan Rubiaceae dan masih berada dalam satu keluarga tanaman kopi ini, juga ada di Thailand, Malaysia, dan Papua Nugini.

Sejak dulu tanaman ini sudah dikonsumsi oleh masyarakat lokal sebagai obat herbal serta untuk meningkatkan produktivitas kerja serta menjaga stamina dan menghilangkan rasa lelah saat bekerja. Biasanya daun Kratom dikonsumsi dengan dikunyah secara langsung atau diseduh seperti meminum teh.

Menurut Pusat Pemantauan Obat dan Kecanduan Narkoba Eropa (EMCDDA), kratom dengan dosis kecil menghasilkan efek stimulan yang bisa menambah energi, lebih waspada, dan lebih mudah bersosialisasi.  Pada dosis yang lebih tinggi, kratom digunakan sebagai obat penenang, menghasilkan efek euforia, menumpuk emosi, dan sensasi.

Bahan aktif  dalam kratom adalah alkaloid mitragynine dan 7-hydroxymitragynine. Ada bukti, alkaloid ini dapat memiliki efek analgesik (menghilangkan rasa sakit), anti-inflamasi, atau relaksasi otot. Karena alasan ini, kratom sering digunakan untuk meredakan gejala fibromyalgia.

Daun ini biasanya dikeringkan dan dihancurkan atau dijadikan bubuk. Umumnya bubuk kratom juga akan dicampur dengan daun lain sehingga warnanya bisa hijau atau cokelat muda. Kemasan selanjutnya bisa berbentuk pasta, kapsul, dan tablet. Di Amerika Serikat, kratom sebagian besar diseduh sebagai teh untuk mengurangi rasa sakit dan efek opioid.

Sejak lima tahun belakangan, kratom tengah menjadi polemik di antara peneliti dan pembuat kebijakan. Sementara itu para peneliti masih terus melakukan riset untuk memastikan efek samping penggunaan kratom, para pemangku kebijakan takut kratom disalahgunakan.

Baca Juga :  Antisipasi Corona, Taman Alun Ditutup

Badan Narkotika Nasional (BNN) mempertimbangkan untuk memasukkan kratom sebagai obat-obatan Golongan I. BNN meminta Kementerian Kesehatan mengklasifikasikan kratom sebagai psikotropika, di golongan yang sama seperti heroin dan kokain. Karena kinerjanya dinilai sama seperti morfin sehingga membuat kratom menjadi obat herbal yang populer.

Amerika Serikat lewat Drug Enforcement Administration pun pernah menilai kratom sebagai salah satu obat-obatan yang cukup berbahaya. Bahkan, pada 2016, lembaga tersebut mengusulkan kratom menjadi obat-obatan di golongan yang sama dengan heroin, LSD, dan MDMA. Namun hingga saat ini, kratom masih dilegalkan di Amerika Serikat. Hanya 6 negara bagian yang memberi status ilegal seperti di Alabama dan Wisconsin.  Di Eropa kratom ilegal di Irlandia, Swedia, Latvia, Lithuania, Polandia, dan Inggris, legal di Jerman, Prancis, dan Spanyol.

Pertengahan tahun lalu Peneliti Badan Litbangkes Puslitbang SD-Yankes Kementerian Kesehatan RI mengusulkan tiga hal usai terjun langsung meneliti budidaya kratom di Kapuas Hulu. Salah satunya, mereka merekomendasikan agar kratom dikembangkan sebagai bahan baku obat, pentingnya pembentukan tata niaga kratom, dan status legalitas kratom perlu segera diputuskan.

Hasil penelitian menunjukkan kratom mengandung mytraginin yang tergolong New Psychoactive Substance (NPS), sehingga diperlukan pengaturan penggunaan dan distribsusinya. Kemenkes pun tengah menggodok aturan itu.

Hasil lain, dari aspek kesehatan, tidak terdapat perubahan pola penyakit pada masyarakat usai konsumsi kratom. Mereka memanfaatkannya untuk menambah stamina, mengurangi nyeri, asam urat, hipertensi, diabetes, insomnia, penyembuh luka, diare, batuk, meningkatkan nafsu makan, kolesterol, dan tipes. (arf)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/